NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:315
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HAMPIR MENYERAH

TIGA BULAN KEMUDIAN...

Udara di ruang bimbingan itu terasa pengap, terjepit di antara deretan lemari arsip dan aroma kopi instan yang sudah dingin. Di balik meja kayu jati, Pak Yanto—pria tiga puluh lima tahun dengan dahi yang selalu berkerut—menatap tajam murid di hadapannya. ​Dan, yang ditatap justru tetap merasa tenang, seakan mata itu tak menuai kekhawatiran yang berlebih.

​Putra menyandarkan punggungnya ke kursi plastik dengan santai, nyaris merosot. Matanya berkeliling, mengamati cicak yang merayap di langit-langit, lalu beralih ke tumpukan map di sudut ruangan. Tidak ada keringat dingin, tidak ada gemetar di tangan, apalagi rasa takut. Baginya, interogasi ini hanyalah jeda membosankan dari jadwal tidurnya.

​"Putra, ayolah!" Suara Pak Yanto berat, menahan ledakan yang sudah sampai di ujung kerongkongan.

​Putra menoleh, memberikan senyum tipis yang tampak lebih seperti ejekan tidak sengaja. "Iya, Pak?"

​Pak Yanto membanting bundel laporan Praktik Kerja Lapangan (PKL) milik Putra ke atas meja. Suaranya berdentum keras. "Tiga bulan kamu PKL, dan ini hasilnya? Absensi kosong setengah bulan, laporan hanya berisi satu paragraf, dan pembimbingmu di sana bilang kamu lebih banyak tidur di studio daripada belajar memegang kamera!"

​Putra mengangkat bahu, tangannya memainkan ujung kerah seragamnya yang tidak rapi. "Ya habisnya di sana membosankan, Pak. Cuma disuruh megang kameranya doang, ngelapin lensa terus sama sapu lantai. Saya kan ke sana mau PKL, bukan jadi pembantu alat."

​Ketidakpedulian itu adalah pemantik api bagi Pak Yanto. Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Putra yang kosong tanpa beban.

​"Kamu tahu, Putra? Di luar sana orang berebut mencari ilmu dan sertifikat untuk bertahan hidup. Tapi kamu? Kamu meremehkan kesempatan seolah dunia ini milik bapakmu," Desis Pak Yanto. "Saya sudah lihat banyak murid nakal, tapi kamu ini beda. Kamu itu... gagal jadi manusia."

​Kalimat itu tajam, namun Putra hanya berkedip sekali. "Gagal jadi manusia, Pak?" Ulangnya. "Gagal apanya, Pak? saya punya mata sama seperti Bapak... saya punya hidung mulut kuping, kaki telinga... Ibu saya lahirin saya gak gagal, kok!" Celetuknya. "Justru nih, ya.... Pak. Kalau bapak tahu... di pasar ada Ibu-ibu bilang kalau saya ini tampan!"

Pak Yanto menepuk jidat, seakan sudah lelah menghadapi siswa seperti Putra. ​"Mau jadi manusia apa kamu kalau begini terus?" Lanjut Pak Yanto, suaranya kini merendah, penuh keputusasaan yang getir. "Dunia nggak butuh orang yang cuma bisa duduk santai sementara hidupnya hancur berantakan. Kamu mau jadi sampah? Ngerti gak sih maksud Bapak?!"

​Putra terdiam sejenak. Ia melihat ke arah jendela yang menampilkan lapangan sekolah yang gersang. Untuk pertama kalinya, ada kilat aneh di matanya—bukan rasa sesal, melainkan sebuah pemikiran yang sulit dibaca. ​"Jadi manusia itu repot ya, Pak?" Tanyanya pelan kemudian, suaranya datar tanpa nada menantang, yang justru membuat suasana semakin merinding.

Putra mendengus. "Harus lari-lari, harus kerja, harus benar. Saya cuma duduk di sini saja Bapak sudah marah. Bagaimana kalau saya benar-benar jadi 'sesuatu' nanti? Lebih baik jadi orang, Pak. mau jadi orang kaya, kek... orang miskin, kek... gak perlu Bapak peduli."

​Pak Yanto tertegun. Ia kehilangan kata-kata melihat seorang remaja tujuh belas tahun yang jiwanya terasa seolah sudah mati sebelum benar-benar hidup. Tangannya terangkat, menggenggam penggaris besi yang diacungkan ke udara, nyaris melayang ke arah kepala Putra. Namun niat itu runtuh sebelum sempat menjadi tindakan. Rahangnya mengeras, bibir bawahnya tergigit menahan amarah, sementara Putra tetap duduk santai, seolah tak ada badai yang sedang mengancam di hadapannya. "Isi pikiran kamu itu kemana, Putraaaa! Kamu niat sekolah mau jadi apa nantinya?! Kalau kamu cuma mau jadi orang miskin, ya usah gak sekolah. Terus, gimana nasib istri sama anak kamu di masa depan nantinya?!"

Hening sejenak. Hanya detak jam dinding yang terdengar mengisi kekosongan di antara mereka.

​Pak Yanto mengembuskan napas panjang—sebuah helaan napas yang sarat akan usaha untuk tetap sabar, meski urat di pelipisnya mulai berdenyut. Matanya menatap tajam ke arah Putra, mencari secuil rasa bersalah atau ketakutan di sana.

"Putra." Lanjut Pak Yanto kemudian. Kali ini, nadanya lebih rendah dari sebelumnya. Namun, matanya tetap serius, bahkan lebih dalam. "Bapak mau tanya sam kamu..."

Putra mengangguk. "Ya?"

"Apa cita-cita kamu? Apa keinginan terbesar kamu?"

Putra terdiam sejenak. Pertanyaan itu sederhana, namun sarat makna. Ada banyak hal yang ingin Putra dapatkan, ada banyak hal yang ingin Putra gapai, namun keinginan untuk mendapatkan Salma mengalahkan segalanya untuk sekarang-sekarang ini. Terlebih, ketika melihat wanita itu hancur. Putra ingin menjadi pelindung yang paling utama untuk Salma.

Semenjak kepergian Salma, Putra yang kehilangan arah dan tujuan selama sang Ayah tega pergi meninggalkan ia dengan ibunya, semakin tak terbentuk. Tapi satu hal yang ia inginkan, menjadi seseorang yang paling dibutuhkan untuk orang yang dicintainya, bukan hanya Ibunya tapi juga Salma.

"Pak?" Kata Putra kemudian. "Apa sukses itu ukuran?"

Pak Yanto tersentak dan mendadak bisu.

"Apa sukses seseorang itu hanya di nilai seberapa besar predikat yang ia dapatkan?" Desak Putra. "Kata orang... ada banyak jalan menuju sukses, terus apa hubungannya kalau seseorang untuk sukses harus memiliki nilai yang tinggi di segala bidang. Sementara saya sendiri... hanya orang, Pak. Bukan Aquaman yang bisa mengendalikan segala elemen."

Putra menahan napas. "Kalau Bapak tanya apa cita-cita saya... ya, tentulah, saya ingin jadi orang sukses. Kalau Bapak mengkhawatirkan apakah istri dan anak saya bisa makan apa enggak, itu bukan urusan Bapak. Saya yang akan tanggungjawab untuk itu, kerja apapun saya lakukan."

Pak Yanto mendesis. Kalimat "kerja apapun saya lakukan" seakan memberinya peluang untuk kembali bicara. "Putra..." Katanya, tubuhnya condong ke arah Putra. "Kerja apapun bisa kamu lakukan? Kamu punya bekal apa? Kamu punya kemampuan apa, sementara yan kamu bisa hanya bermalas-malasan dan tidur. Siapa yang mau menerima karyawan seperti kamu?! Sekarang saja... kamu tahu, kenapa Bapak panggil kamu ke ruangan dan memberikan laporan ini PKL ini?"

Pak Yanto menggeleng beku, kuku-kuku jarinya mengetuk laporan yang tergeletak di atas mejanya. "Perusahaan menyerah dan membawamu kembali pulang kepada kami! Memalukan! Pihak sekolah dan saya pribadi sudah menimbang-nimbang tentang kelulusan kamu yang pasti tidak akan..."

​"Masih bisa diperbaiki, Pak!"

​Sebuah seruan memecah ketegangan di ruangan itu. Putra dan Pak Yanto sontak menoleh ke arah sumber suara secara bersamaan.

​Di ambang pintu, sosok Salma berdiri dengan tenang. Wajah Putra yang semula ditekuk lesu mendadak berubah drastis. Raut santainya berganti menjadi binar sumringah yang penuh keterkejutan. Jantungnya berdegup kencang, antara percaya dan tidak. Ia merasa seolah sedang terjebak dalam mimpi indah—sosok yang selama ini ia harapkan kehadirannya, kini benar-benar melangkah mendekat ke arah mereka.

​Salma mengangguk hormat pada Pak Yanto sebelum mengalihkan pandangan sejenak pada Putra.

​"Saya memang bukan guru pembimbing PKL Putra, Pak," Lanjut Salma dengan nada suara yang mantap. "Tapi kalau Bapak tidak keberatan... mohon beri saya kesempatan. Biarkan saya yang membimbing Putra secara personal sampai dia bisa mengejar ketertinggalannya."

​Pak Yanto mengerutkan kening, menatap Salma dengan saksama. "Bagaimana Bu Salma bisa seyakin itu?" Tanya beliau sangsi.

​Salma terdiam sejenak. Ruangan itu mendadak hening, hanya menyisakan deru napas Putra yang tertahan menunggu jawaban. Salma menatap lurus ke arah Pak Yanto, membuang jauh keraguannya sendiri.

​"Mohon beri saya kepercayaan, Pak," Ucapnya di detik berikutnya, penuh permohonan sekaligus penekanan. "Saya yang akan menjamin dia berhasil."

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!