Berawal dari selembar struk pembayaran sebuah tas branded yang harganya mahal, Kirana mencurigai Rafka sudah berselingkuh di belakangnya. Dia pun mulai memantau suaminya secara diam-diam.
Sampai suatu hari Kirana sadar Rafka lebih mengutamakan Kinanti dan putrinya, Ara, dibandingkan dengan dirinya dan Gita, putri kandungnya sendiri.
"Bukannya Mas sudah janji sama Gita, lalu kenapa Mas malah pergi ke wahana bermain sama Ara? Sungguh, Mas tega menyakiti perasaan anak sendiri dan membahagiakan anak orang lain!" ucap Kirana dengan berderai air mata.
"Ma, Papa sudah tidak sayang lagi sama aku, ya?" tanya Gita lirih, menahan isak tangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Pandangan Pak Darma dan Bu Maya mengarah tajam kepada Kirana. Tatapan itu bukan sekadar kecewa, melainkan amarah yang sudah lama disimpan, seolah sejak awal mereka menunggu momen untuk menjatuhkannya.
Kirana duduk tegak di tengah ruang depan. Tangannya mengepal, napasnya berat. Dadanya terasa penuh, seperti ada bongkahan batu yang menekan dari dalam. Ia sudah menduga semuanya akan berakhir seperti ini. Namun, ketika benar-benar terjadi, rasa sakitnya tetap sama, bahkan lebih parah.
“Jangan salahkan Rafka dan Kinanti,” ucap Bu Maya dengan suara lantang, menusuk telinga. “Semua ini berawal dari kesalahan kamu sendiri, Kirana.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa jeda, tanpa ragu, tanpa sedikit pun empati.
Kirana terkekeh kecil. Bukan karena lucu, melainkan karena getir. Seperti dugaan. Selalu seperti ini. Sejak kecil, sejak ia belajar berbagi perhatian orang tua dengan Kinanti, sejak ia belajar bahwa menjadi anak yang “mengalah” berarti siap disalahkan kapan saja.
“Bu ... Yah,” ucap Kirana dengan suara bergetar, tetapi matanya tetap menantang. “Mau seburuk apa pun perbuatan, ucapan, dan pikiran Mbak Kinanti, pasti akan dibela oleh kalian.”
Bu Maya mendengus dan Pak Darma menunduk.
“Coba saja Ibu dan Ayah pikir,” lanjut Kirana, suaranya meninggi. “Kalau kejadian yang menimpa aku ini terjadi pada kalian, kalau suami Ibu direbut perempuan lain, apa pelakor itu masih akan dibenarkan dan dibela?”
Ruangan mendadak sunyi. Namun, hanya sesaat.
“Nah, ini!” seru Bu Maya sambil menunjuk Kirana. “Kelakuan kamu seperti ini yang membuat Rafka kecewa! Kamu keras kepala, selalu membantah, selalu merasa paling benar! Pantas saja dia mencari kenyamanan pada Kinanti!”
Dada Kirana terasa seperti disobek. Ia menoleh ke arah Rafka. Pria itu duduk tertunduk, rahangnya mengeras, tidak berani menatap siapa pun. Kinanti di sampingnya terlihat pucat, tetapi masih menyembunyikan wajah di balik ekspresi rapuh yang dibuat-buat.
“Baiklah,” ucap Kirana pelan, lalu tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyerupai luka terbuka. “Kalau menurut Ibu bagus begitu.”
Kirana menoleh ke arah Pak Darma. “Ayah,” katanya tajam, “barusan dengar sendiri, kan? Kalau seorang suami merasa kesal, kecewa, dan tidak nyaman dengan istrinya, lalu mendapatkan kenyamanan dari wanita lain, maka itu tidak salah.”
Pak Darma tersentak. Ia menoleh cepat ke arah Bu Maya. Wajahnya berubah. Garis-garis tua di dahinya semakin jelas.
“Jadi sekarang,” lanjut Kirana tanpa memberi waktu siapa pun memotong, “Ayah boleh mencari wanita lain yang memberikan Ayah rasa nyaman. Tidak perlu memendam kesal, marah, atau kecewa pada segala perbuatan Ibu.”
Bu Maya membelalak. Dia menunjukan ekspresi marah kepada suaminya.
“Dulu,” Kirana menambahkan, suaranya dingin, “Ayah pernah bilang Ibu keras kepala dan sering membuat Ayah kesal, kan?”
Suasana di ruang depan mendadak mencekam.
Semua orang menoleh ke arah Pak Darma dan Bu Maya. Tidak ada suara. Bahkan napas pun terasa terlalu keras.
“Dasar gila kamu, Kirana!” jerit Bu Maya sambil berdiri. Wajahnya memerah, matanya berkilat penuh amarah dan rasa tersinggung.
Kirana tidak mundur. “Lihat, Bu,” katanya dengan nada getir. “Ibu sendiri tidak suka, kan? Padahal aku cuma mengembalikan apa yang Ibu ucapkan kepadaku, tadi.”
Kirana menarik napas dalam-dalam. Rasa muak memenuhi tenggorokannya.
“Selalu aku yang disalahkan. Selalu aku yang harus mengalah. Selalu aku yang diminta mengerti, meski hatiku diinjak-injak.”
“Lalu, kalian pikir perselingkuhan mereka tidak membuat rugi banyak orang?” lanjut Kirana dengan suara bergetar, tetapi tegas. Tangannya terangkat, telunjuknya mengarah lurus ke Rafka dan Kinanti. “Uang tabungan kami sebanyak delapan puluh juta rupiah lebih itu habis. Bukan untuk kebutuhan keluarga. Bukan untuk membeli mobil. Tapi dihambur-hamburkan demi memenuhi gaya hidup Mbak Kinanti.”
Kata-kata itu menghantam ruangan seperti bom yang baru saja dilemparkan.
“Apa?!” seru Pak Darma dan Bu Maya hampir bersamaan. Nada mereka tinggi, wajah mereka seketika berubah pucat. Sementara itu, keluarga Rafka—Bu Ratih, Rembulan, dan Pak Andi—langsung saling pandang, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Rafka membeku di tempat duduknya. Tenggorokannya kering. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu pun kata mampu keluar. Kinanti di sampingnya langsung menunduk, tangannya gemetar, kuku-kukunya mencengkeram ujung rok seperti ingin menyembunyikan diri dari kenyataan.
Kirana mengambil tas miliknya yang disimpan di balik punggungnya. Tangan dia masuk ke dalam tas besar yang sejak tadi ia bawa. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas fotokopi rekening koran, lalu menyusunnya di atas meja tamu. Setelah itu, satu per satu struk belanja ia jatuhkan di atasnya. Ada struk butik mahal, restoran, spa, perhiasan, bahkan hotel.
“Ini,” ucap Kirana lirih, namun menusuk. “Semua ini aku temukan di saku celana Mas Rafka. Ada yang terselip di dompetnya. Ada yang tertinggal di tas kerja. Mungkin karena terlalu sibuk bersenang-senang, sampai lupa membuang bukti.”
Bu Ratih maju mendekat. Tangannya gemetar saat mengambil salah satu lembar rekening koran. Matanya menelusuri angka-angka di sana. Napasnya memburu.
“Lima puluh juta buat beli tas,” gumamnya tak percaya. “Lalu ini belanja lingerie, dan make up sebanyak ini.”
Wajah Bu Ratih memerah. Amarah yang selama ini tertahan akhirnya meledak.
“Dasar wanita jalang!” pekiknya sambil melempar kertas itu ke arah Kinanti. Tanpa aba-aba, ia melangkah cepat dan memukuli lengan serta bahu Kinanti. “Kamu porotin uang anakku! Kamu hancurkan rumah tangganya!”
Kinanti menjerit. Tangannya refleks menutupi wajah. Tubuhnya meringkuk, berusaha menghindar.
“Bu… tolong, Bu!” teriaknya histeris.
Rembulan tidak tinggal diam. Amarahnya yang sejak tadi membara akhirnya menemukan jalan keluar. Ia menjambak rambut panjang Kinanti dengan kasar.
“Kamu pikir hidup enak itu gratis?” hardik Rembulan. “Rupanya kamu mau hidup mewah pakai uang kakakku!”
Kinanti kembali menjerit kesakitan. Rambutnya terlepas dari ikatan, wajahnya basah oleh air mata dan riasan yang luntur. Rafka bangkit dari duduknya.
“Cukup! Hentikan!” teriak Kinanti panik, mencoba melerai. Namun, tubuhnya seperti kehilangan tenaga. Ia ragu membalas Bu Ratih dan Rembulan.
Bu Maya segera berdiri dan berusaha melerai Bu Ratih dan Rembulan. Ia memeluk tubuh Kinanti, menutupinya dengan tubuhnya sendiri.
“Sudah! Jangan main tangan!” serunya. “Ini rumah kami!”
“Justru karena ini rumah kalian!” balas Bu Ratih sambil menunjuk Kinanti. “Anakmu ini perusak! Perampas! Tidak punya malu!”
Suasana berubah kacau. Teriakan saling bersahutan. Tangis Kinanti menggema. Rafka hanya berdiri di tengah-tengah, wajahnya pucat pasi, keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Di tengah keributan itu, Kirana justru diam. Ia berdiri di sudut ruangan, memeluk dirinya sendiri. Matanya kosong. Tidak ada kepuasan. Tidak ada kemenangan. Yang ada hanya rasa lelah yang amat dalam. Hatinya sudah terlalu lama hancur, hingga amarah orang lain pun tak lagi mampu menggerakkannya.
Suara gaduh itu akhirnya menarik perhatian tetangga. Satu per satu orang mulai berdatangan. Ada yang berdiri di pagar. Ada yang mengintip dari balik jendela. Ada pula yang terang-terangan masuk ke halaman.
“Ada apa ini?”
“Kok ribut-ribut?”
“Itu Kinanti kenapa?”
bab sebelumnya kirana mendapatkan struk belanja dr saku celana..
bab lanjutan dia melihat struk teselip di bawah meja rias..
semoga kirana mendapat kebahagian kembali dgn pasangan hidup yg baru 😍 🙏