Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang.
Bagas berdiri membelakangi koridor, didepannya Andini. Tersenyum licik, tangan terulur mau memegang lengan Bagas lagi.
“ Mas, dengarin aku dulu. Mereka nggak butuh kamu, Aku yang ada pas kamu jatuh, aku yang..”
“ Aku bilang cukup, Din.” Suara Bagas pecah. Berat. Dia tidak melihat.” Kamu ngikutin aku sampai sini. Kamu tidak punya malu?”.
Andini tertawa kecil. “ Malu? Buat dapetin kamu, tidak. Mas. Kamu itu punyaku.Dari kantor, dari ranjang, dari…”
Plak.
Bukan suara tamparan. Melainkan itu suara kaki Galang yang tidak sengaja menginjak kerikil.Keras.
Bagas dab Andini sama sama melihat. Galang berdiri diujung koridor, kaos bola masih kotor dengan tanah merah. Medali juara tiga masih menggantung di lehernya.Tapi matanya..mata itu bukan mata anak sembilan tahun lagi.
Dingin. kecewa. Remuk.
“ Papa. “ Satu kata. Pelan. Tapi bikin dengung ditelinga Bagas lebih kencang dari pada suara Ac dikantor.
Gilang lari dari toilet, celananya belum dikancing dengan benar. “ Bang, aku sudah selesai..” Dia terdiam saat melihat Papanya dengan wanita asing yang belum pernah dia jumpa.
Bagas panik. “ Galang, Gilang..Papa bisa jelasin..!”
“ Jelasin apa , Pa?” Galang maju selangkah, dadanya naik turun.” Jelaskan kenapa pa? Bohong. Papa bilang mau jemput Galang yang habis tanding, tapi malah disini bersama dengan orang asing..?”
Andini pasang muka manis.” Eh Sayang, Tante cuman lagi ngomongin kerjaan sama Papa,”
“ Diam,” Baru kali ini Galang membentak orang dewasa. Suaranya pecah, tapi tegas.
“ Jangan panggil aku sayang, yang bisa manggil aku sayang cuman mama. Dan mamaku cuman satu.” Tegas Galang.
Andini Kaku, senyum liciknya runtuh.
“ Galang..!” Bagas juga tersulut emosi, tanpa sengaja kini membentak Galang dihadapan Andini.
Andini yang tadi kaku sekarang mulai tersenyum penuh kemenangan.
“ Nak,, Papa..” Bagas baru saja sadar membentak Galang.
I
Bagas mencoba memeluk Galang yang kini hatinya sangat terluka.
“ Jangan mendekat..” Galang mendorong Gilang ke belakang badannya. Jadi benteng dia. “ Gilang jangan lihat, tutup mata kamu lang!”
Gilang nurut, tangan kecilnya mulai menutup mata, tapi telinganya masih bisa mendengar.
Galang menatap Bagas lurus lurus, air mata sudah diujung, tapi ditahan, Dia adalah benteng yang harus melindungi mama dan adiknya dari seorang yang zalim.
“ Mama sekarang menunggu di parkiran motor.” Suaranya bergetar,” Mama sudah cantik dari dulu sudah cantik, wajah mama yang selalu tersenyum ke Papa, tapi kenapa sekarang Papa bersama wanita lain?”
“ Mama selalu menjaga kita saat kita sakit, Mama selalu ada untuk kita, pantas saja mama menangis sekarang, karena Papa penghianat, Ayo lang..!” Galang menarik tangan Gilang, untuk segera menjauh dari papanya.
Sakit. Sungguh sakit sekali hati Galang, Papa yang selama ini menjadi panutannya. Papa yang menjadi inspirasi, papa superhero yang selalu bisa diandalkan dalam keluarganya. Sekarang hancur menjadi berkeping keping.
Gilang hanya menurut sambil melambaikan tangan kearah Papanya, dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi sekarang.
Sementara Galang berjalan. Tidak menengok. Medali di lehernya serasa menjadi rantai.
Bagas mau mengejar. Kakinya mau lari. Tapi Andini sudah menahan lengannya. “ Udah mas, biarin aja, Namanya anak kecil, nanti juga baik lagi.”
Bagas menarik kasar tangannya dari genggaman Andini.
“ Aku harus menjelaskan semuanya kepada mereka.” Bagas ingin berlari, Namun lagi lagi dicegah oleh Andini dengan kata kata mesranya.
“ Sayang, percuma kamu ngejar, yang ada anak kamu tidak akan mau bicara sama kamu, kamu percaya sama aku. Bukankah kamu cinta sama aku.” Andini memeluk erat tubuh Bagas.
Bagas terdiam, lama. Tidak tahu lagi harus berbuat apa? Bodoh memang.
Pemandangan itu yang Galang lihat terakhir kali, sebelum belok ke koridor.
Di Parkiran Raya masih menunggu kedua jagoannya yang terasa sangat lama.
“ Mama..” Gilang berlari dalam pelukan Raya.
“ Loh, kok lama?” Raya menangkap tubuh Gilang yang kini sudah ada di pelukkannya.
Galang muncul dari belakang. Jalan pelan. Medali dilepas. Dia genggam erat.
Dia melihat Raya. Senyum. Senyum yang dipaksa dan tetap ingin terlihat baik baik saja didepan mamanya.
“ Ada apa sayang?” Raya ingin tahu apa yang terjadi? meskipun dia sudah bisa menebak, sesuatu sudah terjadi.
Galang tidak menjawab pertanyaan dari Raya." Sudah ma, Ayo kita pulang." Galang segera naik keatas motor Raya.
Raya mengerutkan kening, Mungkinkah Bagas membuat Galang kesal. Atau Jangan jangan Bagas mengatakan sesuatu yang membuat Galang terĺuka. Raya menebak nebak" Baik sayang. Gilang ayo naik."
Raya menyalakan motor setelah Gilang naik. Tanpa bertanya lagi.
Bagas melihat dari kejauhan saat motor Raya semakin menjauh dari sekolah. Bukan dari sekolah saja. Melainkan semakin menjauh darinya.
Tubuhnya ingin sekali berlari mengejar mereka, tapi hatinya berkata untuk tetap diam. karena ada hati juga yang kini ada disampinya. Andini.
" Sayang, kamu itu hebat, lelaki yang paling hebat, mungkin saja Raya sudah mencuci otak anak anak kamu. Supaya membenci dirimu, seperti yang dikatakan ibu kamu. Raya sudah membuat kamu jauh darinya." Andini masih memegang erat lengan Bagas. Bukan takut Bagas lari mengejar anak anaknya. Tapi Raya takut kalah dari Raya. Lagi.
Senyum penuh kemenangan keluar dari mulut Andini yang licik, kali ini dia sudah menang dari Raya. Tidak akan dia biarkan Raya bahagia. Karena dari dulu Raya selalu merebut apa yang menjadi miliknya.
Bagas mengacak rambut frustasi." Aku mau pulang." Bagas meninggalkan Andini.
" Kita pulang kerumahku yuk, kamu tidak lagi diterima dirumahmu, sayang." Andini mengejar Bagas." Tunggu, kenapa kamu jalannya cepat kali?" Protes Andini dari belakang.
Bagas dan Andini kini sudah ada dalam mobil, Niat hati ingin pulang kerumah dan meminta maaf pada Galang. Tiba tiba HP Bagas bergetar lagi.
Dilayar tertera nama Satria, itu artinya Satria ingin dia segera kembali ke kantor. Padahal tadi jelas jelas dia sudah minta izin kepada bosnya itu.
" Kita mau kemana sekarang?" Andini sudah duduk disamping Bagas, sambil memakai listip di bibirnya." Sepertinya aku harus kesalon lagi deh, ada jerawat di dekat hidungku. Pasti karena aku stress akhir akhir ini." Andini berbicara sendiri.
Bagas mulai menyetir mobilnya. Untuk saat ini dia akan kembali ke kantor. Biarlah urusan rumah tangganya diselesaikan nanti pas sudah pulang.
Andini kembali bergelut manja dilengan Bagas yang kini Fokus menyetir. " Apa aku cantik sayang?" pertanyaan yang sering kali ditanyakan oleh Andini semenjak mereka memulai hubungan.
Hubungan terlarang yang tidak seharusnya ada. Cinta adalah kata dosa yang seharusnya Bagas buang jauh jauh untuk Andini. Tapi semakin dia ingin menjauh, Semakin kuat pula godaan yang diberikan oleh Andini. Bagas sama sekali tidak bisa menolak pesona itu.
ditunggu upnya ya semoga bagas masih punya kesempatan balik sama keluarganya lagi...💪🙏