Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima
Selama perjalanan pulang manusia masker tidak bicara sedikit pun. Ya memang tidak ada lagi yang mau dibicarakan, sebab dia juga pasti sudah hafal jalan pulang. Toh memang dia jarang bicara.
Aku juga sedang tidak mau diajak ngobrol sekarang, karena fokus menghabiskan eskrim coklatku sebelum sampai rumah Ummi Lailatul.
Duit kembalian dari beli gula aren.
Awalnya manusia masker langsung mengajak pulang setelah memberikan uang lima puluh ribuan. Dia memang tidak bicara, tapi Aku bisa membaca dari gelagatnya.
Sayangnya Aku nggak mau rugi dong. Sudah harga gula arennya mahal, masa harus diikhlaskan begitu aja sih uang kembaliannya? Kan lumayan.
Ckit... Tiba-tiba dia menginjak rem.
Bruk! Kepalaku menabrak punggung Kim Taehyung kw.
Hmp? Aku membekap mulut, sebab eskrim coklat yang belepotan dari mulutku mengenai baju putihnya.
Tapi ‘kan bukan salahku, salah dia sendiri kenapa harus pake baju warna putih, coba aja dia pake baju warna hitam, pasti nggak terlalu kentara nodanya.
“Mundur!” katanya dingin.
Eh iya, Aku lupa. Kepalaku bahkan masih bersandar di punggungnya.
“Lo modus ya?” tuduhku.
Dia tidak menjawab, dan kembali menjalankan motornya setelah kucing yang bergaduh tengah jalan tadi berlari berkejaran, melanjutkan pertengkaran mereka.
Ternyata gara-gara mereka Aku mendapatkan kesempatan emas ini? Ups!
Setelah itu mataku hanya terfokus dengan noda coklat di baju manusia masker karena ulahku, bentuknya persis seperti peta kalimantan.
Tidak terasa motor sudah memasuki halaman rumah mewah Ummi Lailatul, bertepatan dengan adzan dzuhur yang sudah dikalimat takbir terakhir. Lelaki itu bergegas langsung turun dari motor dan meninggalkanku tanpa menoleh apalagi ucapan.
Huh!
Tapi baru saja masuk ke dalam rumah, lelaki itu keluar lagi dengan memakai kopiah. Masih dengan baju putih itu...
Dia pasti mau ke masjid ‘kan?
Duh, gimana ngomongnya?
“Hei Suamiku, eh maksudnya Kim Taehyung!” Aku memanggilnya, tapi bukannya berhenti, dia semakin cepat melangkahkan kakinya. “Mas Aydan!” panggilku lebih kencang.
Dia berhenti dan menoleh, tapi tatapannya seolah ingin menerkamku.
Aku mendekatinya dengan berlari kecil.
“Mas Aydan, kenapa nggak ganti baju?”
“Bukan urusanmu!” dia kembali melanjutkan langkah kakinya lebih lebar.
Aku mengejarnya dan menarik baju belakang bagian bawahnya, dia kembali berhenti. Aku lihat dia menahan napasnya. “Mas Aydan ganti aja bajunya, Mas Aydan mau ke masjid ‘kan? Ayahku kalau ke masjid pake pakaian bersih dan wangi. Sedangkan baju yang Mas Aydan pake itu pasti udah keringetan.”
Dia menyentak pelan tanganku, “Sudah nggak ada waktu lagi!” katanya datar.
Aku tahu dia terburu-buru. Tapi ‘kan?
“Awh!” Aku pura-pura terjatuh, padahal dia menyentak tanganku pelan dan sudah berjeda lima detik.
“Aydan, kamu apakan Dinda?” tanya Ummi Lailatul yang tiba-tiba keluar dari rumah. Sepertinya beliau mendengar keributan yang kubuat.
Manusia masker itu mengusap wajahnya kasar, “Aydan nggak ngapa-ngapain dia Ummi, dia memang suka jatuh.”
Ish kurang asem!
“Dinda, mana yang sakit—”
“Ummi, Aydan mau ke masjid sekarang, sudah sangat terlambat.” ujar Kim Taehyung kw.
“Minta maaf dulu.” titah Ummi Lailatul.
Aku dengar lelaki itu menghembuskan napasnya pelan, “Maaf.” katanya singkat dan pergi.
“Aydan tunggu sebentar!” ucap wanita paruh baya itu, “Baju kamu belakangnya kotor, Nak.”
Seketika manusia masker itu membatu.
Dan Aku? Menggigit ujung lidahku.
*
Aku berjalan mondar-mandir di dalam kamarku. Pasca insiden terjatuh pura-pura tadi, Aku langsung pulang ke rumah, dengan alasan juga ingin shalat. Gara-gara itu juga manusia masker tidak jadi berjamah di masjid, dan berakhir shalat di rumah karena sudah sangat terlambat.
“Bodoh bodoh!” Aku memukul kepalaku, “Bagaimana mau pendekatan, pembukaannya aja dia udah murka denganku!”
Aku merebahkan diri di atas ranjang berbaring dengan posisi telentang. “Ternyata tidak semudah itu untuk mendekati anak orang.”
“Semua gara-gara Aira, bisa-bisanya dia memberikan tantangan yang tidak akan pernah Aku lakukan,” kutatap foto Kim Taehyung di atas nakas, “Semua kulakukan demi ingin berjumpa dengan kamu, Suamiku.”
Aku bangkit dan membuka mukenah yang masih kupakai. “Harus semangat Kim Dinda! Fighting!”
Tapi Aku tidak kembali lagi ke rumah Ummi Lailatul, Aku akan datang lagi saat malam saja. Tepat ketika acara pengajian. Aku akan menghabiskan waktu siangku untuk tidur sembari memeluk bantal wajah Kim Taehyung. Agar tidurku lebih nyenyak tentunya.
“Dinda?”
Aku tersentak, mataku terbuka lebar. Suara itu... Suara yang biasanya dingin kini terdengar begitu lembut. Aku mencari asal suara.
“Adinda?”
Suara itu berasal dari jendela kamarku. Mataku terbelalak saat menyadari sosok itu. “Kim Taehyung?”
Dia menggeleng pelan dan tersenyum manis. “Ini Kakanda, bukan lelaki itu. Jangan sebut-sebut nama dia lagi di depanku, Kakanda cemburu Dinda.”
Aku sontak tertegun, apa dia punya kepribadian ganda? Pura-pura jual mahal, ternyata...
“Dinda, kemari.” pintanya.
“I-iya Kakanda.” Aku manut, Perlahan Aku bangkit dari baringku dan mendekati sosok yang masih berdiri di belakang jendela.
“Apa yang sedang Kakanda lakukan di sini?” tanyaku heran.
Senyumnya semakin merekah, kemudian dia mengambil tanganku dan digenggamnya, “Kenapa Dinda nggak datang lagi ke rumah, Kakanda rindu?”
Aku? Menelan ludah pun Aku tidak mampu.
Perlahan dia mendekati wajahnya...
Mau apa dia?
Mataku yang melotot, langsung Aku pejamkan karena wajahnya semakin mendekat...
“Dinda!”
Aku tersentak dan membuka mata.
“Dari tadi Ibu ngetuk pintu, nggak di buka-buka! Nyenyak banget ya tidurmu. Kenapa kamu monyong-monyong gitu di depan bantal Kim Taehyung? Mimpiin dia kamu ya? Makanya umur udah dua puluh lima tahun itu, nikah! Bukannya menghalui orang Korea mulu!”
Aku menjauhi bantal Kim Taehyung yang masih kucium.
“Sudah sore bukannya tutup jendela dan hidupin lampu, ini malah tidur sampe kebablasan. Ibu baru pulang dari rumah Ummi Lailatul tapi rumah masih gelap. Ini sebentar lagi mau maghrib. Kamu sudah shalat Ashar?” omel Ibuku. Aku yakin suara ibu Elyana terdengar oleh tetangga.
Aku menggeleng. “Bu, kata Pak Ustadz kalo telat shalat karena ketiduran, masih di maafkan.” jawabku.
Ibu pun semakin murka, sebab tangannya mulai berkacak pinggang.
“Ibu, tadi ada yang beli kambing loh!” ucapku yang pasti membuat Ibu senang.
Seketika wajah murka ibu berubah menjadi cerah. “Oh ya? Laku berapa?” tanyanya antusias.
Tuh kan?
“Kalo nggak salah laku tiga, terus belinya yang besar-besar.” beritahuku.
Tanpa berkata lagi, Ibu langsung keluar dari kamarku. Aku yakin dia mau nagih jatahnya dari Ayah. Untung Aku sudah minta duluan, karena kalo sudah ditangan Ibu Aku dapetnya cuma secimit.
Aku kembali teringat dengan mimpiku. Aku turun dari ranjang dan mendekati jendela yang masih terbuka. Angin sore seketika menerpa wajah bantalku. “Harusnya Aku sadar kalau tadi cuma mimpi,” Aku menghela pelan, “Bagaimana mungkin dia bisa berdiri di balik jendela, sedangkan kamarku ada di lantai dua?” Aku menggeleng dan terkekeh. Kututup jendela kamarku, dan melaksanakan semua perintah Ibu, sebelum kanjeng ratu kembali murka.
*
Saat malam tiba, Aku pergi bersama Ayah ke rumah Ummi Lailatul. Sedangkan Ibu sudah mengulang ke sana sejak selesai mandi sore, sebab Ibu sedang berhalangan makanya lebih santai. Pun Aku malu kalau pergi sendiri, sejak kejadian tadi siang.
Sesampainya, ternyata belum terlalu ramai.
Sebagai tetangga terdekat dan penghuni terlama sekaligus kenal dengan semua orang dari segala kalangan, Ayah menjadi penyambut tamu di acara ini.
“Wa'alaikumussalam, silahkan, Pak Handoko. Mari saya antar.” ujar Ayahku, dan mendampingi mantan lurah menuju rumah Ummi Lailatul, tamu terakhir sepertinya.
Aku hanya mengekor dari belakang, tapi ada yang memanggilku.
“Tunggu, Din!” katanya setelah Aku menoleh.
Bagaskara. Anaknya mantan lurah. Berondong yang tidak berhenti mengejarku. Sudah ditolak berkali-kali, tapi bandel. Dia juga selalu datang ke kantor lurah setiap Aku datang ke sana, entah tahu dari mana. Setiap Aku ke kantor lurah, dia selalu datang setelahnya.
“Kita bareng aja masuknya, Din.” ucap Bagas dengan senyum tengilnya. Mana mungkin Aku mau sama dia, dia saja baru tamat sekolah dan kuliah semester satu.
Sorry ya, Gas. Aku sukanya pria matang seperti Kim Taehyung, bukan kayak bayi seperti kamu meskipun kamu juga nggak kalah ganteng.
“Kak Dinda, lewat sini?” panggil Aisyah dari samping rumah.
Aku mendekat, dan Bagas mengikutiku.
“Lewat pintu belakang aja, Kak. Ruang depan semua bapak-bapak.” Aaliyah memberitahu.
Aku mengangguk dan menoleh Bagas yang berdiri di sampingku.
“Gas, Mbak mau masuk lewat pintu belakang. Lo masuk lewat pintu depan sana!” perintahku.
Bagas menatapku sendu. Itulah salah satu membuatku eneg sama Bagas, dia itu manja.
“Tapi Din, kata Papa Aku sama kamu aja.” ucap Bagas lirih.
Dan Din Dan Din, enteng bener dia manggil Aku yang jauh lebih tua darinya. Aku menghela, Aku tidak bisa berkutik jika dia sudah menjual nama ayahnya. Urusan RT kami bisa diperlambat kalau Aku tidak menuruti keinginan putranya.
“Udah biarin, Kak. Ajak aja.” kata Aaliyah.
Kami berempat pun berjalan lewat samping rumah menuju pintu belakang. Ketika di tengah perjalanan, kami berpapasan dengan Kim Taehyung kw. Sedikitpun dia tak menoleh ke arahku.
“Din, din, dia kok mirip yang ada di wallpaper hape kamu?” ucap Bagas dengan volume yang tidak kecil. Aku yakin manusia masker yang menjelma jadi manusia kulkas karena sedang tidak memakai masker itu mendengar ucapan anak mantan lurah di sampingku ini.
Aku menginjak kakinya.
“Aduh, sakit Dinda.” rengek Bagas, matanya berkaca.
Aku berjalan lebih ngebut menyusul dua gadis itu yang sudah cukup jauh, sedangkan Bagas tidak jadi menangis karena Aku meninggalkannya.
Saat baru memasuki pintu rumah, Aku lihat Bagas mendekati sandalnya dengan sandalku, berdampingan.
“Sandalnya dulu, nanti orangnya nyusul.” kata Bagas cengengesan.
Dasar anak kecil!
Acara berjalan dengan lancar dan khidmat. Elah kayak akad aja. Aku pun pulang setelah menyantap makan malam yang rasanya sama persis seperti masakan ibuku. Ya iyalah, memang ibuku yang memasaknya.
Tentu masih diikuti Bagas di belakangku. Aku dengar suara cemas di belakang. Di sana, Bagas sedang kebingungan dengan kepala menatap ke bawah.
“Kenapa lo?” Aku mendekati, dan bertanya, “Nyari koin lo?”
“Din sandalku nggak ada!” katanya dengan suara bergetar.
Mataku refleks melihat lantai, ikut mencari sandal Bagas. “Udah Gas, ikhlasin aja. Mungkin lo kurang sedekah.”
Bagas mengerucuti bibirnya, “Tega banget Din biarin Aku pulang tanpa pake sandal.”
“Kenapa, Kak?” tanya Aaliyah yang Aku tebak mendengar kerusuhan Bagas.
“Bagas lupa meninggalkan sandalnya di mana.” kataku, membuat Bagas langsung menoleh ke arahku.
Aaliyah mengangguk-angguk, “Seperti apa sandalnya?”
Aku menyuruh Bagas menyebutkan ciri sandalnya.
“Oh sandal yang itu? Aku lihat ada sebelah di dekat kolam ikan, sebelahnya lagi di dekat gudang.” ujar Aisyah. “Tadi Aku nggak sengaja liat, pas lagi nyari kucingku.”
“Tuh, Gas. Cepat ambil.” perintahku, dan Bagas manut.
Aku berpikir keras membayangkan letak sandal Bagas, bagaimana mungkin bisa berada di arah yang berbeda. Satu sebelah kiri pintu, sebelahnya lagi sebelah kanan. Geragas sekali orang yang menendangnya.
***
lanjut thor pen tau reaksi mas dokter apa masih murka atau malah berbunga-bunga 🤭
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍