Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makanlah bersamaku!
"Kau tidak memasaknya selama ini?" Elgard terlihat begitu kecewa ketika melihat lemari pendingin milik Bianca masih terisi penuh dengan bahan-bahan makanan yang pernah ia beli sebelumnya.
Yang membuat Elgard semakin kecewa adalah, Bianca bahkan tidak memakan sisa makanan yang pernah Elgard simpan untuk Bianca.
"Untuk apa, saya tidak pernah memintanya!" Sahut Bianca yang kini asik memotong sayuran yang Elgard minta.
Dengan berbagai cara yang Elgard lakukan, pada akhirnya dia bisa membuat Bianca menyerah hingga bersedia memasak untuknya lagi.
"Huhhh!" Elgard memilih diam setelah napas berat ia keluarkan. Menurutnya lebih baik diam dari pada dia diusir dari apartemen itu.
Elgard kembali menyambangi meja berisi parfum milik Bianca. Dia ingin sekali memiliki salah satunya karena dia menyukai wanginya yang benar-benar menenangkan dan tentunya belum ada yang memilikinya.
Tapi sekarang, Elgard malah tertarik dengan tumbukan berkas di sisi meja itu. Elgard mengernyitkan keningnya ketika membaca kata demi kata dari kertas itu.
"Kau mau bekerja di perusahaan Kevin?!!" Elgard menoleh menatap Bianca.
"Iya!" Jawab Bianca singkat tanpa membalas tatapan Elgard.
"Kenapa?"
"Bukan urusanmu!"
"Bee, kalau kau mau kerja, aku bisa memberikan pekerjaan padamu. Aku sudah memperingatkan untuk tidak terlalu dekat dengan Kevin, dan sekarang kau justru akan bekerja dengannya, kau tidak mendengarkanku Bee?"
Kali ini Bianca memalingkan wajahnya menatap Elgard.
"Dalam hal apa aku harus mendengarkanmu? Apa urusannya kau dengan hidupku? Kau bukan siapa-siapa jadi jangan terlalu ikut campur!" Lirikan Bianca di akhir kalimatnya menandakan kalau dia benar-benar tidak suka dengan ucapan Elgard tadi.
"Tapi Bee.."
"Diam atau pergi sekarang juga!"
Bibir Elgard tertutup dengan rapat. Dia tak mengeluarkan sepatah katapun meski dalam hatinya menggerutu. Dia juga tidak akan membiarkan Kevin leluasa mendekati Bianca. Dia tau bagaimana sifat sahabatnya itu, pria itu termasuk casanova, jadi dia tidak ingin Bianca terjerat oleh sahabatnya itu.
Sekarang, Elgard hanya bisa diam melihat Bianca yang asik dengan masakannya. Itupun dari kejauhan karena tak diijinkan oleh Bianca untuk mendekat.
Elgard memilih berbaring pada sofa yang tidak mampu menampung tubuh tingginya. Kakinya ia biarkan menggantung karena sofa itu terlalu kecil untuknya.
Lama-lama, matanya terlaku berat. Dia benar-benar terlelap tanpa ia sadari. Elgard merasa tempat itu terlalu nyaman dan harum hingga membuatnya begitu mudah tertidur.
Padahal sebelumnya Elgard selalu susah untuk tidur meski tubuhnya lelah karena melakukan operasi berjam-jam.
Bianca menghampiri Elgard ke sofa setelah dia menyusun masakannya di atas meja. Bianca melipat tangannya di depan dada sembari menatap wajah Elgard dengan tatapan curiga. Dia yakin kalau Elgard pasti berpura-pura tidur saat ini.
"Bangun!" Pinta Bianca namun tak ada tanggapan.
"Ck!" Bianca berdecak kesal.
"Cepat bangun!" Bianca menendang kaki Elgard yang menggantung tadi dengan cukup keras.
"Shhh!" Elgard langsung terbangun dan memegangi kakinya.
"Sakit sekali!" Elgard mengeluh karena sakit pada tulang keringnya.
"Cepat makanlah dan segera pergi dari sini!" Bianca sama sekali tak menghiraukan Elgard yang sedang kesakitan.
"Mau kemana kau?!" Elgard menahan tangan Bianca. Dia sudah hafal kalau Bianca akan langsung masuk ke kamar setelah selesai memasak, makanya Elgard langsung menahannya.
"Tugasku sudah selesai, silahkan makan setelah itu pergi!"
"Tidak, aku ingin kau makan bersamaku!"
"Terima kasih Tuan, tapi saya tidak tertarik!" Bianca menunjukkan senyum di awal kata, dan lirikan tajam di akhir kalimatnya.
"Kau tidak boleh ke mana-mana. Kau harus menemaniku makan!" Elgard menarik Bianca ke meja makan.
"Aku tidak mau!" Bianca tetap menolak.
"Aku tidak menerima penolakan!" Elgard membantu Bianca duduk kemudian dia duduk di samping Bianca dengan menarik kursi yang agak.jauh darinya.
"Makan atau aku tidak akan pergi dari sini!"
"Kau mengancamku?" Bianca tampaknya tak takut dengan ancaman Elgard.
"Tidak, aku hanya mencari cara agar kau mau makan bersamaku!"
"Licik. Terserah padamu!" Bianca sudah begitu jengah karena Elgard.
"Kalau begitu ayo kita makan bersama. Aku akan pergi setelah kau ikut makan. Kalau tidak mau, aku juga tidak mau pergi dari sini!" Ajak Elgard kali ini dengan suara yang lembut.
Bianca memutarkan bola matanya, dia lelah dengan sifat Elgard yang mendominasi dan selalu memaksakan kehendaknya.
Elgard tersenyum puas saat Bianca akhrinya berdiri mengambil mangkuk dan bersedia makan bersama Elgard.
"Setelah ini kau harus langusng pergi! Aku tidak mau ada orang yang melihatmu di sini. Itu akan menimbulkan masalah dan tentunya sangat merugikanku!"
"Baiklah, aku akan pergi!" Meski sebenarnya Elgard sama seki tidak peduli dengan paparazi atau apalah itu, dia hanya ingin pergi untuk menepati janjinya asal Bianca mau makan bersamanya.
Betapa susahnya dia meminta Bianca untuk makan dengan bahan makanan yang ia beli. Makanya kalau saat ini Bianca sudah duduk tenang sembari menikmati makanannya itu.
Tanpa sadar bibir Elgard membentuk lengkungan. Dia senang sekali melihat Bianca bisa makan makanan yang layak.
"Apa posisi yang akan diberikan Kevin untukmu?" Di tengah-tengah makan malam mereka, Elgard menanyakan hal itu.
"Sekretaris!"
"Apa?!!! Sekretaris?!!"
"Memangnya kenapa?" Heran Bianca karena lihat reaksi Elgard.
"Ya karena aku tidak mau kau terlalu dekat dengan pria itu!" Jawab Elgard dengan terus terang.
"Bukan urusan anda Tuan!" Bianca membawa piringnya menuju wastafel sembari menjawab Elgard dengan sinis. Lagi-lagi pria itu melarangnya untuk dekat dengan Kevin. Sebenrnya apa mau Elgard kepadanya. Menurut Bianca, sekarang Elgard terlalu pemaksa dan pengatur.
"Sekarang kau sudah selesai makan, jadi pergilah!" Usir Bianca secara terang-terangan. Begitu selesai makan, Bianca langsung menagih janji Elgard untuk pergi dari apartemennya.
Elgard mendekat pada Bianca sebelum dia benar-bene pergi dari sana.
"Baiklah aku pergi. Terima kasih untuk makanannya hari ini, masakanmu enak sekali. Aku pergi!"
Bianca hanya diam apa lagi saat Elgard mengusap pucuk kepalanya. Dia tak sempat menepis tangan Elgard karena tangannya sedang mencuci piring.
Elgard sekarang sudah mengambil jasnya yang sejak tadi terbengkalai di sofa. Kemudian berjalan menuju pintu. Tapi tiba-tiba ponselnya berdering karena panggilan seseorang.
"Iya kenapa?" Elgard mencoba mengangkatnya terlebih dahulu.
"Sayang, kau ada dimana? Aku merindukanmu!"
Bukannya menjawab Meriana yang merengek manja di telepon, tapi Elgard justru menoleh ke belakang pada Bianca yang saat ini terlihat sedang membersihkan meja dapurnya. Elgard yakin kalau Bianca mendengar suara Meriana meski Bianca terlihat tak peduli.
Entah kenapa Elgard takut kalau suara Meriana tadi menyakiti hati Bianca, padahal itu belum tentu terjadi karena Bianca benar-benar acuh tak acuh.
"Sayaannngg!" Suara manja Meriana menyadarkan Elgard, dia langsung buru-buru keluar karena takut kalau Bianca sakit hati.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur