NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Saat Si Kulkas Mulai Mencair Setetes

Pintu terbuka dan menunjukkan sosok Dokter Siska yang sedang memegang telepon genggamnya dengan tangan yang bergetar hebat dan mata yang berkaca-kaca karena rasa cemburu yang sudah mencapai puncaknya. Ia menatap layar benda elektronik itu seolah sedang melihat sebuah dokumen pengkhianatan yang paling menjijikkan sepanjang karier medisnya. Adrian segera berdiri tegak di balik meja kerjanya dengan wajah yang berusaha kembali menjadi sangat datar meski jantungnya masih berdetak berulang-ulang dengan kencang.

"Jadi benar pesan gila di grup itu untuk anak kecil ini, Adrian?" tanya Siska dengan suara yang sangat parau.

"Itu hanya salah paham karena jari saya sedang tidak fokus saat mengetik laporan keamanan tadi," jawab Adrian dengan nada yang sengaja ia buat sangat dingin.

Lala yang tadi sempat tertawa kini mendadak diam seribu bahasa saat melihat kemarahan yang terpancar nyata dari sorot mata Dokter Siska yang sangat tajam. Ia merasa aura di dalam ruangan itu menjadi sangat panas seolah AC baru saja meledak dan mengeluarkan api yang membara. Gadis itu perlahan-lahan menggeser duduknya untuk bersembunyi di balik lengan jas putih Adrian yang sangat lebar.

"Salah paham? Kamu menyebut siswi berseragam ini sebagai milikmu di depan seluruh dokter senior!" bentak Siska sambil melemparkan telepon genggamnya ke atas meja.

"Hati-hati Dokter Siska, telepon itu bisa pecah berkeping-keping kalau dilempar dengan penuh emosi seperti itu," timpal Lala dengan suara kecil yang tetap terdengar sangat berani.

Adrian melirik Lala dengan tatapan memberi peringatan agar gadis itu tidak semakin menambah minyak ke dalam kobaran api yang sudah sangat besar. Siska tampak semakin geram karena merasa kehadirannya diremehkan oleh seorang gadis yang menurutnya hanya bisa membuat kekacauan di rumah sakit. Ia melangkah maju dengan sepatu hak tingginya yang berbunyi nyaring di atas lantai ubin yang sangat mengilap.

"Keluar dari sini sekarang juga, anak kecil! Saya perlu bicara secara pribadi dengan Dokter Adrian!" perintah Siska dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah pintu.

"Lala tetap di sini, dia masih di bawah pengawasan saya sebagai relawan resmi yang sedang terancam keselamatannya," tegas Adrian sambil menahan bahu Lala agar tidak beranjak.

Keputusan Adrian untuk membela Lala di depan Siska membuat ruangan itu seketika menjadi sangat sunyi dan sangat mencekam. Siska tertawa sinis sambil menghapus air mata yang hampir jatuh membasahi pipinya yang sudah dipoles dengan riasan wajah yang sangat mahal. Ia tidak menyangka bahwa pria sekaku Adrian akan mencair setetes demi setetes hanya karena pembelaan ugal-ugalan dari seorang siswi sekolah menengah atas.

"Kamu benar-benar sudah gila, Adrian, kamu mempertaruhkan reputasimu demi bocil alay ini?" tanya Siska dengan nada yang penuh dengan penghinaan.

"Saya hanya melakukan apa yang benar menurut etika kemanusiaan terhadap seseorang yang nyaris menjadi korban kejahatan di tempat ini," balas Adrian tanpa ragu sedikit pun.

Siska tidak tahan lagi berada di ruangan itu dan segera memutar tubuhnya untuk pergi sambil membanting pintu dengan kekuatan yang sangat luar biasa hebat. Suara benturan pintu itu membuat Lala berjengit kaget sementara Adrian hanya bisa memijat pelipisnya yang terasa sangat berdenyut-denyut nyeri. Keheningan kembali menyelimuti mereka berdua namun kali ini terasa jauh lebih hangat dibandingkan sebelumnya.

"Dokter, apa Dokter baru saja mencair setetes untuk membelaku di depan nenek sihir itu?" tanya Lala sambil menatap wajah Adrian dengan penuh kekaguman.

"Jangan menyebut rekan sejawat saya dengan sebutan seperti itu, Lala, itu sangat tidak sopan dan tidak profesional," tegur Adrian namun dengan nada yang jauh lebih lembut.

Lala tersenyum lebar hingga matanya menyipit karena ia merasa baru saja memenangkan sebuah pertempuran besar di dalam hati sang dokter kulkas. Ia melihat tangan Adrian yang masih memegang bahunya dan segera menggenggam jemari pria itu dengan sangat erat seolah tidak mau melepaskannya lagi. Adrian sempat hendak menarik tangannya namun entah mengapa ia justru membiarkan jemari mungil Lala menyusup di antara celah jari-jarinya yang panjang.

"Tangan Dokter sangat dingin, tapi hati Dokter sepertinya mulai terasa sangat hangat pagi ini," bisik Lala dengan wajah yang merona merah.

"Mungkin itu hanya efek suhu pendingin ruangan yang perlu diperbaiki oleh teknisi rumah sakit besok pagi," kilah Adrian sambil perlahan-lahan melepaskan genggaman itu.

Adrian kemudian mengambil sebuah cokelat kecil dari laci mejanya dan memberikannya kepada Lala agar gadis itu berhenti bicara yang macam-macam lagi. Lala menerima cokelat itu dengan sangat gembira seolah ia baru saja mendapatkan medali emas dari ajang perlombaan tingkat dunia. Ia tahu bahwa Dokter Adrian tidak akan pernah mengakui perasaannya secara terang-terangan karena sifat gengsinya yang setinggi gunung merapi.

"Makan cokelat itu dan diamlah, saya harus menyelesaikan laporan operasi yang sempat tertunda karena drama ini," ucap Adrian sambil kembali fokus pada layar komputer.

"Siap calon suamiku! Aku akan diam seribu bahasa sambil menikmati cokelat pemberian cinta pertamaku ini!" jawab Lala dengan semangat yang meluap-luap.

Sepanjang sore itu, Adrian bekerja dengan sangat tenang meskipun ada seorang siswi yang terus memperhatikannya dari sudut ruangan dengan pandangan penuh cinta. Sesekali Adrian melirik ke arah Lala dan merasa ada sesuatu yang aneh namun sangat menyenangkan menjalar di dalam sanubarinya yang paling dalam. Ia mulai menyadari bahwa kehadiran si berisik ini justru membuat hari-harinya yang kaku menjadi lebih berwarna dan tidak lagi membosankan.

Malam mulai datang dan saat Adrian hendak mengantar Lala pulang, ia melihat sebuah mobil sedan hitam yang sangat mewah sudah terparkir di depan lobi utama rumah sakit.

Dari dalam mobil itu keluar seorang wanita paruh baya yang sangat elegan dan langsung memanggil nama Adrian dengan suara yang sangat merdu namun sangat berwibawa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!