Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?
Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.
Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.
Apakah Quinn mampu bertahan hidup?
Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?
୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
III. Apakah Ini Sepadan?
Bibirnya berkedut membentuk senyum mengejek. Wajahnya dekat banget sama wajahku. Dengan suara rendah, dia pun menggeram, “Aku salah satu Big Boss Marunda, dan ginjal di tubuhmu ... shiiittt ....”
Tubuhku langsung kaku.
Marunda?
Aku pernah nonton film dokumenter soal mafia. Aku tahu sekejam apa kelompok kriminal itu.
Braun makin mendekat. Melanjutkan kata-katanya, “... Adik laki-lakiku dibunuh supaya kamu bisa hidup, bangsad!”
Adik?
Dibunuh?
Air mata yang belum sempat jatuh membuat pandanganku buram. Aku enggak tahu harus bicara apa sambil mencoba mencerna kata-katanya.
Berhadapan langsung sama cowok ini, dan merasakan napasnya di kulitku, membuatku gelisah.
Mulutku seketika kering.
Dia sedikit memiringkan kepala.
“Kamu ngerti apa yang aku omongin?”
Pelan-pelan, aku menggeleng.
Ujung pisau itu menekan kulitku. Jeritan ketakutan langsung keluar dari mulutku. Kukuku mencengkeram kulitnya, dan aku terpejam.
"Mereka membunuh saudaraku di tanah kosong di belakang gang rumah sakit. Mereka nyembelih dia seperti binatang dan ambil ginjalnya dari tubuhnya!"
Dengan tiap kata yang keluar dari mulutnya, aku bisa merasakan rasa sakit yang dia pendam.
"Dia baru dua puluh tahun."
Aku menggeleng kuat-kuat dan tersentak waktu dia teriak, “Buka matamu, sialan!”
Aku langsung buka mata. Air mata mengalir panas di kulit pipiku.
Dengan tatapan yang memaksaku buat terus melihat dia, dia berbisik, “Sekarang kamu ngerti apa yang aku omongin?”
Kali ini, aku mengangguk.
Saat dia menatapku, amarah yang luar biasa kembali muncul sampai wajahnya tampak seperti batu.
"Selama ginjal saudaraku masih ada di tubuh kamu ... kamu itu bagian dari keluargaku!"
Enggak.
Tuhan.
Enggak.
Begitu aku mulai menggeleng lagi, dia tiba-tiba menjauh. Detik berikutnya, mendorong tubuhnya dan pisau itu ditekan ke tempat bekas luka operasi aku.
Jeritan putus asa keluar dari mulutku saat aku mencoba meraih tangannya sambil memohon, “Jangan lakuin ini. Tolong … jangan.”
Matanya kembali bertemu mataku. "Pilihan kamu, sekarang ... lakuin apa pun yang aku minta, atau aku cabut ginjal kamu sekarang juga!"
Sial.
Sial.
Sial.
"Aku … aku … aku bakal ngelakuin apa pun yang kamu suruh."
Sekali lagi dia bergerak cepat dan berdiri. Tatapannya tajam, dan aku enggak berani menggerakkan otot sedikit pun, bahkan cuma untuk merapikan gaunku.
“Bawa dia balik ke ruangan,” perintahnya ke pengawal.
Pisau itu dilempar ke atas meja, dan dia ambil jaketnya.
Dengan rasa takut yang menyelimutiku, aku cuma bisa melihat dia mengenakan jaket dan meninggalkan ruangan.
Begitu dia pergi, aku langsung duduk dan tarik gaunku ke bawah sambil berdiri.
Pengawal itu mencekal lenganku dan menyeretku keluar dari ruangan yang jelas-jelas dipakai buat menyiksa orang. Dia lalu membawaku kembali ke Papa dan Dr. Nolan.
Aku didorong masuk sebelum pintu dibanting keras. Kakiku gemetar waktu mataku bertemu mata Papa.
“Kamu enggak apa-apa? Dia ngapain aja ke kamu?” tanya Papa sambil lari ke arahku, sementara tanganku masih terikat di belakang punggung.
Marunda.
Adik laki-lakinya mati.
Baru dua puluh tahun.
“Papa beli ginjal buat aku di pasar gelap?”
Papa berdiri di depanku. Ekspresinya campur aduk antara khawatir dan rasa bersalah.
"Papa biarin seseorang terbunuh cuma supaya aku dapat ginjal?"
Aku langsung menangis. "Dia baru dua puluh tahun, Pa!"
Napasku terengah-engah. "Aku enggak pernah minta ini!"
Aku menatap Papa dengan hati yang hancur dan penuh ketidakpercayaan, lalu berbisik, “Gimana bisa Papa tega ngelakuin ini?”
Air mata mengalir deras di wajahku. Mengetahui kalau aku hidup dengan ginjal milik seseorang yang terbunuh, meremukkan hatiku.
Aku lebih pilih mati dengan bermartabat daripada harus hidup dengan hal menakutkan seperti ini.
Wajah Papa gelap, penuh rasa bersalah. “Papa enggak tahu mereka bakal bunuh orang buat ini.”
Dia berbalik dan menatap Dr. Nolan dengan amarah. “Kamu bilang enggak bakal ada masalah!”
"Serius?!" teriakku sambil menjauh dari Papa. "Itu doang yang bisa Papa bilang?!"
Aku condong ke depan dan teriak, “Seseorang udah mati! Dengar enggak?! Seorang cowok yang enggak tahu apa-apa, dibunuh!”
Aku merasa kepalaku mau pecah.
Aku enggak sanggup menghadapi ini.
Isak tangis keluar dari bibirku waktu aku bilang, “Dan cowok itu ... adik kandung Bos mafia! Papa mikir apa sih?!”
Ya Tuhan, apa sih yang ada di pikiran mereka?
Aku tutup kepalaku dengan kedua tangan, mencengkeram rambutku sendiri.
"Kita bakal mati. Kita semua bakal mati. Dia bakal bunuh kita satu per satu. Dia bakal ambil ginjal aku. Dia bakal—"
"Quinn!" teriak Papa, seluruh tubuhnya gemetar karena frustrasi. "Dia enggak ada di sini. Tenanglah."
"Jangan suruh aku tenang!"
Dr. Nolan melangkah mendekat. "Semua perdebatan ini enggak bakal menyelesaikan apa pun."
"Diam!" teriakku, rasanya ingin pukul dia.
Tatapan marahku bolak-balik antara Papa dan Dr. Nolan, lalu tiba-tiba rasa bersalah yang luar biasa menghantamku.
Karena aku, seseorang harus mati.
Aku memeluk diriku sendiri, erangan kecil lolos dari bibirku.
Aku sudah merampas hak orang, dan orang yang enggak bersalah harus mati … cuma supaya aku bisa hidup.