“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Pernikahan yang Terlupakan
Bu Dhe beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju kamar almarhum nenek Winarsih. Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu kembali dengan sebuah kotak kayu kecil berukir bunga seroja.
Bu Dhe meletakkan kotak yang terlihat kusam dimakan waktu itu di atas meja. Ia membukanya perlahan.
"Ini adalah bukti bahwa Ryuhan dan Seroja sudah menikah." Bu Dhe mengambil sebuah surat dari dalam kotak.
Suara derit pintu mengalihkan perhatian semua orang.
Seroja yang tidak dapat menahan rasa penasarannya akhirnya keluar dari kamarnya, menghampiri Bu Dhe.
Bu Dhe memandangnya sebentar sebelum akhirnya membuka surat tua dengan tinta yang mulai memudar itu. Nama dan tanda tangan penghulu kampung serta dua orang saksi masih terlihat jelas di sana.
Seroja membacanya. Namanya dan nama Ryu jelas tertulis di sana. "Kenapa aku tidak pernah ingat soal ini?" batinnya.
"Beneran ada surat nikahnya," ujar Pak Nurdin.
"Jadi..." gumam pria berperut buncit itu. "Yang menikahkan adalah Pak Bahar?"
"Bukannya itu penghulu di desa sebelah, ya?" celetuk seorang ibu.
"Benar," jawab Bu Dhe. "Beliau tinggal di desa Sukaraja. Kampung halaman keluarga Ryu."
Lalu Bu Dhe mengeluarkan foto kecil dari dalam kotak dan menunjukkannya pada semua orang.
"Lihat, ini," katanya. "Ini foto mereka saat ijab."
Dalam foto itu, Ryu kecil memakai beskap yang dipadu dengan blangkon. Ia menjabat tangan penghulu dengan punggung tegak. Wajahnya terlalu serius untuk ukuran bocah delapan tahun.
Sedangkan Seroja duduk di samping memakai kebaya putih dengan sanggul sederhana. Tangan gadis kecil itu terlipat rapi di pangkuan. Pipinya chubby dan matanya berbinar. Benar-benar menggemaskan.
Kepala keduanya ditutup kerudung putih yang sama.
"Beneran ada foto pas ijab," gumam Pak Nurdin.
Seroja terdiam melihat semua bukti itu. Di dalam foto itu, sepertinya ia masih berusia sekitar empat tahun.
"Pantas saja aku gak ingat," batinnya.
Sedangkan Ryu akhirnya mendekat, diikuti Jordi yang penasaran tingkat dewa.
Kepala Ryu kembali berdenyut saat melihat surat dan foto itu. Tiba-tiba, potongan-potongan bayangan samar berkelebat di kepalanya. Tangis seorang anak kecil, kebaya putih, suara orang tertawa.
Rahangnya menegang menahan nyeri.
Dan yang paling membuat dadanya semakin sesak, anak laki-laki di foto itu memang benar dirinya.
Jordi terkekeh kecil. "Bos benar-benar absurd. Masih bocil sudah berani nikahin anak orang."
Pemuda itu menggeleng pelan. Dengan antusias, ia meminjam foto itu lalu memotretnya dengan ponselnya.
Ryu tak bereaksi. Ia masih berusaha menahan nyeri di kepalanya yang belum reda.
Agus terdiam tanpa kata. Meski tak terima, bukti itu tak bisa ia sangkal.
"Selain dua bukti ini," kata Bu Dhe, "masih ada dua bukti lagi."
Semua orang makin penasaran.
Bu Dhe beralih menatap Seroja dan Ryu bergantian. "Kalian punya cincin kawin dari emas putih dengan motif seroja."
Tanpa sadar, Ryu dan Seroja saling tatap. Lalu Seroja mengangkat tangannya. Di jari manisnya melingkar sebuah cincin emas putih berbentuk ramping dan lembut yang berkilau diterpa lampu gantung.
Bu Dhe menggenggam pergelangan tangan Seroja dan mengangkat tangan gadis itu. Ia menunjukkannya pada semua orang.
"Saat Seroja genap delapan belas tahun, neneknya memberikan cincin yang bentuknya menyerupai kelopak bunga seroja yang sedang mekar ini."
Bu Dhe menunjuk cincin itu. Di bagian tengah cincin itu ada batu kecil bening berwarna merah muda seukuran embun pagi. Sederhana, namun cantik saat terkena cahaya.
"Ini adalah cincin kawin Seroja." Lalu ia menoleh ke arah Ryu. Matanya turun ke tangan pemuda itu. Sudut bibirnya terangkat samar. "Nak Ryu bahkan juga memakai cincin kawinnya."
Spontan Jordi mengangkat tangan Ryu. Setahunya, cincin itu dipakai majikan sekaligus sahabatnya itu sejak lulus SMA.
Cincin milik Ryu tampak lebih besar dan tebal. Desainnya sederhana, tapi jelas bukan cincin murahan.
"Cincin bos ini permukaannya halus dengan sentuhan doff. Elegan sekali," ucap Jordi penuh penilaian. "Cincin ini memberi kesan tenang dan dewasa."
Jordi mengamati lebih detail. "Di bagian tengahnya melingkar ukiran tipis menyerupai alur kelopak bunga seroja. Samar, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan baik-baik."
Bibir Bu Dhe melengkung tipis. "Jika diperhatikan bersamaan, ukiran pada kedua cincin itu saling menyambung."
Bu Dhe menatap cincin di jari dua orang itu bergantian. "Seolah memang dibuat untuk saling melengkapi," lanjut Bu Dhe lirih. "Saat disatukan, ukiran di kedua cincin itu membentuk bunga seroja yang utuh."
"Pinjam, Bos." Tanpa menunggu persetujuan, Jordi tiba-tiba menarik cincin Ryu. "Buat membuktikan," katanya.
Ia tak peduli reaksi Ryu yang melotot padanya. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takut gajinya dipotong.
Jordi memutar kepalanya ke arah Seroja. "Boleh pinjam cincinnya?"
Seroja mengangguk kecil, lalu menyerahkan cincinnya pada Jordi.
"Benar kata Bu Dhe," ujar Jordi penuh kekaguman. "Saat disatukan, cincin ini beneran membentuk bunga seroja utuh."
Seorang ibu berkacamata yang biasa menjaga toko perhiasan di pasar akhirnya mendekat. Ia ikut mengamati dua cincin itu.
"Unik sekali," gumamnya takjub.
Matanya fokus melihat detail pada cincin yang begitu halus dan jarang sekali ia temui.
"Sepasang cincin dari emas putih ini bukan hanya sekadar terlihat seperti perhiasan."
Ia mengusap permukaan salah satu dari cincin itu. Merasakan guratan ukiran yang dikerjakan begitu sempurna.
"Melainkan seperti tanda bahwa dua orang telah diikat oleh takdir…" lanjutannya dengan seutas senyum di bibirnya. "jauh sebelum mereka cukup dewasa untuk memahaminya."
"Masih ada satu lagi," kata Bu Dhe. "Di bagian dalam cincin milik Ryu ada ukiran satu huruf kecil: — S —. Dan di cincin Seroja hurufnya — R —."
Jordi buru-buru melihatnya. "Beneran ada."
"Sekarang," kata Bu Dhe, "masih gak percaya mereka sudah menikah?" Ia menyapu pandangan ke seluruh ruangan. "Sejak awal Ryu dan Seroja memang sudah dijodohkan. Karena nenek Winarsih dan nenek Hanifah adalah sahabat baik."
Baik Ryu maupun Seroja terdiam tanpa kata. Bukti-bukti itu terlalu nyata. Tidak bisa disangkal.
Orang-orang yang ada di ruangan itu hanya menggeleng pelan.
Dan Agus?
Pemuda itu hanya menunduk dengan tangan terkepal di atas paha. Senyuman kecil tersungging di bibirnya. Tapi bukan senyum bahagia. Pahit.
Dadanya terasa sesak. Namun sayangnya... ia bahkan tak punya hak untuk marah.
Karena sejak awal, gadis yang diam-diam ia cintai ternyata sudah menjadi milik orang lain.
...🔸🔸🔸...
...“Beberapa takdir tidak lahir dari pertemuan orang dewasa, melainkan dari janji polos dua anak kecil yang bahkan belum mengerti arti pernikahan.”...
...“Ingatan mereka mungkin hilang, tapi takdir itu tetap tinggal.”...
...“Mereka lupa pernah saling memiliki. Tapi waktu diam-diam menyimpan buktinya.”...
...“Kadang, cinta pertama bukan orang yang datang paling akhir. Tapi orang yang ternyata sudah memilih kita sejak kecil.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Semangat ya, Kak Nana... Up Bab Baru-nya Kak 🙏🙏🙏
Ponsel Ryu berdering - Jordi yang menghubungi. Ryu menerima telepon di balkon.
Mereka membicarakan bisnis. Tapi mata Ryu tak lepas dari istrinya.
Dari pintu balkon Ryu bisa melihat Seroja yang tersenyum ketika sedang berbincang dalam sambungan telepon. Ryu cemburu.
Selesai membahas soal pekerjaan, Ryu tanya pada Jordi. Pria yang bertemu istrinya di restoran tadi siang itu siapa.
Jordi sebut nama pria itu Evan.
Nama yang di lihat tadi Tony. Ryu jadi berpikir - ada berapa banyak pria di sekitar Seroja.
Pikirannya melayang pada tiga nama - Agus, Evan, dan Tony.
Ini baru sehari menjalani hidup bersama sebagai suami istri. Ya harus menjaga privasi masing-masing terlebih dahulu.
Nah kan - pertanda tidak atau belum boleh menyentuh barang pribadi istrinya. Jari Ryu tinggal beberapa sentu dari ponsel - pintu kamar mandi terbuka. Seroja terlihat muncul.
Aku tau! tapi aku harus menemui Clara itu, untuk memutuskannya! 😁😁😁