NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tidak DiInginkan

Menantu Yang Tidak DiInginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Selingkuh
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Thida_Rak

Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.

Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.

Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Hari itu, Dian tidak membuat pesanan khusus untuk pelanggan. Ia hanya menyiapkan stok jika sewaktu-waktu ada yang memesan. Setelah memastikan semuanya beres, Dian menidurkan Naya.

Sejak pagi, mertuanya entah pergi ke mana. Akhir-akhir ini, Dian memang lebih banyak diam dan memilih menjaga jarak. Ia enggan terlalu sering berinteraksi, bukan karena benci, melainkan demi menjaga hatinya sendiri. Meski begitu, semua kewajiban rumah tetap ia kerjakan, walau sering kali masakannya tak disentuh oleh sang mertua.

Entah sejak kapan, Andi memutuskan memberikan seluruh gajinya kepada ibunya. Hal itu sempat memicu pertengkaran hebat di antara mereka lewat telepon. Andi menuduh Dian boros, tanpa mau mendengar penjelasan.

Padahal Dian tidak sebodoh itu. Jika mertuanya membeli bahan makanan, maka Dian yang memasaknya. Jika tidak ada, ia tak pernah memaksa meminta. Selama masih ada uang dari hasil jualannya, Dian memilih mencukupi kebutuhan dirinya dan Naya sendiri—membeli susu, makanan, dan keperluan harian lainnya.

Ia tahu, ia harus lebih sabar. Sudah hampir satu bulan lamanya ia tak bertemu dengan suaminya. Rindu itu ia simpan sendiri, demi tetap berdiri kuat sebagai seorang ibu.

Sore hari, setelah selesai memandikan Naya, Dian melipat pakaian sambil menemani putrinya bermain. Suasana terasa tenang hingga tiba-tiba Naya berseru pelan,

“Ayah… ayah…”

Dian terhenti sejenak. Ia menatap Naya dengan senyum tipis, lalu berkata lembut,

“Naya kangen ayah ya, sayang? Sabar ya, ayah lagi kerja, Nak.”

Meski ucapannya terdengar tenang, hati Dian bergetar. Rindu itu bukan hanya milik Naya, tapi juga miliknya.

Menjelang malam, sebelum tidur, Dian menyempatkan diri mengirim pesan kepada suaminya.

“Ayah, kalau ada waktu, telepon kami ya. Aku sama Naya kangen.”

Pesan itu ia kirim dengan harapan sederhana—sekadar ingin mendengar suara suaminya, meski hanya sebentar.

Keesokan harinya, saat Dian sedang sibuk di dapur, terdengar suara ketukan di pintu. Ternyata yang datang adalah tetangganya, Bu Ida.

“Dian, kamu masih jualan cilok, kan? Ibu mau dong. Ada stok nggak? Anak-anak ibu lagi main, cemilan di rumah tinggal sedikit, ibu malas keluar jauh,” ucap Bu Ida.

“Sebentar ya, Bu, Dian cek dulu,” jawab Dian sopan.

“Kalau ada, tiga bungkus ya,” tambah Bu Ida.

Dian segera ke dapur untuk mengecek stok. Ternyata ciloknya tinggal dua bungkus, karena dua bungkus lainnya sudah dipesan dan akan diambil nanti.

Tanpa berpikir panjang, Dian mengambil dua bungkus cilok dan menambahkan dua bungkus cireng sebagai pelengkap.

Ia kembali ke depan.

“Ibu, ini adanya dua bungkus cilok. Sisanya cireng ya, Bu,” kata Dian lembut.

“Ya nggak apa-apa. Berapa semuanya?” tanya Bu Ida.

“Enam puluh ribu aja, Bu,” jawab Dian.

Bu Ida menatap bungkusan di tangannya dengan heran.

“Lho, ini kan jadi empat bungkus?”

“Itu bonus, Bu,” ujar Dian tersenyum.

“Ah, kamu ini, Dian. Ya sudah, terima kasih ya,” kata Bu Ida sambil menyerahkan tiga lembar uang dua puluh ribuan.

Dian menerimanya dengan senyum tulus, bersyukur rezeki kecil hari itu kembali menghampiri.

Baru saja Dian melangkah masuk ke dalam rumah, Bu Minah langsung mengomel.

“Haduh, memang kamu ini ya. Untung nggak seberapa, sudah sok-sokan kasih bonus,” ujar Bu Minah ketus sambil duduk di ruang tamu, bersiap hendak pergi.

“Iya, Bu. Nggak apa-apa, sesekali,” jawab Dian singkat.

“Halah, kamu ini memang terlalu baik,” lanjut Bu Minah. “Kamu jaga rumah ya, Dian. Ibu mau ke Batam tiga hari.”

Sambil berkata begitu, Bu Minah menyerahkan uang tiga ratus ribu rupiah ke tangan Dian.

“Ini buat belanja stok satu minggu.”

Dian menerima uang itu dengan wajah datar. Ia tahu betul jumlah tersebut tak akan cukup untuk kebutuhan dapur, gas, token listrik, dan keperluan lain yang hampir bersamaan habis. Namun, sebisa mungkin ia akan mengelolanya.

Saat hendak melangkah pergi, Bu Minah kembali berpesan,

“Awas ya, kamu boros, Dian.”

Dian hanya mengangguk pelan, menyimpan semua keluh kesahnya dalam hati.

Setelah mertuanya pergi, Dian menyimpan uang itu ke dalam dompetnya. Ia berniat membelanjakannya seperlunya saja dan mengatur sehemat mungkin.

Untuk kebutuhan makan dirinya dan Naya, Dian memilih mengandalkan uang hasil jualannya sendiri. Baginya, yang terpenting adalah memastikan Naya tetap tercukupi, meski ia harus menahan keinginan dan kelelahan sendirian.

Setelah menjemur pakaian, Dian memilih bersantai di ruang tengah. Sebelumnya, ia sudah meminta toko di depan gang untuk mengantarkan gas dan mengisi token listrik.

“Cukup lah token ini sampai ibu datang,” gumam Dian pelan. Di sampingnya, Naya sedang asyik bermain. Dian memperhatikan putrinya dengan senyum hangat. Meski lelah, ia tahu harus tetap terlihat bahagia di depan Naya.

Tak lama kemudian, ponsel Dian bergetar. Ternyata ibunya yang menelpon, berniat datang ke Tanjungpinang dan menginap semalam. Mendengar kabar itu, hati Dian seketika dipenuhi kebahagiaan.

Kebetulan di dalam kulkas masih ada beberapa bahan makanan. Nanti masak itu saja, gulai ikan juga cukup, pikir Dian sambil menggenggam ponselnya.

Ia tersenyum kecil, membayangkan bisa memasak dan makan bersama ibunya—sesuatu yang sudah lama ia rindukan.

Pukul dua siang, Dian sudah selesai memasak dan merapikan rumah. Naya pun tengah terlelap tidur siang, membuat suasana rumah terasa lebih tenang dan sunyi.

Sore harinya, ibu Dian akhirnya tiba. Ia diantar oleh tetangga yang kebetulan juga hendak mengunjungi anaknya.

Begitu bertemu, Bu Eni dan Dian langsung berpelukan, melepas rindu yang telah lama tertahan. Kebahagiaan itu pun bertambah saat Naya ikut mendekat.

“Nenek,” sapa Naya sambil tersenyum polos.

“Iya, cucu nenek,” jawab Bu Eni lembut sambil menggendong Naya dengan penuh kasih.

Dian kemudian mempersilakan ibunya duduk terlebih dahulu, sementara ia masuk ke dapur untuk membuatkan teh.

Setelah selesai, Dian kembali ke ruang depan dan mendapati pemandangan yang jarang—bahkan tak pernah—ia lihat sebelumnya. Bu Eni tampak mengajak Naya bermain dengan penuh perhatian, seperti yang selalu ia lakukan sejak dulu.

Melihat itu, hati Dian terasa hangat. Ada rasa haru menyelinap, karena Naya akhirnya merasakan kasih sayang yang tulus tanpa syarat—sesuatu yang tak selalu ia dapatkan dari rumah ini.

Bu Eni menatap putrinya dengan saksama. Pakaian Dian tampak lusuh, jilbabnya sudah usang. Wajah yang dulu manis kini terlihat lelah dan kurang terawat. Hati Bu Eni langsung terenyuh.

Ia lalu meraih tasnya dan mengeluarkan beberapa bingkisan—baju dan jilbab untuk Dian, serta pakaian kecil untuk Naya.

Dian terkejut sekaligus terharu.

“Ibu… kok repot-repot segala,” ucapnya lirih.

Bu Eni tersenyum sambil menggenggam tangan putrinya.

“Apa yang repot, Nak? Ini untukmu dan cucu ibu,” jawabnya penuh kasih.

Mereka pun berbincang panjang, saling melepas rindu yang selama ini terpendam, ditemani tawa kecil dan cerita-cerita sederhana yang menguatkan hati.

Usai menunaikan salat Isya, Dian dan Bu Eni menikmati makan malam bersama. Kebetulan, Dian memasak menu kesukaan ibunya—gulai ikan—yang membuat suasana terasa hangat dan akrab.

Sementara itu, Naya sudah terlelap sejak selepas Magrib, kelelahan setelah seharian bermain dan bercengkerama dengan neneknya. Rumah pun terasa lebih tenang malam itu.

Usai makan malam, mereka masuk ke kamar. Dian sibuk membelai Naya yang sudah tertidur, hingga keheningan dipecah oleh suara Bu Eni.

“Nak, ibu berencana menjual tanah kita,” ucap Bu Eni pelan. “Ibu rasa sudah saatnya. Kamu juga sudah berkeluarga. Nanti uangnya bisa kamu pakai untuk beli rumah.”

Mendengar itu, Dian langsung menggeleng.

“Jangan, Bu. Itu satu-satunya harta yang kita punya. Dian nggak sanggup menerimanya,” jawabnya lirih.

Bu Eni menggenggam tangan putrinya erat.

“Ibu tahu kamu nggak bahagia tinggal bersama mertuamu, Nak.”

Sekat yang selama ini Dian tahan runtuh seketika. Ia menangis di hadapan ibunya, menceritakan semuanya—hubungannya dengan Andi yang tak lagi baik-baik saja, sikap mertuanya, hingga rencana pernikahan adik ipar yang sama sekali tak melibatkan dirinya.

Bu Eni ikut terisak, namun berusaha menguatkan putri semata wayangnya.

“Dianawati, anakku… ini memang jalan yang dulu kamu pilih bersama Andi. Bertengkar dalam rumah tangga itu wajar. Dan kamu tak bisa memaksa mertua untuk menyukaimu. Ibu hanya berpesan satu hal—tetap hormati mertuamu, bagaimanapun dia ibu dari suamimu.”

Dian memeluk ibunya erat. Ia tahu, semua ini adalah konsekuensi dari pilihan hidup yang pernah ia ambil.

“Ibu tetap akan menjual tanah itu,” lanjut Bu Eni lembut. “Uangnya kamu tabung saja. Buat rekening baru. Gunakan dengan bijak.”

Dian mengangguk pelan, air matanya jatuh tanpa suara, sementara hatinya perlahan belajar untuk lebih kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!