[Eksekusi penjahat berhasil! 1 Milyar telah dikirim.]
Luis, pengacara miskin yang selalu dihina karena tak pernah memenangkan kasus, mati tertabrak saat pulang.
Namun ia kembali ke masa lalu bersama Sistem Saldo Eksekutor, sistem misterius yang memberinya hadiah uang setiap kali berhasil mengeksekusi kasus dan menjatuhkan para penjahat.
Dari pengacara gagal, Luis mulai bangkit menjadi sosok mengerikan di balik hukum.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Maju ke depan
Suara kipas angin yang berderit di langit-langit kelas XII-A seolah menjadi musik pengantar tidur bagi sebagian besar siswa. Udara siang itu terasa gerah dan pengap.
Guru matematika, Pak Burhan, sedang sibuk menuliskan deretan rumus kalkulus yang rumit di papan tulis, sementara kapur putihnya beradu dengan permukaan kayu hingga menimbulkan suara decitan yang memilukan telinga.
Luis duduk di barisan belakang, tepat di samping jendela yang menghadap ke arah lapangan basket.
Kepalanya bertumpu pada telapak tangan, matanya menatap kosong ke luar. Bagi orang lain, Luis tampak seperti siswa pendiam yang suram, tidak bersemangat, dan mungkin sedang melamunkan nasibnya yang medioker.
Namun, di balik tatapan kosong itu, otak Luis sedang bekerja secepat prosesor komputer.
Ia sedang menghitung alokasi dana untuk menyabotase jaringan komunikasi kelompok pengembang properti yang menjadi target berikutnya.
Ia tidak peduli dengan turunan fungsi atau integral di depannya, ia sudah melewati semua itu belasan tahun yang lalu di kehidupan sebelumnya.
"Luis!"
Sebuah tepukan keras mendarat di punggungnya, membuat Luis sedikit tersentak. Ia menoleh dan mendapati Dimas sedang menatapnya dengan wajah cemas sekaligus tertahan tawa.
"Woi, Luis! Budek ya? Kau dipanggil Pak Burhan dari tadi," bisik Dimas dengan suara ditekan.
Luis berkedip beberapa kali, lalu melirik ke arah depan kelas. Pak Burhan sudah berdiri tegak dengan tangan bersedekap, menatap Luis dengan tatapan tajam di balik kacamata tebalnya.
Seluruh mata di kelas kini tertuju padanya. Beberapa siswa mulai berbisik sambil terkikik, mengira Luis akan segera menjadi sasaran kemarahan sang guru.
"Haah?" gumam Luis pendek.
"Senang sekali ya melihat pemandangan di luar sana, Luis?" sindir Pak Burhan dengan nada dingin. "Bapak lihat dari tadi kau tidak memperhatikan satu kata pun yang Bapak ucapkan. Sepertinya kau merasa sudah jauh lebih pintar dari rumus-rumus di papan tulis ini."
Luis hanya diam, wajahnya tetap datar, yang justru membuat Pak Burhan semakin kesal.
"Sekarang maju ke depan! Selesaikan soal integral substitusi ini. Jika kau tidak bisa menjawabnya, kau berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran saya selesai!" perintah Pak Burhan sambil menyodorkan sebatang kapur baru.
Suasana kelas menjadi hening seketika. Dimas memberikan tatapan 'semoga beruntung' yang tampak pasrah. Soal di papan tulis itu memang kategori sulit, bahkan bagi siswa peringkat atas sekalipun.
Luis berdiri perlahan. Kursinya bergeser dengan suara decitan halus. Ia melangkah menuju depan kelas dengan gerakan yang berbeda dari biasanya.
Langkah kakinya terasa mantap, punggungnya tegak, dan ada aura kepercayaan diri yang tidak biasa terpancar dari dirinya.
Ia mengambil kapur dari tangan Pak Burhan tanpa sepatah kata pun. Matanya memindai soal tersebut hanya dalam waktu tiga detik.
Sret! Sret! Sret!
Suara kapur yang beradu dengan papan tulis terdengar cepat dan berirama. Luis tidak berhenti untuk berpikir.
Ia memecah variabel, menyusun substitusi, dan melakukan integrasi dengan langkah-langkah yang sangat efisien dan sistematis, teknik yang biasanya digunakan oleh mahasiswa tingkat akhir atau praktisi profesional.
Kurang dari dua menit, Luis meletakkan kembali kapur itu di meja guru.
"Selesai, Pak," ucap Luis datar.
Pak Burhan terpaku. Ia mendekat ke papan tulis, memeriksa setiap baris perhitungan Luis dengan teliti. Ia mencari kesalahan, namun tidak menemukannya. Jawaban itu benar, bahkan cara pengerjaannya jauh lebih jenius daripada yang ada di buku panduan guru.
"I-ini... bagaimana kau bisa menggunakan metode ini?" tanya Pak Burhan dengan suara gagap.