NovelToon NovelToon
MISI DARI TANAH TERLUKA

MISI DARI TANAH TERLUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Balas Dendam / Dokter Genius / Mengubah Takdir / Preman
Popularitas:666
Nilai: 5
Nama Author: Juventini indonesia

cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

NASEHAT PENTING DI RUMAH MANG ZONDOL

#Bab 27

Rumah Mang Zondol — Bonus yang Mengenyangkan

Di ujung kampung yang jalannya belum sepenuhnya diaspal, rumah Mang Zondol tampak lebih terang dari biasanya. Lampu neon baru menyala putih, menggantikan bohlam redup yang selama bertahun-tahun setia berkedip. Dari dapur, aroma gulai ayam dan nasi hangat menyebar—aroma kemewahan kecil yang jarang mampir.

Di ruang tengah, tikar digelar rapi.

Mang Zondol duduk bersila, kausnya bersih, wajahnya tampak segar. Di sampingnya, istrinya—perut membuncit tujuh bulan—tersenyum sambil mengipasi diri pelan. Orang tua Mang Zondol duduk berhadapan, rambut mereka memutih, mata berbinar melihat hidangan yang lebih dari sekadar cukup. Di ujung tikar, Zapar, anak laki-laki mereka yang berusia lima belas tahun, menyendok nasi dengan lahap—mata remajanya bersinar bangga.

“Alhamdulillah,” kata ibu Mang Zondol lirih, menatap lauk yang melimpah. “Jarang-jarang begini.”

Mang Zondol tersenyum lebar. “Rezeki lagi bagus, Bu.”

Ayahnya mengangguk pelan, lalu berhenti sejenak sebelum bertanya, “Kerja di mana sekarang, Dol?”

Mang Zondol menelan ludah. “Di proyek… luar kota,” jawabnya cepat. “Bosnya orang besar. Bayarnya tepat waktu.”

Istrinya menimpali sambil tersenyum, “Katanya bonus lagi, Yah. Buat persiapan lahiran.”

Zapar menyela, tak sabar. “Pak, katanya nanti aku boleh beli sepatu baru? Yang buat futsal?”

Mang Zondol tertawa. “Boleh. Ambil yang bagus.”

Wajah Zapar makin berseri. “Keren.”

Sendok beradu. Tawa kecil pecah. Untuk sesaat, rumah itu benar-benar hangat—hangat oleh nasi, gulai, dan rasa aman yang terasa nyata.

Namun, di sudut ruangan, amplop cokelat tebal tergeletak di atas lemari kecil. Mulutnya sedikit terbuka, memperlihatkan ujung-ujung uang yang rapi. Seolah ikut makan bersama.

Ayah Mang Zondol memandang amplop itu sekilas. “Uangnya banyak,” katanya hati-hati. “Kerjanya… aman?”

Mang Zondol mengangkat bahu. “Aman, Yah. Orang-orangnya rapi. Mobil bagus. Nggak kayak kerjaan gelap.”

Ibunya mengangguk, ingin percaya. “Yang penting halal.”

Mang Zondol tersenyum, tapi senyum itu tak sampai ke matanya.

Di dapur, istrinya berhenti mengipasi, mengusap perutnya pelan. “Anak kita nanti lahir,” katanya lembut. “Aku pengin rumah ini tenang.”

Mang Zondol mengangguk. “Tenang, Mah. Aku urus.”

Zapar menatap ayahnya dengan kagum. “Ayah hebat.”

Kalimat itu menancap lebih dalam daripada yang disangka Mang Zondol. Ia menunduk, menyendok nasi tanpa bicara.

Di luar, angin malam menggerakkan daun pisang. Jauh—sangat jauh dari rumah kecil itu—penangkaran ular kembali berdengung, pabrik bola kembali berputar, dan jalur distribusi kembali rapi.

Bonus telah menjadi gulai.

Uang telah menjadi senyum.

Dan di rumah Mang Zondol, tak ada yang tahu—bahwa rezeki yang terasa paling mengenyangkan malam itu…

datang dengan rasa pahit yang akan menyusul.

Silaturahmi yang Menghangatkan Malam

Malam belum terlalu larut ketika suara motor tua berhenti di depan rumah Mang Zondol. Lampu teras yang baru dipasang memantulkan bayangan beberapa orang yang turun perlahan.

“Mang… assalamu’alaikum.”

Mang Zondol terkejut. Ia bangkit cepat dari tikar. “Wa’alaikum salam—”

Matanya membelalak. “Mbah Klowor?”

Abah tua itu berdiri dengan tongkat kayunya, wajahnya keriput tapi senyumnya utuh. “Iya, Dol. Mbah lewat. Sekalian nengok keponakan.”

Mang Zondol langsung menyalami, menempelkan tangan ke kening. “Masuk, Mbah. Masuk. Rumah lagi rame.”

Di belakang Mbah Klowor, tampak Mang Dedi, Pak Dosen Deden, dan Sandi. Mereka tidak membawa apa-apa selain senyum dan sikap santun khas orang kampung yang tahu diri.

“Kami numpang silaturahmi,” kata Pak Dosen Deden tenang. “Katanya lama nggak kumpul keluarga.”

Ayah Mang Zondol keluar dari dalam, matanya menyipit lalu melebar. “Klowor?”

“Iya, Ri,” jawab Mbah Klowor ringan. “Masih hidup rupanya.”

Tawa kecil pecah. Bukan tawa keras—tapi tawa yang terasa akrab, seperti pintu lama yang kembali dibuka.

Istri Mang Zondol segera menyibakkan tirai dapur. “Mang, tamu?”

“Iya,” jawab Mang Zondol. “Keluarga.”

Zapar berdiri kikuk, menatap para tamu. Sandi tersenyum padanya. “Kamu Zapar, ya?”

Zapar mengangguk cepat. “Iya, Mas.”

Tak lama, tikar digelar ulang. Nasi ditambah. Lauk yang tadi tersisa kini dipanaskan kembali. Tak ada hidangan mewah tambahan—tapi suasana berubah.

Mbah Klowor duduk di tengah, tongkatnya bersandar di dinding. “Rumah kamu sekarang terang, Dol,” katanya sambil menatap lampu.

Mang Zondol tersenyum. “Alhamdulillah, Mbah.”

Mang Dedi menyendok nasi. “Ayamnya enak. Kayak masakan almarhum Makmu dulu.”

Ibu Mang Zondol tersenyum haru. “Masih pakai resep lama.”

Tak ada yang bertanya soal kerja.

Tak ada yang menyebut hutan.

Tak ada yang menyentuh racun, bonus, atau nama besar.

Mereka bicara soal sawah yang dulu sering banjir. Soal jembatan bambu yang pernah roboh. Soal Pak RT lama yang suka salah sebut nama orang.

Pak Dosen Deden tertawa kecil saat Zapar bercerita soal sekolah dan futsal. “Yang penting jangan bolos,” katanya ringan.

Zapar mengangguk serius. “Iya, Pak.”

Sandi lebih banyak diam, menikmati suasana. Sesekali ia membantu menuangkan teh, sesekali mengangguk mendengar cerita lama yang bahkan tidak ia alami—tapi terasa akrab.

Istri Mang Zondol mengusap perutnya. Mbah Klowor memperhatikan, lalu berkata lembut, “Semoga lahirnya lancar.”

“Aamiin,” jawab semua hampir bersamaan.

Mang Zondol menunduk sejenak. Dadanya terasa hangat—hangat yang berbeda dari amplop cokelat, dari uang tunai, dari bonus. Hangat karena rumahnya kembali jadi tempat berkumpul.

Saat makan hampir selesai, ayah Mang Zondol berkata pelan, “Lama rumah ini nggak seramai ini.”

Mbah Klowor mengangguk. “Rumah itu hidup kalau diisi orang baik dan niat baik.”

Tak ada yang menimpali. Tapi kalimat itu tinggal di udara, lembut, tanpa menuduh.

Tikar masih terbentang. Teh masih mengepul. Tawa kecil Zapar baru saja reda ketika tiba-tiba—

“Sssss…”

Suara itu pelan, nyaris tertelan obrolan. Tapi cukup untuk membuat Mang Zondol berhenti menyendok nasi.

“Eh… kalian denger nggak?” katanya pelan.

Zapar menoleh ke arah dapur. Wajahnya langsung pucat.

“Pak… itu di dekat pintu…”

Semua mata mengikuti arah telunjuknya.

Seekor ular sawah—tidak besar, tapi cukup panjang—merayap pelan masuk dari celah pintu dapur. Tubuhnya basah, mungkin habis dari selokan belakang rumah. Kepalanya terangkat sedikit, lidahnya menjulur, mencium udara.

Istri Mang Zondol refleks memegang perutnya. Ayah dan ibunya menegang.

Mang Dedi spontan berdiri setengah.

Sandi sudah menggeser tubuh sedikit ke depan—siap, tapi menahan diri.

“Tenang,” suara itu datang pelan tapi tegas.

Mbah Klowor.

Abah tua itu bangkit perlahan, tongkat kayunya ditinggalkan bersandar di dinding. Langkahnya pelan, tanpa gerakan tiba-tiba.

“Ular sawah,” katanya lirih. “Bukan tamu jahat.”

Mang Zondol menelan ludah. “Mbah… itu—”

“Tenang, Dol,” potong Mbah Klowor lembut. “Dia cuma nyasar.”

Mbah Klowor jongkok dengan jarak aman. Suaranya berubah—lebih rendah, lebih dalam, seolah berbicara pada anak kecil yang ketakutan.

“Ngapain masuk rumah orang, Le?” katanya pelan. “Ini bukan tempatmu.”

Ular itu berhenti bergerak.

Lidahnya masih menjulur, tapi tubuhnya tidak lagi maju.

Sandi memperhatikan dengan serius. Ia bisa bersumpah—ini bukan sekadar sugesti. Ada ritme. Ada jeda. Seperti dialog yang tak memakai bahasa manusia.

“Di luar sawahmu luas,” lanjut Mbah Klowor. “Air ada. Tikus ada. Di sini… cuma ada manusia yang kaget.”

Ular itu menurunkan kepalanya sedikit.

Zapar menahan napas. “Pak… dia… diem…”

Mbah Klowor mengangguk pelan. Ia mengambil daun pisang kering dari sudut dapur, menggesernya perlahan di lantai—membentuk arah keluar.

“Ayo,” katanya lembut. “Balik.”

Beberapa detik yang terasa sangat panjang berlalu.

Lalu—perlahan—ular itu berbalik. Tubuhnya mengikuti arah daun pisang, merayap keluar lewat pintu dapur, kembali ke gelap halaman belakang.

Tak ada teriakan.

Tak ada kepanikan.

Hanya napas yang baru berani dilepas setelah pintu ditutup.

Istri Mang Zondol terduduk pelan. “Ya Allah…”

Mang Dedi menghela napas panjang. “Abah… itu barusan… luar biasa.”

Pak Dosen Deden mengangguk pelan. “Bukan jinak,” katanya. “Tapi… dipahami.”

Mbah Klowor kembali duduk, mengambil tongkatnya. “Ular itu makhluk takut,” ujarnya ringan. “Kalau kita datang dengan niat rusak, dia gigit. Kalau kita datang dengan niat baik, dia cari jalan pulang.”

Sandi menatap Abah tua itu lama. Dalam dadanya, satu keyakinan menguat:

ada yang sedang salah di desa ini—bukan pada ularnya.

Zapar menatap Mbah Klowor dengan mata berbinar. “Mbah… kok bisa?”

Mbah Klowor tersenyum tipis. “Karena hutan masih mau bicara sama orang yang mau mendengar.”

Makan dilanjutkan. Nasi kembali disendok. Teh kembali diminum.

Tapi setelah kejadian itu, kehangatan silaturahmi punya makna baru—

lebih sunyi,

lebih dalam,

dan diam-diam… memberi peringatan.

Malam itu, di rumah Mang Zondol, ular tidak melukai siapa pun.

Namun semua yang hadir tahu:

tidak semua pertemuan dengan ular akan sejinak ini.

Percakapan yang Tak Lagi Hangat

Suasana rumah belum sepenuhnya pulih ketika pintu dapur ditutup rapat. Nasi masih ada di piring, tapi sendok-sendok bergerak lebih pelan. Tawa sudah tak kembali. Yang tersisa hanya bunyi napas dan detik jam dinding.

Ayah Mang Zondol—Pak Sobri—menatap pintu dapur lama sekali. Lalu ia berdehem.

“Klowor,” katanya pelan, tapi nada suaranya berubah. “Ular sawah sekarang jarang masuk rumah orang.”

Mbah Klowor menoleh. Tatapannya tenang, tapi tajam. “Kalau rumahnya sering dilewati jalur yang tak semestinya… ular bisa salah jalan.”

Mang Zondol merasakan tengkuknya mengeras.

Pak Sobri menghela napas. “Kamu masih suka bicara muter, Bah.”

“Karena yang lurus sering bikin orang kaget,” jawab Mbah Klowor ringan. Ia menyeduh teh, tangannya stabil. “Seperti barusan.”

Hening jatuh.

Pak Sobri akhirnya menatap adiknya itu penuh. “Ular itu bukan cuma nyasar, kan?”

Mbah Klowor tidak langsung menjawab. Ia menyesap teh, lalu berkata pelan, “Ular datang ke tempat yang berubah baunya.”

Mang Dedi menunduk. Pak Dosen Deden merapatkan kedua tangannya di pangkuan. Sandi memilih diam—menjadi saksi, bukan pemantik.

Pak Sobri menggeleng kecil. “Kamu tahu Dol kerja di mana?”

“Sebagian,” jawab Mbah Klowor. “Cukup untuk tahu baunya.”

Mang Zondol tak tahan. Ia berdiri setengah. “Mbah… Ayah… saya cuma cari makan.”

Mbah Klowor mengangkat telapak tangan, meminta waktu. “Duduk, Dol.”

Mang Zondol patuh.

“Tidak ada yang menyalahkan orang yang ingin memberi makan keluarganya,” lanjut Mbah Klowor lembut. “Tapi ada pekerjaan yang memberi makan hari ini… dan mengambil napas anakmu besok.”

Zapar menatap ayahnya, bingung. Istri Mang Zondol mengusap perutnya, cemas.

Pak Sobri menatap lantai. “Dulu,” katanya lirih, “kita hidup miskin, Bah. Tapi tidur nyenyak.”

“Karena rezeki kita tidak minta ditukar apa-apa,” sahut Mbah Klowor. Suaranya kini lebih keras, tapi tidak marah. Lebih… terluka. “Sekarang, bau uang itu mengundang makhluk yang tak seharusnya mendekat.”

Mang Zondol mengepalkan tangan. “Saya nggak nyakitin siapa-siapa.”

Mbah Klowor menatapnya lama. “Kamu yakin racun berhenti di tanganmu?”

Kalimat itu menggantung, berat.

Sandi akhirnya angkat suara, hati-hati. “Mbah… mungkin Mang Zondol belum tahu semuanya.”

“Justru itu,” jawab Mbah Klowor tanpa menoleh. “Karena yang paling berbahaya adalah orang baik yang tidak diberi tahu dampak dari perannya.”

Ia beralih pada Mang Zondol. “Dol, dengar baik-baik. Ular tadi jinak karena niat kita bersih. Tapi ular yang dilatih manusia… tidak mendengar doa.”

Mang Zondol menelan ludah.

“Kalau kamu tetap di jalur itu,” lanjut Mbah Klowor, “rumah ini akan sering kedatangan tamu tak diundang. Kalau bukan ular, ya manusia yang lebih berbisa.”

Pak Sobri mengangkat wajahnya. “Kamu adikku,” katanya pelan pada Mbah Klowor. “Aku tahu kamu nggak asal bicara.”

Mbah Klowor mengangguk. “Aku datang bukan untuk memutus silaturahmi. Aku datang untuk menyelamatkan.”

Ia kembali menatap Mang Zondol, lebih lembut. “Kamu masih punya waktu, Dol. Pilih jalan yang membuat anakmu bangga… tanpa harus menutup mata.”

Zapar mendekat setengah langkah. “Pak… aku nggak mau Ayah kenapa-kenapa.”

Mang Zondol memejamkan mata. Dadanya sesak. Amplop cokelat di lemari terasa seperti batu.

Mbah Klowor bangkit perlahan, meraih tongkatnya. “Malam ini aku pamit. Pikirkan baik-baik. Rezeki yang baik itu tenang… tidak bikin ular salah alamat.”

Ia melangkah ke pintu. Mang Dedi dan Pak Dosen Deden ikut berdiri. Sandi menatap Mang Zondol sejenak—tatapan yang tak menghakimi, tapi jelas: pilihanmu akan punya konsekuensi.

Setelah pintu tertutup, rumah itu sunyi.

Mang Zondol duduk kembali, menatap piringnya yang masih setengah. Nasi terasa dingin.

Di luar, angin menggeser daun pisang. Dan di dalam dada Mang Zondol, untuk pertama kalinya sejak bonus itu datang…

rasa kenyang berubah menjadi rasa takut.

Setelah Pintu Tertutup

Pintu rumah sudah lama tertutup. Suara langkah Mbah Klowor dan rombongannya benar-benar hilang ditelan malam. Namun kata-katanya masih tertinggal—mengendap di udara, menempel di dinding, di piring yang belum dicuci, di amplop cokelat yang kini terasa makin berat.

Mang Zondol menghela napas panjang.

Ia menoleh ke ayahnya, lalu ke ibunya, ke istrinya, dan ke Zapar. Semua menunggu. Tak ada yang memaksa. Tapi jelas, pembicaraan belum selesai.

Mang Zondol akhirnya bicara.

“Yah… Bu… aku mau jujur.”

Ayahnya mengangguk pelan. “Bilang saja, Dol.”

Mang Zondol duduk bersila lebih rapi, seolah bersiap mengaku. “Sejak aku kerja sama orang itu—Tuan Nakata—hidup kita berubah.”

Ia menunjuk sekeliling rumah. “Rumah ini direnov. Atap nggak bocor. Lampu terang. Motor baru ada di depan.”

Zapar menoleh ke arah pintu, membayangkan motor itu. Matanya berbinar tanpa sadar.

“Uang sekolah Zapar lancar,” lanjut Mang Zondol. “Istri bisa periksa kandungan rutin. Kita makan nggak mikir besok.”

Ibunya menarik napas. “Iya… sekarang dapur nggak pernah kosong.”

Istrinya menggenggam tangan Mang Zondol. “Aku nggak pernah nanya terlalu jauh,” katanya lirih. “Karena aku lihat kamu pulang selalu bawa hasil.”

Mang Zondol menunduk. “Aku penangkap dan penyalur ular. Sawah, hutan, sungai… aku tahu jalurnya. Mereka butuh orang lokal. Aku dibayar mahal.”

Ayahnya memejamkan mata sejenak. “Dulu kamu susah,” katanya pelan. “Kerja serabutan. Kadang pulang bawa apa-apa.”

Mang Zondol mengangguk. “Makanya waktu kesempatan itu datang… aku ambil.”

Zapar memberanikan diri bicara. “Pak… aku seneng Ayah sekarang nggak kelihatan capek kayak dulu.”

Kalimat itu menusuk lembut.

Mang Zondol tersenyum tipis. “Iya. Ayah juga seneng bisa bikin kalian seneng.”

Namun ayahnya membuka mata. Tatapannya tajam tapi penuh kasih. “Tapi Mbah Klowor bukan orang sembarangan, Dol.”

Mang Zondol menghela napas lagi. “Aku tahu. Tapi aku juga tahu… uang itu nyata. Bukan janji.”

Ibunya mengusap dadanya. “Tapi rezeki itu bukan cuma soal banyaknya.”

Mang Zondol mengangguk setengah. “Aku nggak bohong, Yah. Sejak aku kerja di situ, hidup kita naik kelas.”

Ia terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Aku takut kalau aku berhenti… semua ini hilang.”

Istrinya menggenggam tangannya lebih erat. “Aku takut yang lain, Dol.”

“Takut apa?” tanya Mang Zondol.

“Takut rezeki ini minta bayaran lain,” jawabnya lirih sambil mengusap perut. “Yang nggak bisa ditebus uang.”

Sunyi kembali.

Ayah Mang Zondol menatap anaknya lama. “Dulu aku ngajarin kamu satu hal,” katanya. “Kalau kerjaan bikin kamu tidur nggak nyenyak… berarti ada yang salah.”

Mang Zondol terdiam. Ia ingat malam-malam belakangan. Mimpi ular. Bau amis. Jantung berdebar tanpa sebab.

“Tapi,” lanjut ayahnya, “aku juga nggak mau pura-pura suci. Aku lihat perubahan hidup kita.”

Zapar menunduk. “Aku cuma pengin Ayah pulang terus.”

Mang Zondol memejamkan mata. Dadanya naik turun.

“Aku belum bilang aku mau berhenti,” katanya jujur. “Tapi aku juga nggak bisa nutup telinga dari omongan Mbah Klowor.”

Ayahnya mengangguk. “Pikirkan. Jangan buru-buru.”

Ibunya menimpali lembut, “Kalau memang itu jalanmu… pastikan kamu tahu ke mana ujungnya.”

Mang Zondol menatap motor baru yang terparkir di luar, mengkilap di bawah lampu. Ia teringat betapa bangganya ia saat pertama kali membawanya pulang.

Uang itu nyata.

Perubahan itu nyata.

Tapi untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati:

Kalau semua ini harus dibayar nanti… siapa yang akan menagihnya?

Malam itu, Mang Zondol tidak langsung tidur.

Ia duduk lama di ruang tengah, menatap rumah yang kini lebih bagus dari sebelumnya—

dan bertanya-tanya apakah rumah itu sedang dibangun…

atau sedang ditukar.

1
muhamad candra cirebon
mantap 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!