SEQUEL ISTRI MANDUL JADI IBU ANAK CEO!
Theodore Morelli, pria cerdas dan berkharisma yang melanjutkan perusahaan teknologi keluarga, hidup dengan prinsip bersih dan profesional. Sosok yang dikenal orang sebagai pria tak kenal ampun dan ditakuti karena kesempurnaannya, harus jungkir balik ketika dia berurusan dengan seorang office girl baru di perusahaannya.
Celina Lorenzo, yang menyamar sebagai Celina Dawson, office girl sederhana, masuk ke perusahaan itu sebagai mata-mata mafia keluarganya untuk menyelidiki sesuatu di perusahaan Theo.
Awalnya mereka hanya dua orang dari dunia berbeda.
Tapi semakin dalam Celina menyelidiki Morelli Corporation, semakin ia sadar:
Theo bukan musuh yang ia cari. Dan Theo yang ditakuti justru memiliki sisi paling lembut untuk Celina.
Lalu bagaimana jadinya jika Theo yang lembut itu tahu identitas asli dari Celina yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2. SI KEMBAR
Ruang kerja CEO Morelli Corporation kembali sunyi setelah Theodore Morelli berdiri cukup lama di depan jendela kaca setinggi langit-langit.
Los Angeles terhampar di bawah sana; megah, sibuk, penuh ambisi. Kota yang sama yang telah ia taklukkan sejak usia dua puluh lima tahun. Kota yang menyebut namanya dengan kekaguman sekaligus ketakutan.
Namun di balik kaca itu, di balik jas mahal dan tatapan dingin yang baru saja mengoyak ruang rapat, Theodore hanyalah seorang kakak yang begitu lembut dan penuh kasih sayang.
Dan tak ada satu pun orang di gedung ini yang tahu itu, kecuali dua manusia yang sedang berlari kencang menuju ruangannya.
"THEOOOOOOO!"
Suara nyaring itu terdengar bahkan sebelum pintu terbuka.
BRAK!
Pintu ruang CEO terbuka tanpa ketukan.
Theo yang sedang meneguk air mineral refleks menoleh, dan seluruh ketegangan di bahunya luruh seketika saat melihat siapa yang datang.
Dua sosok muda berdiri di ambang pintu.
Yang pertama, seorang pria berusia dua puluh dua tahun dengan rambut hitam sedikit bergelombang, senyum lebar penuh percaya diri, dan aura santai khas anak emas keluarga. Kaos putih, jaket bomber hitam, celana jeans robek halus. Tatapannya cerdas, tajam, tapi penuh humor; Leonel Morelli.
Yang kedua, gadis seusianya, dengan rambut panjang sebahu diikat setengah, mata besar penuh ekspresi, dan mulut yang tampaknya tidak pernah kehabisan kata. Ia mengenakan hoodie oversized warna krem dan sneakers putih. Energinya ... seperti badai kecil; Luciana Morelli.
Adik kembar kesayangan Theo.
"Astaga, kantor kakakku ini selalu dingin dan kaku!" Lucy langsung melangkah masuk tanpa izin, menaruh paper bag besar di meja Theo. "AC-nya dingin, auranya dingin, orang-orangnya juga dingin. tidak heran mereka semua kelihatan stres!"
Theo tersenyum mendengar celotehan sang adik. Senyum yang tidak pernah ia pakai di ruang rapat.
"Lucy, kau bisa terdesak jika bicara seperti itu," tegur Theo lembut.
Leo menyeringai. "Jika dia sampai tersedak itu karena keributan yang dia lakukan sendiri."
"Hei!" Lucy memukul lengan kembarannya. "Berani sekali kau menyumpahiku tersedak secara tidak langsung."
Theo tertawa kecil, tawa pelan, tulus.
Jika ada karyawan yang melihat Theo sekarang, mereka mungkin tidak akan percaya bahwa pria ini adalah sosok yang membuat kepala divisi hampir pingsan beberapa jam lalu.
"Kenapa kalian ke sini? Bukankah kalian ingin mengunjungi Auntie Poppy?" tanya Theo sambil merapikan lengan kemejanya.
Lucy langsung menunjuk paper bag. "Mama."
Leo mengangguk. "Suruhan."
Theo menghela napas panjang, lalu tersenyum pasrah. "Tentu saja."
Lucy membuka isi tas dengan dramatis. "Makan siang. Mama bilang kau pasti lupa makan karena kerja. Dan Mama juga bilang-" ia mencondongkan tubuh, menurunkan suara dengan ekspresi konspiratif, "-kalau kakak sulungku ini akan murka besar hari ini soal projeknya."
Leo mengerutkan dahi. "Murka? Theo?"
Lucy menoleh cepat. "Kau tidak dengar gosipnya? Satu lantai trauma, katanya."
Theo mengangkat alis, pura-pura bingung padahal sudah tahu masalahnya, karena Theo yang membuat satu perusahaan memanas di rapat hari ini.
"Gosip dari mana?" tanya Theo menahan senyum.
"Lift!" Lucy menjawab cepat. "Dua karyawan hampir pingsan pas melihat aku masuk. Mereka bisik-bisik seperti lihat monster lewat. Aku sempat mendengar mereka membicarakan Theo yang mengamuk saat rapat dengan para petinggi perusahaan pagi ini."
Leo tertawa. "Mustahil. Kakak kita ini terlalu sempurna buat marah. Mereka hanya berlebihan jika ditegur, dianggap Theo murka. Theo tidak pernah marah sampai membuat orang takut."
Theo menatap adiknya dengan tatapan hangat. Tentu saja kedua adiknya ini tidak akan pernah Theo biarkan melihat dirinya marah hingga memaki. Karena Theo ingin menjadi teladan yang baik untuk dua adik kesayangannya ini. "Leo benar. Aku hanya ... tegas."
Lucy menyipitkan mata. "Benarkah?"
Theo menggeleng sambil membuka kotak makan. Aroma masakan rumah langsung memenuhi ruangan.
"Terima kasih. Sampaikan ke Mama," kata Theo tulus.
"Sudah kusampaikan bahkan sebelum kau mengatakannya. Karena aku tahu kau pasti akan mengatakannya," kata Lucy penuh kebanggaan.
Theo tersenyum lebar melihat kelakuan adik perempuannya satu ini.
Leo menyandarkan diri di sofa. "Apa yang terjadi, Theo? Tadi aku juga sempat mendengar banyak desas-desus soal rapat pagi ini di lobi tadi."
Theo menghela napas. Kali ini bukan napas marah, melainkan napas lelah karena harus mengingat lagi masalah besar yang terjadi pada perusahaan sekarang.
"Proyek AI bocor. Rancangan internal kita diduplikat oleh perusahaan lawan," jawab Theo.
Ekspresi Leo berubah serius. "Helix?"
Theo mengangguk.
Lucy terdiam, hal langka. Karena bagaimana pun Lucy tahu kondisi mana yang harus dibuat bercanda dan tidak.
"Itu serius," ujar Leo. "Keamanan internal?"
"Sedang diselidiki," jawab Theo. "Tapi alasan mereka ... tidak logis. Bilang kalau ini kesalahan sistem tapi projek bisa diduplikat perusahaan lawan."
Leo berpikir sejenak. "Mungkin kau harus bicara dengan Papa tentang ini. Papa selalu punya jalan keluar jika soal bisnis tersudutkan."
Theo tersenyum kecil. "Kupikir juga begitu."
"Ah, para petinggi akan pingsan sungguhan jika Papa sampai datang ke ruang rapat nanti," ucap Lucy membayangkan atmosfer ketika ayahnya yang tegas dan galak itu mengurusi kesalahan ini.
"Aku bisa membayangkan mereka akan gemetar takut bahkan ketika Papa baru masuk di lobi," kata Leo dengan seringainya.
Lucy bersedekap. "Biarkan saja, itu salah mereka karena tidak mengerjakan pekerjaan dengan baik."
Theo hanya tersenyum.
Leo menatap kakaknya lekat-lekat. “Kau tidak sendirian, Theo. Papa juga bilang, jika kau ada masalah kau harus langsung bilang pada Papa."
Theo mengangguk pelan.
Lalu Lucy mendekat, menatap kemeja kakaknya.
"Ngomong-ngomong," kata Lucy curiga, "kenapa bajumu kotor?"
Theo menunduk melihat kemejanya. Noda kopi cokelat masih terlihat samar di bagian depan.
"Oh. Office girl menumpahkan kopi saat rapat," jawab Theo ringan.
"Bagaimana bisa?!" Lucy berseru. "Dia dipecat?"
Theo mengangkat kepala. "Tidak. Tadi juga salahku karena tidak bisa mengontrol diri saat rapat dan menyenggolnya."
Lucy dan Leo serempak menoleh.
"Tidak?" Lucy menyipitkan mata. "Kakakku yang perfeksionis ini tidak memecat orang?"
Theo tersenyum tipis. "Tidak semua kesalahan harus dihukum. Terutama kesalahan yang seharusnya bisa dihindari."
Lucy terdiam, lalu tersenyum miring. "Wah."
Leo menyilangkan tangan. "Siapa namanya?"
Theo berhenti sejenak. "Celina Dawson."
Lucy memiringkan kepala. "Nama yang cantik."
Theo menatap adiknya sekilas, seolah tahu isi kepala adiknya ini. "Lucy."
"Apa?" Lucy terkekeh. "Aku hanya komentar."
Setelahnya, mereka makan bersama, dipenuhi obrolan ringan, canda Lucy yang tidak berhenti, Leo yang menimpali dengan sarkasme santai, dan Theo yang menikmati setiap detiknya.
Karena hanya di momen seperti inilah Theo bisa melepas topengnya.
Ia bukan raja ekonomi.
Bukan The Perfect Man.
Bukan CEO yang ditakuti.
Ia hanya Theodore, kakak si kembar.
Hingga ....
Tok. Tok.
Pintu diketuk pelan.
Aiden masuk dengan wajah tegang.
"Maaf mengganggu. Tapi ada masalah besar," beritahu Aiden.
Ekspresi Theo langsung berubah.
"Ada apa?" tanya Theo singkat.
Aiden menatap Leo dan Lucy sejenak, lalu kembali ke Theo. "Print out laporan keuangan internal yang ingin diserahkan ... hilang."
Lucy membelalak. "Hilang?"
Aiden mengangguk. "Dan karyawan yang bertanggung jawab soal print out itu menuduh seorang office girl bernama Celina Dawson yang membuangnya ke tempat sampah."
Ruangan membeku ketika mendengar nama itu kembali muncul.
Theo berdiri perlahan.
Tatapan hangat sebelumnya seketika menghilang.
Digantikan oleh dingin yang mematikan.
"Bawa aku ke sana," kata Theo pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi itu ... nama Celina Dawson kembali muncul, bukan sebagai kebetulan.
Melainkan pusat badai yang membawa Theo terjebak di dalamnya.
semoga gak terlambat menyelamatkan twins
lo jual gw beli
maaf ye,bukan kita yg mulai, ini namanya mekanisme perlindungan diri.
kan..bukan aku yg mulai🤣🤣
mulut mu
tapi bener lah
dibully malah menikmati sensasi nya🫣
bagus
bagus
bagus
bagus thooorr...
q suka...q suka❤️❤️❤️❤️❤️