NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sentuhan kasih

Malam harinya,

Suasana rumah yang semula tenang mendadak gaduh oleh tangisan Daffa yang pecah dari lantai bawah. Tangis itu terdengar semakin keras dari menit ke menit, membuat Yudha dan Tiara yang sedang mengerjakan pekerjaan rumah di kamar masing-masing mulai kehilangan kesabaran.

Tiara menjadi orang pertama yang keluar dari kamarnya.

"Daffa, kamu apaan sih? Berisik banget!" bentaknya dari ambang pintu kamar adiknya.

Bocah itu meringkuk di atas ranjang sambil memegangi lehernya.

"Sakit..." jawabnya lirih dengan suara serak.

"Diam! Kakak lagi ngerjain PR!"

Namun, bukannya berhenti, Daffa justru menangis semakin keras. Air matanya mengalir tanpa henti, sementara wajah mungilnya memerah menahan sakit.

Tak lama kemudian, Yudha ikut muncul.

"Berisik banget, sih!" gerutunya kesal. "Kalau begini, aku jadi nggak bisa belajar!"

"Sakit... hu... hu... hu..." isak Daffa di sela tangisnya.

Saat itulah terdengar langkah kaki dari arah tangga. Keenan dan Kinanti yang baru saja selesai menunaikan sholat Isya segera menghampiri sumber keributan. Keenan melangkah cepat memasuki kamar Daffa. Kinanti menyusul di belakangnya

"Daffa, kamu kenapa, Nak?" tanyanya cemas.

Bocah itu mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

"Sakit, Yah," jawabnya dengan suara yang semakin serak.

Keenan berjongkok di samping ranjang.

"Bagian mana yang sakit?"

Daffa tidak menjawab. Ia hanya menunjuk tenggorokannya sendiri. Kening Kinanti langsung berkerut. Pandangan perempuan itu berkeliling hingga berhenti pada sebuah senter kecil yang tergeletak di atas meja belajar. Tanpa membuang waktu, ia mengambil senter tersebut lalu mendekati Daffa.

"Coba buka mulutmu."

Daffa menurut. Keenan membantu memegang dagu putranya agar tetap terbuka sementara Kinanti menyorotkan cahaya senter ke dalam mulut bocah itu. Beberapa detik kemudian, ekspresi Kinanti berubah tegang.

"Ya Allah..."

"Ada apa?" tanya Keenan khawatir.

"Tenggorokannya merah dan bengkak. Sepertinya Daffa mengalami radang tenggorokan."

Keenan langsung menghembuskan napas kesal.

"Pasti gara-gara sosis bakar dan minuman dingin yang dibawa Nenek kalian tadi."

Ucapan itu membuat Tiara yang berdiri di dekat pintu segera menyela.

"Kalau memang gara-gara itu, harusnya aku sama Kak Yudha juga sakit dong." Nada suaranya terdengar menantang.

Kinanti menoleh kepadanya.

"Daya tahan tubuh setiap orang berbeda, Tiara," jelasnya lembut. "Apalagi Daffa masih kecil. Tubuhnya lebih rentan dibanding kalian."

Tiara mendecak pelan. Ia lalu memutar bola matanya dengan malas, seolah penjelasan itu tidak penting baginya.

Sementara itu, Daffa kembali meringis kesakitan. Melihat wajah pucat bocah itu, rasa iba di hati Kinanti semakin besar. Tanpa sadar, tangannya terulur mengusap rambut Daffa dengan lembut.

Namun, begitu merasakan sentuhan itu, Daffa langsung menepis tangan Kinanti.

"Jangan pegang-pegang!" serunya di sela tangis.

"Nak, kita ke dokter, ya," bujuk Keenan sambil mengusap punggung putranya.

Daffa buru-buru menggeleng.

"Nggak mau..."

"Kenapa nggak mau?"

"Aku nggak mau minum obat. Obatnya pahit." Tangisnya kembali pecah di akhir kalimat.

Kinanti yang berdiri di samping ranjang tersenyum tipis.

"Nanti Ibu bilang ke dokternya supaya Daffa dikasih obat sirup yang rasanya manis, ya."

Daffa langsung menoleh. Matanya yang masih basah menatap Kinanti dengan penuh penolakan.

"Kamu bukan ibuku!" bentaknya.

Teriakan itu justru membuat wajahnya meringis kesakitan. Tenggorokannya terasa semakin perih hingga ia kembali menangis.

"Hiks... hiks..."

Keenan menghela nafas panjang.

"Makanya jangan teriak-teriak," ujarnya setengah kesal. "Tenggorokanmu lagi sakit, malah dipakai buat marah-marah."

Daffa menundukkan kepala. Tangisnya masih terdengar, tetapi kini jauh lebih pelan.

Keenan lalu berdiri dan mengambil jaket milik putranya. Dengan sabar, ia membantu Daffa mengenakan jaket tersebut. Setelah itu, pandangannya beralih kepada Yudha dan Tiara yang masih berdiri di dekat pintu.

"Yudha, Tiara. Kalian di rumah saja. Ayah dan Ibu akan mengantar Daffa ke dokter."

Kedua remaja itu tidak memberikan tanggapan. Seolah tidak mendengar, mereka berbalik dan melangkah menuju kamar masing-masing.

"Brak!

Suara pintu yang ditutup terdengar hampir bersamaan.

Keenan memejamkan mata sejenak, berusaha meredam sesak yang kembali memenuhi dadanya. Sementara Kinanti hanya terdiam. Hari pertama pernikahan mereka belum juga berakhir, tetapi penolakan demi penolakan terus datang silih berganti.

Namun, ia tidak berniat menyerah. Jika kebencian itu tumbuh selama bertahun-tahun karena rasa kehilangan, maka ia akan bersabar selama yang diperlukan untuk menggantinya dengan kepercayaan.

*****

Setibanya di klinik, Daffa segera dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Dokter Reyhan, dokter keluarga yang sudah bertahun-tahun menjadi langganan Keenan, tersenyum tipis setelah selesai memeriksa tenggorokan bocah itu.

"Hm, Dokter boleh menebak?" ujarnya sambil melepaskan stik pemeriksaan dari mulut Daffa.

Daffa mengedipkan mata.

"Hari ini kamu makan makanan yang banyak sausnya dan minum minuman dingin pakai es batu, ya?"

Bocah itu langsung mengangguk.

Dokter Reyhan terkekeh,

"Dokter sudah menduga."

Ia lalu menuliskan sesuatu pada lembar resep.

"Makanan dan minuman itu yang memicu radang pada tenggorokanmu. Untung masih ringan, jadi tidak perlu khawatir. Dokter beri resep, nanti biar ayahmu menebusnya di apotek. Kamu janji ya, harus minum obatnya sampai habis."

Mendengar kata obat, wajah Daffa langsung berubah lesu. Kinanti yang sejak tadi berdiri di samping Keenan akhirnya angkat bicara.

"Maaf, Dokter."

Dokter Reyhan menoleh.

"Daffa kurang suka obat yang rasanya pahit. Apa Dokter bisa meresepkan obat sirup yang rasanya lebih manis?"

Senyum Dokter Reyhan melebar.

Ia sudah mendengar kabar bahwa Keenan telah menikah lagi. Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia bertemu langsung dengan Kinanti. Ada sesuatu dalam cara perempuan itu berbicara yang mengingatkannya pada almarhumah Ratih. Lembut, tenang, dan penuh perhatian.

"Tentu saja bisa," jawabnya ramah.

Dokter Reyhan menambahkan beberapa catatan pada resep yang sedang ditulisnya. Setelah selesai, ia menyerahkan lembar resep itu kepada Keenan.

"Semoga cepat sembuh, ya, Jagoan," ucapnya sambil tersenyum lalu mengacak rambut Daffa. Bocah itu mengangguk.

Setelah berpamitan, Keenan, Kinanti, dan Daffa meninggalkan ruang pemeriksaan. Mereka kemudian berjalan menuju area parkir. Keenan segera menyalakan mobil dan mengarahkannya ke apotek yang letaknya tidak jauh dari klinik.

Di kursi depan, Daffa duduk di samping Kinanti. Rasa sakit di tenggorokannya ditambah kantuk yang sejak tadi ditahannya membuat kelopak matanya terasa semakin berat. Beberapa kali bocah itu menguap. Kepalanya terangguk-angguk mengikuti laju kendaraan. Tak lama kemudian, tanpa disadarinya, tubuh kecil itu miring ke samping. Kepalanya bersandar di bahu Kinanti.

Kinanti menoleh. Senyum tipis langsung terukir di wajahnya saat melihat Daffa telah tertidur pulas. Dengan hati-hati, ia membiarkan kepala bocah itu tetap bersandar di bahunya. Jemarinya bergerak lembut mengusap rambut Daffa yang sedikit berantakan.

Tatapannya begitu hangat. Tak ada sedikit pun rasa kesal atas penolakan yang diterimanya sejak pagi. Yang ada justru rasa iba dan kasih sayang yang semakin besar.

"Semoga suatu hari nanti kamu bisa menerimaku," bisiknya dalam hati.

Mobil terus melaju membelah jalanan malam yang mulai lengang. Sementara Daffa tetap terlelap di bahu perempuan yang hingga saat ini masih enggan ia panggil “Ibu".

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!