NovelToon NovelToon
MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

MENDADAK JADI TRILIUNER MUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arrofy

SINOPSIS

Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.

Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.

Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.

Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.

Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.

[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]

[Saldo rekening: memprihatinkan.]

[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]

[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]

[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]

Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.

Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.

Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 STATUS AKTIF KEMBALI

Bu Ratna mengambil satu kertas kosong, lalu mulai menulis poin-poin dengan cepat. “Pertama, kamu harus bertemu Pak Surya minimal dua minggu sekali selama masa penyesuaian. Kedua, kamu harus menyelesaikan rencana studi baru minggu ini. Ketiga, kamu harus mulai menyusun gambaran topik skripsi sejak semester ini, bukan nanti.”

Arkan memperhatikan setiap poin dengan serius. “Baik, Bu.”

“Keempat,” lanjut Bu Ratna sambil menatapnya, “kalau kamu memang punya aktivitas bisnis, jangan jadikan itu alasan untuk hilang dari kelas.”

Arkan menerima tatapan itu dengan tenang. “Tidak akan, Bu.”

Bu Ratna menulis tanda tangan di formulir persetujuan. “Bagus. Karena saya lebih menghargai mahasiswa yang datang dengan kondisi biasa tapi konsisten, daripada mahasiswa yang terlihat punya banyak peluang tapi tidak pernah menyelesaikan apa pun.”

Kalimat itu masuk ke kepala Arkan tanpa perlu dibantah.

Ia tahu Bu Ratna tidak sedang menyindir. Ia sedang memberi peringatan yang layak.

Arkan menerima formulir itu ketika Bu Ratna menyerahkannya. “Terima kasih, Bu. Saya akan selesaikan proses akademik hari ini.”

Bu Ratna mengangguk. “Bawa ini ke akademik, lalu minta daftar jadwal terbaru. Setelah itu temui Pak Surya lagi untuk susun rencana studi. Jangan tunggu besok kalau bisa hari ini.”

Arkan sedikit menunduk. “Saya kerjakan hari ini.”

Bu Ratna memperhatikan Arkan saat ia hendak berbalik. “Arkan.”

Arkan berhenti di dekat pintu, lalu menoleh.

Bu Ratna menatapnya dengan ekspresi yang sedikit lebih lunak daripada sebelumnya. “Saya tidak tahu apa yang berubah dalam hidupmu sampai kamu bisa melunasi administrasi dan datang dengan cara seperti ini. Saya juga tidak perlu tahu sekarang. Tapi kalau perubahan itu membuatmu kembali menyelesaikan pendidikanmu, gunakan dengan benar.”

Arkan menggenggam formulir di tangannya. “Saya akan gunakan dengan benar, Bu.”

Ia keluar dari ruangan.

Di luar, Dimas langsung berdiri dari kursi tunggu. Rendi masih berada di koridor, kali ini bersama dua mahasiswa lain yang jelas sedang berpura-pura tidak memperhatikan.

Dimas melihat formulir di tangan Arkan. “Berhasil?”

Arkan berjalan pelan menuju tangga sambil menjawab. “Diproses. Target paling cepat tiga semester.”

Dimas mengikuti di sampingnya. “Tiga semester? Padat itu, Kan.”

“Lebih baik padat daripada tertunda lagi.”

Rendi yang mendengar dari belakang menyahut sambil berdiri. Wajahnya masih membawa senyum bercanda, tetapi matanya terlalu ingin tahu. “Wah, Arkan sekarang serius banget. Baru balik langsung ngejar tiga semester. Jangan-jangan sekarang punya sponsor besar?”

Arkan berhenti sebentar.

Dimas tampak ingin memotong, tetapi Arkan mengangkat tangan kecil, memberi tanda tidak perlu.

Arkan menoleh kepada Rendi dengan ekspresi tenang. “Kalau maksudmu ada yang membantu, iya. Tapi yang kuliah tetap saya.”

Rendi tertawa pendek, agak canggung. “Santai, Kan. Aku cuma bercanda.”

“Makanya saya jawab santai,” balas Arkan tanpa menaikkan suara.

Dua mahasiswa di dekat Rendi menahan senyum.

Rendi kehilangan sedikit ruang untuk melanjutkan candaan.

Arkan tidak menunggu reaksi. Ia berjalan turun ke lantai satu bersama Dimas.

Di kepalanya, sistem memberi komentar.

[Interaksi sosial kampus: stabil.]

[Subjek Rendi: potensi iri ringan.]

[Ancaman: rendah.]

[Rekomendasi: jangan habiskan energi untuk manusia yang menjadikan penasaran sebagai profesi sampingan.]

Arkan hampir tersenyum.

Mereka kembali ke bagian akademik. Staf yang tadi melayani Arkan menerima formulir dari kaprodi, lalu mulai memproses status aktif kembali. Beberapa dokumen dicetak. Arkan mengisi data, tanda tangan, lalu menerima daftar mata kuliah yang perlu ia ambil.

Tidak ada hambatan berarti.

Tidak ada drama.

Uang sudah dibayar.

Persetujuan sudah didapat.

Data mulai bergerak.

Kurang dari satu jam kemudian, status Arkan di sistem akademik berubah dari cuti menjadi aktif kembali dengan catatan penyesuaian studi.

Staf akademik menyerahkan bukti proses dengan wajah yang jauh lebih sopan daripada awal. “Status Bapak sudah aktif kembali, Pak Arkan. Jadwal final menunggu KRS disetujui dosen pembimbing.”

Arkan menerima kertas itu. “Terima kasih.”

Dimas melihat layar dari samping, lalu menggeleng pelan. “Gila, hari ini kamu benar-benar beresin semuanya.”

Arkan menyimpan kertas ke dalam map yang baru ia beli di minimarket kampus. “Belum semuanya. Baru buka pintu.”

Dimas menatapnya dengan rasa penasaran yang makin sulit ditahan. “Kan, sebenarnya kamu sekarang ngapain?”

Arkan tidak langsung menjawab.

Mereka berjalan keluar dari gedung akademik. Matahari siang memantul di halaman kampus. Beberapa mahasiswa masih berlalu-lalang. Dari arah parkiran, SUV hitam Arkan terlihat diam di antara kendaraan lain.

Dimas mengikuti arah pandang Arkan.

Arkan akhirnya berkata dengan suara biasa. “Aku lagi mulai mengurus bisnis.”

“Bisnis apa?”

“Multi-sektor.”

Dimas berhenti melangkah.

“Multi-sektor?” ulangnya dengan wajah bingung.

Arkan menoleh, lalu tersenyum tipis. “Aku juga baru mulai terbiasa dengar kata itu.”

Ponsel Arkan bergetar.

Pesan dari Olivia masuk.

[Pak, dokumen awal Arkan Pradipta Holdings sudah masuk tahap pendaftaran. Saya butuh keputusan: kantor sementara menggunakan alamat rumah baru, virtual office, atau sewa kantor kecil di area bisnis Pontianak?]

Arkan membaca pesan itu.

Sistem langsung menampilkan rekomendasi.

[Disarankan: sewa kantor kecil di area bisnis.]

[Alasan: alamat rumah tidak perlu terekspos.]

[Virtual office terlalu pasif untuk langkah Tuan Rumah berikutnya.]

[Catatan: sudah waktunya memiliki ruang kerja yang tidak bersebelahan dengan dispenser rumah.]

Arkan mengetik balasan singkat.

[Sewa kantor kecil. Area bisnis. Tidak mencolok, tapi layak.]

Olivia membalas dalam hitungan detik.

[Baik, Pak. Saya carikan dan kirim opsi.]

Dimas melihat Arkan mengetik, lalu menelan ludah kecil. “Itu urusan bisnis tadi?”

Arkan memasukkan ponsel ke saku. “Iya.”

Dimas tertawa pelan, bukan mengejek, lebih seperti orang yang sedang memproses kenyataan. “Aku baru ditinggal beberapa bulan, kamu balik-balik kayak karakter utama.”

Arkan meliriknya.

Di kepala Arkan, sistem berbicara.

[Subjek Dimas mendekati kebenaran genre.]

[Rekomendasi: jangan konfirmasi.]

Arkan menahan senyum.

Ia menepuk bahu Dimas ringan. “Bantu aku susun jadwal kuliah dulu. Urusan karakter utama nanti saja.”

Dimas akhirnya tertawa lebih lepas. “Oke. Itu masih bisa aku bantu.”

Mereka berjalan menuju kantin kampus.

Bukan untuk nongkrong lama.

Bukan untuk mengulang masa lalu.

Arkan hanya perlu duduk sebentar, membuka jadwal, dan menyusun langkah akademiknya.

Di satu sisi, S1-nya kembali berjalan.

Di sisi lain, perusahaan induknya mulai lahir.

Dan kali ini, Arkan tidak ingin salah satu mengalahkan yang lain.

Ia akan menyelesaikan studinya.

Ia akan membangun bisnisnya.

Dan ia akan melakukannya tanpa meminta izin kepada kekurangan yang dulu pernah menghentikannya.

1
Wega Luna
🤣🤣🤣🤣🤣🤣di sini sistem nya akhirnya bisa lega karena MC ganti kendaraan
Arrofy: wkwkwk😄😄🤭🤭
total 1 replies
irena
arkan harus lanjut kuliah.. klo perlu tambah pintar dianya thor.. supaya ga dibegoin dan dimanfaatkan sama orang orang jahat
AntoniusSadi
teruskan, gas pol bang
irena
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!