NovelToon NovelToon
TERSESAT DI DESA MISTERIUS

TERSESAT DI DESA MISTERIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Hari Kiamat
Popularitas:74.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.

Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.

Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.

Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarik tenun gringsing : 06

Kanti berbelok arah, tidak jadi lurus. Kembali terdengar suara seperti dedaunan kering diinjak-injak bukan dengan sepasang kaki, melainkan ini serentak lebih dari tiga ketukan.

Anehnya, Candra Kanti tidak merasakan adanya hal mistis. Tangannya menarik senjata andalan yang disimpan pada saku jaket.

Kala sampai di tempat terdengar suara tadi, tak ada siapapun, cuma terdapat pohon beringin besar dengan akar menjuntai menembus tanah.

‘Apa perasaanku saja ya? Efek dari kelelahan, belum bisa mengendalikan rasa terkejut, dan masih penasaran akut?’ Ia berbalik, berjalan lagi menuju kamar mandi.

Sebelum masuk bangunan beratap ijuk, lebih dulu dia memperhatikan sekitar, barulah mendorong pintu kayu. Ternyata di dalam kamar mandi terdapat lampu minyak digantung pada dinding.

‘Bahkan airnya berasal dari sumur.’ Kanti memutuskan untuk tidak membuang waktu, dia juga bukan gadis kota yang terbiasa mandi di bawah pancuran shower. Ada kalanya pulang kampung tempat kelahirannya, di sana juga masih pedesaan.

Air pun ditimba, lalu dimasukkan ke dalam kendi besar terbuat dari tanah liat. Kanti tidak polosan, mengambil kain jarik pemberian ibunya yang selalu mewanti-wanti kemanapun dia bepergian ke tempat jauh, seperti hiking, wajib di bawa.

Sebuah Jarik tenun motif gringsing warna ungu gradasi keemasan, yang katanya memiliki makna perlindungan dan menolak bala, sudah membalut dari bawah ketiak sampai betis, Kanti mulai mengguyur rambut, memutuskan keramas di malam hari.

Tanpa si gadis sadari, cela-cela pada atap tertutup sempurna, bahkan dinding terdapat lubang kecil tidak dapat ditemukan dari arah luar.

Keanehan itu berlangsung selama Kanti mandi, sesudahnya kembali seperti semula.

‘Rasanya nyaman banget, seger. Semoga aku bisa tidur nyenyak, tidak ada gangguan.’ Dia keluar dari dalam kamar mandi, memasukkan pakaian kotor pada plastik termasuk kain jarik tadi.

***

Tolong! Tolong!

Seseorang tengah dikejar-kejar sekawanan manusia berkepala Anjing, moncong lancip, gigi taring runcing.

Larinya tidak lagi kencang, dia kehabisan tenaga, sampai pada tepi jurang dirinya terpojok.

Sosok mengerikan itu menyeringai, air liurnya menetes berwarna kemerahan, bersiap-siap menerkam sang mangsa.

Saat detik-detik terakhir, kaki bersuara tersendat-sendat terpeleset disebabkan terus mundur perlahan. Tubuhnya terjun bebas, belum sempat menyentuh dasar – disambar kuku panjang menancap pada bagian perut hingga isinya terburai.

Akhhh!

Kanti terduduk, napasnya tersengal-sengal, seolah mimpi barusan nyata terjadi tepat di depan matanya.

‘Aku tak asing dengan suara jeritan itu, tapi siapa?’ Kanti mengelap keringat pada leher, bajunya lembab.

Semakin berusaha mengenali suara teriakan menyayat hati, kepalanya bertambah sakit sampai harus menjambak rambut.

‘Pukul berapa ini?’ Ia memeriksa ponsel dan juga jam tangan. ‘Kenapa masih mati? Jam dirumah Tejo juga tidak bergerak? Sebenarnya ini di mana?’

Candra Kanti sulit kembali tertidur, mau mengintip keluar pun tidak bisa dikarenakan kamar tidur tanpa jendela. Ventilasi udara sangat tinggi hampir menyentuh kayu penyanggah atap seng.

Entah mengapa debar jantungnya belum juga kembali netral, Kanti menarik jaket parasut yang tadi digantung pada paku belakang pintu. Cepat-cepat dipakainya, lalu dia mengendap-endap keluar, melangkah pada arah kiri, berhenti di sebuah pintu.

“Aji, Aji!” Kanti mengetuk pintu kamar teman baiknya, keluarga mereka juga saling kenal, akrab.

Tidak seberapa lama, pintu dibuka, si pemuda masih berwajah bantal, mengenakan kaos dan celana selutut tersenyum hangat menyambut sang gadis.

Candra Kanti masuk ke kamar Aji, sama sekali tidak takut akan terjadi hal-hal menjurus tindakan asusila, dia percaya pemuda ini bukan tipe bejat.

“Kenapa? Kamu gak bisa tidur?” tanyanya pelan, memilih duduk dilantai, dan menyuruh Kanti duduk pada ranjang.

“Aku mimpi aneh, terasa sangat nyata,” bisiknya teramat pelan.

Aji menegakkan punggung, siap mendengarkan. “Ceritakan lah.”

“Aku lihat seseorang, tapi gak bisa menebak gendernya, dan juga lupa akan suara jeritannya. Namun, aku yakin kenal. Dia dikejar-kejar makhluk yang kulihat di dalam jurang, terus diserang brutal.” Kanti meremas seprai putih.

“Di tempat mobilku terjun tadi, kejadiannya?” tanyanya menghargai cerita Kanti, kalau itu Abeer dan lainnya, sudah dianggap gila gadis ini.

“Iya. Apa kamu tadi gak sempet melongok ke dalam jurang sewaktu menarikku?”

Aji menggeleng, ekspresi seperti bersalah. “Meskipun seumur hidup aku gak pernah lihat aneh-aneh, dalam konteks hal gaib. Percayalah, aku percaya sama apa yang kamu sampaikan. Sekarang yang harus kita pikirkan, bagaimana keluar dari sini.”

“Coba tunggu sampai pagi, apa langit tetap merah? Semoga Tejo mau jujur, dan memuaskan rasa penasaran kita,” ia sangat berharap, meskipun ada rasa mengganjal dalam hati.

“Semoga saja. Sekarang kamu tidur gih, aku jaga. Diriku sudah cukup istirahat, badan pun gak lagi pegal-pegal,” suaranya sangat meyakinkan, aslinya dia masih ngantuk.

Candra Kanti mengangguk, mempercayai pemuda yang selalu ada menjadi pelindungnya, ia merebahkan tubuh.

Aji berdiri, mengambil selimut belum terpakai masih terlipat rapi, lalu menyelimuti tubuh gadis yang sudah memejamkan mata mencoba tertidur.

‘Semoga cuma perasaanku saja,’ ia menghela napas pelan. Hatinya dilanda gelisah.

Aji Sardi menepati perkataannya, setia terjaga demi memastikan tidur Candra Kanti nyaman.

Entah berapa lama, sampai dia mendengar suara berisik diluar, barulah Aji melepaskan tangan Candra Kanti yang sangat lama digenggamnya.

Tidak ingin mengganggu tidur gadis masih terlelap, Aji melangkah pelan keluar dari kamar.

“Pakaian siapa yang kalian pakai?” tanyanya sambil menelisik baju keempat temannya.

Sambara dan Abeer mengenakan setelan baju seperti yang dikenakan atlet taekwondo, serba putih tanpa adanya lambang maupun sabuk pinggang.

Sedangkan Mayang, Ahwaya, memakai gaun kebesaran hingga mata kaki, warnanya pun putih bersih, berlengan pendek.

“Gak tahu punya siapa, ada dalam lemari ya kami pakai. Daripada mengenakan pakaian sudah kotor bau keringat,” ujar santai Abeer.

“Si cu, eh Kanti mana?” hampir saja Mayang keceplosan.

“Masih tidur.”

“Kalian tidur bareng?” Ahwaya tampak terkejut, walaupun sudah menduga, sering melihat kedekatan masih di tahap sopan antara Aji dengan Kanti.

“Bukan seperti dalam bayanganmu, terlebih yang sering kamu lakukan bersama Sambara!” tegas Aji.

Obrolan itu terhenti ketika Tejo datang menghampiri mereka.

“Bagaimana tidur kalian, nyenyak kan?”

“Sangat lelap, apalagi dalam keadaan perut kenyang,” sahut pemuda berpipi berlemak.

“Baguslah,” Tejo tampak senang sekaligus lega.

“Kanti kemana?” tanyanya saat menyadari tamunya kurang satu.

Baru saja Aji mau menjawab, pintu kamar dibuka oleh Kanti.

Tejo tidak berkomentar apa-apa, padahal dia tahu kamar tidur itu bukan diperuntukkan bagi gadis yang kini terlepas dari topi.

“Pak Tejo, sekarang langit sudah terang, berarti waktu menunjukkan pagi bukan? Boleh kami meminta penjelasannya tentang keanehan yang menimpa kami?” Sambara menagih janji.

“Ayo ke rumah utama, mertua saya yang akan menjelaskan.”

.

.

Bersambung.

1
myPuspa
SEMANGATTT kk Cublik up nya...🥰🥰🥰
Siti Umaroh
semangat thor jangan BKIN peran Sambara jdi jhatt
AFPA
kamar akyu..semalam 🤣
Siti Umaroh
thor jangan ada korban lgi aku BCA novel ini karna suka Sambara SMA aya
Siti Umaroh
semangat upnya thorr jangan satu bab Thor suka bgt sma Sambara wloupun sering marah TPI baik plis tetep satuin SMA Aya thorr
Monica Lora
ngeriii🤭
Eli Rahma
lihat aja besok...siapa salah satu keluarga bu sasmita yg kakinya cidera..atau orang lain..
Aisyah 🐾
cepet up thor nanggung bener
Betri Betmawati
siapa yg dincar sama siluman anjing itu
lanjut Thor
Teh Qurrotha
sereeeemmmmmm ihhh
Secret Admire
Aksata.. siapakah dirimu Aksata?🤭
Monica Lora
demi apa kanti menikmati sentuhan si kekasihku 🤭
Engkar Sukarsih
iih... takut...
Secret Admire
😭 semoga segera ada pertolongan buat Kanti dan teman temannya 😭
Secret Admire
🥹 semoga Kanti dan teman temannya selamat 😭 meskipun sedikit harapan 😭
Aprisya
huuuufffff ati2 kanti🥰🥰
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
mana ? ga ada yang jaga yak?
𝐂𝐄𝐑𝐈𝐓𝐀 𝐊𝐈𝐓𝐀🍉
waduh 😳
Iis Dawina
ya Allah aku kebangun JM 3..ada notif langsung bc..tp bc nya sumpah deh ikut tegang tahan napas
Siti Umaroh
thor bikin mreka ber 5 kompak dan jangan ada korban lgi thorrrrr semangat upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!