Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Diri yang Runtuh
Hujan di kaki perbukitan Jawa Tengah belum juga reda saat helikopter dengan lambang Eduardo Group itu mendarat darurat di sebuah lapangan desa yang berlumpur. Suara baling-baling yang memekakkan telinga kontras dengan kesunyian desa yang biasanya hanya diisi oleh suara jangkrik dan gemericik air sungai. Penduduk desa keluar dari rumah kayu mereka dengan tatapan heran dan takut, melihat seorang pria berpakaian jas mahal—yang kini terciprat lumpur—melompat keluar dengan wajah penuh kegusaran.
Alexander Eduardo tidak peduli pada sepatu kulitnya yang hancur atau jas custom-made yang basah kuyup. Matanya hanya menyisir setiap sudut pemukiman itu, mencari jejak gadis yang telah mencuri kewarasannya.
"Tuan, menurut pelacakan sinyal dari motor Pak Darmo, posisinya ada di puskesmas pembantu di ujung jalan ini," lapor ajudannya, berusaha memayungi sang tuan yang sudah basah kuyup.
"Minggir!" bentak Alex, menepis payung itu. Ia berlari. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, Alexander Eduardo berlari bukan untuk mengejar profit atau kekuasaan, melainkan untuk mengejar nyawa yang hampir ia sia-siakan.
Puskesmas itu hanyalah bangunan kecil dengan cat putih yang sudah mengelupas di sana-sini. Bau obat-obatan murah dan karbol yang menyengat menyambut Alex saat ia mendobrak pintu depan. Beberapa perawat terpekik kaget melihat pria asing yang tampak seperti malaikat maut namun dengan mata yang hancur.
"Di mana Almira Nindya?!" suaranya menggelegar di lorong sempit itu.
"T-tuan, mohon tenang. Pasien ada di ruang bersalin satu, tapi kondisinya—"
Alex tidak menunggu penjelasan. Ia menyisir lorong dan menemukan sebuah pintu kayu yang rapuh. Dengan tangan gemetar, ia membukanya perlahan.
Di sana, di atas ranjang besi yang sempit, terbaring sosok yang ia cari. Almira. Wajahnya begitu pucat, hampir transparan di bawah cahaya lampu neon yang berkedip. Matanya tertutup rapat, dan selang infus terpasang di tangannya yang mungil. Ia tampak begitu rapuh, seolah jika Alex menyentuhnya, gadis itu akan hancur menjadi debu.
Alex mendekat dengan langkah berat. Ia melihat noda darah pada pakaian Almira yang sudah diganti oleh perawat. Jantungnya terasa seperti diremas oleh tangan raksasa.
"Almira..." bisiknya, suaranya pecah.
Gadis itu tidak terbangun. Seorang dokter desa paruh baya masuk dan menatap Alex dengan pandangan menyelidik. "Anda suaminya?"
Alex terdiam sejenak. Kata 'majikan' terasa sangat menjijikkan saat ini. "Saya... saya ayahnya. Ayah dari anak yang dikandungnya."
Dokter itu menghela napas panjang. "Nona ini mengalami stres yang sangat hebat dan kekurangan nutrisi. Ada ancaman keguguran yang serius. Beruntung bayinya sangat kuat, dia masih bertahan. Tapi jika Ibunya tidak punya keinginan untuk hidup, medis pun tidak bisa berbuat banyak."
Mendengar kata-kata 'bayinya masih bertahan', Alex jatuh berlutut di samping ranjang Almira. Ia menyembunyikan wajahnya di kasur yang keras itu, bahunya berguncang hebat. Tangisan pria yang dikenal tanpa hati itu akhirnya pecah. Ia menangis bukan karena kehilangan, tapi karena rasa syukur dan penyesalan yang mendalam.
Satu jam berlalu. Alex masih di sana, menggenggam tangan Almira yang dingin. Ia terus membisikkan permohonan maaf, kata-kata yang sebelumnya tidak pernah ada dalam kamusnya.
"Maafkan aku... maafkan aku, Sayang. Jangan pergi. Aku janji akan membangunkan dunia untukmu. Aku tidak akan pernah menyakitimu lagi," gumamnya terus-menerus.
Perlahan, kelopak mata Almira bergerak. Ia mengerang pelan, merasakan pening yang luar biasa. Saat penglihatannya mulai fokus, ia melihat sosok pria yang sangat ia kenali—pria yang menjadi sumber mimpi buruknya sekaligus pria yang selalu muncul dalam doa-doa rahasianya.
"Tuan... Alex?" suara Almira begitu lirih, nyaris seperti hembusan angin.
Alex mendongak. Matanya yang merah dan sembab bertemu dengan mata sayu Almira. "Aku di sini, Almira. Aku di sini."
Almira mencoba menarik tangannya dengan ketakutan yang instingtif. "Jangan... jangan bunuh anak saya... Saya mohon, Tuan. Biarkan saya pergi. Saya akan menghilang, saya tidak akan meminta apa-apa..."
Melihat ketakutan yang begitu murni di mata Almira, Alex merasa seperti iblis. Ia segera bersujud di lantai, mencium tangan Almira yang bebas.
"Tidak, Almira! Aku salah! Aku gila!" ucap Alex dengan suara parau. "Anak itu... dia anakku. Aku menginginkannya. Aku menginginkanmu. Tolong, jangan takut padaku lagi. Aku datang untuk membawamu pulang. Bukan ke penjara itu, tapi ke rumah yang sesungguhnya."
Almira tertegun. Pria arogan yang selalu berdiri tegak dengan dagu terangkat itu kini bersujud di kakinya? Alexander Eduardo yang selalu merendahkan harga dirinya kini menghancurkan harga dirinya sendiri demi mendapatkan pengampunannya?
"Kenapa, Tuan? Anda mencintai Elara... Anda bilang saya sampah..." air mata Almira mengalir deras.
"Aku buta, Almira! Elara adalah masa lalu yang busuk. Kau... kau adalah hidupku yang sekarang. Aku tidak sadar bahwa sejak kau masuk ke rumah itu, kau sudah mencuri setiap napas yang kuhirup. Aku pengecut yang tidak berani mengakui bahwa aku jatuh cinta pada gadis yang seharusnya hanya menjadi pelampiasanku."
Malam itu, di dalam puskesmas yang sunyi, terjadi sebuah pergeseran takdir. Almira melihat kejujuran di mata Alex. Meski lukanya belum sembuh, meski rasa sakit akibat arogansi Alex masih membekas, ada sesuatu yang membuat hatinya sedikit melunak. Mungkin itu adalah insting seorang ibu yang ingin anaknya memiliki ayah, atau mungkin karena cinta yang diam-diam tumbuh di tengah penyiksaan itu mulai menuntut ruang.
"Apakah Ibu saya baik-baik saja?" tanya Almira.
"Ibumu aman. Aku sudah memindahkannya ke fasilitas terbaik di Singapura pagi ini untuk memastikan Elara tidak bisa menyentuhnya lagi," jawab Alex dengan nada protektif. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti kalian lagi. Termasuk diriku sendiri."
Alex berdiri, ia mengecup dahi Almira dengan sangat lembut—jauh berbeda dengan kecupan-kecupan sebelumnya. Kali ini, kecupan itu adalah janji.
"Kita akan pulang dengan helikopter setelah kondisimu stabil. Aku akan mengubah segalanya, Almira. Kau tidak akan menjadi budak, tidak akan menjadi pelayan. Kau akan menjadi ratu di hidupku."
Almira hanya terdiam, menatap jendela. Ia tahu perjalanan ini masih sangat panjang. 110 bab ke depan mungkin akan penuh dengan rintangan dari Elara yang tidak akan tinggal diam, serta keraguan hatinya sendiri untuk benar-benar mempercayai pria yang pernah menghancurkannya.
Namun, saat Alex meletakkan telapak tangannya di perut Almira dengan penuh rasa hormat dan haru, Almira merasakan tendangan kecil di dalamnya—sebuah tanda kehidupan yang seolah berkata bahwa mereka harus memberi pria ini satu kesempatan untuk menebus dosa-dosanya.