Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.
Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.
Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hargai aku sedikit saja
“Tiara, Yudha... ini bakso pesanan kalian,” ucap Kinanti begitu ia dan Keenan memasuki rumah.
Langkahnya terhenti sejenak. Di atas meja ruang tamu tergeletak empat mangkuk yang sudah kosong. Dari sisa kuah yang mengering di dasar mangkuk, Kinanti tahu mereka baru saja makan mi instan.
Dari arah kamar Daffa terdengar suara tawa dan cekikikan. Tak lama kemudian, Bu Salma keluar bersama ketiga cucunya.
“Akhirnya kalian pulang juga,” ujar wanita paruh baya itu santai.
Keenan melirik mangkuk-mangkuk bekas di atas meja.
“Ibu memberi mereka mi instan?” tanyanya.
Nada suaranya masih tenang, meski rasa kesal mulai merayapi dada.
Bu Salma mengangkat bahu.
“Mereka lapar. Kalian cuma pergi beli bakso, tapi kenapa lama sekali?”
“Iya,” timpal Tiara sambil menyilangkan tangan di dada. “Cuma beli bakso saja sampai berjam-jam. Minta dijemput lagi. Manja banget, sih!”
Keenan menghela nafas panjang.
“Tiara, kalau kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi hari ini, kamu tidak akan berkata seperti itu.”
“Memangnya kenapa?” sahut gadis itu acuh.
“Hari ini Kinanti nyaris kehilangan nyawanya.”
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening. Di antara mereka semua, hanya Daffa yang tampak terkejut.
“Tante Kinan kenapa, Yah?” tanyanya cemas.
Keenan menatap putra bungsunya.
“Tante Kinan hampir menjadi korban begal.”
Mata Daffa langsung membulat.
“Hah?!”
Namun reaksi berbeda justru datang dari Yudha.
“Alaaah... paling itu cuma cerita yang dibuat-buat,” ujarnya sambil mendecak. “Mana ada begal beraksi sore-sore begini?”
“Yudha!” tegur Keenan tegas. “Kejahatan tidak mengenal waktu. Di mana ada kesempatan, di situ pelaku bisa beraksi.”
Yudha malah terkekeh.
“Yang mau diambil juga cuma motor butut.”
Tiara ikut terkekeh.
“Iya. Motor itu memang sudah waktunya masuk tukang rongsok.”
Bahkan Bu Salma ikut tersenyum mendengar komentar kedua cucunya.
Kinanti yang sejak tadi diam akhirnya bersuara. Dengan suara pelan namun bergetar, ia berkata,
“Motor itu memang jelek dan tua, tapi motor itu sudah berjasa banyak dalam hidupku. Motor itu yang menemaniku bekerja siang malam. Motor itu yang membantuku membayar biaya sekolah sampai lulus. Dan motor itu juga yang mengantarku mencari nafkah selama bertahun-tahun.”
Namun Tiara hanya memutar bola matanya, “Nggak usah drama, deh.”
Kinanti tersenyum tipis. Ia memilih menelan rasa sakit itu sendirian.
“Mas, aku ke dapur dulu. Sebentar lagi waktu berbuka.”
Setelah meletakkan kantong plastik berisi bakso di atas meja, ia berjalan menuju dapur tanpa berkata apa-apa lagi. Keenan memandang punggung istrinya hingga menghilang di balik pintu dapur.
Lalu ia menoleh kepada kedua anaknya.
“Yudha, Tiara.”
Nada suaranya terdengar lebih berat dari sebelumnya.
“Kinanti sudah berusaha memenuhi keinginan kalian. Dia membeli bakso yang kalian minta meskipun harus kehujanan di jalan.”
Kedua remaja itu tetap memasang wajah datar.
“Apa kalian nggak bisa sedikit saja menghargainya?”
Tak ada jawaban. Keenan kembali menghela napas. Pandangannya beralih kepada ibunya.
“Dan Ibu... kenapa memberi mereka mi instan tanpa bicara dulu sama aku?”
Bu Salma langsung mengerutkan kening,“Mereka lapar, dan ibu memberi mereka makan. Lalu di mana salahnya ibu?”
“Kemarin Daffa mengalami radang tenggorokan setelah mengkonsumsi makanan dan minuman yang Ibu bawakan.”
“Aah, jangan asal menyalahkan.”
Bu Salma melambaikan tangan.
“Bisa saja dia sakit karena masakan perempuan itu tidak higienis.”
Keenan langsung menggeleng.
“Bu, tolong jangan bicara sembarangan. Biar bagaimanapun Masakan rumahan jauh lebih sehat daripada makanan instan atau jajanan yang penuh pengawet.”
“Ibu sering makan mi instan tapi baik-baik saja kok.”
“Tidak semua orang punya daya tahan tubuh yang sama.”
Keenan melirik ke arah Daffa.
“Daya tahan tubuh Daffa lebih sensitif dibandingkan Yudha dan Tiara.”
Bu Salma tampak tidak setuju, tetapi memilih diam.
“Ehm... ehem...”
Tiba-tiba Daffa berdehem beberapa kali. Bocah itu mengusap tenggorokannya lalu meringis.
“Yah, tenggorokanku gatal,” keluhnya dengan suara yang mulai terdengar serak.
Keenan yang sejak tadi berusaha menahan kesabarannya langsung menoleh. Ia menyentuh leher putranya lalu menghela napas panjang.
“Ibu lihat sendiri, kan?” katanya sambil menatap Bu Salma. “Radang tenggorokan Daffa baru saja membaik, lalu kambuh lagi setelah makan mi instan.” Nada suaranya masih terkendali, tetapi rasa kecewa jelas terdengar.
Bu Salma justru mendengus kesal.
“Salahkan saja terus ibu!”
“Bukan begitu, Bu.”
“Lalu apa ini?” sahut Bu Salma dengan suara meninggi. “Sejak perempuan itu datang ke rumah ini, semua kesalahan seolah-olah milik ibu!”
“Bu, tolong jangan ngomong seperti itu. Aku hanya ingin Ibu lebih berhati-hati soal makanan Daffa.”
“Ah, alasan saja! Kamu cuma mau membela perempuan matre itu!”
Bu Salma memalingkan wajah.
Jelas terlihat ia tidak ingin melanjutkan perdebatan itu.
Seketika suasana menjadi hening. Wajah Keenan menegang. Sementara Yudha dan Tiara memilih diam, meski sorot mata mereka menunjukkan bahwa mereka setuju dengan ucapan sang nenek.
Di kejauhan, suara lantunan ayat suci Al-Qur'an dari masjid mulai terdengar, pertanda waktu Maghrib hampir tiba.
“Sebentar lagi azan Magrib. Ibu mau pulang.”
Tak ada permintaan maaf apalagi penyesalan. Seolah apa yang terjadi pada Daffa bukanlah masalah besar. Wanita itu melangkah menuju pintu. Daffa yang masih memegangi tenggorokannya hanya memandang kepergian sang nenek dengan wajah bingung.
Sementara Keenan berdiri diam di tempatnya. Ia ingin menahan ibunya dan menjelaskan semuanya sekali lagi. Namun ia tahu, percuma. Saat seseorang sudah memutuskan untuk tidak menyukai orang lain, apa pun yang dilakukan orang itu akan selalu terlihat salah di matanya.
Setelah membantu Daffa meminum obat radang tenggorokan, Keenan bersiap menunaikan sholat Magrib. Ia melangkah menyusuri lorong rumah menuju mushola kecil yang berada di dekat ruang keluarga. Namun langkahnya terhenti saat melewati kamar Yudha.
Dari dalam kamar terdengar suara efek permainan yang nyaring. Remaja itu masih duduk di depan ponselnya dengan tatapan fokus.
“Yudha, kamu nggak dengar suara azan?” tanya Keenan.
“Ayo! Cepat! Serang dari kiri!”
Yudha justru sibuk memberi instruksi kepada rekan satu timnya dalam permainan daring.
“Aduh! Gimana sih kalian?”
Ia mengacak rambutnya sendiri karena kesal. Dunia di sekelilingnya seolah lenyap saat permainan itu berlangsung.
“Yudha,” panggil Keenan sekali lagi.
“Iya, sebentar!” sahut Yudha tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Nada suaranya terdengar meninggi.
Raut wajah Keenan langsung berubah tegas.
“Letakkan ponsel itu dan segera sholat Maghrib!”
Kali ini tak ada ruang untuk membantah. Yudha mendecak pelan. Dengan kesal, ia mematikan layar ponselnya lalu berdiri dari tempat duduk. Remaja itu berjalan menuju tempat wudhu dengan langkah malas. Dalam hati, ia terus mengomel karena permainan yang sedang seru-serunya terpaksa terhenti.
Namun, ketika melewati musala kecil di dalam rumah, langkahnya mendadak terhenti. Dari balik dinding terdengar suara seseorang sedang berdo'a. Suara itu begitu lembut dan penuh ketulusan.
“Ya Allah...Limpahkan lah kesehatan kepada suami hamba dan anak-anak hamba. Yudha, Tiara, dan Daffa.”
Yudha membeku di tempat.
“Jadikan mereka anak-anak yang saleh dan salehah. Mudahkan lah langkah mereka dalam meraih cita-cita. Dan lembutkan lah hati mereka agar selalu berada di jalan yang Engkau ridhoi.”
Untuk beberapa saat, Yudha hanya berdiri diam. Entah mengapa dadanya terasa sesak. Perempuan itu…yang selama ini ia hardik dengan sikap dingin. Perempuan yang selalu ia sakiti dengan kata-kata kasar. Perempuan yang ia anggap telah merebut posisi ibunya. Ternyata diam-diam selalu mendo’akannya.
Yudha menelan ludah. Ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Namun secepat itu pula ia menepis perasaan tersebut. Ia menggeleng keras. Seolah sedang memaksa dirinya sendiri untuk tidak luluh.
"Nggak! Dia bukan ibuku!"
Matanya memerah menahan emosi yang tiba-tiba menyeruak.
“Ibuku cuma ibu Ratih!”
Sosok Ratih kembali terbayang di pelupuk matanya. Senyuman lembut perempuan yang telah melahirkannya. Perempuan yang kini hanya tinggal kenangan.
“Sampai kapan pun...Aku nggak akan pernah memanggilnya Ibu!”
Mahesa hemmmm ada something ini