Tangisan bayi merah itu membuat Kiara menyerah dan menerima keinginan kedua orang tuanya. Menikah dengan ayah kandung dari bayi merah yang baru saja di tinggal kan ibu nya. Kiara mengorbankan cinta dan masa depan nya bersama kekasih hati untuk hidup dengan Bryan dan bayi yang baru saja hadir. Bagaimana kah kisah mereka???? Akankah Kiara kembali lagi ke kekasih nya, atau malah menjalankan rumah tangga bersama Bryan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yora Yul Martika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Kiara meneguk air minum yang di berikan oleh mama nya. Setelah itu dia melihat sekeliling kamarnya yang di penuhi oleh keluarga besar termasuk Bryan dan Alana yang sedang di pangkuan buk Astrid
"Alana , mama akan merawat dan menyayangi kamu sayang" sebutan mama terlontar begitu saja dari bibir Kiara , tentu membuat mereka yang mendengar tersenyum bahagia kecuali Bryan yang terlihat bingung dengan dahi yang berlipat
" Sayang, terimakasih atas pengorbanan kamu nak . Maaf papa mama dan semua kami memaksa kamu untuk menjalani ini semua. Tapi percaya lah nak, tidak hanya papa dan mama begitu pun dengan pak Bram dan ibuk Astrid , semua kami sudah memikirkan ini semua demi kamu Bryan dan Alana tentunya" buk Ajeng memeluk dan mencium anak nya
***
Tiba saat nya Kiara meninggal kan rumah ia dilahirkan serta di besarkan. Tentu saja hati dan pikiran nya sangat berat meninggalkan rumah yang selama ini menjadi tempat pulang nya
" Mah , Kiara pamit ya . Ingat papa dan mamah harus bahagia dan langsung hubungi Kiara jika sesuatu terjadi" Kiara yang di bimbing oleh Ajeng menuruni tangga
" Iya nak , kamu sekarang sudah menjadi seorang istri. Hormati dan hargai suami kamu , rebut cinta dan hati nya nak , berjuang lah demi keluarga kecil mu . Mama tahu kamu anak kuat dan cerdas Memiliki cara cara ampuh dan jitu untuk merebut hati Bryan " ucap Ajeng melirik Bryan yang sedang bercengkrama dengan Roy suami nya
" Iya mah Kiara akan selalu ingat pesan mama" Kiara meyakinkan mama nya meskipun hatinya sendiri masih bingung dan ragu untuk semua yang terjadi
" Bryan ,papa tahu kalian menikah karena terpaksa karena kami . Tapi bagaimana pun Proses nya sekarang Kiara adalah istri kamu , papa serahkan dan percaya kan dia kepada kamu Bry, tolong jaga dia, dan bimbing Kiara sebagai pendamping kamu "
" Kiara memang kepribadian nya bertolak belakang dengan almarhuma Kinan yang anggun dan lembut tapi percayalah nak Kiara memiliki sisi terbaik nya. Serahkan kembali dia kepada papa dengan baik baik jika nanti kamu sudah benar benar menyerah atas nya " sambung Roy kepada Bryan
" Baik pah Bryan akan selalu ingat ucapan papa , terimakasih pah " Bryan memeluk mertuanya tersebut
" Ikhlas lah dengan semua yang terjadi nak , semua sudah ketentuan dari sang pencipta " Roy tahu jika Bryan hingga detik ini belum menerima semua yang terjadi di dalam hidup nya
Berderai air mata Kiara meninggal kan rumah beserta melihat mama papa nya menangis saling menguat kan
" Apa kau ingin menemui kekasih mu terlebih dahulu sebelum kita meninggalkan kota ini?" Tanya Bryan tanpa melihat Kiara yang sedang memomong Alana yang sedang tidur.
" Tidak perlu " jawab Kiara cueek dengan mata ke luar jendela. Banyak hal yang ada di pikiran Kiara sangat ini. Tidak lah mudah meninggal rumah , orang tua dan kota tempat kita di lahirkan dan di besarkan.
Hingga saat ini Kiara masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi di dalam hidupnya. Kiara melirik Alana yang ada di dekapan nya, bayi Mungil tersebut lelap dalam tidur nya. Bayi yang berumur kurang dari satu bulan memang lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur dan itu memberi kemudahan untuk Kiara dalam perjalanan jauh seperti sekarang ini.
Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka. Hingga Bryan memilih untuk berhenti sejenak di salah satu tempat makan yang nyaman dan Astri.
Dengan cekatan Kiara mengganti pempers Alana di atas mobil sesekali perempuan tersebut mengobrol dengan Alana. Meskipun bayi perempuan tersebut belum mengerti dan bahkan belum menyahut sama sekali namun Kiara tampak menikmati semua itu bahkan dia sendiri yang menjawab pertanyaan yang ia lontarkan dengan suara yang di buat buat .
" Alana lapar ya , mau mimik susu ya . Bentar ya sayang mama bikin dulu " Kiara mengambil kotak susu Alana dengan sebelah tangan nya namun dengan cepat Bryan membantu Kiara , bahkan dengan lihai Bryan membuat kan susu untuk Alana.
" Kapan kapan ngomong jika butuh bantuan, apa lagi menyangkut Alana" ujar Bryan menyerahkan botol yang berisi susu
" Baik mas, terimakasih" ujar Kiara seadanya
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di kediaman Bryan dan Kinan dulu . Mata Bryan memerah saat turun dari mobil , Bryan mengingat semua kenanganya bersama dengan Kinan.
" Seharusnya sekarang kita sudah sangat bahagia sayang, seharusnya sekarang kamu yang disini bersama aku dan Alana bukan Kiara adik mu " Bryan bergumam sendiri di dalam hati
Pintu terbuka lebar ,tentu saja asisten rumah tangga yang melakukan hal tersebut. Bryan berjalan pelan ke dalam rumah sedangkan Kiara yang sedang mengendong Alana hanya mengekor dari belakang.
Kiara bahkan bingung melihat Bryan dengan wajah merah dan sendu. Kiara berhenti ketika Bryan juga menghentikan langkah nya tepat di tengah tengah rumah yang besar dan megah tersebut.
Bryan melihat bayangan Kinan berjalan kesana kemari seperti dulu saat semasa dia hidup , tidak terasa air bening tersebut terjatuh dari pelupuk mata Bryan dan hal tersebut di lihat langsung oleh Kiara .
Bryan berjalan menuju tangga dan di sana dia Melihat bayangan kinan yang sedang berdiri menunggu nya. Dengan cepat pula bryan menghampiri Kinan namun dengan cepat pula bayangan tersebut menghilang. Kiara terus saja mengikuti langkah Bryan dari belakang sambari bingung Dengan apa yang sedang di lihat nya.
Bryan memasuki kamar utama , kamar yang dia tempati bersama Kinan. Kini dia melihat Kinan duduk di atas sofa yang ada di dalam kamar nya , dengan bingung Kiara juga memasuki kamar tersebut.
Kiara bahkan melihat Bryan seperti akan menyentuh seseorang yang tidak di lihat oleh nya. Tentu saja Kiara tahu jika Bryan membayangkan ada nya mbak Kinan di duduk di samping nya.
Kiara meletakkan Alana ke atas ranjang yang berukuran king size tersebut.
" Mas " dengan penuh keberanian Kiara memanggil Bryan namun jangan kan menyahut bahkan Bryan tidak menoleh ke sedikit pun ke arah nya
Karena tidak ada tanggapan sama sekali, Kiara meninggal kan kamar tersebut setelah memastikan keamanan tidur Alana . Tujuan pertama Kiara adalah dapur untuk bertemu dengan asisten rumah tangga.
" Hallo bik" sapa Kiara tetiba nya di dapur
" Nyonya Kiara " perempuan paro baya tersebut tersenyum
" Tidak perlu memanggil nyonya bik, seperti biasa saja panggil aku dengan sebutan Kiara " ujar Kiara yang telah mengenal bik Sumi . Karena dulu Kiara juga sudah pernah berkunjung ke kediaman Kinan yang lama sebelum rumah ini jadi.
" Maaf nyonya, bibik tidak bisa karena sekarang non Kiara adalah Nyonya kami, istri dari pak Bryan " ujar bik Sumi, Kiara hanya terdiam mendengar apa yang di ucapkan oleh bik Sumi " andai bibik tahu kebenaran yang sangat menyakiti ini " gumam Kiara di dalam hati