Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Ditangkap
Tangan Sheila mencekik leher Ayub dengan sangat kuat. Ayub terbatuk, wajahnya mulai memerah karena pasokan oksigen yang terputus. Namun, di tengah aksi gilanya itu, Sheila justru meledak dalam tawa histeris yang memuakkan.
"Hahahaha! Hahahaha! Lihat ini, Livia! Aku mencekik pahlawanmu! Aku yang akan mengakhiri hidupnya!" Sheila tertawa sambil terus mempererat cengkeramannya, air matanya kembali mengalir namun bibirnya menyeringai lebar. Ia benar-benar telah melintasi batas kewarasan.
Livia menjerit tertahan, suaranya sudah serak habis. "Lepaskan dia, Sheila! Cukup! Bunuh aku saja, jangan dia!"
Ayub mencoba melepaskan tangan Sheila, namun dua anak buah Sheila yang tersisa kembali bangkit dan memegangi kaki serta tangan Ayub ke lantai, membiarkan majikan gila mereka menyelesaikan "tugasnya".
****
Di tempat lain, mobil Attar membelah jalanan pinggiran kota dengan kecepatan tinggi. Ia terus-menerus menekan tombol dial pada nomor Livia, namun setiap kali pula ia hanya mendengar suara mesin penjawab yang dingin.
"Angkat, Livia... kumohon angkat..." rintih Attar. Ia memukul kemudi mobilnya dengan frustrasi.
Ponselnya kemudian bergetar. Sebuah pesan masuk dari ayahnya: "Mama kritis lagi. Cepat ke rumah sakit."
Attar terpaku. Ia berada di persimpangan jalan. Ke arah kiri adalah jalan menuju rumah sakit tempat ibunya berjuang melawan maut, dan ke arah kanan adalah jalan menuju koordinat terakhir mobil Sheila yang baru saja ia dapatkan dari temannya di kepolisian.
Dilema besar menghantamnya. Jika ia ke rumah sakit, ia mungkin kehilangan kesempatan menyelamatkan Livia. Jika ia mencari Livia, ia mungkin tidak akan melihat ibunya untuk terakhir kali. Namun, saat ia melihat pesan-pesan terakhir dari Livia yang penuh kasih sayang sebelum badai ini terjadi, Attar mengambil keputusan.
"Maafkan aku, Pa... Maafkan aku, Ma. Aku harus menyelamatkan Livia. Ini satu-satunya cara untuk menebus dosaku pada kalian," bisik Attar dengan suara bergetar.
Ia membelokkan mobilnya ke arah kanan, memacu mesin hingga batas maksimal menuju gudang tua yang lokasinya sudah semakin dekat. Ia tidak tahu bahwa di sana, Ayub sedang meregang nyawa di bawah cengkeraman tangan Sheila yang gila.
****
Di dalam gudang, kesadaran Ayub mulai menipis. Cahaya di matanya meredup seiring dengan tawa Sheila yang semakin keras dan menyayat hati. Namun, di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara sirene polisi dan deru mesin mobil yang mendekat dengan sangat kencang.
Sheila menghentikan tawanya sejenak, menoleh ke arah pintu yang terbuka. Matanya berkilat penuh dendam. "Siapa pun yang datang, mereka akan terlambat!"
****
Suara sirene polisi yang melolong membelah kesunyian pinggiran kota, bergema di antara dinding-dinding seng gudang tua yang mulai bergetar. Lampu biru dan merah berkelebat masuk melalui celah-celah lubang, menciptakan suasana horor yang nyata.
Sheila Nandhita tersentak. Cengkeramannya di leher Ayub sedikit melonggar saat kepanikan mulai mengambil alih wajahnya yang tadinya penuh kemenangan. "Polisi?! Bagaimana mereka bisa tahu?!" teriaknya dengan suara yang pecah.
Di saat Sheila terdistraksi oleh ketakutan, Ayub Sangaji melihat celah terakhirnya. Dengan sisa oksigen yang masuk ke paru-parunya, Ayub menghentakkan kedua kakinya ke perut pria yang memeganginya, lalu menggunakan momentum itu untuk mendorong tubuh Sheila dengan kekuatan penuh.
BUGH!
Sheila terlempar ke belakang, tubuhnya menghantam meja kayu tua hingga hancur. Ayub bangkit dengan napas tersengal, wajahnya yang penuh darah dan debu kini tampak seperti prajurit yang bangkit dari kubur. Ia tidak membuang waktu. Dua orang suruhan Sheila yang tersisa mencoba menyerang dengan balok kayu.
Ayub melakukan gerakan sidestep yang presisi, lalu melayangkan tinju straight kanan yang menghantam rahang salah satu pria itu hingga giginya tanggal dan ia jatuh tak sadarkan diri. Pria kedua mencoba menerjang, namun Ayub menyambutnya dengan tendangan front kick yang sangat kuat tepat di dada, membuat pria itu terpental ke tumpukan drum plastik kosong.
Sheila, yang baru saja bangkit dari tanah dengan rambut berantakan dan pakaian yang kotor, menatap Ayub dengan mata yang melotot ngeri. Ayub melangkah maju dengan sisa tenaga, mengepalkan tinjunya dan melayangkan sebuah pukulan telak ke arah bahu Sheila untuk melumpuhkannya.
DUAK!
Sheila jatuh tersungkur ke tanah yang berdebu. Ia tidak lagi tertawa. Ia merintih, memegangi bahunya sambil menatap pintu gudang yang tiba-tiba ditendang terbuka untuk kedua kalinya.
****
"Livia!"
Attar Pangestu muncul di ambang pintu, diikuti oleh beberapa petugas kepolisian yang menodongkan senjata. Pemandangan di depannya membuat jantung Attar seolah berhenti berdetak. Ia melihat istrinya terikat di kursi dengan wajah sembab dan pakaian yang koyak. Ia melihat seorang pemuda asing bersimbah darah yang berdiri melindungi Livia. Dan ia melihat Sheila—wanita yang menjadi selingkuhannya—merangkak di tanah seperti binatang buruan.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak komandan polisi.
"Livia... Ya Tuhan, Livia!" Attar berlari menerobos barisan polisi, tidak memedulikan peringatan mereka. Ia jatuh berlutut di depan istrinya, mencoba membuka ikatan tali yang menjerat tangan Livia.
Livia menjerit histeris saat melihat Attar. Suaranya bukan suara kebahagiaan, melainkan jeritan trauma yang mendalam. "Jangan sentuh aku! Pergi! Kalian semua jahat! Pergi!"
Livia berguncang hebat, tubuhnya gemetar karena syok yang teramat sangat. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, tidak sanggup membedakan lagi mana kawan dan mana lawan. Trauma akibat siksaan Sheila dan pengkhianatan Attar telah menghancurkan kewarasannya saat itu.
Attar membeku, tangannya yang gemetar menggantung di udara. Ia melihat luka-luka di tubuh Livia dan rasa sakit yang memancar dari mata istrinya. Di saat itu juga, Attar menyadari bahwa meskipun ia menyelamatkan Livia hari ini, ia mungkin telah kehilangan jiwa wanita itu selamanya.
****
Di sudut gudang, polisi segera membekuk anak buah Sheila. Salah satu petugas mendekati Sheila yang masih mencoba merangkak. Saat tangan polisi menyentuh lengannya, Sheila kembali tertawa. Bukan tawa gembira, tapi tawa kering yang menyeramkan.
"Hahaha... Attar, lihat istrimu! Dia sudah gila! Aku yang membuatnya begitu!" Sheila berteriak sambil diseret berdiri oleh petugas. "Kamu tidak akan pernah mendapatkan dia kembali! Kita sama-sama hancur, Attar! Hahaha!"
Ayub, yang sudah tidak sanggup lagi berdiri, perlahan merosot duduk di samping kursi Livia. Ia menatap Attar dengan tatapan yang sangat tajam meski matanya hampir tertutup darah. "Pergi dari sini... Anda tidak pantas menyentuhnya," bisik Ayub parau.
Petugas medis segera masuk dengan tandu, mencoba menstabilkan Livia dan Ayub. Suasana gudang itu benar-benar kacau—campuran antara teriakan Sheila, isak tangis Attar, dan jeritan histeris Livia yang memecah malam.
Sementara itu, di Rumah Sakit Medika, suasana jauh lebih sunyi namun lebih mematikan. Di ruang VVIP, layar monitor di samping ranjang Rahmi menunjukkan garis yang hampir datar. Suara tit... tit... tit... berubah menjadi satu bunyi panjang yang memuakkan.
"Lakukan kompresi dada! Sekarang!" teriak dokter jantung.
Hilman berdiri di balik kaca jendela, kedua tangannya menempel pada kaca yang dingin. Air matanya mengalir deras, membasahi wajahnya yang sudah tampak sangat tua dalam semalam. Ia melihat para suster memompa dada istrinya secara bergantian.
"Bangun, Rahmi... kumohon bangun. Anakmu sedang dalam masalah, menantumu hilang... jangan tinggalkan aku sendirian," bisik Hilman dalam doa yang putus asa.
Dokter mengambil alat kejut jantung. "Dua ratus joule! Clear!"
Dugh!