Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nama Lain
Laura merasa tenang setelah menemukan nanny yang cocok untuk Larissa. Dengan seleksinya yang cukup ketat, dia berhasil menemukan pengasuh anak yang kompeten dan berpendidikan.
Selama dua minggu, Laura terus menyeleksi beberapa orang yang mendaftar menjadi suster bagi anak angkatnya. Dan keputusannya memilih Saidah karena beberapa pertimbangan, keuletan kerja dan caranya memomong anak.
"Sus, hari ini saya harus kembali ke kantor. Jadi sehari ini Sus Idah seharian penuh menemani Larissa," ucap Laura yang sedang menyantap sarapan dengan Dave.
Saidah mengangguk, sudah tugasnya sebagai pengasuh anak mematuhi aturan dari sang majikan.
Laura masuk ke dalam mobilnya, di antar oleh supir pribadi keluarga mereka. Wajahnya begitu ceria mengingat ada hal yang membuatnya bersemangat untuk segera pulang ke rumah.
"Selamat pagi," sapanya pada semua karyawan yang sudah dua minggu tak berjumpa dengannya. Semua tampak teratur di bawah pengawasan Andreas.
"Nona, selamat datang kembali," sambut Andreas saat Laura memasuki ruangannya.
Laura menyipitkan matanya melihat buket bunga lily putih dan juga kartu ucapan untuknya.
"Kau menyambutku seolah aku ini tidak hadir selama setahun dan baru sadar dari koma yang panjang," ucap Laura di ikuti gelak tawa keduanya.
"Saya sangat senang mendapat kabar kalau anda akan datang ke kantor hari ini. Sepertinya kejutan ini terlalu biasa untuk orang seperti anda."
"Andreas, kau selalu saja menggunakan bahasa hiperbola mu itu. Kau tahu kan, aku adalah istri seseorang, jadi simpan pujianmu itu untuk wanita lain," ucap Laura yang kini duduk sembari membuka tab miliknya.
Andreas tersenyum kecut, dia tak pernah bisa menyembunyikan rasa ketertarikan pada Laura setelah pertemuan 8 tahun silam.
"Aku belum menemukan wanita itu, selain anda. Saya permisi," pamit Andreas setelah mengucapkan kembali kata gombal yang membuat Laura tak nyaman.
"Andai saja kita setara, mungkin aku tak akan menerima lamaran keluarga Dave," gumam Laura setelah kepergian Andreas.
Pertemuan pertama mereka di shelter, membuat Laura sedikit tertarik pada Andreas. Diam-diam dia selalu memperhatikan adik tingkatnya itu dengan hati-hati tanpa orang lain tahu.
Tak seperti Andreas, yang terang-terangan ingin sekali dekat dengan Laura. Perhatian yang dia berikan, terkadang membuat sebagian orang salah paham dan menganggap mereka memiliki hubungan lebih.
Laura tersenyum mengingat kenangannya saat kuliah. Dia tak habis fikir bisa menjalin hubungan dengan Andreas dalam waktu lama walau hanya sebagai partner bekerja.
"Apa yang ku fikirkan. Ingatlah bagaimana dulu kau begitu tergila-gila pada Dave, Laura Winarta," ucap Laura sambil melihat foto pernikahan yang ada di meja kerjanya.
Fikirannya kini tertuju pada sang suami, melihatnya yang selalu membantu merawat Larissa, membuat Laura bangga dan tak salah memilih suami.
Dave, teman yang sudah dia kenal sejak kecil dan cinta pertamanya. Kini menjadi suami yang akan terus menemaninya hingga masa tua. Walau terkadang ada sedikit masalah dalam pernikahan mereka, namun keduanya bisa menghadapi dengan bersikap dewasa.
"Baiklah, hari ini aku harus memeriksa beberapa laporan dari Andreas. Aku ternyata bisa mengandalkan pria itu, keadaan perusahaan cukup terkendali dengan baik di bawah pengawasannya. Walaupun dari keluarga kelas menengah, dia punya jiwa kepemimpinan yang baik," gumam Laura yang terus memuji Andreas.
Tanpa di sadari, kekagumannya membuat perasaannya sedikit berdebar. Ada kebanggan dalam hatinya, memilih Andreas sebagai orang kepercayaan yang sempat di tentang oleh sang ayah.
"Ya, ini hanya rasa bangga padanya, tidak lebih."
***
Dave terlihat bersemangat keluar dari kantor. Hari ini dia tak membawa mobilnya sendiri, melainkan bersama supir pribadi keluarganya. Wajahnya sumringah, seolah akan menemui sebuah harta karun di rumah.
"Selamat sore, sayang," sapanya pada Larissa yang sedang makan malam bersama Saidah.
"Selamat sore tuan."
Dave mengangguk mendengar sapaan Saidah, dia pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh dari debu kantor dan jalanan.
Selesai mandi, dia segera menemui Larissa dan menggendongnya. Gadis kecil itu sudah selesai makan dan mandi, Dave tanpa canggung mencium dan membawa main Larissa.
"Sus, sekarang anda boleh pulang. Saya yang akan menjaga Larissa," ucap Dave yang di patuhi oleh Saidah.
"Pak Farid, sebentar lagi Laura akan pulang. Saya harap anda tak terlambat menjemput istri saya," titah Dave pada supirnya melalui panggilan telepon.
Dia pun kembali sibuk dengan Larissa. Gadis itu selalu terlihat ceria jika Dave mengajaknya bermain. Seolah ada ikatan batin di antara keduanya.
Satu jam kemudian, Laura terlihat sampai di rumah. Dia pun segera masuk ke kamar dan melihat Dave beserta Larissa tengah lelap tertidur. Ada raut wajah sedih pada Laura, karena anak yang kini di peluk suaminya, bukanlah anak kandung mereka.
Laura yang selesai mandi dan berganti pakaian, membangunkan Dave untuk makan malam bersama.
"Sebentar Na, aku masih mengantuk," igau Dave yang membuat Laura mengerutkan keningnya.
"Na, siapa Na?" Tanya Laura dalam hatinya.
Dave pun membuka matanya, lalu tersenyum melihat sang istri yang duduk di sampingnya.
"Sayang kau sudah pulang, ayo kita makan malam," ucap Dave yang masih terlihat mengantuk.
Laura hanya mengangguk tanpa menjawab ajakn Dave. Mereka pun kini duduk di meja makan, menyantap masakan private chef keluarga Kusuma.
"Tadi aku pulang agak siang, jadi bisa menghabiskan waktu dan tidur dengan Larissa," ucap Dave yang tiba-tiba membuka obrolan. Perasaannya aneh, karena Laura terlihat diam dan hening tanpa mengeluarkan suara apapun.
"Oh ya, baguslah. Setidaknya suamiku memiliki peran sebagai ayah untuk anak kita," jawab Laura dengan senyum yang menutupi banyak pertanyaan di pikirannya.
Dadanya seolah sesak mengingat Dave yang memanggil nama orang lain dalam tidurnya. Sementara Dave merasa deha vu, melihat tingkah istrinya yang sama seperti beberapa bulan lalu sejak kasus Dina.
"Ada apa sayang? Apa ada pesan yang mengganggumu lagi?" Tanya Dave memastikan. Sementara Laura menggelengkan kepalanya, namun dalam hati dia mengiyakan pertanyaan Dave.
"Bukan pesan lagi, tapi ucapanmu yang mengganggu fikiranku, Dave," gumam Laura sambil menyantap makanannya, menutupi keresahan hatinya.
"Aku hanya sedih karena anak yang ada di pelukanmu tidak lahir dari rahimku," keluh Laura yang membuat Dave menghentikan makan malamnya.
Pria itu berdiri dan berjalan mendekati kursi Laura. Dia pun berhenti di belakang kursi istrinya, dan memeluk Laura dari belakang.
"Aku yakin, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu. Dan dengan memberikan kasih sayang sepenuhnya pada Larissa, bisa saja Tuhan mempercayai kita untuk merawat anak kandung kita," ucap Dave yang membuat Laura sedikit tenang.
Namun, keluhannya tersebut bukanlah yang membebani fikiran Laura. Ada nama lain yang terucap keluar dari mulut suaminya.
saat lbh memilih mndua krna nafsu dan serakah....
tpi trnyata perempuan yg di piara... dan bhkn rela mnyakiti laura.. tak lbh dri seorang jalang....
makin hncurlah kau dave... klo trnyata ank yg km sayangi dri gundikmu... trnyata bukan ank kndungmu.... tpi ank org lain🤣🤣🤣
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣