NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:457
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Sakit

🦋

Pagi itu sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Suara siswa-siswi SMP Damara yang bercampur jadi satu menciptakan hiruk-pikuk khas remaja, tawa, bisik-bisik, langkah kaki tergesa-gesa. Tapi bagi Nadira, semua suara itu hanya jadi latar belakang yang kosong.

Ia baru duduk di bangkunya saat Izarra tiba-tiba mendekat dan menjatuhkan tasnya di kursi sebelah.

"Dira," bisiknya sambil bersandar ke meja. "Aku mau bilang sesuatu."

Nadira, yang sedang mengeluarkan buku PR, mengangkat wajah. "Apa?"

Izarra menatap kanan-kiri, memastikan tidak ada yang mendengarkan. Nadira langsung merasa ada yang aneh dari cara Zarra bicara. Terlalu hati-hati. Terlalu pelan.

"Kamu tahu Miara, kan?"

"Tahu…" Nadira mengangguk pelan.

Izarra memutar matanya, lalu mencondongkan badan. "Kabarnya sih Keenan lagi deket sama dia."

Nadira membeku.

Tangannya refleks menghentikan gerakan membuka buku. Satu nama itu saja sudah cukup membuat dadanya mengencang; dan kini mendengar nama Keenan bersanding dengan Miara… rasanya seperti sesuatu menusuk dari dalam.

Izarra buru-buru menambahkan, "Tapi nih ya, kalau dilihat-lihat… Keenan kayak cuma main-main doang sama Miara."

"Kamu yakin, Zar?" suara Nadira terdengar kecil—hampir tak terdengar.

Izarra menatap sahabatnya itu dengan ekspresi yakin, bukan sekadar sok tahu. "Iya, Dira. Serius. Coba deh kamu perhatiin tatapan Keenan. Cara dia natap kamu itu beda banget sama natap Miara."

Nadira terdiam.

Ia mencoba tersenyum tapi gagal. Ada rasa perih yang mengalir pelan seperti arus air di sungai—tenang, tapi membuat sesak. Keenan. Nama itu sudah cukup untuk membuat kedua pipinya memanas dan jantungnya berdebar tidak karuan. Dan sekarang? Ia sedang dekat dengan orang lain?

Padahal Nadira tidak pernah benar-benar berharap banyak. Ia tahu dirinya siapa. Ia tahu posisinya di sekolah, bukan yang paling cantik, bukan yang paling di-notice, bukan yang punya banyak teman lelaki. Tapi dia juga tidak bisa memaksa hatinya berhenti menyukai. Suka itu datang pelan, diam, dan menusuk sekarang.

"Dira…" Izarra memanggil pelan. "Kamu nggak apa-apa kan?"

Nadira menelan ludah. "Aku… nggak tahu."

Sepanjang pelajaran pertama, Nadira tidak fokus sama sekali. Setiap suara guru hanya terdengar seperti gumaman jauh. Pandangannya sesekali melayang ke arah Keenan di ujung kelas. Dan benar—Izarra tidak salah.

Tatapan Keenan…

Ada sesuatu di sana setiap kali mereka tak sengaja saling menatap. Ada kelembutan. Ada perhatian. Ada sesuatu yang membuat Nadira bertanya-tanya.

Tapi begitu Miara lewat di dekat Keenan, ia tertawa kecil sambil memukul pelan lengan cowok itu. Dan Keenan membalasnya dengan senyum.

Senyum yang seharusnya tidak menyakitkan. Tapi entah kenapa… menusuk.

Nadira mengalihkan pandangannya. Lembar catatannya buram oleh air mata yang tertahan.

Dia tidak punya hak untuk cemburu. Dia bahkan tidak pernah benar-benar berbicara dekat dengan Keenan. Dia hanya menyukai Keenan… dalam diam.

Dan ternyata diam itu tetap bisa menyakitkan.

***

Istirahat pertama, Izarra mengajak Nadira duduk di bangku kecil dekat taman belakang sekolah. Izarra tahu Nadira butuh udara.

"Dira, kamu nggak harus nunggu Keenan," kata Izarra tiba-tiba.

Nadira menatapnya sedih. "Aku nggak nunggu… cuma… aku sedih aja."

"Aku tahu." Izarra mengusap bahunya. "Makanya, coba deh buka hati. Banyak kok cowok yang bisa lebih sayang sama kamu daripada Keenan yang nggak jelas itu."

Nadira menggeleng cepat. "Ra, aku nggak mau pacaran. Serius. Aku nggak nyaman."

Izarra cemberut. "Nadira… kamu itu cantik tau. Kamu cuma terlalu rendah diri. Kamu layak disayang, ngerti?"

Nadira menatap batu kecil di depan kakinya. "Mungkin aku belum layak aja."

Izarra memutar bola matanya. "Ya Tuhan… makanya nih ya, aku cariin cowok buat kamu. Siapa tau kamu cocok."

"Jangan!" Nadira langsung panik. "Ra, aku nggak mau."

Tapi Izarra tidak menyerah.

Setiap kali Nadira sedih soal Keenan, ia selalu menawarkan cowok baru. Dari kakak kelas, teman kelas sebelah, sampai anak ekskul pramuka. Tapi Nadira selalu menolak. Selalu.

Hatinya… belum bisa. Atau mungkin tidak mau.

Sampai suatu hari, Izarra datang membawa nama yang berbeda.

"Dira, aku kenalin kamu ke sepupuku, ya? Namanya Jaka."

Nadira mengerjap. "Sepupu kamu?"

"Iya. Orangnya baik. Sopan. Lucu juga. Kamu pasti suka."

"Ra..."

"Nggak ada 'ra' ra'an!" Izarra langsung menarik tangan Nadira. "Ayo kenalan dulu aja. Kalo nggak cocok tinggal bilang."

Dan begitulah… semuanya dimulai.

Jaka rupanya anak kelas lain di sekolah yang sama, tapi Nadira tidak pernah notice sebelumnya. Wajahnya ramah. Nada bicaranya lembut. Dan ia terlihat serius sejak awal.

Dua minggu PDKT berjalan seperti angin lewat. Nadira menanggapi secukupnya. Tidak pernah memberi harapan. Tidak pernah memberi janji. Tapi Jaka tetap bertahan.

Ia selalu menjemput Nadira pulang bareng dari kelas tambahan. Selalu memastikan Nadira sudah makan. Selalu mengingatkan Nadira belajar tapi jangan terlalu keras. Selalu memberi ruang tanpa memaksa.

Dan itulah yang membuat Nadira justru merasa semakin bersalah.

Ia tahu dirinya tidak suka. Ia tahu hatinya masih ada di tempat yang lain, di tatapan Keenan yang samar-samar itu. Ia tahu ia hanya menyeret Jaka ke dalam cerita yang tidak seharusnya.

Tapi ketika Jaka akhirnya mengungkapkan perasaannya, Nadira tidak punya keberanian untuk menolak lagi.

Di depan gerbang sekolah, sore hari yang pelan, Jaka berkata pelan,

"Dira… boleh aku jadi pacarmu?"

Nadira menunduk. Ada keheningan panjang. Angin sore mengibaskan rambutnya yang mulai kusut karena sering begadang belajar. Jaka menunggu, mata penuh harap.

Nadira menghirup napas panjang, lalu berkata jujur, jujur yang menyakitkan,

"Tapi… maaf Jaka. Aku mencintai cowok lain."

Jaka hanya terdiam. Ia tidak menghindar. Tidak marah. Tidak mundur. Ia hanya memandang Nadira dengan mata yang penuh keyakinan, bukan patah hati.

"Gak masalah," jawabnya pelan, namun mantap. "Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku."

Nadira membeku. Ia tidak pernah mendengar kalimat seperti itu seumur hidupnya. Tidak pernah ada yang memperjuangkannya seperti itu. Tidak pernah ada yang memilih bertahan walau sudah diberi tahu bahwa ada orang lain di hati Nadira.

"Jaka… aku nggak mau nyakitin kamu."

"Kalau kamu nerima aku aja udah cukup buat aku," kata Jaka dengan senyum lembut. "Soal perasaan… biar aku yang berusaha. Kamu nggak perlu mikirin apa-apa dulu."

Nadira menunduk lagi. Hatinya campur aduk. Ia tidak bahagia. Tapi ia juga tidak bisa mengabaikan ketulusan seseorang yang benar-benar ingin menjaga dirinya.

"Aku tidak janji bisa berubah," ucap Nadira dengan suara getir.

"Aku nggak minta kamu berubah," Jaka membalas. "Aku cuma minta kesempatan."

Kesempatan…

Sesuatu yang selama ini tidak pernah Nadira dapatkan dari siapa pun. Dari keluarga kakek. Dari saudara-saudaranya. Dari siapa pun selain ayah dan Laura.

Jaka memandang Nadira seakan ia berharga. Seakan ia layak diperjuangkan. Seakan ia bukan sekadar pilihan terakhir atau anak tiri yang tak diinginkan.

Dan untuk pertama kalinya, Nadira merasa dilihat. Walau dalam hatinya, nama Keenan masih bergema pelan dan pahit.

***

Malam itu, Nadira pulang dengan langkah berat. Di rumah, ia duduk sendiri di kamar kecilnya, memandangi ponselnya yang kosong notifikasi. Tidak ada chat dari Keenan, karena mereka memang tidak pernah sedekat itu.

Tapi notifikasi dari Jaka masuk. Satu pesan pendek.

"Hati-hati di rumah ya, Dira."

Nadira memandangi layar itu lama. Ia tidak tahu apakah harus tersenyum atau menangis. Ia hanya tahu satu hal: hatinya sedang belajar…

Belajar bahwa disakiti oleh seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milikmu itu menyakitkan,

dan dicintai oleh seseorang yang tidak kamu cintai kembali itu membingungkan.

Dan di tengah kebingungan itu, Nadira memilih bertahan.

Meskipun perih demi perih terus menumpuk. Meskipun hatinya belum pulih. Meskipun nama Keenan masih menancap kuat dan menimbulkan rasa sakit yang sulit dijelaskan.

Tapi ia menerima Jaka. Bukan karena cinta. Bukan karena siap. Tapi karena ia… tidak tahu cara lain untuk berhenti merasa sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!