NovelToon NovelToon
TAHANAN OBSESI

TAHANAN OBSESI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Misteri / Psikopat / Fantasi / Fantasi Wanita
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.

apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.

mencari ide itu sulit gusy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RUANGAN DI BALIK FOTO DI DINDING

Pria bertopeng itu tidak membiarkan Kayla tergeletak di lantai beton yang dingin setelah menyuntiknya. Dengan tenaga yang sangat besar, ia mengangkat tubuh Kayla yang kaku namun masih sadar sepenuhnya ke atas kasur. Ia membaringkan Kayla dengan posisi yang sangat rapi, hampir terlihat seperti menaruh sebuah boneka pajangan. Setelah memastikan kaki Kayla kembali terikat dengan rantai yang lebih panjang agar ia bisa bergerak di sekitar ranjang, pria itu berbalik dan menghilang ke balik pintu baja tanpa sepatah kata pun.

Malam itu terasa seperti keabadian bagi Kayla. Efek obat lumpuh itu perlahan menghilang, namun menyisakan rasa pegal yang luar biasa di sekujur ototnya. Ia akhirnya jatuh tertidur karena kelelahan mental yang amat sangat.

Rahasia di Balik Potret Diri

Keesokan paginya, Kayla terbangun bukan karena cahaya matahari, melainkan karena suara yang sangat samar namun terus-menerus memanggilnya.

"Kayla... Kayla... dengar aku?"

Kayla tersentak, matanya langsung terbuka lebar. Suara itu bukan berasal dari mikrofon atau alat perekam. Suara itu terdengar sangat nyata, seolah-olah orang yang memanggilnya berada tepat di sampingnya.

Ia bangkit dari kasur, menyeret rantai kakinya yang berdenting di lantai. Ia menoleh ke arah foto raksasa dirinya yang kemarin sempat ia rusak saat mengamuk. Bagian wajah pada foto itu robek, memperlihatkan permukaan keras di baliknya.

"Kayla! Lihat ke sini!"

Suara itu berasal dari balik foto tersebut. Kayla mendekat dengan ragu. Dengan kuku jari yang gemetar, ia mulai mengelupas robekan kertas foto itu lebih lebar. Alih-alih melihat dinding beton, ia justru menemukan permukaan kaca yang sangat jernih dan tebal.

Kayla terus mengorek sisa-sisa kertas yang menempel hingga ia menyadari bahwa selama ini, "dinding" tempat fotonya terpajang sebenarnya adalah sebuah kaca tembus pandang satu arah.

Saat lapisan foto itu terkelupas sepenuhnya, mata Kayla membelalak. Di balik kaca itu terdapat sebuah ruangan yang sangat familiar—ruangan yang sama dengan tempat Aris menyelamatkannya kemarin. Bedanya, ruangan itu kini terlihat berantakan, seolah-olah baru saja terjadi perkelahian besar.

Di sana, di tengah ruangan yang remang-remang, Aris berdiri tegak menghadap ke arah kaca. Wajahnya penuh luka memar baru, dan salah satu tangannya terikat dengan rantai pendek ke dinding, namun matanya menatap tajam ke arah posisi Kayla berdiri.

"Aris!" teriak Kayla sambil memukul kaca itu dengan telapak tangannya. "Aris, kamu bisa lihat aku?!"

Aris tampak mengangguk lemah. "Aku tidak bisa melihatmu dengan jelas, ini kaca satu arah dari sisimu, tapi aku tahu kamu ada di sana karena getaran pada kaca. Kayla, dengar aku baik-baik. Kita tidak punya banyak waktu."

Kayla menempelkan telinganya ke kaca, air mata kelegaan sekaligus kecemasan mengalir di pipinya. "Dia menyiksaku, Aris. Dia menyuntikku lagi. Aku takut..."

"Aku tahu," suara Aris terdengar berat dan penuh amarah yang tertahan. "Tapi dengar, dia sengaja membuat kita bisa saling melihat sekarang. Ini bagian dari permainannya. Dia ingin kita saling menyaksikan penderitaan masing-masing untuk menghancurkan mental kita."

Aris mendekatkan wajahnya ke kaca, seolah mencoba menatap mata Kayla melalui penghalang tebal itu. "Tapi dia membuat kesalahan kecil. Saat dia membawaku kembali ke sini, aku berhasil mencuri sebuah kunci cadangan dari salah satu penjaganya. Aku menyembunyikannya di celah lantai di bawah kakiku sekarang."

Kayla tertegun. Harapan yang sempat mati kini kembali menyala di dalam dadanya.

"Kayla, kaca ini adalah kaca khusus, tapi ada titik lemah di sudut kanan bawah bingkainya. Kalau kamu bisa membongkar baut di sana menggunakan potongan logam dari alat perekam yang kamu hancurkan kemarin, kita mungkin bisa memecahkan atau menggeser kaca ini," instruksi Aris dengan cepat.

"Tapi Aris, gimana kalau dia lihat?" bisik Kayla ketakutan sambil melirik ke arah kamera pengintai.

"Dia sedang tidak di ruang kontrol. Aku mendengar dia sedang mempersiapkan sesuatu di lantai atas. Ini kesempatan kita satu-satunya, Kayla. Lakukan sekarang!"

Kayla segera berbalik, merangkak di lantai mencari serpihan logam dari alat perekam suara yang ia banting kemarin. Ia menemukan sebuah pelat besi kecil yang tajam. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mulai mengorek sudut bingkai kaca itu, sementara Aris terus memberikan arahan padanya.

Kayla tidak membuang waktu. Dengan napas yang memburu, ia mulai mengupas sisa-sisa kertas foto berukuran raksasa itu menggunakan kuku dan potongan logam tajam dari reruntuhan alat perekam. Lembaran-lembaran kertas yang menampilkan wajah cantiknya kini ia cabik-cabik tanpa ampun, memperlihatkan bentangan kaca tebal yang memisahkan selnya dengan ruangan Aris.

Kini, mereka benar-benar bertatapan. Meski terhalang kaca, Kayla bisa melihat setiap detail luka di wajah Aris—lebam keunguan di pipi dan darah kering yang menempel di sudut bibirnya.

"Kayla, berhenti menangis," ucap Aris, suaranya terdengar lewat celah kecil di bingkai kaca yang tampaknya juga berfungsi sebagai saluran udara. "Fokus. Kita harus bergerak sebelum dia kembali."

Kayla menempelkan telapak tangannya di kaca, dan Aris melakukan hal yang sama dari sisi seberang. Untuk sesaat, mereka seolah bersentuhan dalam kesakitan yang sama.

"Aris, kenapa dia membiarkan kita saling melihat?" tanya Kayla sambil terus mengorek sudut bingkai. "Ini terasa seperti jebakan."

"Memang," jawab Aris sambil melirik ke arah kamera di ruangannya sendiri. "Dia ingin melihat siapa yang akan menyerah lebih dulu. Dia ingin melihat salah satu dari kita memohon untuk keselamatan yang lain dengan mengorbankan diri sendiri. Tapi dia tidak tahu kalau aku sudah memetakan sirkuit listrik di balik dinding ini."

Aris menunjuk ke arah kabel merah yang menjuntai di sudut langit-langit ruangannya. "Jika kamu bisa membuka baut di sudut kaca itu, aku bisa menjangkau kabelnya dan menciptakan arus pendek. Itu akan membuka kunci otomatis di pintu selmu dan selku secara bersamaan selama sepuluh detik."

Kayla bekerja lebih cepat. Jari-jarinya mulai berdarah karena terus memaksa pelat besi kecil itu memutar baut yang sudah berkarat. "Sepuluh detik? Itu terlalu sebentar, Aris!"

"Itu satu-satunya celah yang kita punya, Kayla! Setelah sepuluh detik, sistem cadangan akan menyala dan pintu akan terkunci selamanya dengan voltase listrik tinggi di pegangannya," Aris menjelaskan dengan nada mendesak.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong di luar ruangan Kayla. Langkah itu tenang, namun setiap dentumannya seolah menghitung sisa waktu mereka.

"Dia datang!" bisik Kayla panik. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, memutar baut terakhir dengan paksa hingga ujung logam itu melukai ibu jarinya. Klik! Baut itu terlepas.

"Kayla, dengar aku," Aris mendekatkan wajahnya ke kaca, matanya menatap tajam ke arah Kayla. "Saat lampu berkedip biru nanti, itu artinya arus pendek berhasil. Jangan lihat ke belakang. Berlari ke arah pintu, tekan tombol manualnya, dan jangan berhenti sampai kamu sampai di lorong gelap yang kita lewati kemarin. Mengerti?!"

Kayla mengangguk mantap, meski air mata ketakutan masih menggenang. Di balik pintu baja selnya, ia mendengar suara kunci yang mulai berputar. Pria bertopeng itu sudah berada di sana.

"Sekarang, Kayla! Lakukan!" teriak Aris.

Kayla mendorong sudut kaca itu dengan bahunya, menciptakan celah yang cukup untuk Aris memasukkan tangannya dari sisi lain. Aris menarik kabel listrik dengan gerakan cepat, memicu percikan api yang menyilaukan.

DUAARR!

Lampu di kedua ruangan itu meledak secara bersamaan. Suara alarm lockdown mulai meraung, namun kali ini bercampur dengan suara gesekan pintu baja yang terbuka secara otomatis karena kegagalan sistem.

1
Agus Barri matande
semangat thor
Thecel Put
omg saya sangat suka cerita dengan genre seperti ini❤️‍🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!