NovelToon NovelToon
LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

LAUTAN YANG TIDAK PERNAH TIDUR

Status: tamat
Genre:Spiritual / Mata Batin / Roh Supernatural / Fantasi / Tamat
Popularitas:29
Nilai: 5
Nama Author: Skyler Austin

Poseidon merasa terhina karena ada satu lautan di dunia fana yang tidak mau tunduk pada perintahnya: Pantai Selatan Jawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyler Austin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Teh Melati di Ruang Tanpa Jendela

Sekar membuka matanya perlahan, mengira akan disambut oleh langit-langit beton bunker yang kotor dan berdebu. Namun, yang dilihatnya adalah kain kelambu putih tipis yang menjuntai dari langit-langit kayu berukir. Cahaya di ruangan itu lembut, berwarna keemasan, bukan berasal dari lampu listrik, melainkan dari lampu-lampu minyak kuno yang digantung di sudut-sudut ruangan.

Ia mencoba bangun, tapi tubuhnya terasa berat. Bukan berat karena sakit, melainkan berat yang nyaman, seperti baru saja tidur nyenyak setelah bekerja seharian penuh.

"Sudah bangun, Nduk?"

Suara itu lembut, feminin, dan terdengar akrab.

Sekar menoleh. Di samping tempat tidurnya, duduk seorang wanita paruh baya dengan kebaya kutubaru hijau tua dan sanggul tekuk yang rapi. Wanita itu sedang menuangkan teh dari teko tanah liat ke dalam cangkir kecil.

"Nyai..." Sekar mengenali wajah itu samar-samar. Itu Nyai Ruminah, salah satu abdi dalem senior yang sudah lama menghilang dari Keraton. Orang-orang bilang Nyai Ruminah "moksa" atau diculik lampor sepuluh tahun lalu. Ternyata, dia ada di sini.

"Minumlah dulu. Ini teh melati dicampur madu hutan. Bagus untuk memulihkan tenagamu yang terkuras," Nyai Ruminah menyodorkan cangkir itu.

Sekar menerimanya dengan tangan gemetar. Saat ia melihat tangannya, ia terkejut. Luka-luka goresan akibat batu gua sudah hilang. Kulitnya bersih, bahkan lebih halus dari sebelumnya. Dan saat ia menyingkap selimut jarik yang menutupinya, kakinya yang tadi bengkak ungu karena racun kepiting juga sudah mulus kembali.

"Di mana saya, Nyai?" tanya Sekar setelah menyesap teh hangat itu. Rasanya manis dan menenangkan, seketika membuat detak jantungnya yang sempat panik menjadi teratur.

Nyai Ruminah tersenyum. "Di tempat yang aman. Jauh dari jangkauan 'tamu' yang kasar itu."

Sekar mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ruangan ini luas, dindingnya terbuat dari kayu jati tua yang dipelitur gelap. Anehnya, tidak ada jendela. Sama sekali. Tapi udaranya terasa sejuk dan beraroma laut segar. Di dinding sebelah kiri, tergantung sebuah cermin besar dengan bingkai perak yang rumit.

"Bunker..." Sekar teringat kejadian terakhir. "Dr. Hardi... mesin itu..."

"Sudah diurus," potong Nyai Ruminah tenang. "Gunung Merapi sudah membersihkan 'kutu' yang gatal itu. Dr. Hardi... yah, dia mendapatkan apa yang dia inginkan: menjadi bagian abadi dari sejarah geologi."

Sekar meletakkan cangkirnya. "Siapa yang menolong saya, Nyai? Saya ingat... ada wangi sedap malam."

Nyai Ruminah tidak langsung menjawab. Ia berdiri, merapikan selendang batiknya, lalu berjalan menuju cermin besar di dinding.

"Beliau tidak suka dipuji, Nduk. Beliau hanya melakukan apa yang harus dilakukan seorang Ibu ketika anaknya nakal main api," jawab Nyai Ruminah diplomatis. "Tapi kamu harus tahu, Sekar. Apa yang kamu lakukan di bunker itu... itu menarik perhatian banyak pihak. Bukan cuma pihak kita."

Nyai Ruminah mengusap permukaan cermin itu. Anehnya, cermin itu tidak memantulkan bayangan ruangan. Permukaannya beriak seperti air kolam.

"Lihatlah," perintah Nyai.

Sekar turun dari tempat tidur. Kakinya terasa ringan saat menapak lantai kayu yang dingin. Ia berdiri di samping Nyai Ruminah dan menatap ke dalam cermin.

Di dalam cermin itu, Sekar melihat pemandangan Pantai Parangtritis. Tapi bukan pantai yang ia kenal.

Pantai itu porak-poranda. Warung-warung sudah rata dengan tanah. Pasir pantai berubah warna menjadi hitam legam. Dan di tengah laut, ada sebuah benteng yang terbuat dari air yang membeku—bukan es, tapi air yang dipadatkan dengan sihir. Di atas benteng itu, berkibar bendera biru dengan lambang trisula emas.

"Poseidon marah besar," jelas Nyai Ruminah. "Rencananya meledakkan Merapi gagal. Pasukan bawah tanahnya yang lewat sungai Code dan Opak berhasil dipukul mundur oleh abdi dalem gaib yang turun gunung. Sekarang, dia mengubah taktik."

Gambar di cermin bergeser. Menampilkan sosok pria tegap yang berdiri di atas kereta perangnya di tengah ombak. Wajahnya merah padam menahan amarah. Ia sedang berteriak kepada pasukannya, menunjuk ke arah daratan.

"Dia tidak lagi mencoba menyusup diam-diam. Dia akan melakukan serangan frontal. Gelombang pasang yang dia siapkan kali ini bukan untuk menenggelamkan kota pelan-pelan..." Nyai Ruminah menatap Sekar serius. "...tapi untuk menghapus Jawa dari peta dalam satu malam."

Sekar merinding. "Kapan?"

"Tiga hari lagi. Saat bulan purnama penuh. Saat air pasang alami mencapai puncaknya," jawab Nyai. "Kekuatannya akan berlipat ganda."

"Kita harus lapor Gusti Pangeran!" seru Sekar panik. "Kita harus evakuasi warga!"

"Gusti Pangeran sudah tahu. Beliau sedang mengumpulkan semua pusaka yang tersisa," kata Nyai Ruminah. "Tapi, Sekar... perang ini tidak bisa dimenangkan hanya dengan keris dan tombak. Musuh kita adalah Dewa. Dia tidak mempan dilukai senjata fisik."

Nyai Ruminah memegang bahu Sekar, memutarnya agar berhadapan langsung.

"Lalu apa yang bisa mengalahkan Dewa?" tanya Sekar putus asa.

"Ego-nya," jawab Nyai Ruminah tegas. "Dewa Yunani itu sombong. Mereka hidup dari pemujaan dan rasa takut manusia. Jika egonya terluka, kekuatannya goyah."

Nyai Ruminah mengambil sesuatu dari laci meja rias di dekatnya. Sebuah kotak kayu kecil berukir naga.

"Kamu berhasil membuat dia marah karena kamu menggagalkan rencananya di Merapi. Itu luka pertama di harga dirinya. 'Bagaimana mungkin seorang gadis kecil bisa mengalahkan teknologiku?', pikirnya."

Nyai membuka kotak itu. Isinya adalah sebuah tusuk konde emas dengan hiasan melati dari mutiara putih.

"Ibu Ratu menitipkan ini untukmu," kata Nyai Ruminah sambil menyematkan tusuk konde itu ke rambut Sekar yang tergerai. "Ini bukan senjata. Ini undangan."

"Undangan?"

"Undangan untuk pesta dansa," Nyai tersenyum misterius. "Tiga malam lagi, saat purnama, Poseidon akan datang membawa badai. Tapi Ibu Ratu... beliau akan menggelar Tayub di tengah samudra. Beliau ingin menantang Poseidon bukan dalam perang darah, tapi dalam kontes rasa."

Sekar bingung. Tayub? Menari? Di tengah perang kiamat?

"Kamu akan menjadi penari utamanya, Sekar," bisik Nyai Ruminah. "Tugasmu bukan membunuh Poseidon. Tugasmu adalah membuatnya malu. Buat dia merasa bahwa kekasarannya tidak ada harganya di hadapan kelembutan budaya kita."

"Tapi saya tidak bisa menari, Nyai!" tolak Sekar. "Saya cuma bisa bersih-bersih dan bikin kopi!"

"Setiap wanita Jawa punya tarian di dalam jiwanya, Nduk. Kamu hanya perlu membangunkannya," Nyai Ruminah menuntun Sekar kembali ke tempat tidur. "Istirahatlah lagi. Latihanmu dimulai nanti malam. Guru tarimu bukan manusia, jadi siapkan mentalmu."

Sebelum Sekar sempat bertanya siapa gurunya, Nyai Ruminah meniup lampu minyak terdekat. Ruangan meremang.

"Oh ya, satu lagi," tambah Nyai sebelum keluar dari pintu yang tiba-tiba muncul di dinding kayu. "Jangan kaget kalau nanti malam kamu mendengar suara gamelan dari bawah lantaimu. Kita sekarang ada di Bale Sokawati. Di dasar laut."

Pintu tertutup. Sekar ditinggal sendirian lagi.

Ia berlari ke arah cermin, mencoba melihat bayangannya sendiri. Di sana, ia melihat tusuk konde melati itu bersinar lembut. Dan di belakang bayangannya, ia melihat bayangan lain.

Bayangan seorang wanita cantik dengan selendang hijau, yang tersenyum tipis sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya.

Sssttt...

Di luar dinding kayu itu, Sekar baru sadar ia bisa mendengar suara paus yang bernyanyi. Ia benar-benar ada di dasar samudra, di jantung keraton gaib yang menjadi benteng terakhir nusantara.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!