Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sentuhan yang Tidak Disengaja
Malam yang panjang dengan hujan deras akhirnya berganti menjadi pagi yang cerah. Sinar matahari mulai menyelinap masuk lewat celah gorden, menerangi ruang yang tenang.
Namun, pemandangan di ruang tengah itu membuat waktu seakan berhenti berputar sejenak.
Di atas sofa besar yang empuk itu, Farzhan dan Vira ternyata tidak berpindah ke kamar masing-masing semalam. Kelelahan ditambah rasa kantuk yang hebat membuat mereka tertidur pulas tepat di tempat mereka duduk, diiringi suara hujan yang akhirnya menjadi lagu penidur yang menenangkan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, posisi tidur mereka terlihat begitu dekat, akrab, dan sangat mesra, seolah dunia ini hanya milik mereka berdua saja.
Farzhan tidur menyamping menghadap ke arah istrinya, satu lengannya yang kekar terulur santai ke depan, menjadi bantal empuk dan kokoh bagi Vira. Wajahnya yang biasanya kaku dan serius kini terlihat sangat tenang, damai, dan polos saat tertidur, napasnya teratur dan panjang. Sedangkan Vira, meringkuk kecil dan nyaman tepat di dada bidang suaminya, kepalanya bersandar pas di lekukan bahu Farzhan. Tangannya melingkar erat di pinggang suaminya, seolah takut jika ia melepaskan pelukan itu, sosok di sampingnya akan hilang terbawa angin. Mereka berpelukan hangat sepanjang malam, saling menyalurkan suhu tubuh, saling menjaga kehangatan, dan beristirahat dengan rasa aman
Vira adalah orang pertama yang membuka mata.
Awalnya ia merasa sangat nyaman. Hangat. Nyenyak. Padahal udara pagi biasanya dingin, tapi hari ini ia merasa suhu tubuhnya sangat pas dan hangat sekali.
"Tidur paling enak sedunia..." gumamnya setengah sadar, lalu ia menggesekkan pipinya ke bantal yang empuk dan beraroma wangi khas laki-laki.
WAIT...
Bantal? Sejak kapan bantal rumah ini bisa berdetak? Dug... dug... dug...
Dan sejak kapan bantal punya otot bidang dan wangi parfum mahal?!
Mata Vira membelalak lebar seketika. Sadar sepenuhnya!
Ia mendongak perlahan. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah tampan Farzhan berada hanya beberapa senti dari wajahnya sendiri!
"AAAAA!" Vira ingin berteriak tapi ditahannya dengan menutup mulut sendiri. Jantungnya berdegup kencang bagai genderang perang.
Gila! Gila! Kami tidur bersama?! Dan berpelukan seerat ini pula?! Ini mimpi atau kenyataan?! Kenapa bisa begini?!
Panik mulai menyerang. Vira berusaha melepaskan diri pelan-pelan agar tidak membangunkan suaminya yang masih tertidur pulas.
"Tapi tunggu... tadi malam kan dia sakit, pusing sekali, bersin-bersin karena kehujanan," batin Vira mengingat-ingat dengan rasa khawatir yang tiba-tiba muncul menggantikan rasa malunya.
"Jangan-jangan sekarang kondisinya makin parah? Mungkin dia kena demam tinggi gara-gara tidur semalaman di sofa yang keras dan dingin begini? Kalau sampai dia sakit parah, aku yang akan repot sendiri."
Rasa khawatir mengalahkan rasa malu sesaat. Vira menghentikan gerakannya untuk lari. Ia justru mengangkat tangannya yang gemetar, lalu dengan hati-hati menyentuh dahi Farzhan.
Ia mengecek suhu.
Wah... hangat. Normal. Tidak panas. Alhamdulillah... Vira menghela napas lega.
"Berarti dia sudah sehat kembali. Pantas saja aku tidak kedinginan semalam, ternyata dia menjadi pemanas manusia yang paling ampuh sedunia."
Tangan mungil Vira tidak langsung ditarik. Jari-jarinya masih berada di dekat wajah Farzhan bergerak pelan di udara seolah enggan menjauh.
Tanpa sadar, karena rasa penasaran yang tiba-tiba muncul, jarinya perlahan bergerak turun.
Menyentuh ujung hidung suaminya yang mancung, tegas, dan sempurna bentuknya.
Wah... halus juga kulitnya ya.
Jari itu bergerak lagi turun...
Berhenti tepat di atas bibir Farzhan.
Bibir itu tipis, warnanya merah alami, dan bentuknya sangat... kissable. Sangat menggoda untuk disentuh atau dicicipi.
Vira menelan ludah dengan susah payah. Dadanya terasa sesak dan penuh rasa yang sulit dijelaskan. Ia terpaku menatap bibir itu tanpa berkedip, dan tanpa kendali, jari telunjuknya kembali bergerak maju, menyentuhkan ujung jarinya pelan sekali ke bibir Farzhan, lalu mengusapnya dengan sangat lembut dan perlahan.
"Empuk juga dan..." bisiknya pelan tak bersuara, wajahnya sudah merah padam seperti kepiting rebus.
Dan saat itu juga...
MATA FARZHAN PERLAHAN TERBUKA!
..............................
Dunia seakan meledak!
Mata hitam dan tajam itu kini terbuka lebar, menatap tepat ke manik mata Vira. Jarak wajah mereka masih sangat dekat, hanya beberapa sentimeter saja. Dan yang lebih parah lagi: tangan Vira masih berani-beraninya berada di bibir Farzhan!
Vira terpaku kaku. Jantungnya rasanya mau lepas terbang keluar dari mulut!
Farzhan mengerjap-ngerjap pelan, masih setengah sadar. Ia melihat wajah Vira yang sangat dekat, lalu melihat tangan yang menyentuh bibirnya.
Seketika suasana jadi panas membara.
"Vi..." suara Farzhan serak berat, baru bangun tidur, terdengar sangat indah di telinga Vira.
"Kamu... ngapain?"
"AKU! AKU! EHHM!" Vira menarik tangannya secepat kilat seakan baru saja tersengat listrik 1000 volt!
"AKU HANYA CEK SUHU BADAN KAMU AJA! SERIUS! TADI KAYAKNYA PANAS TAU! EH SEKALINYA SUDAH NORMAL! YA SUDAH AKU KE DAPUR DULU! MAU BUATKAN SARAPAN! BYE!"
Tanpa menunggu jawaban, Vira langsung melompat turun dari sofa, berlari sekencang-kencangnya menuju dapur dengan wajah yang terasa membara panas sampai ke telinga. Ia bersembunyi di balik meja makan, menekan dadanya yang masih berdebar kencang tak karuan.
Farzhan yang masih terbaring di situ hanya bisa mengusap bibirnya yang tadi disentuh istrinya. Senyum miring mulai terbentuk di wajahnya, matanya berbinar nakal dan bahagia.
"Hahaha... dasar perempuan nakal! Ingin memakan tapi takut digigit," gumamnya pelan.
"Pasti sengaja kan kamu sentuh bibirku? Hahaha..."
Sejak kejadian pagi itu, efek sampingnya sangat terasa parah.
Vira tiba-tiba memiliki alergi baru: ALERGI SENTUHAN!
Setiap kali tidak sengaja ujung jari mereka bersenggolan saat mengambil gelas di meja makan...
Setiap kali bahu mereka bersentuhan saat berpapasan di lorong rumah yang lebar sekalipun...
JLEB!
Reaksi Vira selalu sama persis: ia akan kaget seolah disambar petir, melompat kecil ke belakang, wajahnya langsung berubah merah padam seketika, dan ia akan buru-buru menjauh sejauh mungkin seolah-olah Farzhan itu adalah kawat beraliran listrik yang sangat berbahaya.
"Eh! Maaf! Maafkan aku!" seru Vira sambil mundur beberapa langkah dengan napas terengah karena kaget.
Farzhan yang melihat tingkah itu hanya bisa merasa geli sekaligus gemas luar biasa. Ia berdiri diam di tempat, menatap istrinya dengan pandangan dingin namun penuh kehangatan dan senyum yang ditahan-tahan.
"Kenapa sih bertingkah begitu? Aku bukan setan atau makhluk halus, tahu. Aku juga manusia biasa, suamimu sendiri," katanya tenang, berusaha mendekat sedikit.
"TAPI KAMU ITU... SEPERTI LISTRIK STATIS! SEKALI SENTUH SAJA BISA BIKIN JANTUNG ORANG MENYENGAT DAN BERHENTI BERDEGUP!" seru Vira dari kejauhan, lalu ia kembali berlari masuk ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat di sana. Di dalam kamar, ia bersandar di balik pintu sambil menekan dadanya yang masih berdetak liar.
"Huft... rasanya aneh sekali ya... campur aduk. Panas, malu, deg-degan... tapi di sisi lain rasanya senang juga sih."
Di luar kamar, Farzhan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar, matanya bersinar penuh rencana.
"Oke, sudah kucatat baik-baik," gumamnya pelan sambil berjalan santai menuju kamarnya sendiri.
"Ternyata sentuhan kecil yang tidak disengaja itu efeknya sangat dahsyat dan kuat buat dia.
Catatan penting untuk Farzhan Ibrahim: Mulai sekarang, harus lebih sering menyentuhnya, lebih sering mendekat... supaya dia makin terbiasa, makin sayang, dan makin tahu betapa aku juga ingin."