"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Studio
Studio Mahendra Creative dipenuhi kilatan lampu dan suara teknisi yang sibuk. Ruangan itu terlihat mewah dan tertata rapi, tapi di mata Rania, semuanya terlalu kaku.
Hari ini, Rania menjadi wajah utama kampanye “Perempuan Bertahan”—konsepnya kuat dan emosional: perempuan urban yang tak tersentuh, tapi menyimpan luka yang tak bisa sembuh.
Rania mengenakan kemeja putih longgar, hanya dikancing sebagian. Rambutnya dibiarkan jatuh liar di bahu. Ia duduk di bawah lampu sorot dengan tatapan tajam, tapi tubuhnya nyaris gemetar. Ia seperti siap pecah, namun tak pernah retak.
Klik. Klik.
"Lebih dalam, Ran! Jangan jaga diri! Tunjukkan luka itu!" teriak fotografer.
Dan Rania menuruti. Ia menatap lensa seperti menatap masa lalu—penuh kecewa, marah, dan rindu. Ia bukan sedang akting. Ia sedang membuka dirinya, seutuhnya.
Di balik kamera, Radit berdiri diam. Lengan terlipat. Dada terasa berat. Ia menyaksikan perempuan itu… dalam.
Sesi berikutnya lebih panas. Rania diminta berpose di atas ranjang studio. Set-nya menggambarkan seorang perempuan yang baru saja melepaskan diri dari pelukan yang salah.
Namun kali ini, peran dan kenyataan bertabrakan.
Rania merebahkan tubuh. Kemeja putihnya merosot setengah, menyisakan bahu dan dada atas yang terekspos samar. Kakinya menyilang lembut.
Dan Radit berjalan perlahan mendekat.
"Berhenti sebentar," ucapnya mendadak.
Semua menoleh.
"Kenapa, Pak?" tanya fotografer, ragu.
Radit menatap Rania. "Biar aku yang arahkan langsung."
Ia berjalan ke ranjang studio. Duduk di sisi Rania. Jarak mereka hanya sejengkal. Napas mereka menyatu. Dan saat Radit menatap mata perempuan itu, ia tahu: ini bukan hanya foto. Ini sejarah yang belum selesai.
“Kamu masih ingat?” bisik Radit. “Nada napasmu. Suhu kulitmu. Malam lalu yang kita habiskan tanpa cahaya, hanya suara dan kulit.”
Jarinya menyentuh bahu Rania. Ringan. Tapi sentuhan itu menyulut percikan.
Klik.
Fotografer diam. Kamera tetap berjalan. Tapi tak ada yang bisa menangkap panas yang sesungguhnya terbakar di antara mereka.
---
Sore menjelang malam. Kru bersorak kecil. Musik diputar. Botol-botol minuman ringan dan alkohol dibuka. Tawa meledak di antara lelah.
"Rania, sini gabung!" seru seorang kru sambil menyodorkan gelas.
Rania awalnya menolak halus. Tapi semua mata mengarah padanya. Ia tak ingin jadi pembeda. Jadi ia mengangguk, menerima satu gelas kecil.
Pahit. Hangat. Tapi dia meneguknya.
Satu gelas. Dua gelas. Tiga.
Tak lama, Rania menghilang dari tengah keramaian. Pemotretan ditunda. Semua orang tertawa… kecuali Radit, yang matanya terus mencari seseorang.
“Rania di mana?” tanyanya.
“Kayaknya ke ruang ganti, Pak. Tadi sempat agak goyang habis minum.”
Tanpa pikir panjang, Radit melangkah cepat. Pintu ruang ganti didorong pelan.
Dan di sanalah Rania.
Terbaring di sofa panjang. Gaun tipisnya melorot dari bahu, rambutnya kusut, pipinya merah menyala. Bibirnya separuh terbuka, matanya setengah sadar.
“Ran…” panggil Radit lirih.
Rania membuka mata perlahan. Senyum tipis muncul di bibirnya—senyum yang tidak sadar sepenuhnya, tapi menggoda, menyentak logika siapa pun yang melihat.
“Kamu datang juga,” gumamnya. “Aku udah nungguin kamu.”
Radit terpaku.
Rania tertawa kecil, lalu menarik lengan Radit, memaksanya berlutut di hadapannya.
“Kamu tahu… kamu itu berbahaya,” bisiknya di telinga pria itu. “Tapi bahaya yang aku mau.”
Radit menahan napas saat Rania mencium lehernya. Lembut. Basah. Hangat.
"Kamu mabuk."
"Berhenti menggodaku, Rania."
Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal.
“Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah.
“Anggap aja… ucapan selamat datang dari janda muda.”
"Rania!"
"Aku panas, Dit… bantu aku,” bisiknya sambil menarik kerah baju Radit. Suara desah Rania menyusul, seperti bisikan setan dalam doa.
Radit nyaris kehilangan kendali. Ia ingin menjauh. Tapi tubuhnya tak bisa. Apalagi saat Rania bangkit, duduk di pangkuannya, lalu membisikkan lagi, “Apa kamu enggak penasaran… kayak aku?”
Bibirnya menyentuh bibir Radit. Lembut. Sedikit getir. Tapi justru itulah yang membuatnya terasa nyata.
Radit membalas. Sekejap saja. Lalu menarik tubuh Rania ke pelukannya.
Gadis itu menggelinjang pelan. Kedua tangannya meremas bahu Radit, sementara bibirnya kembali mencium lehernya. Kali ini, lebih dalam. Lebih haus. Dan menggigit lagi—lebih keras.
“Rania… cukup.”
“Belum,” jawabnya, matanya kembali terpejam. “Kamu belum jawab pertanyaanku tadi…”
Radit menarik napas. Tubuhnya panas. Tapi pikirannya menjerit. Ia tahu… jika ia lanjut satu detik lagi, tak akan ada jalan mundur.
Dan tiba-tiba—
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Ponsel Rania bergetar di meja rias. Berkali-kali. Radit menoleh, menatap layar yang menyala. Nama tidak penting. Tapi cukup jadi pengingat.
Ia menarik diri. Dengan cepat, ia ambil jaket dan menyelimuti tubuh Rania. Lalu membaringkannya hati-hati.
“Maaf, Ran… tapi bukan sekarang,” bisiknya sambil menyeka keringat dingin di pelipisnya.
Namun sebelum ia melangkah pergi, suara Rania terdengar lirih dari balik napas mabuknya.
“Kalau bukan sekarang… kapan kamu akan mengizinkan diri untuk jujur sama aku?”
Radit menutup mata sejenak. Lalu membuka pintu, meninggalkan ruang itu.
---
Keesokan paginya.
Cahaya matahari menembus tirai jendela studio yang setengah tertutup. Suara langkah kru baru mulai terdengar samar dari luar ruangan.
Di dalam ruang ganti yang masih sepi, Rania membuka mata perlahan. Kelopak matanya berat, tenggorokannya kering, dan kepalanya seperti dipukul dari dalam.
Ia mengerang pelan, lalu bangkit perlahan sambil memegangi dahi. Pandangannya kabur sesaat, lalu berangsur fokus. Ia melihat jaket besar yang menyelimuti tubuhnya—bukan miliknya.
Rania menunduk. Gaun tipisnya masih melorot dari bahu. Pipinya merah bukan lagi karena alkohol, tapi karena kesadaran yang mulai kembali.
Kilasan semalam mulai menghantam kepalanya seperti gelombang—sentuhan di lehernya, desahan, pelukan, kecupan. Radit.
“Oh, Tuhan…” gumamnya nyaris tak terdengar.
Tangannya mencengkeram jaket itu erat. Ia menoleh ke arah meja rias—ponselnya tergeletak di sana, dengan puluhan notifikasi tak terbaca. Tapi bukan itu yang membuatnya gemetar.
Itu adalah bayangan Radit. Tatapannya. Cara dia menarik napas ketika Rania mencium lehernya. Cara dia hampir kehilangan kendali.
Dan cara dia menolak.
“Maaf, Ran… tapi bukan sekarang.”
Ucapan itu menggema di kepalanya lebih keras dari semua suara di dunia. Ia tidak tahu apakah harus marah, malu, atau… kecewa.
---
Di sisi lain studio, Radit duduk sendirian di ruang monitor. Kopi dingin di tangannya tak disentuh. Matanya merah, kantuk tak pernah benar-benar datang.
Ia menatap layar yang memutar hasil sesi kemarin. Setiap frame menampilkan Rania. Tapi yang ia lihat bukan sekadar model.
Ia melihat perempuan yang semalam, dengan tubuh setengah mabuk dan suara gemetar, menyentuh bagian terdalam dari dirinya yang selama ini ia tutup rapat.
“Kalau bukan sekarang… kapan kamu akan mengizinkan diri untuk jujur sama aku?”
Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari tamparan mana pun.
Radit mendesah pelan, lalu menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Aku bodoh..." gumamnya. “Terlalu pengecut.”
Dan saat itu, pintu ruang monitor diketuk pelan. Seorang kru masuk.
"Pak Radit, Rania udah bangun. Kayaknya dia lagi cari Bapak."
Radit menoleh. Jantungnya berdegup tak karuan.
---
Rania berdiri di lorong studio, mengenakan hoodie besar dan legging hitam. Wajahnya masih pucat, tapi matanya sudah tak setengah sadar. Ia sedang berbicara dengan salah satu kru ketika Radit muncul dari ujung lorong.
Mata mereka langsung bertemu.
Hening seketika. Lorong yang tadinya ramai mendadak terasa sunyi. Semua orang seperti hilang dari sekitar mereka.
Radit berjalan mendekat perlahan. Dan saat jaraknya tinggal satu langkah, Rania lebih dulu bicara.
"M-maafin aku. Aku hilang kendali."
Nadanya datar, tapi tajam.
Radit mengangguk pelan. "Lupakan. Sekarang, kamu bisa pulang."
Rania menatap mata pria itu lama. Lalu tersenyum tipis—bukan senyum manis, tapi senyum penuh ironi.
“Apa kamu marah?”
Radit terdiam. Ia tahu, tak ada jawaban yang cukup untuk menenangkan badai di dadanya sendiri.
Rania menunduk, lalu berkata lirih, “Aku nyesel semalam. Tapi, aku beneran mabuk."
Ia berbalik hendak pergi, tapi Radit menahan lengannya.
“Rania…”
Rania menoleh perlahan ke arahnya.