Bagi Alma, Nova adalah segalanya. Pria romantis yang menjadi pusat dunianya, sehingga dirinya mencintai pria itu dengan ugal-ugalan.
Namun, semuanya tak lagi sama, ketika tak sengaja ia mendengar dan melihat sendiri sang suami menyebut istri pada wanita lain. Dan lebih mirisnya lagi dirinya bukan yang pertama.
Danish, sosok pemuda yang hangat pada keluarga, tetapi sangat dingin dan cuek pada wanita setelah cintanya kandas. Akan tetapi, sejak pertemuannya kembali dengan Alma, perlahan sikapnya mulai berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya? Mengalami pengalaman pahit yang hampir sama, akankah mereka bersatu?
Yuk, ikuti perjalanan mereka, hanya di sini; "Bukan Yang Pertama" karya Moms TZ. Bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fokus pada tujuan
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nova sudah siap berangkat ke kantor. Namun, sebelum itu, dia berniat menyambangi kampus tempat Alma mengajar, berharap bisa bertemu dengan wanita itu di sana.
"Sarapan dulu, Mas. Aku sudah siapkan," kata Marsha, seraya memegang piring yang sudah terisi dengan nasi hangat.
Di kursi makan putri sulung mereka, tampak sedang menikmati sarapannya. Nova pun duduk di hadapan sang putri.
"Papa, hari ini antar Chika ke sekolah, kan?" tanya gadis kecil itu, sambil menatap ayahnya penuh harap.
"Tentu saja, Sayang," jawab Nova lembut seraya mengusap pucuk kepala Chika.
"Yeee... akhirnya Chika diantar sekolah sama Papa!" serunya girang sambil bertepuk tangan.
Nova tersenyum menatap gadis kecilnya itu. "Makan yang banyak ya, biar cepat tumbuh besar."
"Siap, Papa." Anak itupun menyantap makanannya dengan semangat.
Marsha membawa dua piring berisi nasi dan lauk, lalu meletakkan salah satunya di hadapan Nova. Ia lantas ikut duduk bersama mereka.
"Nanti, jadi mau nyari Alma di kampusnya, Mas?" tanyanya pelan lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Rencananya sih, begitu," jawab Nova singkat, sembari menyantap sarapannya dengan cepat.
"Alma itu siapa, Ma?" celetuk Chika tiba-tiba, mendengar nama itu disebut.
Marsha berhenti mengunyah sejenak, matanya melirik cepat ke arah Nova. Ia lalu tersenyum menunduk pada putrinya. "Oh, dia teman Mama, Sayang."
"Apa Tante Alma pernah ke sini?" tanya bocah itu polos.
Marsha menggeleng cepat. "Belum, Sayang. Sudah, cepat selesaikan sarapannya, ya. Nanti terlambat ke sekolah."
"Iya, Ma." Chika kembali fokus pada makanan di depannya.
Nova menatap tajam ke arah Marsha, seolah mengatakan agar wanita itu pandai menjaga mulutnya di depan sang anak. Marsha pun mengangguk pelan, mengerti maksud tatapan suaminya.
Tak lama kemudian, Nova mengantar Chika ke sekolah. Setelah memastikan putrinya masuk ke gerbang sekolah PAUD dengan aman, Nova segera melajukan mobilnya menuju kampus tempat Alma mengajar. Di sepanjang jalan, wajahnya kembali berubah dingin dan penuh rencana licik. Pria itu seolah merasa yakin bahwa dengan statusnya sebagai suami, dirinya punya hak penuh untuk memaksa Alma agar mau kembali ke pelukannya, apa pun caranya.
...
Sesampainya di kampus, Nova memilih menunggu di mobilnya. Namun, setelah beberapa saat, wanita yang diharapkannya tak jua muncul. Sehingga membuatnya terpaksa turun dari mobilnya, lalu menghampiri sekuriti yang berjaga di pintu gerbang.
"Maaf, Pak. Kira-kira Bu Alma sudah berangkat belum, ya?" tanyanya dengan sopan berusaha menjaga image-nya.
"Bu Alma...? Sebentar saya konfirmasi dulu ya, Pak." Sekuriti tersebut langsung menghubungi bagian administrasi.
"Maaf, Pak. Menurut informasi yang saya dapat, Bu Alma sudah mengajukan cuti untuk waktu yang tak bisa ditentukan kapan beliau akan kembali," ujar sang sekuriti sesaat setelah menutup sambungan telepon.
"Memangnya apa alasannya sehingga dia mengajukan cuti?" Nova mencoba mengorek keterangan dari sekuriti tersebut.
"Oh, maaf, Pak. Saya tidak tahu kalau mengenai hal itu," jawab sekuriti itu.
Nova akhirnya meninggalkan pos jaga dengan membawa sebongkah kekecewaan di hatinya. Namun, saat dirinya hendak masuk ke dalam mobil, netra pria itu menangkap bayangan Fanny. Seketika harapan untuk mengetahui keberadaan Alma pun muncul kembali. Dengan setengah berlari dia segera menghampiri sahabat Alma tersebut.
"Mana Alma? Kamu pasti tahu kan, di mana dia?" tanyanya dengan ketus. "Atau jangan-jangan kamu menyembunyikan dia!"
Langkah Fanny langsung terhenti. Ia mengernyitkan keningnya bingung seraya menatap Nova dengan pandangan aneh, lalu melipat kedua tangannya di dada.
"Kenapa kamu tanya sama aku? Bukankah kamu suaminya?" tanya Fanny balik tak kalah ketus. "Sebagai suami, seharusnya kamulah orang yang paling tahu di mana istrimu berada. Kenapa malah tanya sama orang lain?"
"Dan perlu kamu catat, untuk apa aku menyembunyikan Alma? Memangnya kamu pikir dia anak kecil?" sarkas Fanny kesal.
Nova tersentak lalu menatap Fanny dengan tajam. "Jangan berbelit-belit! Kalau aku tahu, nggak mungkin aku tanya sama kamu. Dia pergi, rumahnya dijual, di kampus pun mereka bilang dia cuti! Kamu kan, sahabatnya, mana mungkin nggak tahu apa-apa. Cepat katakan pergi ke mana dia!" desaknya makin keras, hampir membentak.
Fanny justru tersenyum miring, dengan pandangan sinis. "Aku memang sahabatnya, tapi bukan berarti aku tahu segalanya tentang dia! Lagian, kalau kamu memang suami yang benar dan bertanggungjawab, nggak mungkin dia sampai pergi darimu. Coba tanyakan pada dirimu sendiri apa yang telah kamu lakukan padanya. Pasti ada yang salah denganmu!"
Selesai berkata, Fanny langsung melanjutkan langkahnya, tanpa peduli pada Nova yang menatap kepergiannya dengan geram.
"Aaahh...Sialan! Semuanya kompak menyembunyikan dia dariku dan berpura-pura tak tahu dia di mana!" umpatnya dengan mata menyala penuh amarah.
Dia kembali masuk ke mobilnya, memukul setir dengan tangan terkepal. Keinginannya untuk menemukan Alma pun, perlahan berubah menjadi obsesi gila.
...
Di tempat lain, tepatnya di sebuah unit apartemen yang menjadi tempat tinggal barunya, Alma jauh merasa lebih aman dan bebas bernapas tanpa rasa was‑was. Bukan untuk lari atau menghindari Nova, tetapi saat ini ia ingin fokus pada tujuannya.
Alma menatap layar laptop di hadapannya. Wajah manisnya tampak serius dan penuh perhitungan, mencoba menggali lebih dalam data profil perusahaan Al Gha Corp, lengkap dengan struktur jabatan dan kriteria yang dibutuhkan untuk posisi Direktur Operasional.
Wanita itu tersenyum tipis. Ia sudah mempelajari semuanya luar dalam, mengetahui persis apa kelebihan dan kekurangan perusahaan itu, serta hal apa saja yang sedang dibutuhkan untuk memajukan kinerja di sana. Ia yakin dengan kemampuan, pengalaman, serta wawasan luasnya, bisa bersaing untuk merebut posisi itu yang juga diincar oleh Nova.
Perlahan Alma menutup laptopnya lalu bersandar santai di kursi. Ia merasa tenang, karena langkah pertamanya telah tersusun dengan rapi. Tak lama kemudian ponselnya berdering dan terpampang nama Danish di layar, dengan segera mengangkatnya.
"Halo, Nish... Apa ada kabar baik?" tanyanya yakin.
Suara Danish terdengar antusias dari seberang. "Benar sekali, Al. Papi setuju, beliau mau bertemu dan mengujimu langsung minggu depan. Persiapkan dirimu sebaik‑baiknya, karena momen itu akan jadi awal dari kesuksesanmu sekaligus kehancuran Nova."
Alma tersenyum puas, netranya menatap jendela kaca besar yang memandang ke arah kota.
"Terima kasih, Nish. Kamu tenang aja, aku sudah menyiapkan segalanya dengan baik. Dan aku nggak aka mengecewakanmu."
Panggilan terputus. Alma mencengkeram kuat-kuat ponselnya, tatapan matanya menyala penuh tekad.
"Tunggu saja, Nova! Saat aku duduk di kursi tertinggi nanti, saat itu lah akan kutunjukkan padamu siapa yang sebenarnya berhak mendapatkan jabatan itu. Dan aku pastikan, setiap hari kerjamu akan terasa layaknya neraka bagimu!"