Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Insting Bertarung
Ia tahu. Ia merasakannya dengan sangat jelas.
Sedan hitam berkaca gelap di seberang jalan raya itu sudah mengikutinya sejak dua blok yang lalu. Putaran mesinnya terlalu pelan. Sengaja menahan diri. Orang asing dengan jaket abu-abu di lobi apartemen tadi pagi juga memiliki gelagat serupa. Mereka pura-pura membaca koran, tapi koran itu tidak pernah dibalik halamannya.
'Sudah dua Minggu ini, mereka terlihat makin jelas.'
Instingnya berdenging. Sepi keparat yang bikin telinga berdenging.
Angin malam berhembus membawa bau aspal basah. Fais menuruni ramp beton menuju area parkir bawah tanah apartemennya.
Lampu neon di langit-langit berkedip sekarat. Memuntahkan cahaya putih pucat yang menyorot genangan air di lantai semen. Tempat ini terlalu sepi. Terlalu luas.
Langkahnya stabil. Terlalu stabil untuk ukuran manusia yang tahu dirinya sedang diburu di tempat terisolasi.
Ada rasa kosong yang ganjil di dadanya. Melankolia aneh yang mencengkram paru-parunya erat-erat. Ia tidak merasa takut. Itu masalahnya. Ketakutan adalah hak istimewa manusia normal, dan Fais merasa hak itu sudah direnggut paksa dari pembuluh darahnya.
Suara decit sol sepatu karet bergesekan dengan semen mendadak memecah ritme langkahnya.
Dari balik pilar beton huruf B-4, dua sosok pria melangkah keluar. Menutup jalur satu-satunya ke arah lift penghuni.
Satu pria bertubuh gempal dengan leher seukuran batang pohon. Satu lagi lebih kurus, memegang sebatang pipa besi berkarat yang disembunyikan asal-asalan di balik pinggang jaketnya.
"Salah lantai, Kawan?" Pria gempal itu membuka mulut. Suaranya serak, dibuat-buat agar terdengar berat.
Fais berhenti melangkah. Jarak mereka tiga meter.
Ia memiringkan kepalanya sedikit. Menatap kedua orang itu seolah sedang menatap tumpukan rongsokan berkarat yang menghalangi jalan pulangnya.
"Aku ingin istirahat," ucap Fais pelan. Nada suaranya datar. Kosong. Tanpa emosi.
"Kau dengar itu?" Pria kurus tertawa kecil. Ujung pipanya diketuk-ketuk ke telapak tangannya sendiri. "Dia ingin istirahat. Kita bisa bantu dia tidur sangat panjang, kan?"
Mereka melangkah maju perlahan. Memotong jarak.
Insting tempur di dalam kepala Fais meledak hidup. Tidak ada tombol peringatan. Tidak ada transisi nalar.
Pria kurus itu mengayunkan pipa besi lurus ke arah pelipis kiri Fais.
Gerakannya melambat. Sangat lambat. Detik jam seolah nyangkut di kerongkongan dunia. Fais bahkan bisa melihat lintasan angin yang terbelah di sekitar ujung besi kotor itu.
Tubuh Fais bereaksi otomatis. Menghindar ke bawah. Masuk ke titik buta lawan.
Tangan kirinya menepis lengan si kurus dengan keras. Tangan kanannya melesak ke atas, menghantam tepat di ulu hati pria itu.
Satu pukulan tajam. Presisi sinting tanpa celah sedikitpun.
Bunyi udara keluar paksa dari paru-paru terdengar menyedihkan. Pria kurus itu langsung rubuh. Matanya memutih ke atas. Pingsan sebelum tubuhnya menyentuh lantai basah.
Si pria gempal menganga. Wajahnya pias. Ia mengumpat kasar dan menerjang maju dengan pukulan liar yang penuh kepanikan.
Fais tidak mundur seinci pun. Ia menunduk sepersekian sentimeter. Membiarkan kepalan tangan raksasa itu melewati bahunya. Tangannya lalu bergerak mengunci siku pria itu, dan memutarnya ke arah yang berlawanan dengan anatomi manusia normal.
Krek.
Patah.
Jeritan tertahan bergema nyaring di parkiran bawah tanah itu. Namun belum sempat jeritan itu selesai, lutut kanan Fais naik menyambut dagu pria gempal yang merunduk karena kesakitan.
Brak.
Pria raksasa itu ambruk menyusul temannya. Darah segar menetes cepat dari sudut mulutnya yang robek menghantam semen.
Hitungan detik. Semuanya hanya butuh hitungan detik.
Fais berdiri di sana. Diam tak bergerak.
Udara dingin lahan parkir itu menusuk pori-porinya. Ia menatap kedua punggung tangannya sendiri. Jari-jarinya rileks. Sama sekali tidak ada otot yang gemetar. Tidak ada sisa adrenalin yang meletup-letup.
Sempurna. Sangat alamiah. Sangat mengerikan.
Kewarasan manusianya berteriak ngeri menyadari apa yang baru saja ia lakukan, tapi ada bagian gelap di tubuhnya yang merasa sangat nyaman. Seperti bernapas.
Ia melangkahi kedua tubuh malang itu begitu saja. Berjalan lurus menekan tombol lift.
***
Di belahan kota yang lain. Bau tembakau murahan menabrak langit-langit ruangan kedap suara.
Pria berjaket kulit itu berdiri menunduk di depan meja kayu jati. Napasnya ditahan hati-hati. Takut mengganggu fokus bosnya.
Wawan membuang puntung rokoknya ke dalam asbak tebal. Matanya menatap tajam pada layar tablet di atas meja.
Di layar itu, sebuah rekaman kamera pengawas memutar adegan berulang-ulang. Kualitasnya buruk, banyak semut abu-abu, tapi cukup jelas merekam pembantaian satu sisi di area parkir apartemen.
"Dua anjingmu dihancurkan dalam hitungan detik," suara Wawan parau membelah senyap.
Pria berjaket kulit itu menelan ludah. "Mereka... mereka tidak sempat bereaksi, Bos. Target bergerak sangat efisien. Seperti mesin."
Wawan tidak menggebrak meja. Ia tidak marah sama sekali.
Ujung bibirnya justru berkedut pelan. Membentuk senyum tipis yang salah tempat di wajah kerasnya.
"Dia menyadari mobil kita. Dia menyadari panggilan telepon pancingan kita. Dan sekarang dia mematahkan tulang penjaga pintu seolah sedang mematahkan ranting kering." Wawan bersandar ke punggung kursi.
Matanya menerawang menatap asap yang tersisa di udara. "Manusia lumpur dari proyek bangunan tidak mungkin belajar seni membunuh dalam satu malam."
"Mungkin selama ini dia menyembunyikan identitas aslinya, Bos?" tebak bawahannya dengan suara tertahan.
Wawan menggeleng pelan. "Bukan. Postur berdirinya sebelum memukul masih terlihat canggung. Matanya kosong, bukan mata pembunuh profesional. Tapi refleksnya... refleksnya menolak kalah."
Ada ketertarikan aneh yang menyala di mata Wawan. Ketertarikan seorang predator senior yang baru saja menemukan anomali alam di wilayah kekuasaannya.
"Dia berubah terlalu cepat."
"Apa kita perlu mengirim tim untuk menangkapnya malam ini, Bos?"
"Tidak." Wawan mengetuk meja kayu itu dengan jarinya. "Tarik semua orang. Bersihkan kekacauan di parkiran itu sebelum polisi mencium baunya. Biarkan dia bernapas dulu. Aku ingin melihat apa yang akan dia lakukan selanjutnya."
***
Lampu indikator lift berdenting lembut. Angka dua puluh menyala merah.
Pintu logam bergeser terbuka.
Fais melangkah menyusuri lorong panjang yang dilapisi karpet merah marun tebal. Wangi pengharum ruangan beraroma sitrus terasa palsu menyengat penciumannya. Lorong ini sepi. Tempat ini terlalu besar, terlalu mahal untuk dihuni manusia dengan masa lalu seperti dirinya.
Ia menggesek kartu akses pada panel gagang pintu. Bunyi klik mekanis yang sangat halus menyambutnya.
Pintu terbuka. Kegelapan ruang tamu apartemen elit itu menelan siluet tubuhnya secara perlahan.
Fais melangkah masuk. Ia menutup pintu rapat-rapat hingga terdengar suara kunci mengunci sendiri. Ia melepas jaketnya, lalu melempar kain itu asal-asalan ke arah sofa kulit di sudut ruangan.
Tubuhnya terasa sangat ringan, tapi isi kepalanya padat merayap. Ia lelah dengan semua kegilaan yang dipaksakan masuk ke dalam darahnya sejak kemarin malam.
Ia baru saja membuat dua manusia cacat permanen, dan hal yang paling membuatnya sedih adalah kenyataan bahwa ia sama sekali tidak merasa bersalah. Empatinya menguap habis.
Fais mengusap wajahnya kasar.
Ia melangkah menuju area dapur bersih. Ingin mengambil botol air dingin untuk menyiram kerongkongannya yang terasa seperti terbakar debu.
Belum sempat ujung jarinya menyentuh gagang besi kulkas.
Layar biru transparan mendadak meledak muncul di depan retinanya. Membelah paksa ruang kosong di dapur itu dengan pendar cahaya neon yang menyakitkan mata.
[Ding!]
Suara lonceng mekanis itu berdering di dalam tengkoraknya.
Teks putih menyala menyusun dirinya sendiri berbaris-baris di atas antarmuka biru tersebut.
[Misi Baru Terdeteksi]
[Passive Income]
Fais menghentikan gerakannya total. Tangannya tertahan di udara.
Segala rentetan pikiran melankolisnya dipaksa berhenti oleh rentetan huruf digital keparat di depannya.
Ia mengernyit. Dalam dan tajam.