Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Malam itu suasana rumah terasa jauh lebih lengang.
Atas kesepakatan bersama, Abi memutuskan untuk memindahkan acara tahlilan ke masjid terdekat demi menjaga ketenangan Liana yang masih terguncang.
Puluhan nasi kotak telah disiapkan dan dimuat ke dalam mobil.
"Mas, aku ikut ke masjid sebentar ya, setelah bagi-bagi nasi aku langsung pulang untuk mengecek Liana," ucap Genata lembut.
Abi menganggukkan kepalanya, ia tampak sedikit lebih tenang meski gurat penyesalan semalam masih membekas.
Setelah urusan di masjid selesai, Genata meminta izin untuk pulang lebih awal.
Ia merasa tidak tenang meninggalkan madunya sendirian di rumah dalam keadaan terkunci.
Namun, saat langkah kakinya baru saja melewati pintu utama, jantung Genata seakan berhenti berdetak.
Di ruang tengah, Liana berdiri dengan pakaian rapi, bukan lagi seragam kerja yang tadi pagi, melainkan pakaian kasual yang praktis namun tertutup.
Wajahnya datar, seolah emosi telah terkuras habis dari jiwanya.
Di tangannya, ia memegang sebuah kunci serep yang ia temukan di laci kamar.
"Liana? Kenapa kamu bisa keluar?" tanya Genata dengan suara bergetar.
Liana tidak menjawab pertanyaan dari Genata dan ia berjalan lurus menuju pintu depan, melewati Genata seolah wanita itu hanyalah bayangan.
"Liana, tunggu! Kamu mau ke mana?" Genata menghadang langkah Liana di ambang pintu.
"Jangan keluar, Liana! Ini sudah malam. Abi masih di masjid, kalau dia pulang dan kamu tidak ada, dia akan sangat marah."
Genata memegang lengan Liana, mencoba menahannya dengan sisa kekuatannya.
"Tolong, Li. Jangan buat keributan lagi. Mas Abi sedang sangat tertekan."
Liana akhirnya menghentikan langkahnya dan menatap Genata dengan tatapan yang sulit diartikan.
Perlahan, Liana melepaskan cengkeraman tangan Genata dari lengannya.
Liana tidak mengeluarkan satu patah kata pun. Ia hanya menatap Genata sejenak, lalu mengangkat tangan kanannya, memberikan lambaian kecil yang terlihat seperti salam perpisahan yang dingin.
"Liana! Berhenti!" teriak Genata.
Namun, Liana terus melangkah menuju gerbang yang ternyata sudah tidak terkunci.
Sebuah mobil taksi online sudah menunggu di depan rumah. Dengan gerakan tenang, Liana masuk ke dalam mobil tersebut.
Genata hanya bisa mematung di teras, melihat lampu belakang taksi itu perlahan menghilang di tikungan jalan.
Genata tidak mempedulikan napasnya yang mulai tersengal.
Ia berlari sekuat tenaga menembus kegelapan malam menuju masjid yang terletak beberapa ratus meter dari rumah mereka.
Kerudungnya tersampir tak beraturan, dan wajahnya pucat pasi oleh rasa takut.
Sesampainya di pelataran masjid, ia melihat Abi baru saja bersalaman dengan para jemaah setelah doa bersama usai.
Tanpa memedulikan tatapan heran orang-orang sekitar, Genata menghambur ke arah suaminya.
"Mas Abi!" seru Genata dengan suara parau.
Abi menoleh, kaget melihat istrinya datang dalam keadaan kacau seperti itu.
Ia segera berpamitan dengan para jemaah dan melangkah cepat menghampiri Genata.
Ia memegang kedua bahu Genata yang terguncang hebat karena tangis dan kelelahan.
"Ada apa, Gen? Kenapa kamu lari-lari seperti ini?" tanya Abi, suaranya dipenuhi kecemasan yang mendalam.
"Liana, Mas. Liana pergi," bisik Genata di sela isaknya.
Tubuh Abi seketika mematung saat mendengar perkataan dari istrinya.
"Apa maksudmu? Kamu bilang dia terkunci di kamar."
"Dia menemukan kunci serep, Mas. Aku sudah mencoba menahannya, tapi dia tidak bicara sepatah kata pun. Dia hanya melambai kecil lalu masuk ke taksi online yang sudah menunggunya. Dia pergi, Mas!"
KRETEK!
Bunyi buku-buku jari yang beradu terdengar jelas saat Abi mencengkeram erat kedua tangannya sendiri.
Wajahnya yang semula penuh penyesalan kini berubah menjadi kelam dan dipenuhi amarah yang meledak-ledak.
Rahangnya mengatup rapat, dan urat-urat di lehernya menonjol, menahan gejolak emosi yang menghantam dadanya.
"Ke mana dia pergi?" tanya Abi dengan nada rendah yang sangat berbahaya, seolah badai sedang bersiap untuk menerjang.
"Aku tidak tahu, Mas. Dia tidak bilang apa-apa," jawab Genata gemetar.
Abi tidak menunggu penjelasan lebih lanjut. Ia berbalik dan berlari menuju mobilnya yang terparkir di halaman masjid.
Pikirannya kalut, ia membayangkan Liana yang sedang rapuh berada di luar sana sendirian, atau mungkin gadis itu memang berniat menghilang selamanya dari hidupnya.
"Gen, masuk ke mobil sekarang!" perintah Abi keras.
Sambil menghidupkan mesin mobil dengan kasar hingga menderu di keheningan malam, Abi memukul kemudi dengan tangan kanannya.
"Sial! Dia benar-benar ingin menguji kesabaranku!"
Mobil itu melesat meninggalkan masjid dengan kecepatan tinggi.
Abi terus mencoba menghubungi nomor telepon Liana, namun hanya suara operator yang menyambutnya.
Di sampingnya, Genata hanya bisa berdoa dalam diam, berharap duka yang mereka alami tidak berujung pada tragedi baru yang lebih mematikan.
Sementara itu di tempat lain, lampu neon berwarna ungu dan biru menyambar-nyambar di tengah kegelapan ruangan yang pengap.
Suara dentuman musik techno yang memekakkan telinga seolah menjadi pelarian sempurna bagi Liana.
Ia ingin suara musik itu menulikan pendengarannya dari suara tahlilan dan kilatan lampu itu membutakan matanya dari bayangan nisan ayahnya.
Liana melangkah menuju bar, tempat botol-botol minuman berjejer rapi.
Di sana, seorang pria bertubuh jangkung dengan apron hitam sedang mengelap gelas.
Pria itu adalah Andre, teman lama Liana dan Angela yang memang bekerja sebagai pengelola di sana.
Andre mendongak dan seketika gerakannya terhenti. Matanya membulat melihat sosok yang berdiri di depannya.
"Liana? Gila, Li! Kamu ke sini?" Andre setengah berteriak agar suaranya terdengar di atas dentuman musik. Ia meletakkan gelasnya dan mendekat.
"Mana Angela?" tanya Andre sambil celingukan mencari sosok sahabat Liana yang biasanya selalu menempel seperti bayangan.
Liana hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Tatapannya kosong, kontras dengan keriuhan di sekelilingnya. Ia tidak ingin bicara, ia tidak ingin ditanya.
"Aku sendiri, Ndre," jawab Liana singkat, suaranya tenggelam oleh bass yang menghentak.
Andre mengernyitkan dahi. Ia tahu kabar duka tentang ayah Liana dari media sosial Angela kemarin.
Melihat Liana ada di sini, di tempat seperti ini, hanya sehari setelah pemakaman, membuatnya merasa ada yang sangat tidak beres.
"Li, kamu nggak seharusnya di sini. Angela tahu kamu ke sini?"
Liana tidak menggubris pertanyaan itu. Ia menggebrak meja bar pelan, menuntut perhatian.
"Ndre, jangan tanya-tanya. Berikan aku yang paling kuat. Berapa pun. Sekarang."
"Tapi, Li..."
"Tiga sloki tequila dan satu botol whisky. Cepat, Andre!" potong Liana dengan nada yang tidak bisa dibantah.
Andre menghela napas panjang. Sebagai teman, ia ingin melarang, tapi melihat sorot mata Liana yang penuh keputusasaan, ia tahu gadis ini sedang berusaha mematikan rasa di hatinya.
Dengan berat hati, Andre mulai menata gelas-gelas kecil di depan Liana.
Liana menyambar sloki pertama dan menenggaknya dalam sekali teguk.
Rasa panas membakar tenggorokannya, menyatu dengan rasa perih di dadanya.
Ia ingin mabuk dan melupakan bahwa ia adalah seorang istri kedua.
Ia ingin lupa bahwa ia telah yatim. Dan yang paling penting, ia ingin lupa pada pria bernama Abi yang telah merenggut kebebasannya.
Andre menatap ngeri ke arah meja bar. Di sana, Liana yang biasanya anggun dan tenang, kini sudah berdiri di atas meja dengan botol di tangan.
Ia tertawa getir, bergerak mengikuti irama musik yang liar, mengabaikan tatapan mata lelaki hidung belang yang mulai mengerubunginya.
"Sial, dia benar-benar nekat," umpat Andre.
Ia segera merogoh ponselnya di balik apron dan mendial nomor Angela dengan tangan gemetar.
Di tempat lain, suasana justru berbanding terbalik.
Angela berdiri mematung di teras rumah Mama Prameswari.
Di hadapannya, Abi berdiri dengan wajah yang nyaris gelap karena amarah dan kekhawatiran yang memuncak.
Genata berdiri di belakang suaminya, tampak gemetar menahan tangis.
"Aku tanya sekali lagi, Angela. Di mana Liana? Jangan lindungi dia jika kamu benar-benar menyayanginya," suara Abi terdengar rendah namun mengancam.
Tepat saat itu, ponsel Angela bergetar. Ia melihat nama Andre di layar.
Angela segera mengangkatnya dan mendengarkan suara bising musik diskotik dari seberang telepon.
"Gila, Ang! Liana ada di sini! Dia mabuk berat, dia naik ke atas meja! Cepat ke sini sebelum terjadi hal yang nggak diinginkan!" teriak Andre di telepon.
Angela memejamkan matanya rapat-rapat, merasa jantungnya seolah berhenti.
Ia menurunkan ponselnya dan menatap Abi dengan tatapan penuh beban.
Ia tahu, jika ia memberi tahu Abi, Liana akan dalam masalah besar, tapi jika ia diam, nyawa atau kehormatan Liana taruhannya di tempat itu.
"Sepertinya aku tahu di mana dia, Om," ucap Angela pelan, suaranya bergetar.
Mendengar itu, Abi melangkah maju, memperpendek jarak.
Sorot matanya menajam, mencengkeram setiap kata yang keluar dari mulut Angela.
"Di mana dia?" tanya Abi dengan nada yang begitu dingin hingga membuat bulu kuduk Angela merinding.
"Dia di The Velvet, Om. Diskotik di pusat kota," jawab Angela lirih.
Tanpa sepatah kata pun, Abi berbalik dan berjalan menuju mobilnya dengan langkah yang begitu cepat dan berat.
Genata mencoba mengejar, namun Abi sudah menghidupkan mesin mobilnya yang menderu keras, seolah siap membelah jalanan malam itu demi menyeret istrinya pulang dari lubang kemaksiatan tersebut.
Ia lekas memanggil taksi untuk mengikuti mobil Abi.