NovelToon NovelToon
HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

HATI YANG DITULIS DENDAM & CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:63
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.

Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.

Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CAHAYA YANG MENERANGKAN JALANAN MASA DEPAN DAN KELUARGA YANG TERUS BERKEMBANG

Mentari pagi menyinari Sekolah Hadian Papua yang ke-10, yang baru saja selesai dibangun di daerah yang terpencil di pegunungan Jayawijaya. Qinara, yang sekarang berusia dua puluh tahun, berdiri di teras sekolah, memandang anak-anak yang sedang belajar membuat kerajinan dari kayu lokal. Mereka adalah anak-anak dari suku Asmat yang tidak pernah sekolah sebelumnya, tapi sekarang penuh semangat untuk mempelajari segalanya.

Di sebelahnya berdiri Kabelo dari Afrika Selatan—yang sekarang telah lulus dari sekolah hukum dan bekerja sebagai sukarelawan di yayasan. "Kak Qinara, lihat mereka—mereka sekarang bisa membaca dan menulis, bahkan membuat kerajinan yang bisa dijual untuk membantu keluarga. Ini adalah keajaiban yang kamu ciptakan," ucapnya dengan senyum penuh kebahagiaan.

Qinara mengangguk, memegang kotak pemberian ayahnya yang kini berisi surat dari ribuan anak yang telah dibantunya. "Ini bukan keajaiban yang aku ciptakan, Kabelo. Ini keajaiban dari kerja sama semua orang—dari warga lokal, sukarelawan, dan semua yang percaya pada impian ayahmu."

Pak Rio muncul dengan berita baru dari PBB. "Qinara, proyek 500 sekolah di 50 negara sedang berjalan dengan lancar. Kita sudah membangun 200 sekolah dalam setahun ini. Mereka ingin kamu menjadi ketua komite penasihat global untuk pendidikan anak-anak—kamu akan memimpin upaya untuk mencapai tujuan bahwa setiap anak di dunia mendapatkan pendidikan hingga usia 12 tahun."

Qinara membaca dokumen yang diberikan Pak Rio, mata penuh kegembiraan dan tanggung jawab. "Aku akan terima, Pak. Ini adalah langkah besar untuk mencapai impian ayahmu yang sebenarnya—agar setiap anak di dunia memiliki kesempatan untuk belajar."

Sore hari, mereka berjalan ke desa terdekat untuk bertemu dengan kepala suku, Bapak Amos. Dia telah membantu pembangunan sekolah ini dan selalu mendukung upaya yayasan. "Qinara, kamu telah memberikan cahaya untuk kita. Sebelum ini, anak-anak kita hanya tahu bagaimana berburu dan bertani, tapi sekarang mereka tahu bahwa ada dunia di luar pegunungan ini," ucapnya dengan suara penuh rasa syukur.

"Kita semua bekerja bersama-sama, Bapak. Anak-anak ini adalah masa depan suku dan negara. Kita harus membantu mereka mencapai potensi mereka," jawab Qinara.

Di saat itu, Laras datang bersama dengan Aisha—yang sekarang berusia delapan tahun dan sudah menjadi siswa terbaik di Sekolah Hadian Jakarta. Aisha membawa lukisan yang dia buat—lukisan tentang Qinara yang berdiri di tengah banyak sekolah, dengan matahari terang di atasnya yang melambangkan ayahnya.

"Kak Qinara, ini untukmu. Aku telah belajar menggambar di sekolah, dan aku ingin menggambarkan apa yang kamu lakukan untuk dunia," kata Aisha dengan senyum lebar.

Qinara menerima lukisan itu dengan hati-hati. "Ini indah, Aisha. Aku akan menaruhnya di kotak pemberian ayahku, agar dia bisa melihatnya."

Keesokan harinya, Qinara terbang ke Brasil untuk memantau pembangunan sekolah ke-201. Di sana, dia bertemu dengan delegasi lokal dan anak-anak yang akan bersekolah. Anak-anak itu telah menyiapkan pesta untuknya, menyajikan makanan tradisional dan menari tari Brasil.

Selama pesta, seorang anak laki-laki bernama Carlos yang berusia sembilan tahun mendekatinya. "Kak Qinara, aku ingin menjadi insinyur nanti. Aku akan membangun jembatan untuk menghubungkan desa kita dengan kota. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk sekolah."

Qinara memeluk Carlos. "Kamu pasti bisa, Carlos. Jembatan yang kamu bangun akan membantu banyak orang. Ingatlah kata ayahku—tetap kuat dan jangan pernah menyerah."

Malam itu, Qinara berdiri di teras hotel, memandang pantai Brasil yang indah. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dan lukisan Aisha. Dia membaca surat ayahnya sekali lagi:

"Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."

Dia tersenyum, menyadari bahwa warisan ayahnya telah tumbuh lebih besar dari yang dia bayangkan. Jaringan Sekolah Hadian sekarang telah membantu lebih dari 50.000 anak, dan banyak dari mereka telah mulai membangun masa depan mereka sendiri.

Beberapa minggu kemudian, Qinara kembali ke Indonesia untuk mengadakan rapat tahunan yayasan. Di rapat itu, dia mengumumkan rencana baru: membangun universitas swasta yang bernama "Universitas Hadian" untuk alumni Sekolah Hadian dan anak-anak miskin lainnya. Universitas itu akan menawarkan jurusan kedokteran, hukum, pendidikan, dan teknik.

"Kita telah membantu anak-anak mendapatkan pendidikan dasar, tapi kita juga harus membantu mereka melanjutkan ke pendidikan tinggi. Universitas Hadian akan menjadi tempat di mana mereka bisa mengembangkan keterampilan dan menjadi pemimpin yang akan mengubah dunia," ucap Qinara, dan suara tepuk tangan meriah terdengar.

Pada hari ulang tahunnya yang ke-20, Qinara mengadakan acara di lokasi yang akan dibangun Universitas Hadian. Lebih dari 10.000 orang hadir—alumni, guru, sukarelawan, dan delegasi dari berbagai negara. Pak Santoso, yang sekarang sudah berusia 91 tahun, diantar ke panggung oleh Siti dan Rudi—yang telah menyelesaikan studi kedokteran dan bekerja di rumah sakit yayasan.

"Qinara, sepuluh tahun yang lalu, aku melihatmu sebagai anak kecil yang menangis karena kehilangan ayah. Sekarang, aku melihatmu sebagai pemimpin dunia yang mengubah hidup ribuan anak. Ayahmu pasti bangga padamu—kamu adalah cahaya yang dia berikan untuk dunia," ucap Pak Santoso, dan semua orang menangis dengan senang.

Setelah pidato, mereka melakukan upacara peletakan batu pertama Universitas Hadian. Qinara memegang tongkat kayu Pak Santoso dan menanam batu pertama, disaksikan oleh semua orang yang hadir. Anak-anak menyanyikan lagu "Cahaya Hati"—lagu yang dibuat khusus untuk yayasan—dan semua orang bergandeng tangan, merayakan langkah baru ini.

Malam itu, Qinara pergi ke makam ayahnya bersama keluarga dan teman-temannya. Dia membawa batu pertama yang ditanam di Universitas Hadian dan lukisan Aisha. Dia duduk di dekat makam, membicarakan semua yang telah terjadi.

"Ayah, kita akan membangun Universitas Hadian. Ini adalah lanjutan dari impianmu—agar anak-anak miskin bisa mendapatkan pendidikan tinggi dan menjadi pemimpin. Sudah dua puluh tahun sejak kamu pergi, tapi kamu selalu ada di sini, dalam setiap langkah yang aku lakukan. Warisanmu telah menyebar ke seluruh dunia, dan akan terus tumbuh selama ada orang yang ingin membantu orang lain."

Dia melihat ke arah langit malam yang penuh bintang, menemukan bintang terang yang selalu dia anggap sebagai ayahnya. "Aku mencintaimu selamanya, ayah. Terima kasih telah memberiku cahaya untuk menerangi jalanan masa depan bagi banyak orang."

Laras memeluknya dengan erat. "Qinara, aku bangga menjadi ibumu. Kamu telah membangun keluarga yang besar dari orang-orang yang mencintai, dan kamu telah memberikan cahaya untuk dunia. Ayahmu pasti sangat bangga padamu."

Qinara membalik memeluk Laras. "Terima kasih, Ibu. Tanpa kamu dan semua orang, aku tidak bisa melakukan ini. Kita adalah keluarga yang sebenarnya—dibangun dari hati dan kasih sayang."

Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak cahaya untuk diberikan. Qinara tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, tapi dia siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari keluarga yang tercinta, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Dia berdiri tegak, memegang kotak pemberian ayahnya dan tongkat kayu Pak Santoso, melihat ke arah masa depan yang terang dan penuh harapan. Cahaya ayahnya selalu akan menerangkannya, dan warisan ayahnya akan tetap hidup selamanya—sebagai cahaya yang tidak pernah padam, bagi semua orang yang membutuhkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!