Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.
Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.
Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.
Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.
Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 01
“Selamat pagi, mbak Yusniar,” sapaan ramah terdengar dari wanita berumur dua puluh lima tahun, berpenampilan elegan – celana palazzo biru muda, blazer warna senada dan dalaman turtleneck putih.
“Pagi juga, Ayunda.” Ia memperhatikan penampilan sang asisten, lalu tersenyum lembut seraya mengacungkan kedua jari jempol tangannya. “Perfect.”
Ayunda tersenyum lebar memperlihatkan apple cheeks bagian pipi naik ke atas, menambah kadar kecantikannya. “Mbak Niar juga cantik banget, suka bikin aku iri.”
“Kamu bisa banget mujinya.” Niar menutup map yang baru saja selesai diperiksanya. “Sudah siap dengan rutinitas hari Senin kita?”
“Siap gak siap, kudu dipaksa siap, Mbak.” Ayunda menyimpan tas pada laci meja kerja, lalu memeluk sebuah tablet.
Niar jalan lebih dulu, menaiki undakan tangga pendek. “Ayo!”
Kedua wanita tersebut melangkah serasi, penampilan mereka elegan, menonjolkan kecantikan dalam balutan kantoran terbilang sopan.
Ayunda dengan setelan andalannya – blazer lengan sesiku, celana panjang yang membuat kakinya terlihat jenjang. Sementara Yusniar lebih suka memakai rok selutut dan kemeja sedikit longgar.
Pintu kupu tarung berwarna abu-abu diketuk oleh Ayunda, ruangan direktur utama Wangsa group. Perusahaan bergerak dibidang pangan, kebutuhan sehari-hari masyarakat, dan pusat perbelanjaan.
Ketika dipersilahkan oleh suara tenang nan tegas – Ayunda bersama atasannya melangkah masuk, menampilkan raut ramah dengan senyum sopan.
“Selamat pagi, tuan Daksa. Pak Iyan,” sapa Ayunda disertai wajah sedikit menunduk.
“Pagi,” hanya ada jawaban tunggal dari asisten sang direktur.
Tuan Daksa Wangsa mengangguk singkat tanpa mengalihkan pandangan dari komputer baru saja dinyalakan.
Sekretaris Yusniar mendekati bos nya, siap membacakan jadwal harian.
“Pak Iyan, mau kopi atau teh?” tanya sopan Ayunda, dia meletakkan tablet di atas meja tempat menerima tamu penting.
“Pagi ini lebih cocok kopi. Semalam suntuk begadang nonton bola, berharap menang taruhan malah kalah satu juta rupiah. Apes bener nasibku kan, Ayunda?” adunya sambil menghela napas, berbicara santai.
Bukan menenangkan, sebaliknya mengangguk mengiyakan. “Ya begitulah, Pak. Tapi anehnya bapak gak kapok-kapok, dalam sepuluh kali taruhan, menang cuma sekali, tetap saja lain kali diulang lagi.”
“Kejamnya dirimu, Ayunda.” Iyan menghempaskan bokongnya pada sofa leter L.
Ayunda terkekeh, ia pergi ke pojok kanan di mana terdapat pantry. Bersiap membuat kopi pesanan sang asisten pribadi tuan Daksa, dan secangkir teh teruntuk bos nya. Rutinitas sehari-hari sebelum duduk dibalik meja seraya memandangi komputer menyala.
Pada ruangan luas berwarna khaki dan coklat jati, terdengar suara tenang, lugas asisten ceo muda tengah membacakan skedul.
Iyan sibuk dengan berkas yang wajib diperiksa terlebih dahulu sebelum diserahkan ke tuan Daksa, jika tidak seperti itu – cari mati namanya.
Pria berkemeja navy polos yang duduk di singgasananya, rambut cepak klimis, mata bak Elang dengan sepasang alis tebal dan bulu mata tidak terlalu lentik itu memiliki kepribadian tegas, tak kenal kata toleransi apabila seseorang melakukan kesalahan sama sudah dua kali.
Daksa Wangsa, terlihat tenang di permukaan, jarang tersenyum, dingin, tetapi digandrungi banyak wanita yang ingin naik ke atas ranjangnya siap memberikan kepuasan batin.
“Diminum dulu, Pak. Selagi hangat.” Ayunda meletakkan secangkir kopi di atas meja. Kemudian dia melangkah ke tempat pria masih fokus pada berkas menumpuk.
“Rasanya beneran pas. Kamu sudah cocok jadi ibu-ibu, Ayunda,” seloroh Iyan ketika menyeruput kopi buatan asisten sekretaris.
Wanita yang rambutnya digelung rapi, riasan tipis itu menanggapi dengan senyum masam.
“Tuan, ini teh nya.” Ia menaruh minuman, berkata dengan nada formal.
“Hem. Terima kasih,” ucap pria berumur dua puluh sembilan tahun tanpa menatap bawahannya.
Yusniar dan Ayunda saling pandang lalu sama-sama tersenyum, sudah sangat biasa mendapatkan balasan super singkat dari bos irit bicara.
“Pak Iyan, apa ada yang perlu dibantu?” ia menawarkan diri, sebab Yusniar masih ditawan sang bos.
“Ada. Sini berdiri di belakangku, pijat pundak yang terasa pegal-pegal,” pintanya.
“Kalau itu lebih baik berbaring di rel kereta api, Pak. Lebih afdol dan dijamin langsung sembuh,” Ayunda membalas dengan sebuah candaan, karena dia tahu Iyan juga cuma bercanda.
Pria pemilik mata sipit, wajah oriental, menatap penuh perhitungan gadis yang masih tersenyum puas. “Ayunda, kamu habis begadang juga ya?”
“Gak, Pak. Kenapa memangnya?”
“Ada Panda di kelopak matamu. Aku jadi penasaran, kali ini apa alasanmu masih tetap sama seperti yang sudah-sudah. Kecanduan nonton drama sampai subuh?” Alisnya naik turun, jelas tengah menggoda.
“Masa sih?” Ayunda menepuk-nepuk pipi, lalu mengambil ponsel pada saku blazer, membuka aplikasi kamera depan.
“Penglihatan bapak tajem banget, padahal sudah saya tutupi pakai make up,” gumamnya pelan.
“Kamu belum jawab pertanyaanku loh,” tuntutnya.
“Biasalah wanita di hari libur kerja, Pak. Kalau gak jalan-jalan ya maraton nonton drama.” Bahunya sedikit terangkat, lalu menyimpan lagi ponselnya.
“Oh ….” balas Iyan bernada.
“Apa tugasmu sudah selesai? Kalau iya, biar saya periksa.” Daksa Wangsa menaruh cangkir teh yang isinya tinggal setengah.
“Jangan dulu bos. Saya belum mempersiapkan diri,” cepat-cepat Iyan kembali fokus.
“Niar, nanti siang kamu saja yang menemani meninjau pabrik,” titah Daksa.
“Baik, Tuan. Saya pamit undur diri.” Yusniar menunduk, lalu berbalik badan dan berlalu dari sana, diikuti oleh Ayunda yang juga berpamitan.
***
“Ya ampun, untung mbak Niar gak lihat tanda merah ini!” Ayunda dilanda cemas, buru-buru mengeluarkan foundation dari pouch kecil.
“Bener kalau foundation nya anti air tapi rentan terhadap gesekan.” Jemarinya bergerak lincah mengoles krim tepat di kulit bawah rahang demi menutupi bercak merah pekat.
Belum juga selesai, ponsel Ayunda berdering. Awalnya ingin mengabaikan, tetapi setelah sadar jika suara panggilan itu khusus dari salah satu orang yang tidak bisa benar-benar dianggap keluarga, dia bergegas menyambungkan sebelum dicaci maki.
“Halo _”
“Kemana aja lu Benalu? Dari tadi gua hubungi gak nyambung-nyambung?!”
Suara diujung sana terdengar sangat kesal. Namun sudah sangat biasa bagi wanita tengah menatap cermin wastafel toilet khusus karyawan.
“Aku lagi kerja, Vini _”
“Jangan ngelunjak lu ya! Panggil Nona! Lu itu cuma Benalu di keluarga gua!” suaranya melengking, meluapkan kekesalan yang sudah pasti bukan karena panggilannya tidak cepat direspon.
“Nona Vini, ada apa menghubungi saya?” katanya formal, sesuai keinginan kakak tirinya.
“Sepulang kerja, pulang ke rumah yang sudi memungutmu! Jangan sampai telat!”
“Ada perlu apa?”
“Gak usah banyak tanya lu!” tanpa permisi dia langsung mematikan sambungan ponsel.
Ayunda memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam, lalu menatap cermin yang memantulkan dirinya. ‘Benalu … harus sampai kapan cap hina itu melekat padaku?’
.
.
Bersambung.
Semoga suka, dan dapat memberikan hiburan disela-sela kesibukan dunia nyata ❤️, semoga juga betah dari awal sampai akhir kisah ini.
Lusa rilis horornya, bagi yang gak suka genre serem, mohon untuk tidak membuka bab.
Terima kasih banyak Kakak ku ❤️🔥
Selia ini nanti kayaknya bakalan jadi pawangnya pak iyan🤭.
Bu Niar...,, mqkn sudah mengetahui sesuatu yang tersembunyi d antara padak dan Yunda...,, tapi qta belum tau apa yang d sembunyikan oleh Dwira🤔.
ini gmn ya
apa karna tau mantunya hamil jd mau menetap
wis mboh lah
tauuu aja🤭
Amran tabarik-Daksa wangsa
daksa ga doyan yang udah di laletin
doyannya yg tertutup kaya Yunda hanya daksa yg buka .
ga kaya kamu di obral di ewer2 ke semua orang,,
jangan sampai kepulangan orang tua daksa untuk memaksa pernikahan sapi sama daksa. awas aja kalau kontrak belum selesai dah nikah lagi aku potong itu burung mu😤