NovelToon NovelToon
PEWARIS TERHEBAT 7

PEWARIS TERHEBAT 7

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Sci-Fi / Balas Dendam
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Lorcan (pemimpin Ultra Tech) yang terluka parah harus bertahan dari kejaran Galata bersama sisa anak buahnya, sambil berusaha mencapai Mondeno. Sementara itu, Xander dan kelompoknya—termasuk Osvaldo Tolliver, Lance, George, dan yang lain—berusaha melindungi diri dan menyelidiki misteri sosok hitam yang menjadi sumber kekuatan Draco.

Galata kini menggunakan "orang-orang berkemampuan khusus" yang telah dimodifikasi untuk melacak dan menyerang musuhnya. Luc dan Graham berusaha meretas sistem Galata, sementara Lorcan terpaksa bekerja sama dengan mantan musuhnya untuk bertahan hidup. Di sisi lain, Osvaldo Tolliver justru menyerahkan diri sebagai umpan untuk mengelabui Draco.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Edward seketika mendarat di tanah dengan sangat keras. Pria itu tidak sadarkan diri. Darah mengalir dari kepala, betis kiri dan bahu kanannya. Tangan kananya terlihat terbalik akibat benturan keras.

Greg dan rekan-rekannya muncul beberapa waktu setelahnya di atas tebing. Mereka seketika melempar cahaya senter ke sekeliling arah.

"Sampah itu berada di sana!" ujar salah satu pria di samping Greg. Cahaya senternya menunjuk Edward yang tergeletak tidak sadarkan diri.

Greg tertawa terbahak-bahak. "Kesombonganmu akhirnya berakhir malam ini, sampah sialan! Aku sudah lama ingin melihatmu mati!"

"Apa kita harus memeriksanya untuk memastikan apakah dia benar-benar mati atau masih hidup?" tanya pria di belakang Greg.

"Sampah itu terkena tembakan di kaki kiri dan kanan. Tangannya patah dan juga kepalanya mengeluarkan darah. Dia hanya memiliki kesempatan yang sangat kecil untuk selamat. Kalaupun dia selamat, dia hanya akan mati beberapa waktu kemudian," ujar Greg.

"Apa kau yakin, Greg?" Salah satu rekan Greg memastikan.

"Tempat ini adalah tempat yang sepi. Tidak akan ada orang yang akan mengecek jurang, apalagi sampai membuang waktu dengan menolong sampah seperti dia. Lagi pula, Tuan Osvaldo tidak akan peduli jika sampah itu mati."

Greg tertawa terbahak-bahak.

"Kita sebaiknya segera kembali sebelum orang-orang sialan itu mengomeli kita panjang lebar."

Salah satu anggota inti keluar dari kungkungan pohon. "Dasar brengsek! Apa kalian sudah selesai bermain-main sekarang? Kita akan berangkat empat jam lagi. Pastikan kalian beristirahat dengan baik."

"Ya, kami baru saja selesai. Kami akan segera kembali untuk tidur." Greg tertawa. "Jangan sentuh sampah itu."

"Siapa yang ingin menyentuh sampah, brengsek? Ketua memerintahkanku untuk memeriksa kalian. Dia berpesan jika kalian harus segera kembali."

Sisi tebing perlahan sepi. Greg dan yang lain berjalan di hutan, tertawa terbahak-bahak. Beberapa di antara mereka juga menjerit dan meringis karena luka pertarungan.

Edward masih tidak sadarkan diri, terbaring di atas tanah. Angin berembus kencang dan tidak lama setelahnya hujan mengguyur deras.

Malam yang panjang akhirnya berganti pagi. Greg dan yang lain tengah bersiap-siap untuk pergi. Mereka tertawa sangat mengingat pertarungan Edward.

Greg pergi ke sisi tebing sendirian, menuruni sedikit undakan tangga, tersenyum saat melihat Edward masih berada di titik yang sama seperti semalam. "Kau pasti sudah mati sekarang. Membusuklah di sana sampai para binatang memakan bangkaimu. Kau memang pantas mendapatkannya."

Greg memasuki mobil, terdiam saat mengingat momen Edward selama berada di kediaman Osvaldo Tolliver. "Satu sampah akhirnya mati. Aku hanya tinggal menghabisi sisinya nanti. Ini pekerjaan yang menyenangkan."

"Jika sampah-sampah itu bertanya, aku hanya tinggal menjawab sampah bernama Edward itu tewas dalam tugas. Aku dan teman-temanku hanya tinggal bersandiwara sebaik mungkin. Jika mereka tetap tidak percaya, aku hanya perlu menghabisi mereka."

Rombongan mobil mulai meninggalkan penginapan, melewati hutan. Greg dan beberapa temannya mengamati sebuah jurang yang terhubung dengan sungai. Kendaraan semakin cepat dan pemandangan itu seketika berganti dengan pepohonan yang menjulang tinggi ke langit.

Hujan yang mengguyur akhirnya reda setelah berjam-jam. Langit mulai terang saat awan bergeser ke arah lain. Beberapa kendaraan terlihat melaju, melewati penginapan.

Salah satu mobil menepi ke samping, berhenti di depan penginapan. Tiga orang pria keluar dari kendaraan, menghirup udara bebas setelah menempuh perjalanan jauh.

"Kita memiliki waktu selama empat jam untuk beristirahat. Kita harus menggunakan waktu sebaik mungkin sebelum kita memulai pekerjaan kita kembali," ujar seorang pria botak.

"Sialan! Kenapa kita harus mendapatkan tugas untuk mencari anggota kelompok lain di tempat menyebalkan ini? Kita bisa saja bergabung dengan pasukan lain." Seorang pria yang berusia paling muda mengembus napas panjang.

"Berhentilah mengeluh, sialan! Kau tidak akan mendapatkan apa pun."

Ketiga pria itu memasuki penginapan, berjalan menaiki tangga. Beberapa pegawai tengah membersihkan koridor, pecahan kaca, keramik, dan serpihan kayu.

Si pria botak berkata, "Sudah terjadi keributan di tempat ini semalam."

"Orang-orang bodoh dan miskin memang sering kali membuat masalah. Mereka bodoh dan miskin sehingga tidak tahu apa yang harus mereka lakukan."

"Kita membutuhkan orang bodoh dan miskin di dunia ini. Mereka adalah budak-budak yang sangat mudah dikendalikan. Lupakan sampah-sampah itu."

Ketiga pria itu melewati para pelayan yang tengah membersihkan sisa kerusuhan pagi tadi. Mereka memasuki sebuah ruangan, mengaktifkan beberapa robot, lantas tertidur di kasur.

Ketiga robot seketika menyebar ke sekeliling, di mana satu robot bergerak ke arah hutan dan jurang. Robot berbentuk bulat kecil itu terbang menuruni jurang hingga berada di dekat Edward. Sebuah cahaya seketika memindai keadaan Edward.

Robot itu kemudian kembali ke penginapan, memasuki ruangan melalui celah jendela yang terbuka. Ketiga robot kemudian saling berbagi informasi.

Dua jam kemudian, salah satu dari ketiga anggota Galata itu bangun dari tidurnya, pergi ke toilet dan kembali untuk tidur. Saat akan berbaring, ia melihat layar ketiga robot menunjukkan sebuah notifikasi.

"Sebuah pesan?" Rasa kantuk pria itu mulai berkurang. Ia segera membuka layar hologram di jam tangan, terdiam saat membaca informasi. "Beberapa bawahan Osvaldo Tolliver menginap di penginapan ini beberapa jam lalu."

Pria botak itu menggeser layar, mengamati foto Edward yang masih berada di jurang. "Apa yang terjadi dengan pria itu?"

Pria itu menggeser layar ke samping, menonton beberapa cuplikan video. "Dia bertarung dengan teman-temannya semalam hingga terjatuh ke jurang. Ah, jadi keributan itu ulah mereka.”

"Apa yang terjadi?" tanya salah satu anggota yang baru bangun. "Apakah waktu kita sudah selesai? Padahal aku baru saja tidur."

"Aku baru mendapatkan informasi jika beberapa bawahan Osvaldo Tolliver sempat menginap di tempat ini. Selain itu, salah satu anggotanya berada di jurang setelah bertarung beberapa waktu lalu. Kondisinya ... sangat mengenaskan. Dia mengalami luka berat dan anehnya dia masih hidup."

"Lupakan mereka." Pria itu berbaring di ranjang. "Osvaldo Tolliver sudah tertangkap beberapa waktu lalu. Selain itu, semua bawahannya sudah diperiksa dan mereka sama sekali tidak mengetahui apa pun."

"Ya, lupakan soal itu." Anggota lain berbicara dengan posisi masih menutup mata. "Dia hanya sampah tidak berguna. Kalaupun dia mati, dunia tidak akan mendadak runtuh."

Kedua pria itu kembali tertidur, sedangkan si pria botak justru berjalan ke balkon, mengamati pepohonan yang menutupi jurang dan tebing. "Dia terjatuh dari tebing dan sudah berada di jurang hampir delapan jam lamanya. Anehnya, dengan luka seperti itu, dia masih hidup hingga sekarang."

Pria itu menoleh pada dua rekannya. "Memang tidak ada gunanya menolong pria itu. Semua informasi mengenai Osvaldo Tolliver sudah didapatkan. Akan tetapi, kenapa firasatku justru mengatakan dia bisa berguna?"

Pria itu menoleh pada salah satu robot yang mendekatinya. "Berikan pertolongan pada orang itu sekarang juga."

Robot itu segera bergerak menuju lokasi Edward.

"Kau harus membalas budi padaku karena aku sudah menolongmu, sialan."

Robot itu menuruni jurang, memindai Edward. Sebuah sinar seketika memindai seluruh tubuh Edward. Robot itu kemudian menjahit luka pria itu.

"Xander, aku pasti akan menghabisimu. Aku tidak peduli jika kau bekerja sama dengan Osvaldo Tolliver maupun orang-orang aneh itu," gumam Edward.

1
Nathan Grdn
tarik nafas
Nathan Grdn
masa kalah terus jagoan nya,persis di konoha penjagat selalu di depan
MELBOURNE
saksikan terus
jangan lupa juga baca novelku yang lain yaa👍👍
aim pacina
Miguel Mikael dan govin berikan kekuatan khusus thor biar seru karna fisik mereka kuat
Glastor Roy
update ya torrr ku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!