NovelToon NovelToon
JALAN MENUJU KEABADIAN

JALAN MENUJU KEABADIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Spiritual / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:38.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH.15

Satu bulan telah berlalu sejak Shen Yu masuk ke Sekte Awan Putih.

Di dalam gubuk reyotnya, Shen Yu membuka matanya perlahan. Secercah cahaya keemasan redup berkedip di pupilnya sebelum menghilang.

[Pemurnian Qi: Tahap 2 - Awal]

Berkat kelopak Bunga Bulan Ungu yang memurnikan akar rohnya dan latihan tanpa henti siang-malam, Shen Yu akhirnya menembus hambatan pertamanya. Qi di dalam tubuhnya kini mengalir dua kali lebih deras dan lebih padat.

Namun, ia segera menekan auranya menggunakan Teknik Pernapasan Penyu. Di mata orang luar, ia masih terlihat seperti murid Tahap 1 Puncak yang stabil.

Shen Yu berdiri, meregangkan ototnya yang kaku. Ia menatap dinding gubuk tempat tertempel selembar kertas pengumuman sekte.

"TURNAMEN TAHUNAN MURID LUAR" Hadiah Juara 1: Senjata Roh Tingkat Menengah & Akses Lantai 2 Perpustakaan. Hadiah 10 Besar: 50 Batu Roh & Pil Sumsum Naga.

Mata Shen Yu berkilat. Ia butuh senjata. Parang besinya sudah lama hancur, dan bertarung dengan tangan kosong melawan kultivator bersenjata adalah tindakan bunuh diri. Senjata Roh adalah benda mahal yang tidak mungkin ia beli dalam waktu dekat.

"Aku harus ikut," putusnya. "Tapi aku tidak boleh menonjol. Cukup masuk 10 besar, ambil hadiahnya, lalu kalah dengan 'meyakinkan'."

Namun, sebelum ia bisa mendaftar, ada satu kewajiban yang menghalanginya.

Lencana murid di pinggangnya bergetar, memancarkan cahaya merah.

Peringatan: Murid Luar Shen Yu. Anda belum menyelesaikan Misi Wajib Bulanan. Segera lapor ke Balai Misi atau lencana Anda akan dicabut dan Anda akan diusir.

Shen Yu mendecih. "Sekte sialan. Tidak ada waktu istirahat."

Balai Misi

Shen Yu tiba di balai yang ramai itu. Ia mencari misi yang paling cepat dan sederhana agar bisa segera kembali berlatih untuk turnamen.

"Saya ambil misi pengumpulan Kulit Babi Besi," kata Shen Yu pada resepsionis.

"Misi itu butuh tim minimal 3 orang," jawab resepsionis bosan. "Tunggu di sana. Sudah ada dua orang yang mendaftar. Kau orang terakhir."

Shen Yu menoleh ke arah bangku tunggu yang ditunjuk. Langkahnya terhenti seketika.

Duduk di sana, dengan kipas lipat yang kini tertutup rapat, adalah Jin Bo.

Pemuda kaya itu terlihat sedikit kurus dibandingkan sebulan lalu. Jubah sutranya tidak lagi mencolok, diganti dengan pakaian latihan standar sekte yang lebih praktis. Wajahnya yang biasa jenaka kini terlihat murung dan serius.

Di sebelahnya, duduk seorang pria bertubuh kekar dengan wajah penuh bekas cacar dan senyum licik.

Jin Bo mendongak saat merasakan seseorang mendekat. Saat matanya bertemu dengan Shen Yu, ekspresinya membeku. Ada rasa sakit, marah, dan kerinduan yang bercampur aduk di sana.

"Kau..." Jin Bo bergumam pelan.

"Lama tidak bertemu," sapa Shen Yu kaku. Ia duduk di bangku yang sama, tapi memberi jarak satu meter di antara mereka.

"Bagus! Tim sudah lengkap!" Pria bertubuh kekar itu berdiri, menepuk tangannya keras-keras. "Perkenalkan, aku Han Hu. Murid Luar Senior, Pemurnian Qi Tahap 4. Aku akan memimpin kalian, ayam-ayam kecil, dalam misi ini."

Han Hu menatap Jin Bo dan Shen Yu dengan tatapan meremehkan. "Tuan Muda Jin yang jatuh miskin, dan... bocah kampung tanpa nama. Tim yang menyedihkan. Tapi yasudahlah, asalkan kalian tidak menyusahkanku."

"Namaku Shen Yu," koreksi Shen Yu datar.

"Terserah," Han Hu melambaikan tangan. "Tugas kita sederhana. Pergi ke pinggiran Hutan Kabut, bunuh 5 Babi Besi, ambil kulitnya, pulang. Bagi hasil: Aku 60%, kalian masing-masing 20%. Adil kan?"

"Itu pemerasan," Jin Bo angkat bicara, suaranya tajam. "Aturan sekte bilang pembagian harus berdasarkan kontribusi atau rata."

Han Hu mendekatkan wajahnya ke Jin Bo, auranya menekan. "Aturan sekte berlaku di dalam sekte. Di hutan, aturannya adalah kepalan tangan siapa yang paling besar. Kau punya masalah, Tuan Muda?"

Jin Bo mengepalkan tangannya, tapi ia diam. Ia tahu Tahap 4 jauh di atasnya yang baru mencapai Tahap 2 Awal.

"Bagus. Berangkat sekarang!" perintah Han Hu.

Sepanjang perjalanan menuju Hutan Kabut, keheningan di antara Shen Yu dan Jin Bo begitu tebal hingga bisa dipotong dengan pisau. Mereka berjalan berdampingan tapi tidak saling bicara, seperti dua orang asing yang berbagi kenangan masa lalu.

Hutan Kabut - Zona Pinggiran

Hutan ini selalu tertutup kabut tipis berwarna kekuningan. Pohon-pohonnya bengkok dan berlumut hitam.

Han Hu memimpin di depan dengan tombak panjangnya, sementara Shen Yu dan Jin Bo berjaga di belakang.

"Ada yang aneh," bisik Shen Yu pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Jin Bo menoleh sedikit. "Apa?" tanyanya dingin.

"Jejak kaki di tanah," Shen Yu menunjuk tanah lembap. "Babi Besi biasanya hidup di area kering dan berbatu. Tapi Han Hu membawa kita makin dalam ke area rawa yang lembap. Ini bukan habitat Babi Besi."

Jin Bo mengerutkan kening. Kecerdasannya yang tajam kembali bekerja. "Kau benar. Ini habitat... Ular Rawa Beracun."

Mereka berdua menatap punggung Han Hu.

"Senior Han," panggil Jin Bo. "Kita sudah terlalu jauh dari rute peta. Kita harus putar balik."

Han Hu berhenti berjalan. Ia tidak berbalik. Bahunya berguncang pelan, seolah menahan tawa.

"Putar balik?" suara Han Hu terdengar aneh. "Kenapa harus putar balik saat umpan sudah sampai di kail?"

Srrrek!

Tiba-tiba, dari balik pepohonan di sekeliling mereka, muncul empat orang berpakaian hitam dengan wajah tertutup. Aura mereka semua berada di Pemurnian Qi Tahap 3.

"Kerja bagus, Han Hu," kata salah satu pria bertopeng itu. "Kau membawa domba gemuk sesuai pesanan."

Shen Yu dan Jin Bo mundur merapat, punggung ketemu punggung secara refleks—kebiasaan lama yang belum hilang.

"Apa artinya ini?!" teriak Jin Bo.

Han Hu berbalik, menyeringai lebar. "Maaf ya, Tuan Muda Jin. Seseorang di Kota Batu membayar mahal untuk kepalamu. Katanya, Keluarga Jin terlalu banyak ikut campur urusan bisnis orang lain. Dan kau, Shen Yu... kau cuma bonus sial yang ikut mati."

"Perampokan terencana..." desis Shen Yu. Ia melirik Jin Bo. "Kau dan masalah orang kayamu."

"Diamlah," balas Jin Bo, meski tangannya gemetar memegang kipas besinya. "Bisa kita selesaikan nanti? Sekarang, bagaimana cara kita tidak mati?"

"Ada 5 musuh. Satu Tahap 4, empat Tahap 3," hitung Shen Yu cepat. "Kita cuma berdua, Tahap 2."

"Koreksi," Jin Bo membuka kipasnya, bilah-bilah pisau kecil muncul di ujungnya. "Aku punya tiga jimat peledak tingkat rendah. Itu bisa membeli waktu 10 detik."

"Cukup," kata Shen Yu. Matanya berubah dingin. Ia tidak lagi menekan auranya sepenuhnya. Giok Retak di dadanya berdenyut, siap memompa Qi.

Han Hu mengacungkan tombaknya. "Bunuh mereka! Jangan sisakan mayat!"

Para pembunuh itu menerjang.

Di saat kritis itu, Shen Yu berbisik pada Jin Bo.

"Jin Bo. Saat aku bilang lari... jangan menoleh."

"Apa?!"

"LARI!"

Shen Yu melakukan hal yang gila. Alih-alih lari menjauh, ia menerjang maju sendirian ke arah Han Hu dan empat pembunuh itu, sementara tangannya merogoh saku, mengeluarkan sebotol bubuk keras (sisa eksperimen gagal lainnya) yang dicampur dengan serbuk Jelatang Api.

"Makan ini!"

Shen Yu melempar botol itu ke udara dan menghantamnya dengan Tinju Penghancur Batu.

Pyaar!

Ledakan bubuk merah menyelimuti area itu, masuk ke mata dan hidung para penyerang yang tidak siap.

"ARGHHH! MATAKU!"

"Sekarang, Jin Bo! Pergi!" teriak Shen Yu sambil menendang selangkangan salah satu pembunuh yang buta sesaat.

Jin Bo tertegun melihat punggung Shen Yu yang dikeroyok demi memberinya jalan. Teman yang ia kira pengkhianat, kini menjadi perisai hidupnya.

Air mata menggenang di mata Jin Bo. Tapi ia tahu, jika ia tetap di sini, mereka berdua mati.

"Jangan mati, bodoh!" teriak Jin Bo, lalu berbalik dan lari secepat kilat untuk mencari bantuan.

Shen Yu kini sendirian, dikepung oleh lima kultivator yang marah dan setengah buta.

Ia menyeringai, darah menetes dari sudut bibirnya.

"Baiklah. Mari kita lihat seberapa keras Tinju Penghancur Batu ini."

1
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
saniscara patriawuha.
gasss polll
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
teguh andriyanto
cakep👍, tapi kesombongan membutuhkan kekuatan boy💪
MyOne
Ⓜ️8️⃣0️⃣7️⃣Ⓜ️
teguh andriyanto
nhahh, gt... baru seruu👍
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️2️⃣8️⃣5️⃣Ⓜ️
teguh andriyanto
baru pemurnian qi tahap 5 aja sesumbar loe... 100 chapter LG baru bisa🤣🤣
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🐉⚔️
saniscara patriawuha.
gassssdd pollllllll...
༄⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Lanjut Up Thor
Salsa Cuy
👍🏻🙏🏻
MyOne
Ⓜ️🔜🆙🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️👍🏻👍🏻👍🏻Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️5️⃣5️⃣5️⃣Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙎🏻🙎🏻🙎🏻Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!