NovelToon NovelToon
Simpul Mati Amora Gayana

Simpul Mati Amora Gayana

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Salma.Z

"Kau hanya beban yang menghancurkan reputasiku, Amora!"

Kalimat itu menghujam jantung Amora lebih dalam daripada fitnah sedarah yang sedang mengepung mereka. Hamdan Tarkan—pria yang dulu berjanji melindunginya dengan gelang rumput sederhana—kini berubah menjadi dinding es yang tak tertembus.

Dipaksa tinggal di dalam penjara emas Mansion Tarkan, Amora harus menghadapi skandal yang menyebut dirinya adalah saudara tiri pria yang ia cintai. Di tengah intrik kasta tertinggi dan kemunculan musuh dari masa lalu, Amora menyadari satu hal: Hamdan menyembunyikan kebenaran yang jauh lebih gelap.

Apakah Hamdan benar-benar ingin melindunginya, atau Amora hanyalah kunci untuk menguasai aset terakhir Dinasti Klan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salma.Z, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: Tikus di Dalam Sangkar

Amora tetap berdiri tegak. Ia teringat dengan kejadian barusan. Suasana hangat dari makan malam jagung bakar tadi menguap seketika, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang. Hamdan berdiri tegap di tengah taman, menatap tablet di tangan Farid dengan rahang yang mengeras. Kelembutan "Abang" yang tadi sempat muncul kini terkunci rapat di balik topeng CEO yang kejam.

"Farid, kumpulkan semua pelayan, penjaga, dan staf inti di aula utama. Sekarang!" perintah Hamdan. suaranya rendah namun berwibawa, sanggup membuat siapa pun yang mendengarnya gemetar.

Amora, yang masih terkejut karena berita yang baru saja ia dengar, mencoba memegang lengan Hamdan. "Hamdan, biarkan aku ikut. Jika ini tentang aku, aku punya hak untuk tahu."

Hamdan menoleh, tatapannya tajam namun ada secercah perlindungan di sana. "Ini bukan lagi sekadar soal identitasmu, Amora. Ini soal pengkhianatan di bawah atapku sendiri. Masuk ke kamarmu dan kunci pintunya."

"Tidak! Aku bukan gadis kecil yang bisa kau sembunyikan lagi!" balas Amora berani.

Hamdan terdiam sejenak, melihat api keberanian di mata Amora yang sangat mirip dengan Baron Alaric Klan. "Baiklah. Tapi tetap di belakangku."

---------

Aula Utama Mansion Tarkan

Dua puluh orang berbaris dengan wajah pucat di bawah lampu kristal yang bersinar terang. Layla Tarkan berdiri di balkon lantai dua, memperhatikan putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Hamdan berjalan perlahan di depan barisan itu, langkah sepatunya bergema seperti detak jam menuju eksekusi. "Satu orang di antara kalian telah menjual akses data laboratorium kepada pihak luar. Satu orang telah mengkhianati namaku demi uang dari pihak musuh," ucap Hamdan dingin.

Ia berhenti di depan seorang pelayan senior yang sudah bekerja selama sepuluh tahun. Hamdan merenggut ponsel pria itu dan melemparkannya ke lantai hingga hancur. "Bukan dia," gumam Hamdan.

Tiba-tiba, Amora merasakan sesuatu yang mengganjal di saku jubahnya. Ia merogohnya dan menemukan sebuah lipatan kertas kecil yang entah sejak kapan ada di sana. Dengan gemetar, ia membukanya.

'Jangan percaya pada Hamdan. Tanyakan padanya tentang apa yang terjadi pada ibumu di malam kebakaran itu. Layla Tarkan tahu di mana Saphira Elara berada.'

Napas Amora tercekat. Saphira Elara... Ibuku?

"Ada apa, Amora?" Hamdan menyadari perubahan wajah Amora.

Amora tidak menjawab. Ia justru menatap Layla Tarkan yang berada di lantai atas. Ingatan tentang wajah ibunya yang lembut tiba-tiba muncul—namun dalam ingatan itu, ibunya sedang berargumen hebat dengan Layla Tarkan sebelum api melahap segalanya.

"Tuan Hamdan!" teriak Farid sambil menunjuk ke arah seorang penjaga gerbang yang tiba-tiba mencoba lari menuju pintu belakang.

"Tangkap dia!" geram Hamdan.

Penjaga itu berhasil dilumpuhkan dalam hitungan detik. Dari saku bajunya, ditemukan sebuah pemancar sinyal kecil dan bukti transfer bank dalam jumlah besar dari rekening anonim di Turki—wilayah kekuasaan Farr Burhan.

Hamdan mendekati penjaga yang tersungkur itu, mencengkeram kerah bajunya dengan satu tangan. "Siapa yang menyuruhmu? Farr Burhan? Atau seseorang yang lebih dekat di rumah ini?"

Penjaga itu melirik ke atas, ke arah Layla Tarkan, sebelum akhirnya menunduk ketakutan. "Saya... saya hanya disuruh mengirimkan jadwal kegiatan Nona Amora, Tuan. Saya bersumpah!"

Hamdan melepaskan pria itu dengan kasar dan menoleh ke arah Amora. Namun, ia terkejut melihat Amora tidak lagi menatapnya dengan penuh kepercayaan. Amora justru memegang kertas rahasia itu erat-erat, matanya berkaca-kaca menatap Hamdan dan ibunya secara bergantian.

"Amora, ada apa?" Hamdan mendekat, mencoba menyentuh bahu Amora.

Amora mundur selangkah. "Jangan sentuh aku, Hamdan. Katakan padaku... di mana ibuku? Apakah kau dan ibumu menyembunyikan kebenaran bahwa ibuku masih hidup?"

Suasana aula seketika menjadi sunyi senyap. Hamdan terpaku, sementara Layla Tarkan di atas sana tampak memucat, menggenggam pagar balkon hingga tangannya memutih.

Suara Amora yang bergetar namun menuntut itu bergema di langit-langit aula yang tinggi. Hamdan mematung. Matanya beralih dari Amora ke ibunya, Layla, yang masih berdiri kaku di balkon lantai dua.

"Amora, tenanglah. Kertas itu pasti jebakan dari musuh untuk memecah belah kita," ucap Hamdan, mencoba merendahkan suaranya agar tetap terkendali.

"Jebakan?" Amora mengangkat kertas itu tinggi-tinggi. "Di sini tertulis nama ibuku, Saphira Elara! Nama yang bahkan aku sendiri baru mengingatnya setelah makan malam tadi! Bagaimana mungkin musuh tahu jika bukan karena seseorang di rumah ini yang membocorkannya?"

Amora melangkah maju, melewati Hamdan, dan menatap langsung ke arah Layla Tarkan. "Nyonya Layla, Anda selalu memandangku dengan kebencian sejak aku menginjakkan kaki di sini. Apakah itu karena aku mengingatkan Anda pada ibu yang Anda khianati?"

Layla Tarkan akhirnya bergerak. Ia menuruni tangga dengan keanggunan yang dipaksakan, meski wajahnya sepucat kertas. "Kau tidak tahu apa-apa tentang masa lalu, Gadis Pasar. Apa yang kami lakukan adalah untuk menjaga keseimbangan dua dinasti."

"Menjaga keseimbangan atau menjaga rahasia kejahatan kalian?" suara Amora meninggi. Ia berpaling pada Hamdan. "Abang... kau bilang kau mencariku selama tujuh belas tahun. Apakah kau benar-benar mencariku, atau kau hanya menunggu sampai aku cukup dewasa untuk bisa digunakan sebagai kunci aset Klan?"

Hamdan merasakan dadanya seperti dihantam godam. "Amora, demi Tuhan, tatap mataku! Aku tidak pernah memedulikan harta itu. Bagiku, kau adalah Amora-ku, bukan 'Mawar Klan' atau kunci aset apa pun!"

Hamdan mencoba meraih tangan Amora, namun Amora menepisnya dengan kasar. "Jika kau benar-benar tulus, katakan padaku sekarang. Apakah ibuku masih hidup? Apakah dia ada di rumah ini?"

Hamdan terdiam. Keraguan di matanya selama dua detik sudah cukup bagi Amora untuk mendapatkan jawabannya. Keheningan Hamdan adalah pengakuan yang paling menyakitkan.

"Jadi benar..." Amora tertawa getir di tengah isak tangisnya. "Kalian semua pembohong."

Tanpa peringatan, Amora berbalik dan berlari menuju sayap belakang mansion, tempat yang selama ini dilarang untuk ia masuki. Ia ingat melihat para penjaga yang selalu berdiri di depan sebuah pintu besi kecil di dekat gudang anggur.

"Amora! Berhenti!" teriak Hamdan sambil mengejarnya.

"Farid! Amankan koridor! Jangan biarkan dia melihat apa yang tidak seharusnya dia lihat!" perintah Layla dengan nada panik yang tak lagi bisa disembunyikan.

Amora terus berlari, didorong oleh insting dan rasa rindu yang luar biasa pada sosok ibu yang mulai muncul dalam bayangannya. Ia sampai di depan pintu besi itu. Dengan nekat, ia mengambil vas bunga kristal dari meja pajangan dan menghantamkannya ke arah gagang pintu yang sudah tua itu berkali-kali.

BRAKK!

Pintu itu terbuka sedikit. Amora mendorongnya dengan seluruh tenaga, tepat saat tangan Hamdan hampir menggapai bahunya. Di dalam ruangan bawah tanah yang diterangi lampu temaram itu, Amora membeku. Di sana, duduk seorang wanita dengan rambut yang sudah memutih namun memiliki mata yang persis sama dengan matanya.

"Mama?" bisik Amora lirih.

To be continued...

1
Wawan
Salam kenal buat Amora 😍
Yu
Semangat!
Yu
Luarbiasa
Rabi Salim
Semangat author nulisnya!!!!
Iki Riat
Lanjut kak. Semangat nulisnya!!
Tisa
Asyiknya... 🤩🤩
Naura
Hamdan 😍
Andy Rajasa
kelanjutannya mana?
Salma.Z: ditunggu aja kak
total 1 replies
Guntur
Cinta yang posesif
Reni
Semangat kak!! lanjutkan ceritanya...
Nayla
Berdebar-debar saat membaca. Cerita yang menggebu-gebu.
Hana Unil
Next...lanjut
Hana Unil
Hmmm...
Hana Unil
Lanjut kak..lanjut🙏
Rara Lani
Ceritanya bagus hanya saja masih sedikit peminatnya. Tetap semangat author. Lanjutkan!
Salma.Z: Terima kasih
total 1 replies
Sari
Semangat!! Lanjutkan!
Ika Yani
Cinta yang dramatis...
Cantika
Alurnya bikin gemes🤭
Andy Rajasa
Amora dan Hamdan punya chemistry yang bisa buat diriku meleleh 😍
udin sini
Cintanya mewah, tapi lukanya lebih mahal. Semoga saja happy ending.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!