NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Dokumen resmi berstempel hukum di atas meja marmer itu seolah menjelma menjadi monster tak kasat mata yang siap mencabik-cabik seluruh sisa ketenangan Hani.

Sepasang matanya menatap nanar deretan kalimat formal yang tertera di sana. Pikirannya mendadak kosong, digantikan oleh rasa bingung yang luar biasa yang menjalar hingga ke ujung jemarinya.

"Hubungan darah? Menyembunyikan identitas?" Hani mengulang kata-kata Narendra dengan suara yang bergetar. Ia menatap pria paruh baya itu dengan dahi berkerut dalam. "Saya tidak mengerti apa maksud Bapak. Saya tidak pernah menyembunyikan apa pun dalam berkas lamaran saya."

Narendra Baskara tersenyum dingin, sebuah senyuman yang sangat berbeda dengan guratan wajah penuh penyesalan yang ia tunjukkan di koridor beberapa hari lalu.

"Jangan berlagak naif, Nak Hani. Ayah kandungmu adalah mantan kepala bagian logistik di anak perusahaan kami delapan tahun lalu. Dialah orang yang bertanggung jawab atas penyelewengan dana aset yang hampir membuat divisi tersebut kolaps sebelum akhirnya dia dipecat secara tidak hormat dan menghilang."

Reza yang berdiri di samping ayahnya tampak mematung. Wajah tampannya memucat, matanya bergerak panik antara menatap ayahnya dan menatap Hani yang kini tampak sangat terguncang. "Pah, tunggu dulu. Jangan langsung mengambil kesimpulan seperti ini. Mungkin ada kesalahpahaman..."

"Diam, Reza!" potong Narendra dengan nada mutlak yang tidak menerima bantahan. "Papa tidak sedang berbicara denganmu. Ini urusan prinsip perusahaan."

Hani merasakan dadanya sesak, seolah pasokan oksigen di dalam ruangan mewah itu mendadak menguap. Nama pria yang tertera di dokumen sebagai sosok yang merugikan Baskara Group memang adalah ayah kandungnya. Namun, menuduhnya sengaja menyusup dan menyembunyikan identitas untuk membalas dendam adalah sebuah fitnah yang teramat kejam.

Hani menarik napas dalam-dalam, mencoba menegakkan punggungnya yang sempat melemas. Ia menatap Narendra dengan tatapan lurus, menolak untuk terlihat terintimidasi.

"Pak Narendra yang terhormat," ujar Hani, suaranya kini terdengar datar namun sarat akan penekanan. "Saya benar-benar tidak tahu-menahu soal apa yang dilakukan oleh pria di dalam dokumen ini kepada perusahaan Anda. Jika Anda menganggap saya sengaja menyembunyikan identitasnya, Anda salah besar."

Hani menjeda kalimatnya, menelan ludah dengan susah payah karena tenggorokannya mendadak terasa sangat kering. Kenangan masa lalu yang pahit tentang keluarganya terpaksa harus ia buka kembali di depan pria asing ini.

"Orang tua saya sudah resmi bercerai sejak saya masih duduk di bangku SMP," lanjut Hani, suaranya merendah namun tetap terdengar tegas. "Sejak putusan cerai itu keluar, pengadilan menetapkan hak asuh saya sepenuhnya jatuh ke tangan Ibu. Pria itu... ayah saya... dia pergi begitu saja dari kehidupan kami tanpa pernah menafkahi atau mengirimkan kabar lagi."

Reza menatap Hani dengan binar mata yang dipenuhi rasa iba dan penyesalan yang mendalam. Ia baru tahu bahwa di balik penampilan Hani yang begitu anggun dan kuat sekarang, wanita itu menyimpan latar belakang keluarga yang begitu rapuh.

"Setelah perceraian itu, saya tinggal berdua saja dengan Ibu," Hani melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca namun ia sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia tidak sudi terlihat lemah di depan Narendra Baskara.

"Kami menyambung hidup dengan sangat pas-pasan. Pertemuan terakhir saya dengan Ayah adalah saat saya masih SMA, itu pun hanya terjadi sekali di depan gerbang sekolah. Dia datang secara tiba-tiba, berpenampilan kacau, dan hanya meminta maaf sebelum akhirnya pergi lagi entah ke mana. Sejak hari itu, saya tidak pernah melihat wajahnya lagi sampai sekarang."

Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang mencekam. Narendra tetap bergeming, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Hani untuk mencari celah kebohongan. Namun, yang ia temukan hanyalah guratan luka dan ketulusan yang murni dari seorang anak yang ditelantarkan.

"Lalu, kenapa kamu tidak mencantumkan nama ayahmu di kolom latar belakang keluarga pada formulir penyeleksian?" tanya Narendra, suaranya sedikit melunak namun tetap terdengar penuh selidik.

Hani tersenyum miris, sebuah senyuman yang sarat akan kepedihan. "Untuk apa saya mencantumkan nama seseorang yang sudah tidak menganggap saya sebagai anaknya? Bagi saya, keluarga saya hanya Ibu. Saat saya menempuh bangku kuliah, Ibu jatuh sakit dan meninggal dunia. Sejak saat itu, saya hidup sebatang kara. Saya berjuang sendirian untuk menyelesaikan skripsi, membayar sewa tempat tinggal, hingga akhirnya melamar di perusahaan ini demi menyambung hidup saya sendiri. Saya tidak tahu-menahu soal urusan masa lalu Ayah dengan Baskara Group, karena saya memang tidak pernah peduli lagi dengannya."

Mendengar penuturan Hani yang begitu bergetar namun sarat akan kejujuran, kilatan kemarahan di mata Narendra Baskara perlahan-lahan meredup.

Pria paruh baya yang telah mengarungi asam garam dunia bisnis itu tahu betul cara membedakan kebohongan dan kebenaran. Tatapan mata Hani terlalu jernih, dan luka di suaranya terlalu nyata untuk dipalsukan.

Narendra mengembuskan napas panjang. Wajah kerasnya perlahan melunak, digantikan oleh gurat penyesalan yang mendalam. Kebijaksanaan yang sempat tertutup oleh rasa waswas kini kembali ke kepalanya.

"Nak Hani..." Narendra membuka suara, nadanya kini melandai, jauh dari keangkuhan beberapa menit lalu. "Maafkan saya. Maafkan saya yang terlalu cepat menghakimi tanpa tahu cerita yang sebenarnya. Sebagai pemimpin perusahaan, saya terlalu reaktif menjaga aset ini, hingga melupakan bahwa di depan saya berdiri seorang anak yang juga menjadi korban dari masa lalu itu."

Narendra menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan yang tulus pada harga diri Hani. "Saya salah telah menuduhmu menyembunyikan identitas. Latar belakangmu bersih, dan kompetensimu murni hasil kerja kerasmu sendiri. Pintu Baskara Group akan selalu terbuka untuk staf sepertimu."

Reza yang sejak tadi menahan napas akhirnya bisa mengembuskan napas lega. Matanya menatap Hani dengan binar penuh harap, berharap wanita itu mau menerima permintaan maaf ayahnya sekali lagi dan tetap tinggal di sisinya.

Namun, Hani tidak langsung tersenyum. Dinding pertahanan di hatinya telanjur terluka oleh rentetan tuduhan tadi. Ia menghargai permintaan maaf Narendra, namun rasa lelah emosionalnya hari ini sudah mencapai batas maksimal.

Hani membungkuk sopan kepada Narendra. "Terima kasih atas permintaan maaf Anda, Pak Narendra. Saya sangat menghargainya. Namun, peristiwa hari ini menyadarkan saya bahwa keberadaan saya di divisi ini hanya akan terus memicu kesalahpahaman dan mengungkit masa lalu yang ingin saya lupakan."

Hani melirik kartu identitas karyawan yang masih tergeletak di atas meja. "Saya butuh waktu untuk menenangkan pikiran saya. Untuk saat ini, tolong izinkan saya pulang lebih awal."

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Hani berbalik dan melangkah mantap keluar dari ruangan kerja Reza. Langkah kakinya terdengar ketukan konstan di atas lantai koridor, meninggalkan ruangan yang kini kembali senyap.

Reza tidak bisa tinggal diam. Melihat punggung Hani yang menjauh, ketakutan terbesar dalam hidupnya mendadak membayang kehilangan Hani untuk kedua kalinya.

"Pah, Reza harus mengejarnya," ujar Reza tegas tanpa menunggu izin ayahnya. Ia langsung berlari keluar ruangan, mengabaikan tatapan para staf yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.

"Hani! Hani, tunggu!"

Reza berhasil menyusul Hani tepat di depan pintu lift yang hampir menutup. Dengan cepat, Reza menahan pintu besi itu dengan tangannya, membuat sensor lift mendeteksi halangan dan kembali terbuka lebar. Napas Reza memburu, matanya menatap Hani dengan pandangan memohon yang teramat sangat.

Hani menatap Reza dengan dingin, meski sisa air mata masih menggenang di pelupuk matanya. "Pak Reza, tolong lepaskan pintu itu. Saya ingin pulang."

"Hani, aku mohon, dengarkan aku dulu," kata Reza, suaranya bergetar menahan segala emosi yang berkecamuk di dadanya.

"Papa sudah minta maaf, dan dia tahu kamu tidak salah. Jangan pergi dari perusahaan ini, Hani. Jika kamu merasa tidak nyaman berada di dekatku, aku... aku bersedia dipindahkan ke divisi lain. Aku bisa meminta Papa menempatkanku di kantor cabang. Asalkan kamu tetap di sini, asalkan kamu tidak melepaskan impianmu karena aku."

Hani tertegun mendengar ucapan Reza. Seorang pewaris tunggal Baskara Group, pria yang delapan tahun lalu begitu arogan dan menginjak-injak harga dirinya, kini rela membuang seluruh gengsinya dan menawarkan diri untuk terusir dari divisinya sendiri demi dirinya.

"Kenapa kamu sampai melakukan sejauh ini, Reza?" tanya Hani, suaranya merendah, untuk pertama kalinya ia memanggil nama Reza tanpa embel-embel 'Pak'. "Semua ini tidak akan bisa menghapus apa yang terjadi di SMA."

Reza maju satu langkah ke dalam lift, menatap Hani dalam-dalam dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tahu, Hani. Aku tahu lukamu terlalu dalam. Tapi melihatmu pergi seperti ini, menatapku dengan pandangan benci yang sama seperti delapan tahun lalu... itu membunuhku perlahan. Aku egois, Hani. Aku ingin menebus dosaku karena aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa ada kamu di dalamnya lagi."

Hani terdiam, gemuruh di dalam dadanya membuat jantungnya berdegup tak keruan. Di satu sisi, logika dan traumanya meneriakinya untuk segera lari sejauh mungkin dari pria di depannya. Namun di sisi lain, ketulusan dan keputusasaan yang terpancar dari mata Reza mulai mengikis sudut terkecil dari dinding es di hatinya.

Sebelum Hani sempat memberikan jawaban, ponsel di dalam tas tangan Hani mendadak bergetar hebat, mengeluarkan nada dering panggilan darurat yang sangat nyaring.

Hani mengernyitkan dahi, meraba tasnya dan mengeluarkan ponsel tersebut. Layar ponselnya menampilkan nomor tidak dikenal.

Dengan perasaan was-was, Hani menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya. "Halo?"

"Selamat siang, apakah benar ini dengan saudari Hani Adisa Putri?" suara seorang wanita di seberang telepon terdengar sangat formal namun terburu-buru.

"Iya, benar. Saya sendiri. Ada apa, ya?"

"Kami dari pihak Rumah Sakit Pusat Jakarta ingin mengabarkan bahwa beberapa menit yang lalu, seorang pria paruh baya dilarikan ke ruang IGD akibat kecelakaan tabrak lari parah. Di dalam dompet korban, tidak ada kartu identitas, melainkan hanya ada selembar foto perempuan mengenakan seragam SMA bersama nama dan nomor telepon Anda yang tertulis di baliknya. Dari ciri-cirinya, korban terus menggumamkan nama Anda sebelum tidak sadarkan diri..."

Napas Hani seketika tercekat. Ponsel di genggamannya nyaris merosot jatuh ke lantai lift. Wajahnya berubah menjadi seputih kertas, dan tubuhnya mendadak gemetar hebat melampaui apa yang terjadi di ruangan Narendra tadi.

Reza yang melihat perubahan drastis itu langsung panik, ia memegang kedua pundak Hani dengan cemas. "Hani? Ada apa? Siapa yang menelepon?"

Hani mendongak, menatap Reza dengan sepasang mata yang membelalak horor dan dipenuhi oleh rasa takut yang luar biasa. "Ayah..." bisik Hani dengan suara yang nyaris habis.

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!