Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Diberitahukan kepada seluruh staf pengajar, mohon berkumpul sejenak di ruang rapat untuk menyambut rekan guru baru kita."
Tia menyenggol lengan Raisa. "Wah, guru baru lagi? Katanya sih untuk posisi guru Agama yang kosong itu, Yuk, kita lihat. Kabarnya masih muda, lulusan pesantren dan sangat berprestasi."
Raisa hanya mengangguk datar, mengikuti langkah Tia menuju ruang rapat. Di dalam ruangan, suasana tampak lebih ceria dari biasanya. Guru-guru perempuan, terutama yang masih lajang, tampak saling berbisik dengan wajah berseri-seri.
Di depan ruangan, berdiri seorang pria mengenakan kemeja batik rapi dan celana kain gelap. Wajahnya bersih, dengan senyum ramah yang tampak sangat tulus bagi siapa pun yang melihatnya.
"Perkenalkan, nama saya Hilmi. Saya akan mengampu mata pelajaran Agama mulai hari ini. Mohon bimbingan dari Bapak dan Ibu sekalian," ucap pria itu dengan suara lembut dan berwibawa.
Seketika ruang rapat riuh dengan sambutan hangat. "Aduh, Pak Hilmi sopan sekali ya," bisik salah satu guru senior. "Sudah pintar, ganteng, guru agama pula. Idaman banget!"
Namun, di sudut ruangan, Raisa merasa udara di sekitarnya mendadak menipis. Pegangannya pada buku agenda di tangannya mengerat. Ia sangat mengenali suara itu. Ia sangat mengenali cara pria itu tersenyum.
Tia, yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya, berbisik cemas, "Rai? Kamu kenapa? Muka kamu pucat banget."
Raisa tidak menjawab. Ingatannya melesat ke dua tahun lalu. Ke sebuah sore di mana Hilmi datang ke rumahnya bersama orang tuanya, membawa niat untuk melamar. Raisa telah menolaknya dengan tegas dan sopan, menjelaskan bahwa ia tidak memiliki perasaan yang sama. Namun, Hilmi tidak menerima kata tidak.
Sesi perkenalan selesai, dan para guru mulai berhamburan keluar. Hilmi tampak menyalami satu per satu rekan barunya dengan ramah, hingga langkahnya sampai di depan Raisa.
"Selamat pagi, Bu Raisa," sapa Hilmi. Tidak ada nada terkejut dalam suaranya.
Sebaliknya, tatapannya seolah mengatakan bahwa ia memang sudah merencanakan pertemuan ini.
"Selamat pagi, Pak Hilmi. Selamat datang di SMA Pelita Bangsa," jawab Raisa dengan nada seprofesional mungkin, meski hatinya bergemuruh.
"Terima kasih. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik... seperti harapan saya sejak dulu," lanjut Hilmi dengan penekanan yang hanya dipahami oleh Raisa.
Tia yang berdiri di samping mereka merasa ada ketegangan yang aneh. "Loh, Pak Hilmi sudah kenal dengan Raisa?"
Hilmi tersenyum lebar ke arah Tia. "Kami teman lama, Bu Tia. Sangat lama. Dan saya percaya, takdir selalu punya cara untuk mempertemukan kembali orang-orang yang seharusnya bersama."
Raisa segera menarik tangan Tia. "Maaf, Pak Hilmi, kami ada jadwal mengajar sekarang. Mari, Tia."
Raisa melangkah cepat menjauh, tidak menoleh sedikit pun. Namun, ia bisa merasakan tatapan Hilmi terus mengikuti punggungnya. Tembok es yang baru saja mulai retak karena kehadiran Fatih semalam, kini seolah dihantam badai lain dari masa lalunya.
Di sisi lain, Hilmi masih berdiri di tempatnya, memperpendek jarak dengan ambisinya. Ia tidak peduli berapa kali ia ditolak.
......................
Langkah kaki Raisa terdengar tegas saat memasuki ruang kelas 12 IPS. Sebagai guru muda yang dikenal dekat dengan murid-muridnya, kehadiran Raisa biasanya disambut riuh, namun pagi ini suasana terasa sedikit berbeda, lebih tenang.
Raisa meletakkan buku jurnal di meja kayu di depan kelas, lalu mulai membuka lembar absensi.
Satu per satu nama dipanggil. Jawaban "Hadir, Bu!" bersahutan memenuhi ruangan. Hingga akhirnya, bibir Raisa menyebutkan satu nama yang membuat suasana mendadak hening.
"Reina Putri?"
Tidak ada jawaban. Raisa mendongak, menatap kursi di barisan tengah yang tampak kosong melompong. Ia mengulangi sekali lagi, namun tetap nihil.
"Ada yang tahu kenapa Reina tidak masuk? Ini sudah hari kedua dia tanpa keterangan," tanya Raisa sambil mengerutkan kening.
Murid-murid saling pandang. Bisik-bisik kecil mulai terdengar, namun tak satu pun dari mereka yang mengangkat tangan. Bahkan sahabat-sahabat dekat Reina hanya bisa menggeleng pelan, menyatakan bahwa pesan singkat mereka pun tidak dibalas sejak dua hari lalu.
Di kursi pojok belakang, Gavin terdiam. Tatapannya tertuju pada meja kosong milik Reina. Pertanyaan Raisa barusan seperti memicu proyektor di kepalanya untuk memutar ulang kejadian dua malam yang lalu.
Gavin ingat betul momen itu. Saat itu dia dan yang lain sedang nongkrong di kafe milik Raisa. Dia melihat Reina duduk sendirian di sudut remang-remang kafe.
"Ada yang salah," gumam Gavin pelan, hampir tak terdengar. Ia teringat betapa pucatnya wajah Reina, saat dirinya dan teman teman nya ingin menghampiri namun gadis itu terburu-buru pergi meninggalkan kafe tanpa menghabiskan minumannya.
" sudah tidak apa, kita lanjutkan saja pelajaran nya ya " putus raisa saat tidak ada yang mengetahui dimana reina
Raisa menutup buku jurnalnya perlahan, bersiap memulai materi geografi hari itu. Namun, sebelum ia sempat menuliskan judul di papan tulis, seorang siswa di barisan depan, Dimas, mengangkat tangannya dengan ragu.
"Bu Raisa, boleh saya tanya sesuatu? Ini di luar materi Geografi" ujar Dimas.
Raisa menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuh, memberikan perhatian penuh. "Silakan, Dimas. Ibu selalu senang kalau kalian punya rasa ingin tahu yang tinggi."
"Begini, Bu. saya pernah mendengar di sebuah media sosial, adab itu lebih tinggi daripada ilmu. Kalau memang begitu, bukankah berarti kita tidak perlu repot-repot mengejar ilmu sampai tinggi? Asal kita sopan dan punya adab, bukankah derajat kita sudah lebih tinggi dari orang pintar?"
Suasana kelas yang tadinya tenang kini berubah menjadi diskusi kecil. Beberapa murid tampak mengangguk setuju dengan logika Dimas, sementara yang lain menunggu jawaban Raisa.
Raisa tertegun sejenak. Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman bangga. Meski ia bukan guru Agama, ia menghargai kedalaman berpikir murid-muridnya yang berani mempertanyakan filosofi hidup.
"Pertanyaan yang luar biasa, Dimas," jawab Raisa tenang sambil berjalan mendekati meja murid-muridnya. "Memang benar, ada sebuah ungkapan dalam literatur klasik di dalam sebuah kitab menjelaskan bahwa al-adabu fauqal 'ilmi, adab berada di atas ilmu."
Raisa mengambil sebuah spidol dan menggambar sketsa sederhana sebuah pohon di papan tulis.
"Namun, kalian harus melihatnya secara utuh. Di dalam kitab yang sama, dijelaskan sebuah perumpamaan yang sangat indah, Al-ilmu kasy-syajārati wal adabu kast-stamarāti yang artinya Ilmu itu ibarat pohonnya, dan adab adalah buahnya."
Ia mengetuk gambar buah di papan tulis tersebut.
"Coba pikirkan. Mungkinkah ada buah tanpa adanya pohon? Tidak, kan? Orang yang beradab dengan sebenar-benarnya adalah hasil dari orang yang memiliki ilmu. Logikanya begini, Jika seseorang benar-benar berilmu, maka ilmu itu akan menuntunnya menjadi rendah hati, tahu cara menghargai orang lain, dan bersikap sopan. Itulah adab."
Raisa menatap murid-muridnya satu per satu dengan hangat.
"jika ada orang yang ilmunya setinggi langit, gelarnya berderet, tapi tidak punya adab dan tidak bisa menghargai batasan orang lain, maka ilmunya itu ibarat pohon yang mandul. Pohon itu ada, tapi tidak bermanfaat karena tidak menghasilkan buah."
Murid-murid di kelas 12 IPS itu tampak terdiam, meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Raisa. Analogi pohon dan buah yang disampaikan Raisa terasa sangat masuk akal bagi mereka.
Dimas mengangguk pelan, raut wajahnya yang tadi penuh keraguan kini berubah menjadi cerah. "Oh, saya paham sekarang, Bu. Jadi kalau kita cuma punya adab tanpa ilmu, kita nggak punya dasar yang kuat. Tapi kalau punya ilmu tanpa adab, kita cuma jadi orang pintar yang tidak berguna. Keduanya harus sejalan ya, Bu."
"Tepat sekali, Dimas," jawab Raisa dengan senyum tulus. "Ilmu itu cahaya, tapi adab adalah cara kita membawa cahaya itu agar tidak menyilaukan atau membakar orang lain."
Beberapa murid lain tampak mencatat kutipan singkat itu di pojok buku mereka.
Suasana kelas yang tadinya sempat tegang karena absennya Reina kini terasa lebih hangat dan penuh semangat belajar.
Penjelasan Raisa barusan seolah menjadi oase yang menenangkan pikiran mereka.
"Baiklah, karena kalian sudah paham, mari kita simpan filosofi indah ini di dalam hati, dan kita mulai terapkan ilmu kita hari ini pada materi Geografi," ujar Raisa sambil bertepuk tangan pelan untuk mengembalikan fokus siswa.
Ia berjalan kembali ke papan tulis, menghapus sketsa pohon tadi, dan menuliskan judul besar: "Pola Keruangan Desa dan Kota".
"Buka buku paket kalian halaman 112. Kita akan membedah bagaimana struktur sebuah wilayah terbentuk. Ingat, seperti adab dan ilmu, desa dan kota pun memiliki keterkaitan yang tidak bisa dipisahkan..."
Raisa mulai menjelaskan dengan suara yang stabil dan profesional.