Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Ujian Apel Ajaib
Malam itu, setelah matahari benar-benar terbenam dan kegelapan menyelimuti puncak bukit, Xiao An mulai merasakan konsekuensi dari kedermawanannya. Perutnya bergemuruh hebat, tanda kelaparan yang nyata. Dua butir apel yang tersisa di pohonnya tadi, sudah ia berikan kepada Lin Cheng. Rasa menyesal menyergapnya, sedikit terlambat.
"Susu domba?" sebuah ide terlintas.
Ia menoleh ke arah kandang. Namun, sayangnya, domba betinanya belum memproduksi susu. Mereka masih terlalu muda, atau mungkin memang bukan jenis domba perah. Ide itu pun kandas, secepat ia muncul.
Dengan perut yang semakin menggelora, Xiao An mulai panik. Dia berjalan hilir mudik di lautan rumput, matanya menyapu setiap jengkal tanah, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakan. Mungkin ada umbi liar? Buah berry? Tapi nihil, yang ada hanya rerumputan dan bunga liar yang tidak bisa dimakan manusia.
Akhirnya, dengan langkah putus asa, dia kemudian masuk ke gudang lumbung. Matanya menatap pada beberapa bungkusan benih yang tersimpan rapi. Bisakah ia memakannya?
Kentang, jagung... Tapi tidak. Dia segera mengurungkan niatnya. Benih-benih itu adalah investasi di masa depan, pondasi untuk kemandirian pangannya. Mengonsumsinya sekarang sama saja dengan memakan masa depannya sendiri.
Dia mendesah. Perutnya semakin menggelora, mengirimkan sinyal bahaya yang nyata. Xiao An semakin kecewa. Ini baru hari pertama di 'dunia baru'nya, dan dia sudah menghadapi krisis pangan.
"Apakah aku harus makan rumput?" gumam Xiao An putus asa, menatap hamparan hijau yang luas.
INI
Matanya tertuju pada sapi jantannya yang besar dan hitam legam. Hewan itu, sang 'penjaga gembala' yang tak sesuai harapan, sedang asyik mengunyah rumput dengan acuh, bahkan di tengah kegelapan malam. Suara kunyahannya terdengar pelan namun konstan, seolah mengejek penderitaan perut Xiao An.
"Orang besar ini tak akan kekurangan pangan," pikir Xiao An getir.
"Dia mukbang 1 hektar rumput tanpa peduli siapa pun!"
Rasa lapar yang menusuk, ditambah pemandangan sapi yang lahap itu, membuat tanggul air mata Xiao An jebol. Air mata mulai mengucur deras dari matanya, membasahi pipi. Ironis sekali. Dia punya rumah, domba, sapi, kebun, dan bahkan gelar 'Gembala Kecil', tapi di malam pertamanya, ia justru kelaparan seperti pengungsi. Ini benar-benar pengalaman 'slice of life' yang tidak ia minta.
Dengan langkah gontai, Xiao An menyeret kakinya menuju telaga kecil. Perutnya masih meraung-raung, dan pemandangan sapi jantan yang lahap mengunyah rumput semakin menyiksa. Bahkan sapi jantan itu pun tak menghasilkan susu. Sungguh tidak berguna sebagai sumber pangan darurat.
Dalam hati, Xiao An diam-diam berniat: di masa depan, saat dia sudah cukup kuat dan mahir dalam hal ini, dia akan menjadikan "orang besar" itu menjadi potongan wagyu kelas atas. Sebuah pembalasan dendam atas kelaparan di malam pertama ini.
Malam itu, dengan perut yang melilit dan air mata yang mengering, Xiao An akhirnya menemukan satu-satunya "makanan" yang tersedia. Dia mengisi perutnya dengan air telaga hingga penuh, berharap rasa lapar itu sedikit teredam oleh sensasi kembung.
Rasanya tidak enak, tapi setidaknya lebih baik daripada tidak ada apa-apa. Setelah itu, dia bergegas ke kamarnya, menabrakkan diri ke dipan jerami yang empuk, dan segera pergi tidur, berharap mimpi indah akan mengusir rasa lapar yang menyiksa.
Di malam yang sama, di kediaman bobrok keluarga Lin, suasana makan malam berlangsung dengan penuh perjuangan. Lin Cheng dan kakeknya, Lin Zhou, berhadapan dengan beberapa potongan roti keras. Roti itu mungkin sudah berhari-hari lamanya, teksturnya kaku dan sulit dikunyah.
Dengan gigih, mereka menjejali mulut mereka, setiap kunyahan adalah usaha keras. Sesekali, mereka harus mendorongnya dengan air teh yang pahit agar leher mereka tidak tercekik oleh serpihan roti kering.
Remah-remah roti berhamburan di jenggot panjang Kakek Zhou yang sudah memutih, menjadi bukti nyata betapa sulitnya menikmati santapan malam itu. Meski perut mereka terisi, rasanya jauh dari kata kenyang atau puas. Kelaparan adalah teman akrab mereka di desa Mushan yang sepi ini.
"Kakek, aku membawa buah," suara Lin Cheng terdengar agak tertahan karena mulutnya masih penuh dengan remah roti. Dengan sedikit susah payah, dia mengeluarkan dua butir apel dari keranjangnya.
Kakek Lin Zhou yang sedang mengunyah roti kerasnya pun terhenti. Matanya yang sudah agak rabun melebar.
"Buah apa itu?" tanyanya heran, belum pernah seumur hidupnya dia menemukan buah dengan keindahan maksimal seperti itu. Kulitnya berwarna merah tua yang cerah, begitu sempurna hingga berkilau memantulkan cahaya api penerangan yang redup di dalam gubuk mereka.
INI
Apel itu tampak seperti permata, jauh berbeda dari buah-buahan hutan yang biasa mereka temukan.
Lin Cheng tersenyum bangga melihat reaksi kakeknya. Ia mengambil satu apel, lalu dengan hati-hati mengupasnya menggunakan pisau kecil yang biasa ia pakai memotong herbal. Kulit merah mengelupas mulus, memperlihatkan daging buah yang putih bersih. Setelah itu, ia memotong apel menjadi beberapa bagian dan menyodorkannya kepada kakeknya.
Sedangkan untuk dirinya sendiri, Lin Cheng tidak bisa menunggu. Dengan mata berbinar, ia rakus melahap sebutir penuh apel yang tersisa. Gigi-giginya menembus daging buah yang renyah dengan suara kriuk yang memuaskan. Seketika, rasa manis legit yang pekat langsung membanjiri lidahnya. Itu adalah rasa yang begitu murni, begitu segar, seolah sari-sari kehidupan terkandung di dalamnya.
Manisnya bukan manis buatan, melainkan manis alami yang kaya, berpadu dengan sedikit keasaman yang justru menyempurnakan rasa. Setiap gigitan melepaskan ledakan rasa dan aroma yang belum pernah ia alami dari buah-buahan hutan yang biasa ia temui.
Apel itu terasa sejuk di tenggorokan, membersihkan sisa rasa pahit dari roti keras yang baru saja ia makan. Ini adalah kenikmatan murni, sebuah pesta di tengah kelaparan, dan Lin Cheng melahapnya tanpa sisa, seolah takut ini hanyalah mimpi indah yang akan lenyap di pagi hari.
Kakek Lin Zhou, dengan tangannya yang keriput, menerima potongan apel dari Lin Cheng. Ia menatap buah merah berkilau itu dengan takjub sejenak, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya yang sudah tua. Begitu giginya menyentuh daging apel yang renyah, matanya langsung terbelalak.
Tak ada jeda, tak ada keraguan. Kakek Lin Zhou melahap potongan demi potongan apel itu. Setiap gigitan diikuti dengan kunyahan lambat, seolah ingin menikmati setiap sari manisnya hingga tetes terakhir. Kerutan di wajahnya yang tua melunak, digantikan ekspresi kenikmatan murni.
Ia seperti anak kecil yang baru pertama kali mencicipi permen. Rasa manisnya yang alami dan kesegarannya yang luar biasa membuat ia lupa akan roti keras yang baru saja ia kunyah. Ini adalah surga di lidah, sebuah hadiah tak terduga yang melampaui segala hidangan mewah yang pernah ia cicipi di masa mudanya.
Kakek Lin Zhou mengunyah perlahan, matanya terpejam sejenak, menikmati setiap serat buah yang pecah di mulutnya. Ini bukan hanya makanan, ini adalah pengalaman, sebuah pengingat akan keindahan dan kemurahan hati alam yang telah lama ia lupakan di tengah kerasnya hidup.
Saat potongan terakhir habis, ia mendesah puas, seolah baru saja menyelesaikan sebuah mahakarya kuliner.
Saat potongan terakhir apel itu lenyap ke dalam kerongkongan Kakek Lin Zhou, dan gelombang lehernya menenggelamkan suapan terakhir, ia membuka matanya. Namun, keterkejutan yang luar biasa langsung menggantikan ekspresi kenikmatan di wajahnya.
Di depannya, Lin Cheng, yang baru saja melahap apelnya dengan rakus, kini berubah drastis. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya merah darah tua seperti magma, seolah ada api yang membara di bawah kulitnya. Dari seluruh tubuhnya mengepul asap yang sangat banyak, tebal dan panas, memenuhi gubuk bobrok itu.
Pakaian yang dikenakannya terbakar habis, hanya menyisakan serpihan kain yang hangus. Lin Cheng merintih kesakitan, suaranya parau, dan dia mengulurkan tangan ke arah kakeknya, meminta tolong.
"Kakek... tolong aku!" rintih Lin Cheng, matanya membelalak ketakutan, tubuhnya bergetar hebat.
INI
Kakek Lin Zhou tidak panik. Instingnya yang terasah selama puluhan tahun menjaga kuil dan menghadapi berbagai kejadian tak terduga langsung mengambil alih. Dengan gerakan cepat, ia menyentuh Lin Cheng, dan seketika itu juga, ia merasakan telapak tangannya sangat panas, seperti menyentuh bara api.
Matanya yang tua menyipit tajam. Kecerdasan yang diasah bertahun-tahun semasa hidupnya, pengalaman, dan pengetahuan kuno yang tersimpan di benaknya, seketika membukakan cakrawala.
"Ini... sungguh ini adalah efek dari apel yang dimakan!" gumam Kakek Zhou, mengenali fenomena langka ini.
Energi spiritual yang terkandung dalam buah itu terlalu murni dan kuat untuk tubuh Lin Cheng yang belum sempurna.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Kakek Zhou segera berseru,
"Cheng'er! Gunakan metode keluarga Lin! Jalankan sirkulasi Skin Tempering sekarang!"
Meskipun dalam kesakitan yang luar biasa, Lin Cheng mengenali perintah kakeknya. Dengan susah payah, ia memaksakan tubuhnya yang membara untuk mengambil sikap lotus. Napasnya terengah, tapi ia mulai memfokuskan pikirannya, memaksa energi yang bergejolak di dalam tubuhnya untuk mengikuti jalur sirkulasi teknik Skin Tempering yang ia hafal.
Asap dari tubuhnya semakin mengepul, tapi kini ada sedikit pola yang terbentuk dari pusaran energinya.