Ella adalah siswi teladan yang hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat rahasia cintanya kepada Rizki, sang ketua kelas populer, terbongkar secara memalukan di depan sekolah. Di tengah pengkhianatan dan kehancuran martabatnya, muncul Wawan—siswa berandalan yang secara mengejutkan hadir sebagai pelindung. Tanpa Ella ketahui, Wawan membawa amanah rahasia dari masa lalu untuk menjaganya, meski akhirnya ia sendiri jatuh hati pada gadis itu.
DISCLAIMER :
Karya ini adalah fiksi. Nama, karakter, tempat, dan kejadian adalah produk imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan apa pun dengan orang sungguhan, hidup atau mati, atau peristiwa nyata adalah murni kebetulan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Layla Camellia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11: Cahaya yang Tak Lagi Tersembunyi
Waktu memiliki cara yang luar biasa untuk mengikis luka lama dan mengubah garis takdir. Setahun telah berlalu sejak insiden besar di area parkir belakang sekolah yang sempat menggemparkan seisi SMA Garuda. Drama perebutan harga diri, perkelahian berdarah antara si ketua kelas dan si berandalan, hingga putusnya hubungan fenomenal antara Rizki dan Lia, kini telah terkubur sebagai sejarah masa lalu yang hanya sesekali dibisikkan oleh adik kelas sebagai legenda sekolah.
Kini, mereka bukan lagi remaja kelas XI yang labil. Mereka telah bertransformasi menjadi penghuni kasta tertinggi di sekolah: Siswa Kelas XII IPA 1. Kelas ini adalah tempat berkumpulnya para jenius, kelas yang suasananya biasanya sedingin es karena ambisi kelulusan dan persaingan masuk universitas ternama. Namun, ada satu hal yang membuat XII IPA 1 terasa jauh lebih hangat dan hidup dibandingkan kelas unggulan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu adalah keberadaan Ella.
Meja Ella, yang dulunya adalah tempat paling sunyi dan terisolasi, kini menjadi episentrum interaksi di kelas. Tidak ada lagi kacamata dengan bingkai berwarna hitam besar yang menutupi separuh wajahnya, dan tidak ada lagi buku tebal yang ia gunakan untuk bersembunyi dari dunia.
"La, serius deh, ajarin aku konsep cepat integral ini. Aku sudah baca berkali-kali di buku paket, tapi tetap saja tidak masuk ke otak," keluh Budi, yang kini duduk di samping meja Ella. Budi, yang setahun lalu mungkin tidak akan pernah menyapa Ella, sekarang menatapnya dengan rasa hormat yang tulus.
Ella mendongak, matanya yang jernih dan berbulu mata lentik kini terpapar sepenuhnya. Ia memberikan senyum kecil yang menenangkan. "Integral itu cuma soal membalikkan cara berpikir dari turunan, Bud. Sini, aku kasih trik supaya kamu nggak perlu menghafal semua rumusnya."
Teman-teman di XII IPA 1 telah lama menyadari satu hal: Ella bukan sekadar siswi peringkat pertama yang dingin karena sifat pendiamnya. Ia adalah sosok yang sangat hangat, sabar, dan memiliki jiwa kepemimpinan alami yang tidak ia sadari. Kepintarannya tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi ego teman-temannya, melainkan sebuah mercusuar yang menolong mereka di tengah badai ujian nasional yang semakin dekat.
Di sudut kelas yang lain, Lia dan Nani masih duduk bersama. Namun, mereka bukan lagi "Ratu" yang mengendalikan suasana. Sejak insiden di kelas XI itu, pengaruh mereka meredup. Popularitas mereka yang dulu dibangun di atas rasisme dan perundungan fisik hancur berkeping-keping saat Rizki mencampakkan Lia secara terang-terangan di depan publik. Sekarang, mereka hanya bisa menonton dengan wajah kecut melihat Ella dikelilingi oleh teman-teman yang tulus mencintainya.
Suatu siang di sela-sela jam istirahat yang tenang, Maya—teman sebangku Ella yang sudah setahun ini menjadi sahabat setianya—menatap wajah Ella dari jarak dekat dengan penuh selidik.
"La, kadang kalau aku ingat-ingat setahun yang lalu, aku masih nggak percaya itu kamu," bisik Maya sambil menopang dagu. "Ingat nggak? Waktu kamu masih pakai kacamata raksasa yang menutupi separuh mukamu itu? Aku penasaran, deh. Sebenarnya kacamata itu minus berapa sih? Kok kamu bisa betah pakainya berjam-jam?"
Ella terdiam sejenak. Ia melirik ke dalam laci mejanya, di mana kacamata lama itu tersimpan rapi sebagai pengingat akan masa lalunya. Perlahan, Ella tertawa kecil—tawa yang jernih dan merdu.
"Sebenarnya, May... mataku nggak minus sama sekali. Penglihatanku normal," jawab Ella tenang.
"Hah?! Serius?!" Maya memekik pelan, membuat beberapa siswa lain menoleh. "Jadi selama dua tahun di kelas X dan XI, kamu pakai kacamata itu buat apa? Gaya-gayaan?"
"Kacamata itu bukan gaya-gayaan, May. Itu seperti pelindung untuk ku," ucap Ella. Suaranya kini terdengar dewasa, merefleksikan kedewasaan jiwa yang telah melewati badai. "Dulu, aku merasa dunia ini terlalu kejam. Aku merasa kulitku yang gelap ini adalah sebuah noda, dan penampilanku adalah sebuah kesalahan. Aku memakai kacamata itu agar aku tidak perlu melihat tatapan menghina orang lain, dan agar orang lain tidak bisa benar-benar melihat 'ketidakcantikan' yang aku bayangkan dalam kepalaku sendiri."
Ella menatap tangannya yang kini ia biarkan terbuka tanpa perlu menutupi warna kulit cokelat eksotisnya. "Tapi insiden setahun lalu mengajarkanku bahwa kecantikanku bukan milik Lia dan teman-temannya untuk dinilai. Kecantikanku adalah milikku sendiri. Sekarang, aku merasa lebih aman tanpa tameng apa pun."
Wawan, yang sejak tadi duduk di barisan paling belakang sambil memutar-mutar pulpen di jarinya, tiba-tiba bersiul nyaring. Meskipun ia masih menyandang predikat "berandalan" karena gaya rambutnya yang sedikit berantakan dan seragam yang jarang dimasukkan, semua orang tahu bahwa Wawan adalah pelindung paling setia bagi kelas XII IPA 1, terutama bagi Ella.
"Nah, gitu dong! Kan kalau wajahnya nggak ketutup kaca, aku jadi lebih jelas melihat masa depanku di sana, La! Cerah banget sampai bikin aku silau!" gombal Wawan dengan suara lantang.
Seisi kelas XII IPA 1 pecah dalam tawa riuh. Itu adalah ritual harian mereka—mendengar Wawan merayu Ella dan melihat pipi sang juara kelas itu merona merah. Ella hanya menggelengkan kepala, namun senyumnya tidak bisa disembunyikan. Wawan menatap Ella dengan binar mata yang penuh kebanggaan. Baginya, melihat Ella yang sekarang—yang berani bicara, yang berani tertawa, dan yang berani menunjukkan kecantikannya—adalah kemenangan terbesar yang pernah ia raih dalam hidupnya sebagai siswa berandalan.
Namun, di barisan depan, suasana hati yang kontras dirasakan oleh Rizki. Sang ketua kelas itu kini tampak lebih pendiam dan fokus pada tumpukan buku persiapan masuk universitas. Ia menoleh perlahan, menatap Ella dari kejauhan. Ada gurat penyesalan yang mendalam di matanya. Setahun telah berlalu sejak ia memutuskan Lia, namun Rizki merasa ia masih tertinggal di belakang.
Rizki menyadari dengan pahit bahwa meskipun ia berada di barisan paling depan secara akademis, ia telah kehilangan posisi di hati Ella. Ia terlalu lama menyembunyikan cintanya di balik bayang-bayang popularitas semu di kelas XI, sementara Wawan dengan berani menerjang badai untuk menarik Ella keluar menuju cahaya. Ella yang sekarang begitu bersinar, begitu bebas, dan ironisnya, terasa semakin sulit untuk Rizki raih kembali.
Ella melewati sisa hari itu dengan langkah yang ringan. Saat bel pulang berbunyi, ia berjalan menyusuri koridor sekolah dengan kepala tegak. Ia bukan lagi "si itik buruk rupa" yang berjalan menunduk sambil memeluk buku. Ia adalah Ella, siswi terbaik di XII IPA 1 yang kehadirannya kini dihormati oleh siapa pun.
Tanpa kacamata yang membatasi penglihatannya, dan tanpa rasa takut yang membebani hatinya, Ella menatap langit sore yang berwarna jingga keunguan. Ia tahu, masa sekolah akan segera berakhir. Namun ia juga tahu, ia tidak akan pernah lagi menjadi gadis yang tersembunyi. Cahayanya telah keluar, dan ia siap menyinari masa depan yang sudah menantinya di luar gerbang SMA Garuda.