Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Di dalam kamar yang luas dan sunyi, Surya berdiri mematung di depan cermin besar. Ia menatap pantulan dirinya, seorang pria yang oleh dunia luar dianggap sebagai sosok ayah yang matang, bijaksana, dan telah selesai dengan masa mudanya. Namun, di balik setelan jas mahal itu, tersimpan rahasia yang ia pikul sendirian selama belasan tahun.
Ia menyentuh permukaan cermin, menatap garis-garis halus di wajahnya yang sebenarnya masih berada di usia produktif, usia yang seharusnya ia habiskan untuk mengejar mimpi, berpetualang, atau jatuh cinta tanpa beban. Namun, semua itu ia tukar dengan sebuah tanggung jawab besar, membesarkan Dafa.
Tanpa sengaja, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
"Maafkan paman, Dafa..." bisiknya lirih.
Surya teringat saat ia berusia tujuh belas tahun dan dafa berusia dua tahun, saat teman-teman sebayanya sibuk dengan pesta dan bersenang senang, ia justru sibuk belajar cara mengganti popok dan menenangkan bayi yang menangis di tengah malam. Ia sengaja mendewasakan penampilannya, mengubah gaya bicaranya, dan membangun tembok formalitas agar tidak ada yang meragukan statusnya sebagai "Ayah". Ia rela dianggap lebih tua dari usia aslinya demi memberikan perlindungan dan identitas yang stabil bagi keponakannya.
Ia menangis bukan karena menyesal telah membesarkan Dafa, melainkan karena rasa lelah yang luar biasa setelah sekian lama berpura-pura menjadi sosok yang bukan dirinya. Ia merasa terjebak dalam peran yang ia buat sendiri.
Tanpa ia sadari, Dafa masih berdiri di luar kamar, tangannya yang hendak mengetuk pintu tertahan di udara. Dafa mendengar isak tangis yang sangat pelan itu, suara yang belum pernah ia dengar dari pria yang selama ini menjadi pilar kekuatannya.
"Ayah..." batin Dafa dengan mata berkaca-kaca. Ia memutuskan untuk menarik diri, memberikan ruang bagi pria itu untuk melepaskan beban batinnya.
......................
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela ruang makan, menciptakan suasana yang hangat di kediaman Pak Surya. Di atas meja, sudah tersaji nasi goreng aromatik dan telur mata sapi, menu sarapan favorit Dafa.
Pak Surya tampak berbeda dari biasanya. Jika biasanya ia terlihat kaku dengan dahi yang berkerut memikirkan urusan yayasan, pagi ini ia tampak lebih segar. Ia bahkan bersenandung kecil sambil menyesap kopi hitamnya. Seolah-olah, air mata yang tumpah di depan cermin semalam telah membasuh sebagian beban berat yang selama ini ia pikul sendirian.
"Ayo dimakan, Daf. Nanti nasinya dingin," ujar Pak Surya dengan nada ceria sambil menggeser piring ke arah putra angkatnya itu.
Dafa memegang sendoknya, namun matanya tidak lepas dari wajah pria di hadapannya.
Meski Pak Surya berusaha tampil ceria, Dafa yang sempat melihat ayahnya menangis semalam tidak bisa begitu saja merasa tenang. Dalam pikirannya, masih ada tanda tanya besar, Kenapa Ayah menangis sedalam itu?
"Ayah... lagi senang banget ya?" tanya Dafa hati-hati, sambil menyuap nasi gorengnya perlahan.
Pak Surya tersenyum lebar, senyum yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih muda dari usia yang sering dikira orang-orang.
"Hanya merasa lebih ringan saja, Daf. Mungkin karena cuacanya bagus. Kenapa? Ayah kelihatan aneh ya?"
Dafa meletakkan sendoknya, lalu menatap Pak Surya dengan sorot mata yang tulus dan sedikit khawatir. "Enggak aneh, cuma... Ayah beneran nggak apa-apa? Kalau ada masalah, atau kalau Ayah ngerasa capek sama urusan sekolah, Ayah bisa cerita sama Dafa. Dafa udah gede, Yah. Dafa pengen bisa jadi tempat Ayah berbagi juga, bukan cuma Dafa yang terus-terusan jadi beban Ayah."
Mendengar kata-kata itu, gerakan tangan Pak Surya yang hendak mengambil tisu terhenti. Ia tersentuh melihat kedewasaan Dafa. Ia ingin sekali memeluk Dafa dan mengatakan bahwa dia bukanlah beban, melainkan alasan mengapa ia bertahan selama belasan tahun ini.
"Ayah baik-baik saja, sayang. Justru melihat kamu tumbuh jadi anak yang peduli seperti ini, semua rasa capek Ayah hilang," jawab Pak Surya dengan suara yang sedikit bergetar karena haru. "Terima kasih sudah perhatian, ya."
Dafa mengangguk, meski hatinya masih menyimpan rasa penasaran. Ia bertekad untuk lebih menjaga perasaan ayahnya mulai sekarang.
"Ya sudah, ayo berangkat. Nanti kamu telat, bisa-bisa kena tegur Bu Raisa lagi," goda Pak Surya sambil bangkit dari kursi, kembali ke mode pria yang bersemangat namun kali ini dengan energi yang lebih tulus.
Dafa terkekeh. "Siap, Bos! Tapi kalau Bu Raisa marahin Dafa, Ayah harus bantuin ya?"
"Enak saja, urusan nilai tetap profesional!" balas Pak Surya sambil tertawa kecil, melangkah menuju mobil dengan hati yang jauh lebih tenang.
......................
Suasana di SMA Pelita Bangsa pagi itu terasa sedikit lebih berwarna dengan kehadiran Bu Tia. Penampilannya yang rapi dengan hijab berwarna pastel dan senyum yang selalu mengembang membuat banyak siswa merasa nyaman, termasuk para guru.
" eh gue denger ada guru baru "
" guru nya cowok apa cewe ? "
" gue denger guru nya cantik "
Surya dan dafa saling pandang karena saat mereka memasuki kawasan sekolah sudah banyak siswa yang membicarakan tentang guru baru
" ada guru baru yah ? " tanya dafa penasaran
"iya, tapi ayah belum memeriksa data guru itu "
......................
Surya berdiri di koridor saat Tia berjalan menuju ruang guru.
Deg
Jantung Surya berdegup kencang, ia ingin sekali menyapa, menanyakan kabar, atau sekadar berterima kasih kembali atas bantuan Tia di masa lalu. Namun, saat tatapan mereka bertemu, Surya membeku. Mata Tia menatapnya dengan sopan, namun kosong, seperti menatap orang asing yang baru pertama kali ditemuinya.
"Selamat pagi, Pak Surya. Saya Tia, guru BK baru. Mohon bimbingannya," ucap Tia sambil mengangguk hormat.
Surya tertegun, tenggorokannya terasa tercekat. Rasa sesak merayap di dadanya. "Ah, iya... selamat datang, Bu Tia. Semoga betah di sini," jawab Surya sebisanya, berusaha tetap profesional meski hatinya terasa perih.
Di sisi lain, Dafa juga merasakan déjà vu yang aneh saat melihat Bu Tia dari kejauhan. Wajah itu terasa sangat akrab, namun memorinya terlalu samar.
Dafa mendekati Gavin dan Rian di kantin. "Kalian ngerasa nggak sih, Bu Tia itu kayak... nggak asing?"
"Mungkin karena dia ramah, Daf. Tipe-tipe guru yang bikin kita berasa punya kakak sendiri," sahut Rian santai.
Gavin memperhatikan ekspresi Dafa yang bingung. "Lo kayak lagi ngelihat orang hilang, Daf. Ada apa?"
"Nggak tahu, Vin. Perasaan gue nggak enak aja. Kayak ada bagian puzzle yang hilang pas gue ngeliat dia," gumam Dafa sambil menatap ke arah ruang guru.
......................
Di ruang guru, Raisa memperhatikan interaksi antara Surya dan Tia. Sebagai orang yang tajam, Raisa menyadari ada ketegangan yang tidak biasa pada diri Surya. Surya yang biasanya tenang dan berwibawa, tampak sering kehilangan fokus setiap kali Tia berbicara.
Sementara itu, Tia adalah pendengar yang hebat di ruang BK, namun setiap kali ia sendirian, ia memijat pelipisnya, berusaha keras memanggil kembali potongan gambar yang muncul di mimpinya, gambar seorang pria muda yang menggendong bayi di sebuah rumah kecil.