Seorang gadis cantik bernama Anggi yang menjadi korban perceraian orangtuanya karena ayahnya selingkuh dengan sahabat ibunya sendiri. Kejadian itu pun dialami oleh Anggi sendiri.
Anggi memiliki sahabat dari kecil bernama Nia. Bahkan dia sudah dianggap Nia saudara sendiri bukan lagi seperti sahabat. Nia mengkhianati Anggi dan mengambil kekasih Anggi.
Bagaimana kisah selanjutnya yuk baca cerita selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenca04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Di pagi yang cerah Anggie sudah ada di sebuah aula gedung SMP Nusa di sana para peserta olimpiade sudah siap. Mereka tidak diperbolehkan membawa peralatan tulis apapun.
Anggie pun sudah duduk dengan tenang di tempat yang memang sudah disediakan pihak penyelenggara.
Para suporter atau keluarga yang mau melihat hanya di sisi saja dan jangan sampai memberikan jawaban kepada peserta atau mengganggu peserta.
Waktu yang di berikan hanya dua jam. Mereka mengisi sampai 150 nomor. Anggun tak hentinya berdoa untuk anak bungsunya yang sedang berjuang mengharumkan nama sekolahnya.
Sebenarnya sekolah Anggie bukan sekolah favorit dan hanya sekolah biasa karena itu kemauan dari Anggie sendiri masuk ke sana. Anggun dan Angkasa sudah membujuknya agar masuk ke sekolah favorit tapi Anggie menolak. Sebenarnya Anggun bukan tidak mampu untuk menyekolahkan Anggie di sekolah favorit hanya Anggie tidak mau bertemu dengan Nia. Anggie sudah terlanjur sakit hati melihat ibunya Nia yang sudah merebut ayahnya.
Pihak sekolah pun tidak berharap tentang kemenangan tapi sudah masuk ke tahap provinsi pun sekolah sudah sangat senang karena baru sekarang ada anak yang bisa masuk tahap provinsi dalam olimpiade. Sekolah Anggie memang selalu dianggap sebelah mata oleh sekolah lainnya.
Sebelum mengikuti lomba kepala sekolah sudah memberikan wejangannya kepada Anggie.
"Bapak tidak mengharapkan kamu juara Gita. Maaf bukan maksud bapak meremehkan kamu tapi kamu sudah masuk ke tahap sini pun bapak selaku kepala sekolah sudah sangat bangga. Karena sekolah kita yang tak pernah dianggap siapapun kini menunjukkan prestasinya lewat kamu," ujar kepala sekolah.
Pengumuman juara pun akan di umumkan sekarang. Semua yang datang harap-harap cemas termasuk Anggun. Anggun sampai keringat dingin.
"Tenang aja Bun adek pasti jadi juara," Angga menenangkan ibunya sambil menggenggam tangan ibunya.
"Bunda deg degan Bang."
Akhirnya sudah saatnya tiba pengumuman pemenang olimpiade.
"... Juara ketiga kita di raih oleh Jason dari SMP Merah Putih, silahkan kepada saudara Jason maju kedepan. Dan selanjutnya juara kedua kita di raih oleh SMP Nusa yang bernama Nia."
Seketika itu Anggun dan kedua anaknya membeku saat melihat Nia sahabat dari Anggie menjadi juara ke dua.
"Itu Nia anaknya Tante Rasti kan Bun?" Anggun mengangguk dan melihat ke arah dekat panggung di sana Anggun juga melihat mantan suaminya bersama Rasti memberikan support pada anaknya.
"Dan untuk juara pertama kita, sungguh saya juga tak pernah menyangka kalau sekolah ini yang selalu dianggap tak penting justru menjadi juaranya. Kita panggil dari SMP Merdeka saudarai Anggita, beri tepuk tangan."
Semua orang terpaku saat melihat Anggita naik ke panggung. Anggun dan ke dua anaknya langsung ikut turun mendekati panggung. Seketika suporter dari sekolah Anggie riuh meneriakkan nama Anggita.
"Anggita."
"Anggita."
Anggoro yang sedang ada di sana pun tak menyangka kalau Anggita yang dimaksud itu adalah Anggie anak kesayangannya. Anggoro pun ingin memeluk anaknya dan memberikan selamat tapi Rasti melarangnya.
"Kenapa kamu melarang aku untuk menemuinya dia kan anak aku."
"Itu dulu sebelum kamu jadi milikku," Rasti posesif.
"Tapi dia tetap anakku."
"Tapi dia juga anakmu," tunjuk Rasti pada bayi yang sedang digendongnya. Anggoro hanya bisa menarik nafasnya sambil menahan rasa kecewa dan kesalnya.
Penyerahan piala dan hadiah sudah dilakukan. Anggie pun bergegas turun karena dia tidak mau bicara sama Nia.
"Anggie," seru Nia seketika Anggie pun berhenti saat mendengar namanya di panggil.
"Kamu Anggie kan sahabat aku. Kenapa kamu lupa sama aku? Kamu kemana aja? Aku salah apa sama kamu sampai kamu ninggalin aku," Nia yang sudah berderai air mata. Anggie hanya diam tanpa melihat ke arah Nia.
"Atau mungkin karena Ayah kamu yang menikah sama Mama aku? Itu semua bukan kemauan aku Gie. Aku juga punya Papa yang baik dan aku pun gak berharap punya Papa baru apalagi Ayah kamu. Ini hanya masalah orang dewasa tapi kenapa kamu melibatkan persahabatan kita Gie."
Anggie yang terdiam mendengarkan semua uneg-uneg yang sudah lama di simpan Nia.
"Gie aku mohon kita sahabat lagi ya. Kamu mau kan?"
Sebelum Anggie menjawab tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Gita," teriak teman-temannya Anggie.
"Selamat ya kamu jadi juara juga."
"Makasih ya teman-teman udah support aku. Tapi aku mau nemuin Pak kepala sekolah dan Bu Maria dulu."
Anggie pun pergi begitu saja melewati Nia yang tak henti-hentinya menangis. Anggie yang pergi bersama para teman-temannya membuat hati Nia sakit.
Anggie teman sekaligus sahabat yang sudah menemaninya selama enam tahun. Mereka tertawa dan sedih bareng tapi kini hanya tinggal kenangan karena kesalahan ibunya pada keluarga Anggie.
Saat Nia duduk mematung sendiri sambil menatap kepergian Anggie tiba-tiba ibu dan ayah tirinya datang menghampirinya sambil memeluk.
"Selamat ya sayang gak apa-apa kamu juara dua juga Mama sama ayah udah bangga sama kamu," seru Rasti mencoba memberikan support pada Nia yang terlihat sedih.
Anggie yang melihat pemandangan keharmonisan keluarga Nia yang sedang dipertontonkan oleh mereka membuat hatinya semakin membenci ayah dan sahabatnya itu.
Kakaknya yang peka langsung memeluk adiknya itu.
"Gak perlu dipikirkan sekarang kamu juga bisa bahagia tanpa mereka karena ada kita," seru Angga yang memeluk Anggie dan di ikuti Angkasa.
"Bunda bangga sama kamu dek, selain kamu bisa membawa nama baik sekolah kamu juga bisa menunjukkan kepada mereka kalau kamu bisa dan lebih baik dari dia," Anggie tahu yang dimaksud ibunya dia itu kepada siapa.
"Git kita foto-foto dulu kali," seru Dika yang sudah siap dengan kameranya.
"Lo udah siapin ini Dik?" tanya Ria.
"Iya lah karena gue yakin Gita pasti jadi juara."
Mereka semua tertawa melihat kelakuan dari Dika.
Setelah mereka berpamitan dengan guru dan diijinkan pulang. Kini Anggie dan kedua temannya di sedang ada diparkiran.
"Kalian teman dari Gita?" tanya Angga.
"Kakak ini siapa ya? kok ganteng banget," seru Dika yang kecentilan yang mendapat geplakan dari Ria.
"Ini Abang Asa dan ini Abang angga mereka Abang gue dan ini Bunda gue. Bun Bang kenalin ini Ria dan ini Dika," Anggie memperkenalkan temannya kepada keluarganya.
"Kalian mau ikut gak kita makan-makan buat ngerayain kemenangan Anggie," ajak Angkasa.
"Dengan senang hati Bang kita terima," seru Ria langsung mengiyakan ajakan dari keluarga Anggie yang memang tak tahu malu.
Kini mereka pun sudah ada di sebuah restoran ternama di kota itu.
"Abang apa gak kemahalan kita makan di sini?" tanya Dika pelan karena memang mereka belum pernah datang ke tempat seperti itu. Sekolah Anggie memang terbilang kalangan menengah ke bawah makanya saat teman-temannya Anggie di ajak ke restoran mewah mereka pun seperti wong deso.
"Kalian gak perlu pikirin masalah mahal tidaknya sekarang kalian makan kalau kurang silahkan tambah. Kita habiskan uang Bang Asa," seru Angga.
"Boleh bungkus gak Bang buat Mama sama adek aku juga," Ria yang memang tak tahu mau pun mendapat sikutan dari Dika.
"Lo gak tahu malu banget sih udah di kasih hati malah minta jantung," cibir Dika.
Anggun yang melihat kelakuan teman Anggie hanya bisa geleng-geleng kepala, "Gak apa-apa nanti kalian pulangnya juga boleh bungkus buat dibawa rumah kalian juga," seru Anggun sambil tersenyum.
"Makasih banget Tante maaf ya kita jadi ngerepotin," imbuh Dika yang memang tak enak hati.
"Gak apa-apa kita hitung-hitung syukuran atas kemenangan Anggie," seru Anggun.
Setelah acara makan-makan selesai kini mereka pun di antar pulang ke rumah masing-masing.
"Makasih banyak ya abang Sama Tante untuk hari ini aku senang banget dan Mama sama adik juga bisa makan enak," seru Ria yang baru turun.
"Salam buat Mama sama adik kamu ya Ria."