Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang Iron Sight
Tiga bulan telah berlalu sejak ledakan di Pelabuhan Sektor 4. Dunia mengenang peristiwa itu sebagai "Insiden Kebocoran Kimia," sebuah narasi palsu yang disusun rapi oleh pemerintah transisi untuk menutupi borok Jenderal Gedeon. Bagi publik, Mayor Elara Vanya dan Kolonel Zian Arkana adalah martir yang tewas dalam tugas. Namun, di dunia bawah tanah yang gelap, nama mereka adalah legenda yang berbisik.
Kasino Le Flambeau di Monte Carlo berkilauan di bawah lampu kristal yang mahal. Di tengah kerumunan pria berjas tuksedo dan wanita bergaun sutra, seorang wanita dengan gaun merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna berjalan dengan anggun. Rambut pirangnya disanggul modern, menonjolkan leher jenjang dan sepasang anting berlian yang menyembunyikan komunikator mikro.
Dia adalah Elara Vanya, kini menggunakan identitas "Isabella Rossi," seorang janda kaya dari Italia.
"Target terlihat di meja Baccarat sektor privat," suara Zian terdengar di telinga Elara melalui transmisi terenkripsi. "Jam dua belas darimu. Viktor Volkov. Dia adalah kepala logistik Iron Sight untuk wilayah Eropa Barat. Dialah orang yang menandatangani pengiriman gas VX ke Gedeon."
Elara menyesap martini-nya, matanya memindai ruangan melalui bulu mata lentiknya. "Diterima, 'Lucian'. Kau di posisi?"
"Aku di balkon atas. Dua penembak jitu Volkov ada di sudut ruangan. Jika situasi memanas, aku akan mematikan lampu. Kau punya waktu lima menit untuk mendekatinya," jawab Zian.
Zian, yang kini tampil dengan jenggot tipis dan rambut yang dicat lebih gelap, terlihat seperti pengusaha keamanan swasta yang bosan di balkon atas. Tangannya tidak jauh dari pistol peredam suara yang disembunyikan di balik jasnya.
Elara melangkah menuju meja Baccarat. Volkov adalah pria bertubuh besar dengan bekas luka bakar di tangan kirinya—tanda dari masa lalunya sebagai tentara bayaran di Siberia.
"Boleh saya bergabung, Tuan-tuan?" suara Elara terdengar merdu, penuh dengan pesona yang mematikan.
Volkov mendongak, matanya yang dingin sempat terpaku pada kecantikan Elara sebelum ia tersenyum kasar. "Keberuntungan biasanya datang dalam paket yang cantik. Silakan, Nona Rossi."
Selama permainan, Elara memainkan perannya dengan sempurna. Dia tertawa pada lelucon Volkov, menyentuh lengannya dengan lembut, dan membiarkan pria itu merasa memegang kendali. Namun, di bawah meja, jarinya sedang mengaktifkan perangkat cloning data yang ia tempelkan di sisi meja saat Volkov meletakkan ponselnya di sana.
"Anda sepertinya orang yang sangat sibuk, Tuan Volkov," pancing Elara sambil memasang taruhan besar. "Ponsel itu tidak berhenti bergetar."
"Bisnis tidak pernah tidur, Nona. Terutama saat ada 'barang' yang harus segera dikirim ke pembeli yang tidak sabaran," jawab Volkov.
"Barang seperti yang dikirim ke Jenderal Gedeon?" bisik Elara, suaranya nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan kasino.
Wajah Volkov seketika berubah kaku. Matanya menyipit tajam. "Siapa kau sebenarnya?"
"Seseorang yang ingin tahu di mana kalian menyembunyikan sisa Protokol Lazarus," balas Elara, kini tanpa senyum.
Volkov mencoba berdiri, tangannya bergerak menuju senjata di balik jasnya, namun Elara lebih cepat. Dia menendang tulang kering Volkov di bawah meja dan menekan ujung pisau lipat kecil ke paha pria itu.
"Jangan bergerak, atau kau akan kehabisan darah sebelum bisa memanggil pengawalmu," desis Elara.
Di balkon atas, Zian melihat pergerakan mencurigakan dari dua pengawal Volkov. Dia segera melepaskan dua tembakan cepat yang mengenai lampu kristal di atas meja Volkov.
PRANG!
Lampu hancur, dan ruangan seketika gelap gulita. Kepanikan melanda para tamu kasino.
"Zian! Sekarang!" teriak Elara.
Zian melompat dari balkon, mendarat di atas meja judi dengan presisi seorang predator. Dia menghantam wajah salah satu pengawal Volkov yang mencoba mendekat, sementara Elara menyeret Volkov menuju pintu keluar darurat di belakang bar.
Mereka keluar ke gang sempit yang menghadap ke laut Mediterania. Sebuah mobil coupe hitam sudah menunggu dengan mesin yang menderu. Kael berada di balik kemudi.
"Masuk!" perintah Kael.
Zian dan Elara mendorong Volkov ke kursi belakang. Mobil itu melesat pergi, ban-bannya mencicit di aspal Monte Carlo yang licin.
"Bicara, Volkov!" bentak Zian sambil menodongkan pistol ke pelipis pria itu. "Di mana pabrik produksi gas VX milik Iron Sight?"
Volkov meludah, darah segar mengalir dari mulutnya. "Kalian pikir kalian bisa menghentikan kami? Iron Sight bukan sekadar perusahaan. Kami adalah fondasi dari setiap konflik di planet ini. Jika satu kepala dipotong, dua lagi akan tumbuh."
"Kalau begitu aku akan terus memotong sampai tidak ada lagi yang tersisa," balas Elara dingin. Dia mengambil ponsel Volkov yang berhasil ia clone datanya. "Kael, berapa lama untuk meretas koordinat dari ponsel ini?"
"Sedang diproses," sahut Kael. "Tunggu... ada sinyal masuk. Seseorang sedang melacak posisi Volkov melalui satelit. Kita punya tamu!"
Dua SUV hitam besar muncul dari belokan jalan, mencoba menghimpit mobil mereka. Pria-pria bersenjata keluar dari jendela SUV, melepaskan rentetan tembakan senapan mesin.
"Elara, ambil alih setir! Kael, bantu aku di belakang!" Zian bertukar posisi dengan Elara dalam kecepatan tinggi.
Elara mencengkeram kemudi, memacu mobil menembus jalanan berkelok di lereng bukit Monte Carlo. Dia menggunakan teknik handbrake turn untuk menghindari tabrakan, sementara di belakang, Zian dan Kael membalas tembakan musuh.
"Mereka menggunakan peluru penembus zirah!" teriak Kael saat kaca belakang mereka retak seribu.
"Zian, ada tanjakan di depan! Aku akan melakukan lompatan!" Elara melihat sebuah jembatan yang sedang diperbaiki.
"Lakukan!"
Mobil itu melayang di udara, melintasi celah jembatan yang terputus, dan mendarat dengan guncangan hebat di sisi lain. Salah satu SUV pengejar mencoba mengikuti, tetapi mereka gagal mendarat dengan tepat dan jatuh ke jurang sedalam lima puluh meter, meledak dalam bola api besar.
SUV kedua terhenti di pinggir celah, tidak berani melompat.
"Kita aman untuk sementara," desah Elara, napasnya terengah-engah.
Mereka sampai di sebuah vila tersembunyi di perbatasan Prancis. Volkov diikat di sebuah kursi di ruang bawah tanah. Elara melepas gaun merahnya, menyisakan pakaian taktis hitam yang tersembunyi di baliknya. Dia menghapus riasannya, kembali menjadi Mayor Vanya yang ditakuti.
Zian mendekati Elara, menyerahkan sebotol air mineral. "Kerja bagus, 'Isabella'. Aktingmu di meja judi hampir membuatku cemburu."
Elara menatap Zian, sebuah kilatan jenaka muncul di matanya. "Cemburu? Bukankah kau yang bilang aku adalah 'hadiah' yang mudah dikendalikan?"
Zian tersenyum, kali ini dia menarik Elara mendekat dan mengecup dahinya dengan lembut. "Aku salah besar. Kau adalah badai yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun."
Kael masuk ke ruangan dengan wajah serius. "Aku sudah mendapatkan koordinatnya. Pabrik itu tidak ada di Eropa. Iron Sight menyembunyikannya di tengah gurun Sahara, di sebuah fasilitas tambang tua yang sudah dihapus dari peta."
Elara melihat peta digital di layar laptop Kael. "Fasilitas 'Black Sand'. Itu adalah markas utama unit tentara bayaran mereka. Jika kita pergi ke sana, kita akan menghadapi satu tentara kecil sendirian."
Zian memeriksa magasin senjatanya. "Maka kita butuh lebih dari sekadar keberuntungan. Kita butuh rencana yang akan membuat Gedeon terlihat seperti amatir."
Zian menatap Volkov yang kini tampak pucat. "Beri tahu bosmu di Sahara, Volkov. Phoenix sedang datang untuk membakar pasirnya."
Malam itu, di bawah langit Mediterania yang bertabur bintang, Elara dan Zian berdiri di balkon vila. Mereka tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil membawa mereka semakin dekat ke inti kegelapan. Namun, saat tangan mereka bertautan, Elara merasa bahwa tidak ada gurun yang terlalu panas atau badai yang terlalu besar selama ia memiliki Zian di sampingnya.