NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titip Salam

Siang itu, suasana kantor pusat sebuah penerbitan ternama di Jogja dipenuhi dengung pendingin ruangan, aroma kopi, dan ketukan jemari di atas papan ketik. Di tengah kesibukan itu, Hamka menjelma menjadi sosok laki-laki dewasa yang tanpa sadar mencuri banyak perhatian. Wajahnya tampan meski selalu dibingkai ekspresi dingin, rahangnya tegas, tubuh atletis dengan tinggi lebih dari 175 sentimeter membuatnya kerap menjadi bahan bisik-bisik rekan kerja,terutama para perempuan. Namun, laki-laki itu tetap anteng dengan status jomblonya. Baru satu bulan dipindah tugaskan ke kantor pusat, Hamka langsung diangkat menjadi manajer di perusahaan penerbitan bergengsi ini. Jabatan dan tanggung jawab seolah meredam sisi pecicilan dan usil yang dulu melekat padanya, menyisakan pribadi pendiam yang fokus dan nyaris sulit ditembus.

“Hamm, kita lunch di luar yuk. Katanya ada kafe yang lagi viral, nggak jauh dari sini,” ajak Seno, teman kerjanya, sambil bersandar santai di sisi meja. Meski jabatannya berada di bawah Hamka, Seno lebih nyaman memanggil nama. “Lo aja. Gue biasa, pesen online,” jawab Hamka tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada layar komputer. “Ah, lo mah. Kerjaan bisa nanti dilanjutin. Yang penting isi perut dulu,” Seno tetap gencar membujuk. Mereka memang sudah lama bekerja bersama di kantor sebelumnya, dan Seno termasuk salah satu yang ikut dipindah tugaskan. “Gue udah tanggung pesen makan,” ucap Hamka akhirnya sambil melirik sekilas. “Yakin lo nggak nyesel? Katanya waiters di kafe itu ada yang cakep lho,” bisik Seno sambil memainkan alisnya. Hamka memicing sejenak, berpikir asal, lalu menjawab datar, “Titip salam aja.” Yang penting, temannya itu cepat pergi dan tak lagi mengganggu fokus kerjanya.

Setelah Seno pergi ,ia pun kembali bergelut dengan layar komputernya.

Samar-samar terdengar suara ketukan sepatu mendekat, beradu dengan lantai marmer kantor yang dingin. Hamka tak menoleh, jemarinya tetap lincah menari di atas keyboard, seolah dunia di sekitarnya tak pernah benar-benar ada.

“Pak, ini pesanan makanan Anda.”

Seorang perempuan dengan rok di atas lutut dan kemeja yang membingkai tubuhnya dengan pas meletakkan kotak makanan di sudut meja kerja Hamka.

“Oh iya… makasih,” jawab Hamka singkat dan datar, tanpa senyum, bahkan tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

Sikap dingin itu nyatanya tak membuat Sarah mundur. Justru sebaliknya, ada getaran kecil di dadanya yang kian menguat. Ia terlanjur terpesona pada sosok laki-laki di hadapannya, atasannya sendiri, yang memegang jabatan mentereng di usianya yang masih muda. Karisma Hamka bukan pada kata-kata manis atau senyum ramah, melainkan pada ketenangan dan wibawa yang terpancar alami, membuat siapa pun yang berada di dekatnya sulit untuk sekadar bersikap biasa.

Di lain tempat, Seno bersama beberapa rekan kerjanya tengah menikmati makan siang di sebuah kafe yang belakangan ini sedang viral. Siang itu pengunjung terbilang ramai, beruntung Seno sudah melakukan reservasi dari jauh hari. Suasana kafe terasa nyaman dan bersih, dipadu keramahan para waiters yang sigap melayani, memberi nilai lebih bagi siapa pun yang datang. Di salah satu pojok kafe, terdapat perpustakaan mini yang ditata unik; rak-rak kayu sederhana berisi beragam buku, bebas dibaca oleh para pengunjung, menambah kesan hangat dan tenang di tengah hiruk-pikuk jam makan siang.

Tiba-tiba pandangan Seno teralihkan pada seorang waiters yang tengah melayani tamu di meja sebelah.

“Cantik,” gumamnya pelan.

Beberapa temannya saling menatap, lalu tersenyum tipis penuh arti.

“Weeey… jaga mata lo. Kalau Sela tahu, kelar hidup lo,” ujar Hanif sambil tertawa kecil.

“Ssttt… ini bukan tentang gue,” balas Seno setengah berbisik.

“Ini misi pencarian cinta buat manajer kita yang terlalu lama bertapa,” kekehnya lirih.

Tanpa berpikir panjang, Seno memanggil waiters tersebut, pura-pura hendak memesan minuman tambahan.

“Mbak, maaf… aku mau lemon tea satu ya, esnya dikit aja,” ucapnya sambil matanya mencuri baca papan nama yang tertera di seragam perempuan itu.

Naura.

Naura menghentikan geraknya sejenak. Tatapannya yang semula fokus pada buku catatan pesanan terangkat, menatap Seno dengan senyum profesional yang hangat,senyum yang sudah menjadi kebiasaan bagi siapa pun yang ia layani.

“Baik, Mas. Lemon tea satu, es sedikit,” ulangnya memastikan, suaranya lembut namun tegas.

Saat menuliskan pesanan, Naura sempat menyadari tatapan Seno yang terlalu lama singgah di wajahnya. Ia sedikit kikuk, jari-jarinya refleks merapikan pulpen, lalu melangkah mundur setengah langkah dengan sikap tetap sopan. Tanpa banyak bicara, ia mengangguk kecil sebagai penutup interaksi sebelum berbalik menuju bar.

Tak lama kemudian, Naura kembali dengan nampan kecil di tangannya. Ia melangkah ringan, lalu menyimpan segelas lemon tea di atas meja Seno dengan hati-hati.

“Ini pesanannya, Mas,” ucapnya ramah.

Naura lalu berbalik hendak pergi, namun langkahnya terhenti ketika suara Seno menyusul.

“Mbak… temen saya titip salam. Mohon diterima ya.”

Naura menoleh kembali. Alisnya terangkat tipis, jelas terkejut, namun ia segera menguasai diri. Senyum kecil terbit di bibirnya..bukan senyum genit, melainkan senyum sopan yang penuh etika kerja.

“Oh… terima kasih,” jawabnya singkat, agak kikuk. Jemarinya saling bertaut sesaat di depan perut, menandakan ada rasa canggung yang tak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.

Meski hal semacam itu bukan kali pertama ia terima..mengingat banyak pelanggan kafe yang kerap menunjukkan ketertarikan padanya.Naura tetap berusaha menyikapinya dengan tenang dan profesional. Ia sudah terbiasa dengan salam titipan, pujian singkat, atau sekadar senyum yang terlalu lama singgah. Bagi Naura, semua itu hanyalah bagian dari pekerjaannya. Ia melangkah kembali menuju bar, menata ulang ekspresinya agar tetap netral.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!