NovelToon NovelToon
TAHTA YANG DICURI

TAHTA YANG DICURI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:99
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

Menceritakan tentang Baskara, seorang cowok yang berencana merebut kembali perusahaan milik mendiang sang ibu.

Setelah sang ayah menikah lagi, perusahaan tersebut kini dikuasai oleh Sarah, ibu tiri Baskara. Tak terima dengan keputusan ayahnya, Baskara pun merencanakan balas dendam. Ia berusaha mendekati Sarah.

Di luar prediksi, Baskara justru terpikat pada Alea, anak yang dibesarkan oleh Sarah. Lantas, bagaimana akhir rencana balas dendam Baskara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Memori

Suasana di dalam saluran ventilasi itu terasa seperti mencekik. Ruangannya sempit, berbau besi berkarat, dan dipenuhi debu yang menusuk indra penciuman. Alea merangkak dengan siku yang mulai lecet, sementara Baskara berada tepat di belakangnya. Suara napas mereka yang menderu pelan bergema di dalam lorong logam tersebut, menciptakan irama ketegangan yang konstan.

"Sedikit lagi, Alea. Di depan ada persimpangan, ambil jalur kiri," bisik Baskara. Suaranya terdengar berat dan teredam oleh dinding ventilasi.

Alea menurut. Tangannya yang gemetar menyentuh permukaan logam yang dingin. Saat ia sampai di ujung lorong, ia melihat sebuah jeruji besi yang mengarah langsung ke sebuah ruangan luas di bawah sana. Ia mengintip melalui celah kecil itu dan seketika jantungnya seolah berhenti berdetak.

Di bawah mereka bukan sekadar ruang arsip biasa. Ruangan itu luas, melingkar, dan dikelilingi oleh rak-rak raksasa yang berisi ribuan kotak baja. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar berdiri dengan logo Mahardika Group yang sangat besar terukir di lantai marmernya. Namun, yang membuat Alea terpaku adalah foto-foto yang terpampang di dinding digital utama.

Itu adalah foto orang tuanya.

"Bas... lihat itu," suara Alea nyaris hilang, berubah menjadi isakan yang tertahan.

Baskara merayap maju ke samping Alea. Matanya menyipit tajam. Ia melihat wajah ayah Alea, Adrian Dirgantara, dan ibunya, serya tersenyum dalam sebuah bingkai foto digital yang bertuliskan: Target Utama: Proyek Erase - Selesai.

"Jangan melihatnya sekarang, Alea. Kita harus fokus. Jika kita tertangkap di sini, semua pengorbanan ini akan sia-sia," ujar Baskara dengan nada yang sengaja ia buat keras untuk menarik Alea kembali ke realitas. Ia tidak ingin Alea hancur secara emosional di tengah misi yang sangat berbahaya ini.

Baskara dengan cekatan membuka baut jeruji ventilasi menggunakan pisau taktisnya. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menurunkan dirinya terlebih dahulu, lalu menangkap tubuh Alea agar tidak menimbulkan suara saat mendarat di lantai marmer yang licin.

Begitu kaki mereka berpijak di lantai, keheningan ruangan itu terasa begitu menindas. Baskara segera mengeluarkan alat pemindai frekuensi dari sakunya. "Reno benar, Sandi memang mematikan laser sensor di sini. Tapi sistem CCTV manual mungkin masih aktif. Kita hanya punya waktu sedikit sebelum patroli fisik masuk ke area ini."

Alea tidak mendengarkan sepenuhnya. Langkah kakinya seperti ditarik oleh magnet menuju meja besar di tengah ruangan. Di sana, tergeletak sebuah folder kulit tua yang warnanya sudah memudar. Di sampulnya tertulis nomor kode: 02-DIRGANTARA.

Tangan Alea terangkat, namun ia ragu. Ada ketakutan luar biasa bahwa isi folder itu akan mengubah dunianya selamanya. Baskara berdiri di belakangnya, memberikan ruang namun tetap waspada.

"Buka saja, Alea. Kau berhak tahu kebenarannya," ujar Baskara lembut.

Alea membuka folder itu. Halaman pertama berisi akta kelahiran—namanya sendiri. Namun, di bawahnya terdapat dokumen adopsi yang telah dipalsukan. Di sana tertera tanda tangan ayahnya Baskara dan Sarah. Alea membaca baris demi baris dengan mata yang mulai basah.

"Mereka tidak hanya membunuh orang tuaku, Bas... mereka menghapus eksistensi keluargaku. Di sini tertulis bahwa ayahku meninggal karena 'kelalaian kerja' dan semua asetnya dialihkan sebagai bentuk 'kompensasi' kepada Mahardika. Mereka membuat seolah-olah ayahku adalah pecundang yang meninggalkan utang, padahal dialah yang membangun teknologi inti perusahaan ini!"

Alea mencengkeram dokumen itu hingga kertasnya kusut. Kemarahan yang selama ini terpendam mulai meledak. "Selama ini aku hidup di bawah atap wanita yang membantai keluargaku dan menganggapnya sebagai ibu angkat yang murah hati? Aku merasa jijik pada diriku sendiri karena pernah menyayanginya!"

Baskara terdiam. Ia melihat kehancuran di mata Alea, dan rasa bersalah kembali menghujam jantungnya. Ia mendekat, hendak menyentuh bahu Alea, namun suara langkah kaki dari lorong luar menghentikan gerakannya.

"Sembunyi!" bisik Baskara tajam.

Ia menarik Alea ke balik rak arsip besar saat pintu baja utama terbuka dengan suara mendesing. Cahaya dari lorong masuk, dan bayangan tinggi seorang wanita muncul. Itu bukan Sarah, melainkan asisten kepercayaan Sarah, seorang wanita bernama Linda yang dikenal dingin dan tak punya belas kasihan.

"Periksa setiap sudut. Nyonya Sarah ingin memastikan tidak ada satu pun kertas yang tersisa sebelum dia sendiri yang mengaktifkan pemusnah dokumen," perintah Linda kepada dua pengawal bersenjata yang mengikutinya.

Baskara menekan tubuh Alea ke dinding rak. Mereka berada di ruang sempit antara rak baja yang dingin. Napas Alea memburu, ia bisa merasakan moncong senjata para pengawal itu hanya berjarak beberapa meter dari posisi mereka.

Dalam kegelapan itu, tangan Baskara kembali menggenggam tangan Alea. Dingin dan keras, namun memberikan kepastian. Baskara memberi isyarat dengan jarinya ke arah sebuah pintu kecil di ujung ruangan—pintu menuju ruang kendali server.

Kita harus pindah, isyarat itu terbaca jelas.

Namun, saat mereka mulai bergerak mengendap-endap, salah satu pengawal berhenti tepat di depan rak tempat mereka bersembunyi. Sinar senter pengawal itu menyapu lantai, merayap naik ke arah rak.

Alea memejamkan mata, berdoa dalam hati. Cahaya senter itu nyaris mengenai kaki Baskara. Namun tiba-tiba, terdengar suara dentuman keras dari arah dek bawah anjungan.

BOOM!

Seluruh ruangan berguncang hebat. Lampu-lampu di langit-langit berkedip-kedip dan sirine peringatan mulai meraung pelan.

"Apa itu?!" teriak Linda panik.

"Sepertinya ada masalah di ruang mesin, Nona!" jawab salah satu pengawal.

"Cepat periksa! Aku akan tetap di sini mengamankan dokumen!" seru Linda.

Dua pengawal itu berlari keluar ruangan. Baskara tahu ini adalah sabotase dari Reno untuk memberi mereka celah. Tapi Linda masih ada di sana, dan dia sedang berjalan menuju meja tempat Alea tadi membuka folder.

"Dokumennya..." Alea berbisik panik. Folder itu masih terbuka di atas meja. Linda pasti akan menyadari ada penyusup jika melihatnya.

Baskara tidak punya pilihan. Ia harus melakukan pengalihan secara langsung. "Alea, saat aku bergerak, kau lari ke arah pintu server. Jangan menoleh ke belakang. Masuk ke sana dan kunci dari dalam. Ada panel komputer di sana, tunggu instruksiku melalui earpiece."

"Tapi kau—"

"Lakukan saja!" tekan Baskara.

Baskara keluar dari balik bayangan dengan kecepatan luar biasa. Sebelum Linda sempat berteriak, Baskara sudah berada di depannya, mencengkeram leher wanita itu dan membekap mulutnya. Mereka bergulat di lantai marmer. Linda adalah petarung yang terlatih, ia mencoba merogoh senjata di pinggangnya.

"LARI, ALEA!" teriak Baskara sambil menahan tangan Linda.

Alea tidak membuang waktu. Dengan air mata yang mengalir, ia berlari sekencang mungkin menuju ruang server. Ia melewati meja besar itu, menyambar folder dokumennya, dan berhasil masuk ke ruang server tepat saat Linda berhasil menendang Baskara hingga terjerembap.

Alea membanting pintu baja ruang server dan menguncinya secara manual. Ia bersandar di pintu yang dingin itu, napasnya tersengal-sengal. Di luar, ia bisa mendengar suara benturan fisik dan teriakan Linda yang memanggil bantuan.

"Bas... kumohon, bertahanlah," bisik Alea sambil memeluk dokumen orang tuanya erat-erat.

Di dalam ruang server yang dipenuhi lampu-lampu indikator berwarna hijau dan biru, Alea menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam "otak" dari Brankas 00. Ini bukan sekadar gudang kertas, ini adalah laboratorium data di mana seluruh dosa masa lalu Mahardika Group tersimpan dalam bentuk digital.

Tiba-tiba, suara statis terdengar di telinganya. Itu dari earpiece yang dipasang Baskara sebelumnya.

"Alea... kau mendengarku?" suara Baskara terdengar terputus-putus, seolah dia sedang menahan rasa sakit.

"Bas! Kau tidak apa-apa?"

"Aku... aku menahan mereka di pintu utama. Dengarkan aku. Cari komputer utama dengan label 'Phoenix'. Masukkan kode yang kuberikan. Kita tidak bisa hanya membawa dokumen fisik. Kita harus mengunduh seluruh database Proyek Erase sebelum Sarah menghancurkan tempat ini."

Alea menghapus air matanya dengan punggung tangan. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang dipenuhi kabel dan monitor. Ia harus menjadi kuat. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk kebenaran yang telah terkubur selama puluhan tahun.

"Sebutkan kodenya, Bas. Aku siap."

Di tengah labirin memori yang menyakitkan ini, Alea Dirgantara berhenti menjadi korban. Ia mulai menjadi senjata yang akan meruntuhkan kekaisaran Mahardika, dibimbing oleh pria yang seharusnya ia benci, namun kini menjadi satu-satunya pelindungnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!