Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Pengkhianat
Elara membidik. Di tengah guncangan hebat, instingnya bekerja. Dor! Dor!
Peluru pertama meleset, tetapi peluru kedua menghantam sistem suspensi motor pengejar. Motor itu seketika kehilangan keseimbangan, terpelanting dan meledak saat menghantam truk sampah yang sedang melintas. Namun, dua pengejar lainnya justru semakin beringas. Mereka mulai melemparkan granat magnetik yang menempel di mobil-mobil di sekitar Zian.
"Mereka gila! Mereka akan menghancurkan seluruh blok ini!" teriak Elara.
Zian membanting motor ke dalam gang sempit yang hanya cukup untuk satu kendaraan. Dinding bata di sisi kiri dan kanan mereka hanya berjarak beberapa sentimeter dari bahu Elara. Pengejar di belakang tetap menempel. Salah satu dari mereka mengeluarkan pedang pendek tactical—senjata khas unit pembunuh Tristan.
Zian tiba-tiba menginjak rem belakang dengan keras, membuat motor itu berputar 180 derajat dalam posisi miring (drift). Elara yang sudah paham maksud Zian, melepaskan pegangannya dan meluncur di aspal, menggunakan momentum untuk menendang kaki salah satu motor pengejar yang lewat di depannya.
Pengejar itu tersungkur, dan Zian segera menabraknya dengan ban depan motor, sebelum kembali memacu gas ke arah berlawanan.
"Satu lagi tersisa!" Elara melompat kembali ke atas motor saat Zian melambat sedetik untuk menjemputnya.
Namun, pengejar terakhir itu bukan sembarang prajurit. Dia adalah instruktur tempur Black-Ops. Dia tidak lagi mengejar dari belakang, melainkan mengambil jalur atas—melalui atap-atap toko di gang tersebut. Tiba-tiba, dia melompat dari ketinggian tiga meter, menjatuhkan dirinya tepat di atas Zian dan Elara.
Motor itu oleng dan terjatuh. Elara terlempar menghantam tumpukan kotak kayu, sementara Zian bergulat di tanah dengan si pengejar.
Zian melepaskan pukulan beruntun ke wajah pria itu, tetapi lawannya menggunakan teknik gulat yang sangat efisien. Elara bangkit dengan kepala pening, melihat pria itu sudah menghunuskan pisaunya ke arah leher Zian.
Tanpa ragu, Elara berlari dan melakukan tendangan terbang (dropkick) tepat ke rusuk si pembunuh. Pria itu terlempar, memberi Zian waktu untuk mengambil pisaunya sendiri. Pertarungan pisau yang sangat cepat pecah. Bunyi dentingan logam yang beradu terdengar tajam di kegelapan gang.
Zian bergerak dengan kebrutalan seorang komando Phoenix, sementara Elara menutup ruang gerak musuh dengan serangan-serangan pendek yang mematikan. Dalam satu koordinasi yang sempurna, Elara menangkap lengan musuh, memelintirnya, dan Zian menghujamkan pisaunya ke bagian bawah rahang si pembunuh.
Pria itu tumbang. Hening kembali menguasai gang itu, hanya menyisakan suara deru mesin motor yang masih menyala dalam posisi terjatuh.
Zian terengah-engah, menatap Elara. Wajahnya dipenuhi goresan dan keringat, tetapi matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam. "Kau... kau menyelamatkanku lagi."
Elara mendekat, menyeka darah di dahi Zian dengan ujung jarinya. "Jangan terbiasa dengan itu, Kolonel. Aku tidak ingin kau jadi lemah karena mengandalkanku."
Zian tertawa kecil, tawa yang terdengar jujur di tengah situasi mematikan ini. "Lemah? Memilikimu di sisiku adalah hal terkuat yang pernah kurasakan dalam sepuluh tahun terakhir."
Zian menarik Elara mendekat, memeluknya singkat namun erat. Elara bisa merasakan jantung Zian yang berdegup kencang melawan dadanya. Ada sesuatu yang tak terucapkan di sana—sebuah janji bahwa mereka akan menyelesaikan ini bersama, atau mati bersama.
Mereka meninggalkan gang itu dan menuju titik pertemuan baru yang sudah diatur melalui sinyal enkripsi. Namun, di layar tablet Elara, sebuah notifikasi mendesak muncul.
"Zian, lihat ini," Elara menunjukkan layar tabletnya.
Isinya adalah siaran berita nasional. Foto wajah Elara dan Zian terpampang besar dengan tulisan: TERORIS NEGARA. Dan yang lebih mengejutkan, Gedeon merilis video palsu yang memperlihatkan Elara dan Zian seolah-olah sedang menembaki warga sipil di pelabuhan tadi malam.
"Dia menggunakan teknologi AI untuk memalsukan wajah kita," desis Zian. "Dia ingin memastikan tidak ada satu pun tempat di negara ini yang aman bagi kita. Rakyat akan membenci kita, polisi akan memburu kita, dan tentara akan menembak kita saat melihat."
"Tapi kita punya data aslinya, Zian," sahut Elara. "Jika kita bisa menyiarkan ini ke satelit utama, kebenaran akan terungkap."
"Masalahnya adalah satelit itu hanya bisa diakses dari menara penyiaran pusat yang dijaga oleh... Tristan," Zian mengepalkan tangannya.
Tiba-tiba, ponsel Elara bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang sangat ia kenal. Ayahnya.
Elara ragu sejenak, lalu mengangkatnya. "Halo? Ayah?"
"Elara..." suara ayahnya terdengar gemetar. "Ada orang-orang di sini. Mereka... mereka mencarimu. Mereka bilang kau melakukan hal buruk. Elara, katakan padaku itu tidak benar."
Hati Elara serasa diremas. "Ayah, dengarkan aku. Apapun yang kau dengar di berita, itu bohong. Jangan percaya mereka! Ayah, pergi dari sana sekarang!"
Terdengar suara teriakan dan bunyi benda pecah di ujung telepon, lalu suara yang sangat dikenal Elara mengambil alih.
"Halo, Elara sayang," suara Tristan terdengar tenang dan licik. "Ayahmu adalah orang yang sangat disiplin. Dia tidak mau memberitahuku di mana kau menyembunyikan data itu. Tapi aku yakin, melihat ayahnya kehilangan satu atau dua jari akan membuatnya lebih kooperatif. Kau punya waktu dua jam untuk datang ke kompleks latihan lama kita di pinggiran utara. Sendiri. Atau kau akan menjemput mayatnya."
Sambungan terputus.
Elara jatuh terduduk di tumpukan beton. Air mata yang selama ini ia tahan sebagai prajurit elit mulai mengalir. "Dia mengambil ayahku, Zian. Tristan mengambil ayahku."
Zian berlutut di depan Elara, memegang kedua bahunya dengan kuat. "Dengarkan aku, Elara. Ini adalah jebakan. Tristan ingin kau emosional dan melakukan kesalahan. Dia tahu kau adalah titik lemahku, dan ayahmu adalah titik lemahmu."
"Aku tidak peduli itu jebakan atau bukan! Dia satu-satunya keluargaku!" teriak Elara dengan penuh emosi.
Zian menatap mata Elara dalam-dalam. "Kita akan menyelamatkannya. Tapi kita tidak akan pergi sendiri. Kita akan pergi sebagai Unit Phoenix. Kita akan membawa seluruh kemarahan kita ke pintu depan Tristan."
Zian berdiri dan mengeluarkan radio frekuensi tinggi. "Kael! Hubungi semua sisa anggota Phoenix yang masih loyal. Katakan pada mereka: Waktunya untuk berburu pengkhianat yang sebenarnya. Target kita adalah Tristan. Operasi: Redemption."
Elara menghapus air matanya, berdiri dengan tatapan yang kini lebih dingin dan lebih tajam dari sebelumnya. Jika sebelumnya dia bertarung untuk tugas, sekarang dia bertarung untuk darah.
"Tristan tidak tahu apa yang sudah dia mulai," bisik Elara. "Dia ingin Tentara Seksi? Aku akan memberinya Tentara dari Neraka."
Gerimis berubah menjadi hujan deras yang membasuh debu di kompleks latihan militer "Sektor 9". Tempat ini adalah fasilitas tua yang ditinggalkan, dikelilingi oleh pagar kawat berduri dan menara pengawas yang keropos. Namun, di bawah permukaan, Tristan telah menyulapnya menjadi benteng sementara bagi unit Black-Ops miliknya.