Hidup Santai Di Bukit Kultivasi
Xiao An, menggosok-gosokkan matanya. Dia bangkit dengan merasakan lembutnya rumput di bawahnya, dia menguap dan meregangkan badan.
Musim semi kali ini memang tahu diri. Matahari sudah nongol, tapi sinarnya masih malu-malu, cuma hangat-hangat kuku kayak teh celup yang baru diseduh. Cahaya keemasannya menembus sela-sela pepohonan, menari-nari di atas daun-daun muda yang hijau segar.
Udara pagi itu rasanya seperti pelukan lembut, nggak ada lagi gigil dingin menusuk tulang ala musim dingin yang bikin napas jadi asap naga.
Angin semilir bertiup pelan, membawa aroma bunga-bunga liar yang bermekaran di kejauhan. Baunya manis, sedikit asam, campur bau tanah basah yang bikin hidung kembang kempis.
Burung-burung di dahan juga nggak mau kalah, berlomba-lomba berkicau seolah sedang audisi penyanyi terbaik di pegunungan. Kalau saja Xiao An bisa mengerti bahasa burung, mungkin dia sudah tahu gosip terbaru tentang Pangeran Katak yang baru saja putus cinta dengan Putri Kupu-kupu.
"Haahh..." Xiao An mendesah, merasakan otot-ototnya yang kaku perlahan-lahan mengendur.
Ia menatap langit biru cerah, tanpa awan sedikit pun. Saking cerahnya, rasanya kalau dilempar batu, batunya bisa mantul balik saking mulusnya. Ini hari yang sempurna untuk bermalas-malasan, atau setidaknya, mencari sarapan yang layak tanpa harus bertarung dengan babi hutan yang punya bakat kungfu. Sayangnya, dompetnya seringkali tidak sejalan dengan hasrat perutnya.
Ia membayangkan semangkuk bubur hangat dengan irisan daging babi krispi dan telur asin, atau mungkin sepiring pangsit goreng yang renyah di luar tapi lembut di dalam. Ah, lamunan pagi yang indah.
Sayangnya, yang ada di depannya hanyalah rumput yang masih basah embun, dan beberapa biji-bijian yang entah siapa yang menaburkannya di sana. Mungkin sisa sarapan burung kemarin.
Bukan lagi di sebuah kamar rumah sakit yang beraroma alkohol dan desinfektan. Jauh sekali. Tempat ini adalah antitesis dari segala sesuatu yang berbau sterilisasi dan bau obat.
Di sini, yang tercium hanyalah aroma tanah basah yang baru bangun dari tidurnya, wangi manis bunga-bunga liar yang bermekaran di sela-sela bebatuan, dan sedikit sentuhan aroma pinus dari hutan di kejauhan.
Tidak ada dinding putih kusam atau dengung AC yang monoton. Yang ada hanyalah kanvas langit biru yang dihiasi sapuan awan tipis, dan simfoni alam yang dimainkan oleh kicauan burung-burung, gemericik air sungai yang mengalir tenang di bawah sana, dan desiran lembut dedaunan yang menari mengikuti irama angin.
Xiao An, dengan mata yang kini sudah sepenuhnya terbuka, memandangi sekelilingnya. Ia berada di sebuah padang rumput yang landai, dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang diselimuti kabut tipis di puncaknya.
Beberapa pohon tua dengan dahan-dahan menjuntai berdiri kokoh, seolah menjadi penjaga abadi tempat itu. Kupu-kupu dengan sayap warna-warni beterbangan riang, seolah sedang melakukan tarian selamat datang untuknya.
"Ah, ini baru namanya mimpi yang indah," gumam Xiao An, menghirup dalam-dalam udara segar yang memenuhi paru-parunya.
"Bukan seperti kemarin, mimpi di dalam tenda saat hujan badai turun." Ia terkekeh pelan. Memang benar, tempat ini jauh lebih baik dari lokasi mimpi mana pun yang pernah ia singgahi.
Ia melangkah maju, merasakan embun pagi yang dingin membasahi ujung jari kakinya. Setiap langkahnya terasa ringan, seolah beban di pundaknya ikut terangkat oleh suasana damai ini.
Mungkin, pikirnya, inilah yang disebut "hidup yang sebenarnya" bagi seorang pengembara. Bebas, tanpa ikatan, dan selalu dikelilingi oleh keindahan alam yang tak terduga.
Memang benar, kondisi Xiao An saat ini di padang rumput yang sejuk itu adalah sebuah keajaiban, atau setidaknya, anugerah yang tak pernah ia sangka. Karena, jauh sebelum kaki kurusnya bisa menginjak rumput basah embun atau paru-parunya menghirup aroma bunga, Xiao An adalah definisi hidup dalam bilik kematian.
Sejak usianya baru menginjak lima tahun, dunianya hanya terbingkai oleh empat dinding putih kusam sebuah kamar rumah sakit. Aroma alkohol dan desinfektan adalah parfum hariannya, dan suara mesin monitor yang berdengung ritmis adalah lagu pengantar tidurnya.
Xiao An kecil menderita penyakit autoimun yang ganas, ditambah lagi gangguan fungsi organ dalam yang membuat tubuh mungilnya terasa seperti medan perang yang tak kunjung usai.
Setiap hari adalah perjuangan. Tubuhnya dipenuhi selang dan kabel yang entah terhubung ke mana saja; infus yang terus-menerus meneteskan cairan ke pembuluh darahnya, selang oksigen yang menyalurkan napas buatan, dan berbagai elektroda yang menempel di dadanya, memantau setiap detak jantung yang terasa begitu rapuh. Alat-alat medis berkedip dan berbunyi di sekelilingnya, menjadi satu-satunya 'teman' yang selalu ada.
Ia ingat bagaimana pandangannya sering kali buram, tubuhnya demam tinggi, dan rasa sakit menusuk ke setiap sendi dan organ. Dunia luar hanyalah cerita dari para perawat yang berbisik-bisik atau dari jendela kecil yang hanya menampakkan potongan langit kelabu dan gedung-gedung lain yang menjulang.
Ia sering membayangkan bagaimana rasanya berlari di bawah sinar matahari, atau memanjat pohon, atau sekadar merasakan hembusan angin yang sejati, bukan hanya angin dari kipas di sudut ruangan.
Mimpi-mimpi tentang padang rumput hijau, tentang sungai jernih, dan tentang burung-burung yang bernyanyi adalah satu-satunya pelarian dari kenyataan pahitnya. Setiap napas yang ia hirup di sana, setiap pandangan yang ia layangkan ke langit, adalah sesuatu yang dulu terasa seperti kemewahan yang mustahil.
Maka, ketika Xiao An kini berdiri di bawah langit biru, merasakan hangatnya matahari di kulitnya, dan mencium aroma segar alam, itu bukan hanya sekadar pagi biasa. Itu adalah kebebasan yang hanya ada dalam mimpinya yang paling liar.
Xiao An mengusap wajahnya lagi, sedikit mencubit pipinya sendiri. Sensasinya nyata. Rumput yang dingin di telapak kakinya, udara yang menggerakkan helaian rambutnya, kicauan burung yang begitu jernih seolah persis di samping telinganya. Tapi, benarkah ini? Bagaimana bisa?
Selama bertahun-tahun, ketika fisiknya dipenjara dalam bilik kamar rumah sakit, satu-satunya cara ia bisa merasakan kebebasan adalah dalam mimpi. Dalam mimpinya, ia bisa berlari tanpa sesak napas, melompat tanpa rasa sakit di sendi, dan terbang setinggi mungkin tanpa terikat selang.
Padang rumput ini, dengan segala keindahannya yang nyaris sempurna, sangat mirip dengan alam bebas yang selalu ia dambakan dalam tidur panjangnya.
"Jangan-jangan..." gumamnya pelan, matanya menyipit ke arah matahari terbit.
"Ini cuma ilusi? Sebentar lagi aku bangun, dan yang kulihat cuma infus lagi?"
Ia menendang kerikil kecil di depannya, lalu memungutnya dan menggenggamnya erat. Dingin dan kasar. Itu terasa nyata. Tapi, apakah mimpinya dulu tidak terasa nyata? Ia bahkan pernah "terbang" dalam mimpinya dan merasakan hembusan angin di wajahnya.
Keraguan itu menggelayuti benaknya, bercampur dengan kebahagiaan yang membingungkan. Bagaimana mungkin ia bisa berada di sini, seolah keajaiban paling mustahil telah terjadi?
Xiao An memicingkan matanya, berusaha mencerna pemandangan di hadapannya. Ia bukan hanya di padang rumput biasa, melainkan di atas sebuah puncak bukit datar yang lapang. Luasnya kurang lebih satu hektar, cukup untuk menggelar festival desa atau mungkin arena turnamen kungfu dadakan, pikirnya.
Rumput-rumput hijau terhampar mulus, diselingi bunga-bunga liar berwarna-warni yang tampak seperti taburan permen kapas di atas karpet beludru raksasa.
Rasa penasaran membuat Xiao An melangkah maju, kakinya menapak pada rumput segar yang lembut dan tanah gembur yang sedikit memantul, seolah bumi ikut bergembira dengan setiap langkahnya.
Udara di puncak ini terasa lebih jernih, membawa aroma pinus dari hutan di bawah dan embun yang belum sepenuhnya menguap. Ia berjalan santai, menikmati setiap jengkal "kebebasan" yang terasa begitu asing namun memabukkan.
Langkahnya membawanya menuju tepian batas puncak. Di sana, yang ia temukan bukanlah jurang curam atau pemandangan tak terbatas, melainkan sebuah pagar batu setinggi dada.
Pagar itu tersusun dari batu-batu alam yang ditumpuk rapi, sebagian tertutup lumut hijau yang membuatnya terlihat kuno dan misterius. Xiao An mencoba meraba permukaannya yang kasar dan dingin, merasakan setiap celah dan benjolan.
Ia mengikuti alur pagar itu, berjalan perlahan. Dan benar saja, pagar batu itu melingkar sempurna, mengelilingi seluruh puncak bukit datar ini. Rasanya seperti sebuah stadion alami, atau mungkin... sebuah sangkar raksasa.
"Hmm, ini bukan mimpi, tapi juga bukan sembarang tempat terbuka ya," gumam Xiao An pada dirinya sendiri. Perasaan aneh menyelimuti hatinya. Pagar yang melingkar itu, meskipun terbuat dari alam, justru memberinya sensasi seperti terkurung. Sebuah bisikan dari masa lalu yang dingin dan tak berdaya tiba-tiba muncul di benaknya.
Kamar rumah sakit. Dinding putih yang mengurung. Selang dan kabel yang membatasi setiap gerak.
Ia menggelengkan kepala, mengusir bayangan itu. Tidak, ini berbeda. Setidaknya di sini ada langit biru, angin, dan aroma bunga. Tapi entah kenapa, pagar batu ini terasa seperti pengingat halus bahwa kebebasan, seindah apa pun itu, kadang masih memiliki batasnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments