NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Grilled Garlic Lamb

...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...

Aku terbangun di tengah malam, dengan pena yang masih ada di tanganku.

Aku ketiduran saat sedang membuat wish list yang harus aku lakukan setelah keluar dari rumah sakit.

Aku begitu senang dapat kesempatan kedua ini sampai enggak sabar ingin cabut dari sini.

Aku taruh pena di meja samping ranjang, lalu meraba selimut, mencari buku catatan. Karena enggak menemukanya, aku ambil remote buat menyalakan lampu.

Gerakan itu sepertinya menarik perhatian sesuatu. Saat aku melihat ke arah pintu, enggak ada siapa-siapa.

Tapi aku yakin banget kalau barusan melihat ada sesuatu yang bergerak.

Setelah lampu menyala, aku melirik ke selimut lagi. Buku catatan itu sudah enggak ada. Dahiku berkerut saat aku mencari di lantai sekitar ranjang.

Ke mana dia pergi?

Baru setelah itu mataku jatuh ke meja samping ranjang. Buku catatan itu ada di sana.

Aku yakin aku enggak taruh di situ.

Setelah berbaring nyaman, aku ambil buku catatan sama pena, lalu buka halaman yang lagi aku tulis.

Aku baca daftar yang aku buat. Mataku langsung membelalak, dan desahan lolos dari mulutku.

"Satu nyawa untuk satu nyawa."

Kata-kata itu muncul di halamannya.

Apaan sih?

Melihat tulisan dengan gaya yang kasar banget itu, membuatku bingung.

Aku sama sekali enggak tahu bagaimana kata-kata itu bisa muncul di buku catatan aku.

Aku yakin banget aku enggak tulis itu sebelum ketiduran, kan?

Kenapa juga aku harus menulis begitu?

Tapi kenyataannya, pena itu masih ada di tanganku saat aku bangun.

Karena enggak mengerti, aku pun menutup buku catatan itu dan taruh di meja samping ranjang.

Aku rebahan di atas bantal, mataku menatap langit-langit.

Hal-hal aneh mulai terjadi sejak operasi. Selain pria yang aku lihat di malam operasi, aku juga sering melihat bayangan bergerak. Kayak ada seseorang yang sedang mengawasiku.

Kalau aku percaya hantu, mungkin aku bakal mikir kalau pendonor ginjal itu sudah meninggal … dan sekarang arwahnya mengejar atau mengikutiku.

Tapi hantu enggak ada.

Iya, kan?

...જ⁀➴୨ৎ જ⁀➴...

Sambil menutup resleting tas, aku tersenyum ke Papa.

“Ayo kita cabut dari sini.” Papa mengambil tas itu sambil tersenyum lebar, satu lengannya merangkul bahuku. “Akhirnya, Papa bisa nganterin kamu pulang.”

Saat kami meninggalkan kamar dan jalan ke pintu keluar rumah sakit, emosi di antara kami makin menumpuk.

Enggak satu pun dari kami menyangka hari ini bakal datang.

Sejak kecelakaan mobil itu, hidup kami seakan berhenti. Dan sejak saat itu, aku praktis tinggal di rumah sakit. Rasanya kayak aku dibebaskan dari penjara setelah divonis seumur hidup.

Begitu keluar dari rumah sakit dan terkena sinar matahari yang terik, air mata langsung mengumpul di mataku.

Aku enggak bakal pernah lagi menganggap remeh kehidupan. Setiap hari akan selalu menjadi sesuatu yang istimewa buatku.

Senyum bahagia nempel di bibirku saat kami sampai di Mercedes punya Papa. Waktu aku buka pintu penumpang dan duduk, aku menghembuskan napas lega dari hati yang paling dalam.

Papa duduk di balik kemudi. Saat mesin dinyalakan, rasa senang itu meledak di dadaku.

“Aku pulaaaaaaang!” teriakku sambil condong ke tengah dan memeluk Papa sekuat tenaga.

Dia menepuk punggungku sambil tertawa.

“Papa enggak sabar nunggu kamu masakin sesuatu.”

Aku menengok ke dia.

“Kita harus mampir ke toko. Aku mau beli bahan segar. Aku bakal masak banyak banget sampai seminggu ke depan Papa makannya itu-itu aja.”

Papa menyetir Mercedes menjauh dari rumah sakit. Mataku menatap setiap mobil dan orang di jalan. Aku terus memperhatikan gedung dan pepohonan. Semuanya keliatan asing, kayak aku baru melihat dunia buat pertama kalinya.

Daun-daun pohon kelihatan lebih hijau. Semua warna tampak lebih cerah dari yang aku ingat.

Waktu kami masuk ke lingkungan rumah, lega langsung menyambar aku.

Aku bisa hidup.

Aku bakal dapat kerja di restoran bintang lima.

Aku bakal bikin hidangan ciptaanku sendiri.

Aku bakal nikah.

Dan Papa bakal antar aku ke altar.

Pipiku sampai pegal karena kebanyakan senyum. Saat Papa parkir mobil di depan toko, badanku bergetar karena energi yang terlalu bersemangat.

Aku ambil troli di pintu masuk, lalu menyusuri rak demi rak buat beli semua yang aku butuhkan.

“Kita bisa mampir beli daging sama ikan?” tanyaku sambil memilih sayuran yang paling segar.

“Sayang, anggap aja Papa ini sopir kamu. Kita bisa ke mana pun yang kamu mau,” jawab Papa santai.

Aku senyum ke dia sambil memasukkan seikat wortel ke keranjang.

“Papa emang yang terbaik.”

“Jangan pernah lupain itu!” katanya sambil menggodaku.

Setelah semua barang yang aku ingat sudah terkumpul, kami ke kasir. Bahkan sebelum aku mulai memindahkan belanjaan, Papa sudah bilang, “Papa enggak mau kamu capek. Biar Papa aja!”

Melihat Papa memindahkan satu per satu barang, membuatku merasa seperti cewek yang paling beruntung di dunia.

Masa-masa terburuk akhirnya berlalu.

Aku bisa bernapas lega lagi.

Aku bisa berharap.

Aku bisa bermimpi.

Aku bisa hidup.

“Papa mau makan apa?” tanyaku.

“Apa aja, sayang.”

“Gimana kalau Grilled Garlic Lamb sama Rosemary Potato?” tanyaku sambil memperhatikan wajah Papa.

Senyumnya sempat meredup, sebelum kembali cerah.

“Itu masakan favorit Mama kamu. Kayaknya pas buat hari ini.”

Setelah keluar dari toko, kami mampir ke tukang daging langganan sebelum akhirnya pulang.

Begitu masuk ke rumah keluarga kami, rasanya seperti jutaan kenangan indah langsung menyelimutiku.

Seperti Mama bisa turun kapan saja buat memarahi kami karena ke toko tanpa dia.

Atau tawanya bakal menggema di suatu sudut rumah itu.

“Ya Tuhan!” teriak Sarrah, pembantu rumah tangga kami, dari sebelah kiriku.

“Kamu udah di rumah?”

Dia sudah kerja sama keluarga kami sejak aku masih SD, jadi dia sudah seperti keluarga sendiri.

Sarrah langsung menghampiri dan memelukku pelan.

“Aku senang banget,” katanya.

“Kita ngerasain hal yang sama,” gumam Papa. “Sarrah, Bisa tolong masukin tas-tas itu dari mobil?”

“Tentu, Tuan Musielak.” Dia tepuk lenganku pelan.

“Silakan duduk yang nyaman, kalau kamu udah di tempat tidur, aku bikinin teh.”

Aku mendesah. “Aku enggak mau tidur.”

“Kamu butuh istirahat, sayang,” kata Papa.

“Aku istirahat di ruang tamu aja,” negoku. “Aku udah berbulan-bulan tiduran di ranjang.”

“Oke. Asal kamu enggak berdiri kelamaan.”

Aku mengernyitkan kening sambil bercanda. “Dr. Nolan bilang aku harus banyak gerak. Biar fase pemulihannya lebih cepat.”

“Iya, tapi Papa kenal kamu. Kalau dikasih kesempatan, kamu bakal berdiri di dapur dan masak tiga hari tiga malam.”

Aku mengerutkan hidung, pura-pura manyun sambil jalan ke ruang tamu.

“Aku istirahat dulu dua jam. Abis itu aku masak.”

“Dengarin Papa mu, Quinn. Kita enggak mau kamu balik lagi ke rumah sakit,” omel Sarrah.

Aku janji bakal banyak istirahat, tapi aku juga ingin kembali memasak.

"Aku butuh banyak latihan sebelum bisa kerja lagi."

“Kamu bakal balik kerja?” tanya Papa sambil mengikutiku.

“Akhirnya, iya. Dr. Nolan bilang aku bisa balik kerja setelah tiga bulan.”

Aku duduk di sofa yang sudah aku anggap milikku sendiri dan ambil remote TV.

Sambil rebahan, aku menyelipkan satu bantal di bawah kepala. Dengan senyum manis ke Papa, aku bilang, “Aku enggak bakal maksa diri. Aku janji.”

“Oke.”

“Bisa ambilin bantal aku dari kamar?” tanya aku sambil menyalakan TV.

“Tentu. Perlu aku ambilin selimut juga?”

Aku tunjuk selimut yang tersangkut di belakang sofa. “Kalau dingin, aku pake itu.”

Papa memandangku sebentar sebelum pergi mengambil bantal.

Aku dengar Sarrah sedang membawa belanjaan ke dapur, lalu suara-suara rumah yang sudah lama aku rindukan kembali terdengar.

Aku kangen semua ini.

Pakai remote, aku buka playlist video masakku dan tekan tombol play.

Papa kembali membawa bantalku. Setelah taru di bawah kepalaku, aku meringkuk nyaman.

“Ada lagi yang perlu Papa ambilin?” tanyanya.

“Enggak, Pa ... makasih.” Mata aku lepas dari TV, melihat ke dia. “Papa ke kantor hari ini?”

Dia menggeleng. “Papa kerja dari rumah minggu ini.”

Sambil jalan ke pintu, dia menambahkan, “Nanti Papa bakal sering ngecek kamu.”

“Oke.”

Aku balikkan fokus ke acara masak di TV, melihat kokinya mengolesi bumbu ke steak.

Bahkan sebelum daging itu menyentuh pan, mataku sudah keburu terpejam.

1
sleepyhead
Dan akhirnya A death pact with the Grim Reaper
sleepyhead
( -̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷄◞ω◟-̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥̥᷅ )
Adellia❤
jadi intinya q enggak bisa siksa Quin sampe 6 bulan kedepan??? setan .... hahahaha... ngakak pollll😂😂
Lisa Halik
kesianlah quiin klu dia pun di siksa
Rainn Dirgantara
Lanjut kak
Rainn Dirgantara
Cinta sma siapa, dia siapa? Salfok
Rainn Dirgantara
Emang, dokter apaan kek gitu
Rainn Dirgantara
Diem deh nolan, etdah santai bgt tuh org
Rainn Dirgantara
Lah enak pake bg lah quin ngapain polisi 😏
Adellia❤
dan dy bisa bunuh km kapanpun..
Rainn Dirgantara
Aduhh 💔😭
Rainn Dirgantara
Ga sepenuhnya salah quin juga, kalo dia tau dapet ginjal nya dngn cara gitu pasti dia gamau 🥺
Rainn Dirgantara
Naikin aja dulu harga awalnya, abis itu kalo masih minta diskon lagi tinggal kasih wkwk
Adellia❤
detak jantungnya enggak akan meningkat hanya karna bunuh orang Quin tapi suatu hari nanti km yg bikin dy jantungan..
Adellia❤
AK, PDW apa itu thorrr???
Adellia❤: oke👌 AK yg kayak di pake pasukan BRIMOB kali yak..
total 2 replies
Adellia❤
Quinn... 😭😭😭😭 sumpah ini sedih bangett kalo dari awal tau Quinn pasti enggak mau transplantasi ginjal 😭😭😭😭 seseorang harus bertanggung jawab bukan km Quinn😭😭😭
Adellia❤
sumpah serem bangett kalo q yg di posisi Quin udah ngompol berkali" terus enggak sadarkan diri..
Adellia❤
woyyy cover kenapa jadi CEO gitu enggak cocok sama bang braun 😭😭😭
Adellia❤: hah ??? serius thorrr tuh cover berubah sendiri ??? bukan km yg ganti??? udah kayak siluman tuh cover bisa ganti wujud..
total 2 replies
Adellia❤
kasian km Quin pasti bingung bangett takut juga..
Adellia❤
sayangnya dy kebal polisi Quin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!