Selamat datang kembali, Pembaca Setia!
Terima kasih karena telah melangkah sejauh ini bersama Aulia. Jika kamu ada di sini, artinya kamu telah menjadi saksi bisu betapa perihnya luka yang ia simpan selama lima tahun, dan betapa kuatnya ia saat mencoba berdiri di atas kakinya sendiri di buku pertama.
Di "Bintang Jatuh Dan Sepotong Hati 2", perjalanan ini akan menjadi lebih menantang. Kita akan menyaksikan bagaimana Aulia mengubah rasa sakitnya menjadi kekuatan, bagaimana rahasia kelam masa lalu mulai terkuak satu per satu, dan ke mana arah hatinya akan berlabuh.
Terima kasih telah setia menanti dan mendukung karya ini. Mari kita lanjutkan perjuangan Aulia sampai akhir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa yang Familiar dan Kenangan Ibu
Aulia akhirnya menyerah pada kekeraskepalaan Rizki. Ia tidak ingin menghabiskan sisa energinya hanya untuk berdebat tentang siapa yang harus memegang wajan. Dengan gerakan cekatan namun dingin, ia mengolah daging wagyu dan bahan mewah lainnya menjadi hidangan yang mengepulkan aroma menggugah selera.
Saat suapan pertama masuk ke mulutnya, Rizki tersentak. Tangannya yang memegang sendok membeku di udara. Rasa ini... ia mengenalnya dengan sangat baik. Ini adalah rasa yang sama dengan masakan yang selalu tersedia di vilanya dulu—masakan yang selama bertahun-tahun ia puji dan ia kira sebagai hasil tangan Bi Susan.
Kecurigaan Rizki meledak menjadi kepastian yang menyakitkan. "Aulia," panggilnya dengan suara serak, "Siapa yang mengajarimu memasak seperti ini? Rasanya persis seperti masakan di vila."
Aulia hanya terdiam, melanjutkan makannya tanpa menatap Rizki. Ia memilih bungkam, membiarkan Rizki tenggelam dalam penyesalan atas ketidaktahuannya sendiri.
Di balik kebungkamannya, pikiran Aulia terbang pada nasihat almarhum ibunya. Dulu, ia sering mengeluh saat ibunya memaksanya belajar memasak di tengah kesibukan sekolah. Ibunya pernah berkata dengan tatapan sayu yang penuh firasat:
"Belajarlah memasak, Aulia. Bukan hanya untuk memuaskan lidah suamimu kelak, tapi untuk mempertahankan jati dirimu. Di keluarga besar, suaramu mungkin akan dibungkam, seleramu mungkin akan diatur. Tapi jika kamu bisa memasak sendiri, kamu punya kendali atas apa yang masuk ke tubuhmu. Itu adalah satu-satunya cara untuk tetap merasa 'hidup' saat duniamu terasa sempit."
Niat tulus ibunya baru benar-benar dipahami Aulia sekarang. Selama lima tahun di vila Laksmana, memasak secara sembunyi-sembunyi adalah satu-satunya momen di mana ia merasa memegang kendali atas hidupnya sendiri, meski ia harus membiarkan Bi Susan yang mengambil nama baiknya di depan Rizki.
Harapan Aulia agar Rizki segera angkat kaki setelah makan malam pupus total. Alih-alih merapikan jasnya, Rizki justru bertingkah seolah apartemen sempit itu adalah tempat peristirahatan pribadinya. Ia membuka laptop, menyebarkan dokumen kerja di meja tamu, lalu dengan santai menyalakan televisi untuk menonton berita ekonomi.
Aulia berdiri kaku di ambang pintu dapur, menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Kehadiran Rizki terasa seperti invasi.
"Kamu harusnya pulang sekarang. Ini sudah malam," tegas Aulia.
Rizki menoleh perlahan, menatap Aulia dengan ketenangan yang menjengkelkan. Ia menyadari sebuah perubahan posisi yang ironis: Dulu, Aulia-lah yang akan memohon-mohon padanya, membuatkan kopi tanpa diminta, atau mencari-cari alasan remeh agar Rizki tidak pulang ke pelukan Meli. Kini, saat Rizki dengan sukarela memberikan seluruh waktunya, Aulia justru menatapnya seolah ia adalah hama yang harus segera disingkirkan.
Anehnya, Rizki merasa ada kepuasan tersembunyi. Sosok Aulia yang jujur dengan kekesalannya, yang berani mengusirnya, ternyata jauh lebih menarik dan "hidup" daripada sosok Aulia yang dulu selalu memakai topeng kelembutan yang membosankan.
Rizki tampaknya berniat untuk menunda kepulangannya selama mungkin, sementara Aulia mulai merasa gelisah. Di dalam kamar, draf presentasi besar untuk produk baru UME sudah menanti untuk diselesaikan.
Aulia masuk ke kamar untuk mengambil air minum, namun ia lupa menutup pintu kamarnya dengan rapat. Dari sofa, mata tajam Rizki tanpa sengaja menangkap beberapa lembar draf teknis yang tergeletak di meja kerja Aulia—skema lengan robot yang terlihat sangat familiar dengan proyek yang sedang macet di perusahaannya sendiri.
Akankah Rizki menyadari bahwa wanita yang baru saja menyajikan makan malam untuknya adalah otak jenius di balik teknologi yang sedang ia incar habis-habisan? Ataukah gangguan Rizki di apartemen itu justru akan memberi celah bagi Meli untuk menyelesaikan sabotase datanya tanpa terdeteksi oleh Aulia?
emang apa prestasinya Melati, Ken...
kasihan tau Aulia... udah capek capek mikir, mau di sabotase.
weeeesss angel... angel...
Sampek kurang turu lhooo sangking mau menunjukkan keberhasilan dr tantangan Henry.
Ndak usah mikirin hal hal yg bikin kita jatuh.
padahal tadi yang jemput Pamela di rumah Rizki Khan Violetta.