NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Arman Gelisah

Mobil melaju pelan di jalan sepi.

Setiap lampu jalan memantulkan bayangan Dara di pikirannya, seperti hantu yang menolak pergi.

Ia menepuk setir keras, mendesis pelan. “Sial.”

.

Rumahnya terasa terlalu besar malam itu.

Dan sunyi, benar-benar sunyi.

Di ruang kerjanya, Arman membuka laptop, mengetik cepat:

“Valencia Group – CEO profile.”

Wajah itu muncul di layar.

Dara Valencia.

Tersenyum dalam pose resmi.

Dingin. Tenang. Mematikan.

Arman menatap lama.

Dadanya terasa berat, seolah ada sesuatu yang belum selesai.

“Siapa kamu sebenarnya…” bisiknya.

.

Malam merayap lambat.

Arman berbaring, tapi matanya menolak tertutup. Langit-langit kamar terasa terlalu putih, terlalu terang, seolah menyorot semua hal yang selama ini ia hindari untuk dipikirkan.

Ia membalik tubuh.

Ke kanan.

Ke kiri.

Tetap saja — wajah itu muncul.

Tatapan Dara. Dingin. Tegak. Tidak meminta apa pun darinya.

Ia duduk, mengusap rambutnya kasar.

“Kenapa aku memikirkannya?” gumamnya kesal pada dirinya sendiri.

Biasanya ia cepat bosan pada siapa pun. Tapi ini berbeda. Perempuan itu menempel di kepala, seperti nada lagu yang tidak mau berhenti diputar.

Ia turun ke dapur, menuang air.

Gelas bergetar tipis di tangannya.

Bukan karena takut.

Karena gelisah yang tidak ia pahami.

Ia bukan tipe lelaki yang mudah terusik. Tapi malam ini, ada dua sosok bertabrakan di kepalanya:

Perempuan lembut yang dulu memasaknya sarapan sambil menunduk, dan perempuan kuat yang menatapnya tanpa gentar di gala.

Bukan orang yang sama.

Tapi bayangannya saling menindih, menyiksa.

Arman menutup mata.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa… kalah, bahkan tanpa bertarung.

Ia kembali ke kamar, duduk di tepi ranjang.

Pikirannya berbisik:

Kalau itu benar Zizi…

Kalau perempuan yang ia biarkan hancur itu kini berdiri setegak itu…

Apa yang sebenarnya telah ia lepaskan?

Dadanya sesak.

Ia tertawa kecil—pendek, pahit.

“Tidak mungkin,” katanya pada kehampaan kamar.

Namun kegelisahan itu tidak pergi.

Ia terbaring lagi.

Matanya terbuka.

Dan hingga dini hari, Arman baru sadar satu hal sederhana yang menakutkannya: bukan karena ia penasaran pada Dara Valencia, melainkan karena, untuk pertama kalinya, ia takut dikenali oleh masa lalu dan dinilai oleh perempuan yang kini sudah tidak butuh dirinya lagi.

Arman akhirnya bangkit lagi.

Tidur jelas bukan pilihan.

Ia membuka laci meja kerjanya. Di dalamnya, masih tersimpan benda-benda yang tidak pernah benar-benar ia sentuh sejak lama — kertas, kwitansi, foto lama yang seharusnya sudah dibuang.

Tangannya berhenti pada satu bingkai kecil tanpa kaca.

Foto itu sudah kusam.

Seorang perempuan tersenyum samar, berdiri agak jauh dari kamera, seperti tidak yakin pantas memenuhi seluruh bingkai.

Zizi.

Arman menelan ludah.

Ia tidak tahu sejak kapan ia sengaja tidak membuang foto itu. Ia hanya membiarkannya ada di sana, terkubur, seperti sesuatu yang tidak ingin ia ingat tapi juga tidak rela menghilang.

Ia membalik bingkai.

Di belakangnya ada tulisan pensil tipis:

“Suatu hari aku akan percaya pada diriku sendiri.”

Arman memejamkan mata.

Tulisan itu bukan miliknya.

Dan kini kalimat itu terasa seperti tamparan.

Ia meletakkan foto itu kembali — terlalu cepat, seakan benda kecil itu bisa membakar kulitnya jika digenggam terlalu lama.

Pikirannya kembali pada gala malam tadi.

Wajah Dara.

Caranya berdiri.

Caranya menatap tanpa meminta apa-apa.

Bukan perempuan yang minta dicintai.

Bukan perempuan yang minta dipertahankan.

Perempuan yang bisa berjalan sendiri, bahkan jika dunia memilih tidak mencintainya.

Arman menarik napas pelan.

“Apa kamu… Zizi?” bisiknya nyaris tanpa suara.

Suara itu tenggelam di ruangan luas.

Namun setelah kalimat itu terucap, tidak ada lagi ruang untuk bersembunyi.

Ia berdiri.

Menemukan ponsel.

Membuka kontak lama yang seharusnya sudah dihapus — tapi tidak pernah jadi dihapus.

Satu nama.

Ia ragu sebentar.

Lalu mengetik pesan pendek:

“Kau masih ingat mantan istriku? Aku butuh data lengkapnya.”

Jarinya berhenti sebelum menekan tombol kirim.

Ia menghapusnya.

Mengganti dengan kalimat lain.

Lebih dingin.

Lebih tidak jujur.

“Ada urusan administratif lama. Kirimkan salinan dokumen pernikahan dan perceraian Zizi padaku.”

Kali ini ia benar-benar mengirimkan.

Pesan terkirim.

Titik biru kecil di layar ponsel terasa terlalu tegas.

Arman menyandarkan kepala ke kursi, menatap langit-langit lagi.

Perlahan-lahan, ia sadar: Ia bukan hanya sedang mencari tahu siapa Dara Valencia. Ia sedang berjalan mundur, ke masa lalu yang dulu ia biarkan pergi begitu saja.

Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya…ia tidak yakin siap melihat jawabannya.

Di luar jendela, fajar mulai membelah langit dengan garis tipis oranye.

Hari baru datang.

Pagi itu rumah terasa biasa saja sampai televisi di ruang keluarga menayangkan siaran ekonomi.

Reporter tersenyum, lalu layar berganti menampilkan wajah Dara Valencia.

Anggun berhenti bergerak.

Remote hampir terlepas dari tangannya.

Perempuan berambut pendek itu menatap kamera dengan dingin dan yakin. Cara berdirinya. Cara ia menahan ekspresi. Cara bibirnya menekuk tipis sebelum bicara.

Jantung Anggun berdegup terlalu keras untuk ukuran pagi yang tenang.

Televisi menampilkan wajah Dara dengan jelas — sorot mata tenang, gerak tubuh terukur, suara stabil memimpin konferensi pers.

Tangan Anggun langsung membeku. Napasnya tercekat.

Itu…

Itu…

Jantungnya berdentum tidak wajar.

“Tidak mungkin…” bisiknya tanpa suara.

Tatapan itu terlalu familiar.

Caranya menahan senyum.

Bahkan cara kepala sedikit menunduk ketika mendengar pertanyaan wartawan.

Semua terlalu mirip.

Nama itu hampir lolos dari bibirnya.

Z...

Tidak.

“Bukan,” katanya cepat, pada dirinya sendiri. “Bukan Zizi. Tidak mungkin.”

Ia tertawa kecil — garing, dipaksakan.

“Zizi itu lemah… mudah menangis… tidak mungkin bisa jadi orang seperti itu,” lanjutnya, seolah berusaha meyakinkan dunia.

Namun tangannya masih gemetar.

Bayangan wajah Dara tetap menempel di kepala, tidak mau pergi.

Anggun berjalan bolak-balik.

“Tidak mungkin,” ulangnya lagi, lebih keras, seperti mantra penolak bencana. “Itu cuma kebetulan. Hanya mirip.”

Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang tidak ikut menyangkal.

Namun semakin lama ia melihat, semakin sulit menolak sesuatu yang menanjak dari dadanya—campuran takut, rasa bersalah, dan firasat buruk.

“Arman!” serunya refleks, suaranya pecah.

Langkah Arman terdengar menuruni tangga, malas dan tidak curiga. “Apa lagi sih, Ma...”

Kalimat itu berhenti di tenggorokannya ketika matanya mengikuti arah pandang Anggun.

Wajah itu memenuhi layar televisi.

Dara.

CEO baru Valencia Group.

Anggun menutup mulutnya dengan tangan. “Man… lihat baik-baik… perempuan itu…”

Arman mengerutkan dahi, pura-pura santai, tapi nadinya memukul lebih cepat. “Itu CEO yang semalam ada di gala.”

Anggun menggeleng, hampir berbisik, “Dia mirip sekali…”

Nama itu tertahan.

Tidak berani keluar.

Karena kalau terucap, maka semua yang selama ini mereka anggap selesai… ternyata belum selesai.

Arman tidak menjawab.

Ia hanya menatap layar lebih lama dari yang seharusnya.

Bukan sekadar mirip.

Ada sesuatu pada tatapan itu.

Tatapan seseorang yang pernah mereka rendahkan… dan kini kembali dengan cara yang tidak mereka duga.

Anggun menelan ludah.

Televisi tetap berbicara.

Berita tetap berjalan.

Namun bagi keluarga itu, pagi berhenti di sana—bersama ketakutan bahwa masa lalu tidak hanya kembali, melainkan pulang dengan kepala tegak.

.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!