Kalimat 'Mantan Adalah Maut' rasanya tepat jika disematkan pada rumah tangga Reya Albert dan suaminya Reyhan Syahputra
Reyhan merasa jika dirinya yang hanya seorang staff keuangan tidaklah sebanding dengan Reya yang seorang designer ternama, setidaknya kata-kata itu yang kerap ia dengar dari orang-orang disekitarnya
Hingga pertemuannya dengan Rani yang merupakan mantan kekasihnya saat sekolah menengah menjadi awal dari kehancuran bahtera rumah tangga yang telah dibangun selama tujuh tahun itu
Apa yang akan terjadi pada pernikahan ini pada akhirnya? Dapatkah Reya mempertahankan rumah tangga yang ia bina walaupun tanpa restu dari orang tuanya? Atau pada akhirnya semua akan berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTPS 11
"Kamu kok dari tadi sibuk banget sama HP kamu?" Reya tak suka saat kegiatan sarapan Reyhan justru lebih sibuk dengan ponselnya
"Oh ini? Maaf yaa, kerjaan soalnya!" Reyhan menyimpan ponselnya diatas meja lalu fokus pada sarapannya, dirinya tengah bertukar pesan dengan sang mantan kekasih
"Emang kerjaan apa sih? Kok kayaknya penting banget?" Ujar Reya menatap penuh selidik
"Masalah kantor Reya, kamu juga gak akan ngerti!" Reya kembali menyantap sarapannya sambil sesekali mengobrol bersama sang putra
"Hari ini Arlo berangkat sama Mama dulu yaa! Papa lagi ada kerjaan dulu soalnya!" Ujar Reyhan pada sang putra
"Emangnya papa kerja apa?" Tanya Arlo, karena tak biasanya sang Papa sibuk seperti ini
"Iya Yang, kerjaan apa sih?" Reya bertanya
"Ada masalah sama pemasaran Reya, kamu bisa kan nganterin Arlo hari ini?" Reya tak memiliki pilihan lain selain setuju
"Ya udah deh, Arlo hari ini berangkat sekolah sama mama ya sayang!" Arlo mengangguk saja
"Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu! Dahh sayang!" Reyhan menyempatkan diri mengecup anak serta istrinya sebelum akhirnya berlalu keluar rumah
"Kerjaan apa sih yang penting banget? Bahkan sarapannya aja gak habis" batin Reya, sungguh akhir-akhir ini sikap suaminya itu sedikit berbeda
"Ayo Mah! Nanti Arlo telat!" Suara sang putra menyadarkan Reya dari lamunannya
"Ayo sayang!" Reya mengantarkan Arlo sekolah, setelahnya baru ia menuju butik
Sementara itu
Reyhan baru saja berhenti didepan sebuah rumah sederhana milik Rani, ia menjemput kekasih gelapnya itu di ujung gang agar tak terlihat kedua orang tua Rani
"Udah lama nunggunya?" Tanya Rani, wanita cantik itu sedikit berlari meninggalkan rumah
"Kalau demi kamu, setahun pun aku gak masalah" Reyhan tersenyum manis, pekerjaan hanyalah alasan, yang sebenarnya terjadi adalah dirinya ingin mengantarkan Rani terlebih dahulu ketempat kerjanya sebelum ia kekantor
"Gombal banget sih!" Reyhan lalu memakaikan helm dikepala sang kekasih lalu motornya melaju menuju cafe tempat Rani bekerja
"Pegangan sayang!" Reyhan meraih tangan kanan Rani, lalu ia arahkan agar melingkar di pinggangnya
"Jangan aneh-aneh Rey, kalau ada yang liat gimana!" Rani kesal karena Reyhan yang seolah ingin agar perselingkuhan mereka diketahui banyak orang
"Disini gak ada siapa-siapa, sayang. Kamu tenang aja yaa! Sekarang pegangan!"
Mau tak mau Rani memeluk pinggang pria yang merupakan suami orang itu, ia bahagia, semua yang ia inginkan pada akhirnya ia dapatkan dari Reyhan
Disamping keduanya berhenti sebuah mobil mewah berwarna hitam, didalamnya duduk seorang pria tampan yang tanpa sengaja melihat kemesraan keduanya
"Itu kan Reyhan? Lalu siapa wanita itu? Dia bukan Reya" Darren bahkan melepas kacamata hitamnya, ia tak salah itu memang Reyhan, suami dari wanita yang ia cintai secara diam-diam
Sesaat setelah Darren hendak membuka kaca mobilnya, lampu berubah hijau hingga motor yang dikendarai Reyhan bergerak menjauh
"Sial!" Pria tampan itu memukul pintu mobil membuat pria yang duduk dibalik kemudi terkejut
"Ada apa tuan? Tuan butuh sesuatu?" Tanya pria berusia tiga puluh tahunan itu
"Gak pa-pa Beno, jalan sekarang!" Darren mengumpat, harusnya ia mendapatkan bukti perselingkuhan Reyhan tapi dirinya malah gagal
"Kamu gak pantes untuk Reya, Reyhan. Dasar laki-laki tidak tau diuntung" mobil mewah itu melaju menuju sebuah perusahaan terbesar di pusat kota
Darren benar-benar kehilangan jejak, motor milik Reyhan tak lagi terlihat
***
Reyhan tiba-tiba dikantornya setelah mengantarkan Rani terlebih dahulu, setelah hubungannya dengan Rani kembali terjalin, wajah Reyhan selalu berseri, dari wajahnya terpancar kebahagiaan yang begitu jelas
Reyhan tengah sibuk dengan pekerjaannya saat seorang wanita yang merupakan manager divisinya datang
"Reyhan!"
"Iya Bu"
"Kamu dipanggil keruangan tuan Darren!" Ujar wanita empat puluh tahunan itu
"Ada apa yaa Bu?"
"Ya mana saya tau! Kamu pikir saya bisa baca pikirannya tuan Darren!" Jawaban ketua atasannya membuat Reyhan kesal
Reyhan tiba didepan sebuah ruangan bertuliskan CEO, ia bingung karena Darren memanggilnya tanpa memberikan pekerjaan, entah apa lagi yang pria itu inginkan, pikir Reyhan
Reyhan mengetuk, setelah mendapat sahutan ia mendorong pintu kaca itu lalu masuk kedalam
Didepan sana seorang pria dengan penuh wibawa tengah duduk bersandar pada kursi kebesarannya, Reyhan bingung karena tatapan Darren terlihat berbeda
"Tuan memanggil saya?"
"Kamu hari ini sedikit terlambat dari biasanya" Ucapan Darren terdengar aneh ditelinga Reyhan, sejak kapan pria itu mempermasalahkan jam kerja seorang karyawan
"Saya tidak terlambat tuan, saya sampai lima menit sebelum jam masuk kantor!" Reyhan tak bohong, ia memang berangkat cepat karena menjemput Rani dulu, ia hanya lebih lambat dari biasanya
"Sebelumnya kamu selalu datang lima belas menit sebelum jam kerja, Reyhan. Lalu ada apa dengan hari ini? Apa ada sesuatu yang spesial?"
Reyhan benar-benar tak mengerti, ucapan atasannya itu terlalu berbelit-belit "Maksud tuan apa? Saya tidak mengerti? Saya memang terlambat karena harus mengantar putra saya terlebih dahulu!"
Darren menarik sudut bibirnya, senyuman terlihat sedikit berbeda "kamu yakin? Kamu mengantar putramu atau.."
Sejenak Reyhan berpikir, apa Darren melihat dirinya tengah bersama Rani? Jika iya, maka dirinya dalam bahaya karena Darren pasti menggunakan hal ini sebagai senjata untuk memisahkan dirinya dan Reya istrinya
"Atau apa?" Reyhan masih berusaha terlihat bodoh
"Saya melihat semuanya Reyhan!" Darren berdiri dari kursinya, tatapannya tajam seolah siap menerkam pria dihadapannya
"Berani sekali kamu mengkhianati Reya!"
"Maksud anda apa? Saya tidak pernah mengkhianati siapapun!" Elaknya
Darren berdecih, sudah tertangkap seperti ini, bisa-bisanya pria didepannya ini mengelak
"Dengarkan saya!" Reyhan mengangkat wajahnya "Saya pasti akan merebut Reya dari pria penghianat seperti kamu!"
"Lakukan jika anda bisa!" Tatapan Reyhan terlihat menantang "Kalau tidak ada yang penting, saya ingin kembali bekerja!"
Reyhan berlalu, pria tampan itu meninggalkan ruangan CEO dengan perasaan cemas, jika Darren memiliki bukti maka dirinya pasti akan kehilangan Reya dan Arlo, Reyhan jelas tidak ingin hal itu sampai terjadi
"Aku harus hati-hati mulai sekarang!"
Reyhan kembali melanjutkan pekerjaannya dengan hati yang cemas, bahkan ia sampai mengabaikan pesan yang Rani kirimkan
***
Reya sibuk dengan pekerjaannya hingga Revan datang menghampirinya
"Selamat siang princess Reya!" Sapa Revan saat melangkahkan kakinya masuk kedalam ruang sang designer
"Ada apa lagi Van? Galau lagi?" Tanya Reya, karena biasanya sahabatnya itu akan datang berkunjung jika tengah ada masalah saja
"Gak ada kok, gue cuma pengen mampir aja" ujar Revan, pria tampan itu duduk disebuah sofa panjang diruang tersebut
"Ada apa sih? Cerita deh mendingan! Muka lo gak bisa boong soalnya!" Reya mengerti ketika melihat raut wajah sahabatnya itu