NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:393
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak Air di Kolam Kakek

Waktu seolah melambat di penginapan kayu itu, memberikan ruang bagi hati yang sempat terkoyak untuk menjahit dirinya sendiri dalam balutan ketenangan.

Satu minggu lebih telah berlalu sejak kejujuran besar itu terungkap di teras, dan sejak saat itu, udara di sekitar mereka tidak lagi terasa berat oleh rahasia.

Hubungan antara Arunika, Senja, dan Arkala kini telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih stabil—sebuah persahabatan yang tumbuh dari reruntuhan masa lalu yang telah dimaafkan.

Pagi ini, matahari bersinar dengan cahaya yang lembut, menyentuh dedaunan dengan kehangatan yang pas, seolah memberikan restu untuk agenda keluarga yang telah direncanakan Kakek sejak jauh hari.

Kakek dan Nenek sudah bersiap dengan jaring-jaring besar dan ember plastik di tangan. Hari ini adalah hari panen ikan di kolam milik Kakek yang terletak agak masuk ke area belakang penginapan, tempat di mana air mengalir jernih dari mata air pegunungan.

Ayah Senja tidak bisa ikut bergabung kali ini karena beliau harus kembali ke kota untuk urusan bisnis yang mendesak dengan beberapa rekan kerjanya.

Namun, Senja tetap tinggal. Urusan pekerjaannya di penginapan sudah ia rampungkan dengan sempurna, sehingga ia memiliki waktu luang untuk benar-benar menikmati kebersamaan tanpa harus terdistraksi oleh tumpukan berkas.

"Ayo, anak muda! Jangan sampai ikan-ikannya lebih gesit daripada kalian!" seru Kakek dengan semangat yang menggebu-gebu.

Ika tertawa kecil melihat tingkah kakeknya yang selalu bersemangat jika menyangkut hasil alam.

Di sampingnya, Arkala berjalan sambil memanggul keranjang kayu, sementara Senja berjalan di sisi lain Ika dengan langkah yang kini terlihat jauh lebih mantap.

Rona pucat di wajah Senja sudah digantikan oleh semburat sehat, dan binar matanya menunjukkan kedamaian yang baru saja ia temukan. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak kecil yang diapit oleh tanaman pakis dan perdu yang masih basah oleh sisa embun.

Sesampainya di kolam, aroma air tawar dan lumut basah langsung menyergap indra penciuman.

Air kolam itu begitu bening hingga bayangan ikan-ikan nila dan ikan mas yang gemuk terlihat berkejar-kejaran di dasarnya. Tanpa perlu aba-aba, Arkala dan Senja segera menyingsingkan celana mereka hingga ke lutut. Mereka berdua terjun ke dalam kolam yang dangkal, menciptakan riak air yang memecah ketenangan permukaan kolam.

"Ika, sini turun! Jangan cuma berdiri di situ seperti mandor!" teriak Arkala sambil mencoba menyudutkan seekor ikan besar ke arah pojok kolam.

Ika hanya menggeleng sambil tertawa, masih berdiri di pinggiran kolam yang berumput. "Aku bagian dokumentasi saja, Kal!" canda Ika yang disambut sorakan meledek dari Arkala.

Namun, Senja punya rencana lain. Dengan gerakan tangan yang gesit, ia menciduk air menggunakan telapak tangannya dan menyemburkannya tepat ke arah Ika. "Terlalu banyak alasan, Ika. Ayo turun!"

Cipratan air itu mengenai wajah dan baju Ika. "Senja! Kamu sengaja ya!" teriak Arunika. Ia akhirnya tidak tahan untuk tidak membalas. Ia melepas alas kakinya dan melompat masuk ke dalam kolam. Dinginnya air langsung menusuk kulit kakinya, memberikan sensasi segar yang membangkitkan keceriaan.

Maka dimulailah keriuhan di kolam kakek. Mereka bertiga seolah kembali menjadi anak kecil. Arkala yang sangat kompetitif berusaha menunjukkan keahliannya menangkap ikan dengan tangan kosong, namun ikan-ikan itu sangat licin dan seringkali melesat lepas tepat saat Arkala sudah merasa yakin telah menangkapnya.

Senja, di sisi lain, lebih tenang namun efektif. Ia bekerja sama dengan Kakek untuk menggiring ikan ke arah jaring yang sudah disiapkan Nenek di tepi kolam.

Tawa pecah setiap kali ada ikan yang melompat dan memercikkan lumpur ke wajah salah satu dari mereka. Arunika yang awalnya ragu-ragu, kini justru menjadi yang paling bersemangat. Ia mengejar seekor ikan mas besar yang berenang lincah di antara kaki-kaki mereka. "Kal, tangkap di sebelah sana! Senja, hadang dari kanan!" seru Ika memberi instruksi.

Di tengah kegembiraan itu, pertempuran air yang sesungguhnya meletus. Dimulai dari Arkala yang menyiram Senja, kemudian Senja yang membalas dengan semburan air yang lebih besar hingga mengenai Arunika, dan akhirnya mereka bertiga saling menyembur air satu sama lain.

Suara tawa mereka beradu dengan suara kecipak air, menciptakan harmoni kebahagiaan yang selama ini sangat dirindukan oleh Kakek dan Nenek.

Kakek dan Nenek yang duduk di bawah pohon rindang sambil mengawasi dari kejauhan tidak bisa berhenti tersenyum. Nenek sesekali menyeka sudut matanya dengan ujung kebaya.

"Lihatlah mereka, Kek. Rasanya sejuk sekali melihat Arunika bisa tertawa lepas seperti itu lagi bersama Senja dan Arkala," bisik Nenek dengan suara bergetar karena haru. Kakek hanya mengangguk pelan, menyesap kopi pahitnya dengan perasaan puas yang mendalam.

Di dalam kolam, suasana makin meriah. Arunika yang sedang berusaha mengejar seekor ikan nila yang sangat lincah, tidak menyadari bahwa ia telah menginjak bagian dasar kolam yang tertutup lumut tebal dan sangat licin. "Eh! Eh!" seru Arunika saat merasa tumpuannya hilang. Tubuhnya limbung ke belakang dengan sangat cepat.

Sebelum punggung Arunika menghantam air, sepasang lengan yang kokoh dengan sigap menangkap bahunya. Senja, yang posisinya paling dekat, berhasil menahan tubuh Arunika agar tidak jatuh terlentang. Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat dekat selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

Arunika bisa melihat tetesan air kolam yang menggantung di ujung rambut Senja. Tatapan Senja begitu protektif, seolah ia tidak akan membiarkan seujung kuku pun dari tubuh Arunika menyentuh bahaya.

"Hati-hati, Arunika. Dasar kolam ini sangat licin kalau sudah dikocok begini," bisik Senja dengan nada suara yang rendah namun sangat lembut.

Arunika terpaku sejenak, merasakan debaran jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan yang jauh lebih kuat daripada sekadar rasa terima kasih.

Ia segera berdiri tegak kembali setelah Senja memastikan posisinya stabil, sambil berusaha menyembunyikan rona merah yang muncul di pipinya. "I-iya, terima kasih ya, Senja," jawab Arunika pendek, berusaha kembali fokus pada ikan-ikan di bawah kaki mereka.

Arkala yang melihat adegan itu dari seberang kolam sempat menghentikan gerakannya. Ada sedikit rasa tidak nyaman yang melintas di matanya—mungkin rasa tidak rela melihat sahabat kecilnya kini mulai membuka hati untuk pria lain. Namun, Arkala adalah orang yang dewasa. Ia menghela napas panjang, menelan egonya sendiri, dan memilih untuk tetap menjaga suasana agar tetap ceria.

"Woi! Fokus tangkap ikan, bukan malah pelukan!" teriak Arkala sambil tertawa keras, meskipun tawanya sedikit dipaksakan. "Ayo, embernya masih setengah kosong ini!"

Senja hanya tersenyum tipis menanggapi godaan Arkala, sementara Arunika pura-pura sibuk mengusap air di wajahnya agar tidak terlihat malu. Mereka pun melanjutkan panen ikan dengan lebih tenang, namun ada sebuah getaran baru yang tertanam di antara mereka—sebuah pengakuan tak terucap bahwa hubungan ini sudah melangkah jauh lebih dalam dari sekadar memaafkan.

Setelah ember-ember besar itu penuh dengan ikan yang melompat-lompat segar, mereka semua naik ke darat. Tubuh mereka basah kuyup dan penuh bercak lumpur, namun wajah mereka memancarkan kepuasan yang luar biasa.

Kakek segera menyiapkan tungku kayu di pinggir kolam, menyusun batu-batu kali menjadi dasar yang kokoh untuk memanggang. Nenek mulai membersihkan ikan-ikan tersebut dengan cekatan menggunakan pisau kecil, dibantu oleh Ika yang sudah biasa menangani hasil kolam.

Senja dan Arkala bekerja sama mencari ranting-ranting kering dan kayu bakar tambahan di sekitar area kolam. Kerjasama di antara mereka berdua kini terlihat jauh lebih natural. Tidak ada lagi sindiran atau tatapan tajam. Mereka bicara tentang banyak hal, mulai dari teknik membakar ikan agar dagingnya tetap lembut, hingga urusan bisnis yang Senja kerjakan.

"Gue baru tahu kalau lo ternyata jago juga urusan lapangan begini, Senja," ujar Arkala sambil meniup bara api agar menyala lebih besar. "Gue kira lo cuma pinter duduk di depan laptop dan rapat di kota."

Senja terkekeh sambil menyusun ikan di atas panggangan. "Dulu mungkin iya, Kal. Tapi tinggal di sini benar-benar mengubah cara pandang gue. Ternyata kebahagiaan itu justru ada di hal-hal sederhana seperti ini."

Aroma ikan yang mulai matang pun menyeruak, bercampur dengan wangi asap kayu bakar yang khas dan aroma bumbu kecap buatan Nenek. Mereka semua duduk melingkar di atas tikar pandan yang digelar di bawah pohon besar yang rindang.

Suasana makan siang di pinggir kolam itu terasa sangat magis. Arunika duduk di antara Arkala dan Senja, sesekali tertawa mendengar perdebatan kecil antara Arkala dan Senja tentang siapa yang paling jago menangkap ikan tadi.

Arunika menyesap air putihnya, menatap ikan bakar yang tersaji di depannya dengan perasaan syukur yang luar biasa. Ia melihat ke arah Senja yang sedang asyik menjelaskan sesuatu kepada Arkala, lalu beralih menatap Arkala yang menanggapi dengan antusias.

Ketulusan mereka untuk bisa akrab satu sama lain adalah hadiah terbesar bagi Arunika. Ia menyadari bahwa dendam hanya akan menyempitkan ruang di hatinya, sementara memaafkan telah memberinya dunia yang jauh lebih luas dan penuh warna.

Di bawah naungan pepohonan yang rindang, diiringi suara gemericik air kolam dan kicauan burung di kejauhan, Ika merasa dunianya sudah benar-benar pulih.

Ia tidak lagi melihat Senja sebagai monster dari masa lalu, melainkan sebagai pria yang kini berdiri di sisinya sebagai pelindung dan teman. Dan ia juga tahu bahwa Arkala akan selalu ada di sana, sebagai pilar penguat yang tidak akan pernah meninggalkannya.

Saat matahari mulai bergeser ke arah barat, meninggalkan garis-garis cahaya yang memanjang di atas air kolam, mereka bertiga berjalan pulang menuju penginapan dengan hati yang penuh.

Arunika berjalan sedikit di depan, menoleh ke belakang untuk melihat dua pria yang kini menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia tersenyum sangat tulus, sebuah senyum yang menandakan bahwa luka lama itu kini sudah benar-benar tertutup oleh indahnya persahabatan yang baru.

Hari itu bukan sekadar tentang panen ikan, tapi tentang panen kebahagiaan yang akan mereka simpan dalam memori selamanya di penginapan kayu tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!