Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pagi itu, fajar menyingsing dengan suasana yang berbeda. Bukan sekadar semburat jingga yang menandai dimulainya hari kerja seperti biasanya, melainkan cahaya keemasan yang terasa hangat dan penuh harapan. Udara pun terasa lebih ringan dan segar, seolah membawa bisik-bisik semangat yang merambat dari satu gubuk ke gubuk lainnya.
Warga dari seluruh penjuru Desa Batu Sungai berbondong-bondong menuju satu titik pusat: alun-alun desa. Tempat yang biasanya hanya dipenuhi para pencari nafkah yang lalu lalang atau anak-anak yang bermain riang, kini telah menjelma menjadi lautan manusia yang bersemangat. Riak-riak percakapan pelan dan derap langkah kaki terdengar di seluruh penjuru.
Dari anak-anak kecil yang berlarian gembira hingga para tetua yang berjalan perlahan dengan tongkat, semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka, pakaian yang biasanya hanya disimpan untuk hari raya. Wajah-wajah yang biasanya letih oleh cangkul dan parang kini tampak berseri-seri, masing-masing memendam mimpi yang sama: agar diri sendiri, atau putra-putri mereka, terpilih oleh perguruan paling terkemuka di wilayah itu… Perguruan Pedang Awan.
Mata mereka berbinar menatap sebuah panggung kayu sederhana yang didirikan semalam. Di atas panggung kosong itu, mereka tidak melihat kayu, melainkan masa depan. Sebuah gerbang menuju kemuliaan, harapan yang tumbuh subur dalam keheningan yang penuh antisipasi.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah hari dimana seorang Pendekar Abadi dari perguruan legendaris dikabarkan akan turun langsung ke desa mereka, Desa Batu Sungai.
Jihan berdiri di tengah kerumunan, menyerap energi luar biasa yang berdenyut di sekelilingnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena campuran gugup dan antisipasi yang tajam, berirama dengan dengungan ratusan suara yang penuh harapan.
Semalam ia nyaris tak bisa memejamkan mata. Benaknya terus-menerus dipenuhi bayangan tentang apa yang akan terjadi hari ini, bayangan menjadi seorang pendekar, menemukan obat untuk ibunya, dan mengubah nasib mereka untuk selamanya.
Jihan datang seorang diri. Tadi pagi, ia harus membuat keputusan tersulit, meninggalkan Ibunya yang masih lemah di rumah. Momen perpisahan mereka terasa singkat namun begitu berat. Ia berpamitan dengan lembut, berusaha menyembunyikan getaran di tangannya saat ia memperbaiki selimut ibunya untuk terakhir kali.
Sebagian besar hatinya terasa berat untuk melangkah pergi, takut akan apa yang mungkin terjadi saat ia tidak ada. Namun, harapan akan masa depan yang lebih baik itulah yang mendorongnya keluar dari gubuk itu. sementara sang ibu berjanji akan mendoakannya dari pembaringan.
Dan kini, berdiri di sini, janji yang ia ucapkan pada ibunya kemarin, janji untuk menjadi kuat dan menemukan obat, terasa begitu nyata dan semakin dekat untuk digapai.
Pandangannya kemudian menyapu kerumunan dan berhenti di satu titik. Di sisi lain alun-alun, di barisan paling depan, Jihan melihat Gading dan kedua temannya. Mereka berdiri dengan angkuh, seolah kerumunan rakyat jelata di sekitar mereka tidak ada.
Gading, terutama, tampak begitu mencolok. Ia mengenakan jubah sutra berwarna merah menyala yang menangkap sinar matahari pagi, memantulkan kilau kemewahan yang begitu kontras dengan pakaian katun sederhana milik penduduk desa.
Meskipun semua orang mengenakan pakaian terbaik mereka hari itu, pakaian Gading seolah berteriak bahwa ‘terbaik’ miliknya berada di dunia yang sama sekali berbeda.
Gading dengan dagu terangkat, sesekali melirik ke arah Jihan dengan tatapan mengejek, seolah ingin mengatakan bahwa tempatnya tidak seharusnya disini. Ia tahu Gading tidak akan pernah melupakan penghinaan di lapangan kemarin. Hari ini, di hadapan seluruh desa, Gading akan mencari cara untuk membalasnya.
Namun Jihan tak terlalu memedulikannya. Cemoohan Gading terasa kosong.
Karena hari ini, Jihan membawa sesuatu yang jauh lebih besar.
Harapan.
Dan harapan itu bukan tanpa alasan.
Di dunia beladiri, manusia fana hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan keputusasaan. Mereka berjuang mati-matian hanya untuk bertahan hidup di dunia yang seolah tak pernah berpihak.
Namun, Pendekar Abadi adalah pengecualian.
Mereka terlahir sebagai manusia fana dengan bakat kultivasi. Di antara mereka, yang paling beruntung akan direkrut oleh Perguruan Besar, sebuah gerbang menuju sumber daya, pelatihan, dan kesempatan untuk mengubah nasib. Namun, jalan menuju keabadian tidaklah mudah. Ia dipenuhi bahaya, cobaan, dan pengorbanan.
Siapa pun yang tak cukup kuat akan gugur di tengah jalan.
Itulah yang membuat Wulandari awalnya diliputi kekhawatiran. Ia tak ingin Jihan terjerumus ke dalam bahaya hanya demi dirinya. Namun, ketika melihat tekad yang begitu teguh di mata putranya, ia tak punya pilihan selain merelakan kepergiannya, dan berharap dari kejauhan.
Tepat saat matahari mencapai puncaknya, kerumunan mendadak senyap. Semua mata tertuju pada langit di arah timur. Dari kejauhan, sebuah titik cahaya melesat mendekat dengan kecepatan luar biasa. Dalam beberapa tarikan napas, titik itu telah tiba di atas alun-alun, menampakkan wujud aslinya, seorang pria paruh baya yang berdiri di atas sebilah pedang terbang.
Pria itu mengenakan jubah putih bersih yang berkibar anggun ditiup angin, dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi. Wajahnya tenang tanpa emosi, namun matanya memancarkan cahaya tajam yang seolah bisa menembus jiwa. Auranya agung dan tak tersentuh, laksana gunung es yang menjulang di tengah lautan.
Dialah seorang Pendekar Abadi. Hanya dengan berdiri di sana, ia sudah cukup membuat seluruh penduduk desa menahan napas dan menundukkan kepala dalam diam penuh hormat.
Dengan gerakan luwes, sang pendekar mendarat di panggung kayu tanpa suara. Dalam sekejap mata, pedangnya lenyap ke dalam sarung di punggungnya, sebuah gerakan cepat dan presisi laksana bayangan yang kembali ke sumbernya.
Kepala Desa Arya Jaya pun melangkah maju, menyambut pendekar itu dengan penuh penghormatan.
“Salam hormat dari Arya Jaya, kepada pendekar yang menapaki jalan keabadian.”
Pendekar itu tidak membalas sepatah kata pun. Ia hanya menatap sejenak, lalu melangkah maju dan membuka suara.
“Aku adalah utusan dari Perguruan Pedang Awan,”
Suaranya tidak lantang, namun mengalun tegas dan menggema ke setiap sudut alun-alun, membawa wibawa yang membuat jantung semua orang berdebar.
“Namaku Penatua, Wira. Aku datang hari ini untuk mencari bibit-bibit berbakat, mereka yang ditakdirkan menapaki jalan kultivasi.”
Tatapannya yang tajam dan menusuk menyapu seluruh kerumunan, menilai setiap wajah. Untuk sepersekian detik, dahinya sedikit mengernyit. Ia menangkap sesuatu yang ganjil, pucat yang tidak wajar di balik senyum, energi kehidupan yang tipis di tengah keramaian yang dibuat-buat.
Namun, ia dengan cepat mengabaikannya. Urusan desa kecil ini bukanlah prioritasnya; misinya hari ini adalah apa yang diperintahkan oleh tetua Perguruan. Ia pun melanjutkan perkataannya, nadanya kembali datar dan berwibawa.
“Jalan Pendekar Abadi bukanlah jalan yang mudah. Jalan ini menuntut bakat, ketekunan, dan yang paling penting, sebuah fondasi yang disebut Akar Spiritual. Tanpa Akar Spiritual, gerbang kultivasi akan selamanya tertutup untuk kalian.”
Penatua Wira menjeda ucapannya, membiarkan semua orang meresapi makna kata-katanya, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.
“Jalan kultivasi adalah sebuah tangga tanpa ujung menuju langit, dan setiap anak tangganya adalah sebuah tingkatan baru di jalan menuju keabadian.”
“Dan Akar Spiritual kalian-lah,”
“…yang akan menentukan seberapa tinggi kalian bisa mendaki tangga ini.”
Penatua Wira kemudian mengangkat tangannya. Sebuah batu kristal seukuran buah kelapa muncul dari udara tipis, melayang dan berputar perlahan di atas telapak tangannya. Batu itu memancarkan cahaya putih lembut yang menenangkan.
“Ini adalah Batu Penguji Roh. Letakkan tangan kalian di atasnya. Jika kalian memiliki Akar Spiritual, batu ini akan bersinar. Kecerahan dan warna cahayanya akan menunjukkan tingkat serta elemen bakat kalian.”
“Sekarang,” perintahnya dengan nada final. “Mereka yang berusia di bawah enam belas tahun, maju satu per satu.”
Mendengar instruksi itu, Jihan tanpa sadar mengepalkan tangannya. Api tekad yang sudah menyala di dalam dadanya kini terasa semakin membara. Setelah semua yang terjadi, setelah kekuatan baru yang ia rasakan, ia tidak hanya berharap… ia yakin bisa lolos.
Sementara itu, di hadapan panggung, antrean panjang para pemuda dan pemudi desa mulai terbentuk. Udara yang tadinya dipenuhi harapan kini terasa berat, diselimuti oleh lapisan tebal ketegangan yang menyesakkan dada.
Di bawah tatapan dingin sang Penatua, Seleksi Perguruan Pedang Awan pun resmi dimulai.